After The Rain

After The Rain
Konfirmasi


__ADS_3

Selama berhari-hari kemudian, pembahasan tentang Astari ternyata masih berlanjut. Bahkan, levelnya sudah meningkat ke tahap di mana Sekala sudah bukan merasa risih lagi, tetapi sampai ingin melakban mulut Kinara agar berhenti bicara omong kosong.


Seperti sore ini misalnya, bukannya berjaga dengan baik di belakang meja kasir, gadis cerewet itu malah melipir ke meja yang Andanu tempati, asik bergosip dengan pemuda itu sambil sesekali melirik ke arahnya lalu kembali membisikkan sesuatu.


Tidak perlu sampai mendengar apa yang gadis itu bisikkan kepada Andanu, karena melalui ekspresi wajah dan gerak-gerik keduanya saja, Sekala sudah tahu kalau topik pembahasan mereka pasti tidak jauh dari dirinya dan Astari.


Hal itu terbukti dari senyum mencurigakan yang tiba-tiba saja terbit di wajah keduanya saat sosok Astari muncul dari balik pintu cafe. Perempuan itu tampak cantik dalam balutan dress warna biru muda di bawah lutut. Rambutnya diikat setengah, kaki jenjangnya dibalut heels tiga senti warna putih. Melihat dari penampilannya yang tidak seperti biasanya, Sekala menebak kalau perempuan itu hendak atau baru pulang dari sebuah acara.


Sekala masih diam di belakang kasir, mengamati sampai Astari bergabung dengan Andanu dan Kinara, lalu si gadis cerewet bangkit dan berlarian menghampirinya dengan senyum yang merekah.


"Mas Kala," panggilnya, mencondongkan tubuhnya melewati counter.


"Masuk sini kalau mau ngomong, jangan kayak gitu." Tegurnya, mengisyaratkan kepada Kinara agar tidak nemplok di atas counter yang kotor.


"Ih, kelamaan. Dari sini aja ngomongnya,"


Sekala memutar bola mata malas, melemparkan ponselnya ke atas counter kemudian bersedekap sembari menatap Kinara serius.


"Ya udah, mau ngomong apa?" tanyanya, agak sewot karena sejujurnya dia punya firasat kalau gadis cerewet ini akan mengatakan omong kosong lagi kepadanya.


"Mas Kala mau jalan-jalan nggak sama Mbak Astari?"


Nah, kan, benar apa dugaan Sekala. Gadis cerewet ini memang sepertinya berbakat untuk membuatnya sakit kepala.


"Saya sibuk." Tolaknya. Kemudian, dia meraih kembali ponselnya, menekuri benda pipih itu sambil berjalan menuju kursi di pojok counter lalu duduk di atasnya.


Kinara mendengus sebal. Tetapi dia masih tidak menyerah untuk membujuk Sekala agar mau pergi jalan-jalan dengan Astari. Karena dia sudah merencanakan ini dengan baik bersama Andanu. Meskipun awalnya pemuda sableng itu menolak idenya karena menganggap Sekala tidak cukup pantas untuk bersanding dengan Astari yang umurnya jauh lebih tua.


Maka, Kinara berlarian masuk ke dalam counter. Berhenti tepat di depan Sekala, hanya diam selama beberapa saat hingga membuat Sekala terpaksa menaikkan kembali pandangan seraya mengembuskan napas kasar.


"Apa, sih, Kin?" Sekala mulai kesal.


"Jalan-jalan sama Mbak Astari," ucap Kinara, sembari mengedip-ngedipkan matanya lucu, membuat Sekala seketika merasa tak berdaya.


Memang sialan gadis cerewet bernama Kinara Adorelia ini, tahu saja kalau dia tidak akan tahan bila disuguhi tingkah lucu semacam itu.


Akhirnya, karena tidak ingin melihat Kinara semakin bertingkah dan telinganya makin panas mendengar ocehannya yang tidak habis-habis soal Astari, Sekala pun bangkit dari duduknya. Ponsel dimasukkan ke dalam saku celana, lalu dia ngeloyor begitu saja menghampiri Astari tanpa mengucapkan apa-apa kepada Kinara.


Kinara tersenyum cerah, memberikan kode kepada Andanu melalui tatapan matanya, seolah berkata bahwa misi pertama mereka telah berhasil dilancarkan.


Kinara memang tidak bisa mendengar apa yang Sekala katakan kepada Astari, tetapi saat dia melihat Astari bangkit dan mulai mengikuti Sekala yang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu keluar, senyumnya terkembang sempurna.


