After The Rain

After The Rain
Penampakan?


__ADS_3

"Besok aku jemput jam berapa?" tanya Kinara sembari melongokkan kepala keluar dari jendela mobil yang terbuka.


Dahayu yang semula sudah melangkah menuju gerbang seketika berhenti dan membalikkan badan. Dia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Jam 9."


Kinara menganggukkan kepala. Kemudian setelah menyampaikan kalimat perpisahan sekenanya, mobil kembali melaju meninggalkan area perumahan Dahayu.


Di lima belas menit pertama perjalanan, masih belum ada yang mau membuka suara lebih dulu. Baik Atha maupun Kinara bersikeras untuk membiarkan keheningan merayap sedikit demi sedikit sampai akhirnya betulan menelan mereka sepenuhnya.


Masuk ke menit dua puluh, Kinara mulai bosan. Kecanggungan semacam ini tidak pernah terjadi antara dirinya dan Atha. Dan entah apa sebabnya, suasana aneh ini tercipta hari ini.


Karena pada dasarnya Kinara adalah tipikal yang cukup cerewet jika sedang bersama dengan orang-orang yang membuatnya nyaman, maka dia menjadi orang pertama yang akhirnya membuka suara.


"Tha," panggilnya pelan.


Atha menoleh sebentar sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangan ke depan.


"Jangan kasih tahu Dahayu dulu, ya." Kata Kinara yang hanya ditanggapi Atha dengan sebuah anggukan.


"Nanti aku pasti cerita kok sama dia. Tapi nanti, nggak dalam waktu dekat ini."


"Iya, sayang. Aku ngerti kok." Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah. Atha menggunakan kesempatan itu untuk menaruh fokus pada Kinara. Tangan kirinya terulur, kemudian menggenggam erat tangan Kinara yang dingin. "Kamu bisa kasih tahu Dahayu nanti kalau udah benar-benar siap. It's ok. Aku tahu kamu cuma nggak mau bikin dia heboh."


Dan meskipun kini lampu lalu lintas sudah kembali berwarna hijau dan mobil kembali melaju, Atha masih tidak ingin melepaskan genggaman tangannya. Seolah dari genggaman itu, dia ingin menyalurkan lebih banyak ketenangan agar Kinara berhenti khawatir tentang banyak hal.


Sementara bagi Kinara, menerima perlakuan manis dari Atha nyatanya memang selalu mampu membuat perasaannya menjadi lebih baik. Dia memang tidak populer, tidak punya banyak orang terdekat yang bisa dia datangi ketika sedang dalam kesulitan. Tapi keberadaan Atha dan Dahayu baginya sudah cukup. Jadi, Kinara benar-benar berharap dia tidak akan kehilangan dua orang ini dari dalam hidupnya.


Selagi Atha dan Kinara kembali sibuk dengan pikiran masing-masing, mobil akhirnya berhenti di pelataran rumah Kinara. Atha masih enggan melepaskan genggaman tangan mereka, memarkirkan mobil hanya dengan mengandalkan satu tangan di atas kemudi. Ketika mobil sudah terparkir dengan sempurna, barulah Atha melepaskan genggaman tangan mereka karena mereka harus turun dari mobil.

__ADS_1


Hal pertama yang Atha temui ketika keluar dari mobil adalah sosok ayah Kinara yang semula duduk sendirian di teras depan dan kini tampak bangkit setelah menyadari kehadirannya dan Kinara.


Atha bergegas memutar tubuh menuju pintu penumpang, membukakan pintu untuk Kinara dan menggandeng perempuan itu lalu mereka berjalan beriringan menghampiri ayah Kinara.


"Malam, Om." Sapa Atha sembari mengulurkan tangan. Tak lama berselang setelah uluran tangannya disambut, Atha segera melabuhkan kecupan di punggung tangan calon mertua nya itu.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Kinara. Bedanya, gadis itu juga melabuhkan satu kecupan ekstra di pipi ayahnya.


