
"Jangan sentuh pacar saya,"
Kinara tidak tahu dari mana datangnya Sekala. Yang jelas, lelaki itu tidak datang dari pintu depan karena dia sama sekali tidak melihat kehadirannya. Dia menduga kalau lelaki itu telah masuk lewat pintu belakang.
Bersamaan dengan kedatangan Sekala itu, tiga pelanggan perempuan tadi berhamburan keluar, berusaha menarik diri dari konflik yang tidak mereka ketahui sebabnya.
"Mas," Kinara berbisik, berusaha menarik lengan Sekala agar menjauh dari Atha karena kini dia bisa merasakan tensi yang buruk di antara dua laki-laki beda usia itu.
Namun, Sekala malah melepaskan tangannya dengan gerakan pelan, menatapnya lekat seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, selama dia percaya pada lelaki itu.
"Kamu ke belakang aja, istirahat. Biar saya yang beresin di sini," ucap Sekala lembut, disertai senyum tulus.
Kinara menggeleng. Dia tidak mungkin meninggalkan Sekala, apalagi untuk membereskan masalahnya dengan Atha. Lelaki itu tidak tahu apa-apa, tidak adil rasanya kalau dia harus meletakkan tanggung jawab itu kepada Sekala.
Lagipula, posisinya di sini hanya sebagai karyawan, tidak pantas jika dia sampai harus merepotkan bos-nya untuk urusan pribadi yang seharusnya tidak dibawa-bawa ke tempat kerja.
"Kin, tolong nurut sama saya, sekali ini aja." Baik suara maupun tatapan Sekala masih sama lembutnya seperti biasa, tetapi Kinara jelas tahu kalau saat ini Sekala sama sekali tidak menerima penolakan.
Jadi, dengan berat hati, Kinara meninggalkan Sekala dan Atha, berjalan lurus menuju ruang staf setelah sekali lagi menoleh.
Sekala memandangi kepergian Kinara, memastikan gadis itu masuk ke ruang staf dan tidak bisa lagi mendengar percakapan antara dirinya dengan pemuda yang entah siapa ini.
"Saya nggak tahu hubungan kamu sama Kin apa, tapi tolong jangan ganggu dia lagi mulai sekarang." Kata Sekala tepat setelah dia menoleh kembali pada sosok pemuda di hadapannya. Tatapan lembutnya seketika sirna, tergantikan dengan tatapan tajam yang terasa begitu menusuk sampai ke tulang.
"Lo siapa, sampai bisa ngomong begitu?" tantang si pemuda, membalas tatapannya dengan tidak kalah sengit.
Menanggapi itu, Sekala tetap tenang. "Kamu tuli?" sarkas Sekala, senyum miring disunggingkan sebagai bentuk provokasi terhadap lawan bicaranya. "Saya bilang, saya pacarnya Kin. Perlu saya ulangi berapa puluh kali? Oh, atau kamu mungkin nggak paham dengan bahasa manusia?"
"Nggak usah halu. Kinara baru putus dari gue, nggak mungkin dia langsung punya pacar lagi."
Sekala tersenyum meremehkan. Ternyata, pemuda acak-acakan yang ada di hadapannya ini adalah mantan kekasih Kinara? Kalau begitu, dia akan bersyukur karena Kinara telah putus dari manusia tidak punya sopan santun dan kasar seperti pemuda ini. Sebab baginya, Kinara berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik.
"Kenapa nggak mungkin? Kalian udah putus, nggak ada yang salah kalau Kin punya pacar baru." Sekala tetap berusaha tenang. Lalu, dia maju selangkah, mengikis jarak antara dirinya dengan Atha, hanya untuk melayangkan tatapan yang lebih intens dan terkesan mengintimidasi.
__ADS_1
"Saya nggak tahu kalian putus karena apa, dan nggak mau tahu juga sebenarnya. Saya cuma minta, jangan pernah muncul lagi di hadapan Kin apalagi sampai memaksa dia seperti tadi." Katanya, tepat di depan wajah Atha. "Karena kalau sampai saya melihat kamu melakukan itu lagi, saya nggak akan segan-segan untuk patahkan lengan kamu."
Kemudian Sekala mundur lagi. Menghitung sampai enam di dalam hati sebelum akhirnya dia kembali bersuara.
"Sekarang, lebih baik kamu pergi. Atau mau saya panggilkan polisi?"
Atha mengepalkan tangan di samping tubuh. Otot-otot rahangnya mengeras menahan emosi. Akhirnya, karena dia tidak bisa berbuat banyak, dia pun membalikkan badan dan bergegas pergi dari cafe itu sebelum perasaannya semakin memburuk dan dia bisa saja mulai membuat keributan.
Sedangkan Sekala mengamati setiap gerakan Atha, memastikan pemuda itu tidak akan tiba-tiba putar balik dan menyerangnya.
Lalu, setelah dia pastikan Atha benar-benar pergi, Sekala bergegas menyusul Kinara ke ruang staf.
...****************...