"Gitu, dong." Ucapnya, entah kepada siapa.


...****************...


Sekala menepikan mobilnya setelah berkendara selama sepuluh menit. Astari yang duduk di kursi penumpang juga tidak protes, malah dia cukup paham kenapa Sekala memutuskan untuk membawanya pergi hanya sejauh ini.

__ADS_1


"Nara sama Andanu ngeselin banget, ya?" tanya Astari, setelah hening yang berkuasa cukup lama.


Sekala mengembuskan napas pelan, kemudian menoleh ke arah Astari yang sudah lebih dulu menatapnya dengan tatapan yang tidak berubah dari hari ke hari.


"Saya nggak tahu kenapa otak mereka bisa berpikir sejauh itu," aku Sekala. Sebab dia memang tidak mengerti dari mana asalnya pemikiran aneh yang menggerogoti kepala dua anak muda itu.


"Sama, aku juga nggak tahu kenapa mereka bisa berpikiran begitu." Astari sambil mengangguk-anggukkan kepala pelan. "Tempo hari, Andanu bahkan nyeramahin aku soal jangan jatuh ke cinta ke laki-laki yang lebih muda," sambungnya, diakhiri kekehan ringan.


"Tapi ... " Sekala memotong, tetapi karena dia masih ragu untuk melanjutkan ucapannya atau tidak, dia memberi jeda yang cukup lama.


Astari paham apa yang akan Sekala tanyakan. Kalau boleh berbangga diri, dia sebenarnya termasuk orang yang peka terhadap sekitar. Jadi, tanpa menunggu kalimat Sekala selesai karena agaknya lelaki itu masih tidak akan melanjutkannya dalam waktu dekat, Astari menggeleng pelan.


"Aku nggak naksir kamu, kok." Katanya, menyunggingkan senyum di akhir kalimat.


"Mungkin dua bocah itu mikir aku naksir kamu karena aku sering merhatiin kamu, but ... aku lakuin itu cuma karena merasa kamu mirip sama seseorang."


"Saya tahu," Sekala memotong. Sedari awal, dia memang sudah yakin dengan analisanya sendiri. Bahwa Astari tidak memiliki perasaan semacam itu terhadapnya. "Tapi duo bocah kematian itu nggak akan mau mengerti kalau kita, sebagai orang dewasa, nggak menjelaskan secara detail." Sambungnya, sudah mulai frustrasi karena apapun yang dia katakan kepada Kinara hanya dianggap angin lalu oleh gadis cerewet itu.


Astari mengangguk lagi, dia jelas paham yang dimaksud Sekala dengan menjelaskan secara detail. "Tapi, aku nggak bisa menjelaskan ke Andanu soal alasan aku yang sebenarnya," sesalnya, semakin menjadi-jadi saat melihat raut kecewa di wajah Sekala.


"Kenapa?"


"Ada satu hal yang membuat hubungan Andanu dengan orang itu nggak baik, jadi aku nggak bisa menjelaskan ke dia kalau aku terus memperhatikan kamu karena teringat sama orang itu. Karena kalau Andanu tahu, dia bakal ngamuk,"


Sekala mengembuskan napas panjang. Kalau sudah begini, apa lagi yang harus dia lakukan untuk membuat Kinara dan Andanu berhenti menjodoh-jodohkan dirinya dengan Astari? Kalau tidak diberi tahu alasan yang sesungguhnya, dua bocah kematian itu pasti tetap akan bersikeras mengatakan bahwa Astari menyukainya.


"Kalau kayak gitu, yang ada dua bocil itu akan mikir kalau saya udah nolak kamu atau whatever lah apa bahasanya. Kin bakal makin ngomel, atau lebih parahnya, dia malah bakal berhenti ngomong sama saya."


Astari dan Sekala mengembuskan napas panjang secara bersamaan, kemudian mereka sama-sama terdiam dengan kepala yang nyut-nyutan memikirkan cara supaya Andanu dan Kinara berhenti salah paham.


...****************...


Pada akhirnya, Astari dan Sekala kembali ke cafe setelah pergi selama hampir satu jam, tanpa membawa solusi apapun untuk permasalahan mereka.


Sementara itu, dua bocah kematian yang sampai sekarang masih asik bergosip itu sontak mengangkat kepala dan sama-sama tersenyum cerah saat mendapati Sekala dan Astari muncul dari balik pintu cafe. Mungkin mereka berpiki bahwa rencana mereka telah berjalan dengan lancar, dan mulai membuat rencana lain untuk dilancarkan selanjutnya.