"Papa baru pulang?" tanya Kinara yang menyadari bahwa Papa masih mengenakan kemeja yang tadi pagi dipakai berangkat kerja.


"Iya. Kata Mama kamu juga belum pulang, jadi Papa tunggu kamu di sini." Jelas Papa


Kinara tidak kuasa menahan senyum setelah mendengar penjelasan Papa. Kalau di dunia ini ada yang lebih manis daripada gula, mungkin bagi Kinara hal itu adalah perlakuan Papa terhadapnya.


"So sweet banget, sih." Goda Kinara yang sontak membuat Papa terkekeh.


"Sama-sama, Om." Jawab Atha. Dia sendiri tidak tahu kenapa ayah Kinara selalu mengatakan terima kasih kepadanya untuk hal-hal yang menurutnya sudah semestinya dia lakukan sebagai kekasih Kinara.


"Kalau gitu, saya pamit pulang dulu." Atha kembali menyalami ayah Kinara.


"Kamu naik apa pulangnya?" tanya Kinara yang baru sadar kalau Atha tidak membawa serta mobilnya.


"Taksi." Jawab Atha singkat.


Setelah melabuhkan tepukan pelan di kepala Kinara, Atha betulan pamit undur diri. Dia berjalan menuju gang depan untuk menyetop taksi.


Di teras rumah, Kinara dan ayahnya menunggu sampai sosok Atha sepenuhnya menghilang dan barulah mereka masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


...****************...


Sekitar pukul setengah satu dini hari, Kinara terbangun karena merasa kepanasan. Keringat membanjiri seluruh wajah dan tubuhnya hingga membuatnya merasa tidak nyaman. Tenggorokannya terasa kering dan serak.


Kinara melirik ke arah kipas angin yang tertempel di dinding, hanya untuk dibuat menghela napas panjang karena rupanya benda itu tidak berfungsi. Padahal malam tadi sebelum dia tidur, Kinara sudah memastikan kalau kipas angin itu telah disetel sesuai dengan kebutuhannya. Sepertinya, kipas angin itu sudah terlalu lelah karena dia paksa untuk bekerja 24 jam non-stop.


Karena kering di tenggorokan terasa semakin menjadi-jadi, Kinara memutuskan untuk turun dari kasur. Dia berjalan pelan keluar dari kamar menuju ke dapur. Lampu-lampu sudah dimatikan seperti biasa, dan karena Kinara terlalu malas untuk menyalakannya, dia berjalan menuju dapur dengan mengandalkan instingnya saja.


Sampai di dapur, Kinara langsung membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dari sana. Tak butuh waktu lama baginya untuk menandaskan air di dalam botol tersebut.


Selesai dengan urusan dahaga, Kinara hendak berjalan kembali ke kamarnya. Tetapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya.


Dari tempatnya berdiri kini, lebih tepatnya di ambang pintu dapur, dia melihat ada satu sosok yang tengah tergeletak di atas sofa ruang tamu. Tadi dia tidak terlalu menangkap adanya eksistensi sosok tersebut karena terlalu gelap dan dia hanya fokus berjalan ke arah dapur.


Meskipun dengan rasa takut yang mulai menyerang, Kinara tetap memberanikan diri untuk berjalan ke ruang tamu. Dia berjalan dengan mengendap-endap, persis seperti kawanan maling yang tengah beraksi.


Sudah tahu gelap dan dia akan kesulitan untuk melihat sekitar, Kinara masih saja tidak mau mencari letak saklar lampu dan menyalakannya. Dia malah menggunakan tangannya untuk membantunya berjalan merambat sambil memicingkan mata untuk memastikan apakah sosok yang terkapar di atas sofa itu adalah manusia atau bukan.


Jantung Kinara berdegup semakin kencang seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan sosok tersebut.


Kemudian, saat dua langkah lagi dia akan sampai di samping sosok tersebut untuk memastikan apakah itu manusia atau bukan, Kinara dibuat terlonjak kaget saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya.


Kinara membalikkan badan, dan...


"Huwaaaaa!!! Setan!!!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2