Karena insiden di Orion, Sekala bersikeras untuk mengantarkan Kinara pulang menggunakan mobil gadis itu dan menyuruh Jeremy membuntuti mereka menggunakan mobilnya.
Dia masih khawatir kalau pemuda tadi akan menghadang Kinara di jalan, atau bahkan menunggu di rumah gadis itu. Jadi, lebih baik dia memastikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Kinara berhasil masuk ke dalam rumah dengan selamat.
Di sepanjang perjalanan, Sekala tidak bicara. Dia juga tidak menuntut Kinara untuk menjelaskan apa-apa, karena menurutnya dia memang tidak berhak untuk tahu ada masalah apa antara gadis itu dengan pemuda tadi.
"Besok ambil off aja, biar saya yang handle di meja kasir." Kalimat pertama Sekala akhirnya keluar setelah mobil yang dia kemudikan memasuki pelataran rumah Kinara.
Mobil diparkirkan, lalu dia menoleh ke arah Kinara yang masih tidak menyahut perkataannya.
"Kin?"
"Saya nggak apa-apa, Mas Kala,"
"Kin," Sekala menatap lekat ke manik mata Kinara. Dari sana, terpancar begitu banyak perasaan. Takut, sedih, marah. Semuanya berkumpul menjadi satu, Sekala tahu itu. Jadi, omong kosong sekali kalau Kinara bilang dia tidak apa-apa.
"Ambil off, sembari saya pastikan laki-laki tadi nggak akan datang ke Orion lagi." Itu adalah perintah mutlak, yang meskipun dikatakan dengan nada lemah lembut, tetap bisa membuat nyali Kinara menciut.
Akhirnya, Kinara mengalah. Kepalanya mengangguk samar seiring dengan hela napas panjang yang dia embuskan.
__ADS_1
Setelah Kinara mengiyakan perintahnya, Sekala tidak lantas lega begitu saja. Tatapannya kini jatuh pada lengan Kinara yang tadi sempat dicengkeram kasar.
"Tangan kamu masih sakit?" tanyanya, sembari menelisik lebih jauh apakah ada luka yang luput dari pandangannya.
"Sedikit," cicit Kinara, membuat Sekala kembali menatapnya.
Sekala menghela napas, lalu kembali menatap iba ke arah lengan Kinara yang kalau dilihat dari luar sebenarnya nampak baik-baik saja. "Lain kali, kalau saya nggak ada di cafe dan ada yang gangguin kamu, teriak aja, Kin. Panggil Jeremy atau Dimas, nggak usah sungkan, mereka pasti akan dengan senang hati bantu kamu."
"Saya cuma nggak mau bikin keributan, Mas. Lagipula, itu masalah pribadi."
"Minta tolong ke mereka bukan berarti kamu harus menjelaskan permasalahan apa yang ada antara kamu dengan pemuda tadi." Ketika tatapan Sekala kembali terarah kepadanya, Kinara merasakan aliran oksigen di tubuhnya tiba-tiba saja menjadi tidak lancar.
"Bapak menitipkan kamu kepada saya, Kin. Jadi, selama di Orion, kamu adalah tanggung jawab saya. Tolong kerja samanya supaya saya nggak mengecewakan Bapak."
Selama berpuluh-puluh detik, Kinara tidak menjawab. Gadis itu malah menarik pandangan, melabuhkannya pada kedua tangan yang saling bertaut di atas pangkuan.
Kalau ini adalah hari-hari biasa, Sekala tidak akan keberatan untuk menunggu selama apapun sampai Kinara mau buka suara. Tetapi karena ini sudah malam dan gadis itu harus segera masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, maka Sekala segera memutus keheningan itu dengan kembali bersuara.
"Kin?"
"Iya, Mas Kala. Lain kali, saya akan minta bantuan." Kinara masih enggan menatapnya. Tetapi Sekala sama sekali tidak keberatan. Yang penting gadis itu sudah mengerti maksud dari ucapannya.
"Ya udah, sekarang kamu masuk ke dalam dan langsung istirahat." Titahnya.
Kinara menurut. Dengan gontai, gadis itu melepaskan seatbelt yang melilit tubuhnya lalu membuka pintu dan segera keluar. Dia berhenti sebentar di sisi mobil, menunggu sampai Sekala ikutan turun dan menyerahkan kunci mobil kepadanya.
"Kalau besok kamu mau dijemput untuk ke kampus, kabarin saya aja." Kata Sekala setelah kunci mobil Kinara berpindah ke tangan si empunya.
"Iya. Ya udah, saya masuk. Mas Kala sama Mas Jeremy hati-hati pulangnya."
"Iya," ucap Sekala.
Sekala betulan menunggu sampai Kinara menghilang di balik pintu, dan barulah dia berbalik menghampiri Jeremy yang telah menunggu di mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan menuju mobil, Sekala kembali mengingat sosok pemuda yang telah menyakiti Kinara tadi. Berusaha menghafal setiap sisi pemuda itu, agar dia bisa mengusahakan yang terbaik supaya pemuda itu tidak akan bisa lagi menganggu Kinara.
Bersambung