"Seru, nggak?" todong Kinara, hanya sesaat setelah Sekala menerobos ke belakang counter.


Sekala tidak menjawab, cuma melirik sekilas ke arah Kinara kemudian berjalan ke pojok counter dan duduk anteng di atas kursi sembari menekuri ponselnya.


"Ih, Mas Kala, kan aku lagi ngomong!" gerutu Kinara. Dia menyusul Sekala, berdiri menjulang di depan lelaki itu dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.


Namun, Sekala tak kunjung menaikkan pandangannya. Bahkan ketika Andanu dan Astari berjalan menuju counter untuk berpamitan, Sekala masih enggan mengalihkan fokusnya dari ponsel.


Kinara mendengus, lalu membalikkan badan untuk menghampiri Andanu dan Astari.


"Jalan-jalannya asik, nggak, Mbak?" bisiknya kepada Astari.

__ADS_1


Menanggapi pertanyaan itu, Astari cuma tersenyum. Sejujurnya, dia takut salah bicara. Dia ingin sekali mengatakan kepada Kinara untuk berhenti memaksa Sekala mengajaknya jalan, tapi kalau dia salah dalam memilih kosakata yang tepat, bisa-bisa ketakutan yang Sekala utarakan kepadanya tadi malah menjadi kenyataan.


Setelah berbincang sedikit dengan Sekala selama mereka jalan-jalan tadi, Astari akhirnya semakin yakin kalau Sekala memang menyukai Kinara. Jadi, dia jelas tahu bagaimana kesalnya lelaki itu saat gadis yang dia sukai malah menjodoh-jodohkan dirinya dengan orang lain.


"Mas Kala nggak jahat, kan?" bisik Kinara lagi.


"Nggak jahat, Nara. Sekala baik," Astari menjawab dengan suara pelan. Dia melirik Sekala sekilas, kemudian kembali menatap Kinara intens.


Terdengar Kinara mengembuskan napas lega. Tapi kelegaan itu justru membuat Astari semakin merasa bersalah kepada Sekala. Kalau saja dia bisa mengendalikan perasaan rindunya, mungkin dia tidak akan membuat Andanu dan Kinara salah paham.


"Nanti, aku bantu Mbak biar bisa jalan-jalan sama Mas Kala lagi," ucap Kinara semangat.


"Iya, makasih, ya. Ya udah, Mbak sama Andanu pulang dulu." Pamit Astari, tidak ingin berlama-lama ada di sini karena hawanya sudah mulai tidak enak. Dia jelas sekali merasakan bahwa Sekala yang kini duduk di pojok counter itu sedang merasa tidak nyaman.


"Iyaaa ... hati-hati."


"Gue balik dulu," Andanu yang sedari cuma diam mendengarkan percakapan antara Astari dan Kinara, ikut-ikutan pamit.


"Iya, hati-hati kamu bawa motornya, janga ngebut!"


"Iya, cerewet!"


"Bye, Nara!"


"Bye!!!"


Setelah Andanu dan Astari keluar dari pintu cafe, Kinara kembali berjalan menghampiri Sekala yang masih tidak merubah posisi duduknya sama sekali.


"Mas," panggilnya pelan.


Sekala cuma berdeham, tetapi tatapannya sama sekali masih tidak lepas dari ponsel.


"A-"


Ting!


Ucapan Kinara terpotong saat ada satu notifikasi pesan masuk. Akhirnya, Kinara mengurungkan niat untuk bicara dan memilih untuk memeriksa ponselnya terlebih dahulu.


Benda pipih itu dikeluarkan dari dalam saku apron yang dia kenakan, kemudian buru-buru dia mengecek pesan yang barusan masuk.


Pesan itu datang dari Astari, yang mungkin sekarang sudah dalam perjalanan pulang bersama Andanu.


Kamu ada waktu nggak sepulang kerja nanti? Mbak mau ngobrol sama kamu. Ini soal Sekala.


Kinara melirik Sekala sebentar, menerka-nerka sendiri apa sekiranya yang akan disampaikan oleh Astari terkait bos-nya itu. Apakah Sekala baru saja menolak Astari? Atau ... bos-nya itu telah mengatakan hal-hal yang buruk kepada perempuan itu?


Wah, kalau sampai lelaki itu benar-benar berlaku jahat kepada Astari, Kinara tidak akan tinggal diam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2