
Jam dua dini hari, Kinara terbangun setelah akhirnya bisa tidur walaupun cuma sekitar satu jam. Matanya terasa berat. Bukan karena kantuk, melainkan karena dua mata itu kini begitu sembab.
Padahal, dia sudah menangis begitu banyak, bahkan lebih banyak ketimbang saat dia dihantam kenyataan soal kebangkrutan Papa. Tetapi entah kenapa, dadanya masih saja terasa sakit.
Bahkan di dalam tidurnya yang singkat tadi pun, Kinara masih tidak bisa tenang. Dia bermimpi, yang isinya tidak jauh lebih baik ketimbang kenyataan yang kini sedang dia jalani.
Di dalam mimpi itu, dia sedang menghadiri sebuah pesta pernikahan yang digelar megah. Dia mengenakan gaun berwarna biru muda (yang merupakan warna favoritnya), rambutnya digerai dan berhiaskan satu jepit rambut berbentuk kupu-kupu yang lucu, kakinya terbalut high heels lima senti berwarna bening, persis seperti milik Cinderella yang tertinggal di malam pesta dansa kerajaan.
Semula, senyumnya merekah, meskipun sampai di titik itu dia masih belum juga tahu siapa sosok pengantin yang sedang dia hadiri acara pernikahannya.
Sampai kemudian, kedua mempelai nampak di depan matanya, membuat senyumnya yang semula merekah bagai kelopak bunga pertama yang mekar di musim semi seketika gugur.
Ternyata, pengantin yang sedang berbahagia itu adalah Atha dan Dahayu. Di mana mereka tampil indah dalam balutan gaun dan jas warna putih yang cantik. Mereka tersenyum, begitu lebar dengan mata yang berbinar.
Kalau mimpi itu datang di hari-hari sebelum kenyataan pahit ini harus dia terima, Kinara hanya akan terbangun sambil menertawakan dirinya sendiri karena telah bermimpi sesuatu yang konyol.
Tetapi karena mimpi itu datang setelah semua hal buruk ini terjadi, Kinara tidak punya pilihan selain menertawakan dirinya sendiri dalam keadaan hati yang miris.
Stok air matanya masih banyak, Kinara yakin itu. Tetapi anehnya, bulir-bulir itu seolah tidak mau lagi keluar. Sengaja mengendap di tempat paling dasar di sudut hatinya sehingga membuat dadanya kian terasa sesak.
Tidak ingin membiarkan perasaan sedih itu berlarut-larut, Kinara pun bangkit dari kasur. Dia berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil jaket dari sana kemudian langsung memakainya.
Tanpa membawa ponselnya yang memang masih dalam keadaan mati, Kinara berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang diayun lebar.
__ADS_1
Tujuan pertamanya adalah kamar mandi. Dia ingin membasuh wajahnya terlebih dahulu agar tampak lebih baik.
Di kamar mandi, bukannya segera melakukan apa yang dia rencanakan, Kinara malah terdiam cukup lama di depan cermin, menatapi pantulan dirinya sendiri yang tampak mengerikan.
Matanya benar-benar bengkak, seperti seseorang telah memukulinya berulang-ulang kali. Bibirnya tampak pucat dan sedikit pecah-pecah dan hidungnya memerah.
Sadar bahwa diam saja tidak akan merubah apa pun, Kinara segera menyalakan keran, menengadahkan kedua tangan untuk menampung air sebelum membasuhkannya ke wajah.
Kinara membawa butir-butir air di dalam telapak tangannya ke wajah sebanyak tiga kali. Mengusap wajahnya pelan sambil meresapi sensasi dingin yang ditimbulkan oleh kontak antara air dari keran dengan kulit wajahnya yang tipis.
Dirasa sudah cukup, Kinara mematikan keran. Diraihnya handuk kecil bersih yang tergantung di dekatnya kemudian menggunakan benda lembut itu untuk mengusap sisa-sisa air di wajahnya.
Kini, Kinara merasa keadaannya sudah jauh lebih baik. Maka dia pun berjalan keluar dari kamar mandi.
Sampai di depan pintu, Kinara menarik kenop dengan gerakan pelan lalu membuka pintu itu dan segera melesat keluar. Semoga saja, dia bisa kembali ke rumah sebelum Papa dan Mama bangun untuk sholat subuh supaya kedua orang tuanya itu tidak khawatir.
...****************...
Awalnya Kinara cuma berniat untuk lari-lari di sekitar area rumahnya seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi. Namun, karena kepalanya begitu ribut sehingga membuatnya tidak bisa fokus, Kinara malah menemukan dirinya sudah berada di lokasi yang jaraknya hampir sembilan kilometer dari rumahnya.
"Ha...." Kinara membuang napas panjang sebagai respon pertama atas perbuatannya sendiri.
Padahal kalau sedang dalam kondisi normal, dia tidak akan mampu berjalan sejauh ini. Jangankan sembilan kilometer, baru satu kilometer saja dia pasti sudah mengeluh capek dan sesak napas.
__ADS_1
Karena dia tidak bisa pergi lebih jauh lagi (takut nyasar), Kinara pun memutuskan untuk naik ke jembatan penyeberangan yang ada tak jauh dari tempatnya berhenti.
Satu demi satu anak tangga dia daki walaupun kakinya sudah mulai terasa pegal dan keras. Sampai akhirnya dia tiba di atas jembatan penyeberangan yang sepi.
Benar-benar sepi, karena sama sekali tidak ada orang yang berlalu-lalang. Pedagang tisu yang biasa dia temui di siang hari juga tidak ada di sana. Bahkan kucing-kucing liar yang biasa nongkrong santai di sana pun sama sekali tidak menampakkan diri. Seolah mereka semua sudah sepakat untuk menghilang karena tahu Kinara akan datang.
Kinara berjalan sedikit lebih jauh ke tengah jembatan. Kini, dia berdiri tepat di tengah-tengah jembatan penyeberangan tersebut.
Mulanya, Kinara cuma diam tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Sampai tiba-tiba, kakinya seolah bergerak sendiri, membawanya melangkah ke depan sampai kini tubuh kurusnya membentur pagar pembatas yang tingginya hampir sejajar dengan dadanya.
Kinara melipat kedua tangan, menumpukannya di atas pagar pembatas. Pandangannya terlempar jauh ke depan, pada jalanan yang kosong dan gelap. Sedari tadi, dia cuma melihat beberapa kendaraan melintasi jalan itu, yang semuanya adalah truk-truk pengangkut barang yang memang biasanya lebih sering beroperasi di jam-jam di mana orang kebanyakan asik terlelap.
Angin menerpa wajah Kinara berkali-kali, menabraknya dengan kekuatan penuh yang seolah-olah ingin membuatnya sadar bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya sampai sejauh ini bukanlah mimpi. Untuk membuatnya sadar bahwa hidupnya benar-benar telah berubah, semuanya.
Kinara memejamkan matanya sebentar. Mulai membayangkan hal-hal baik yang masih dia miliki sampai saat ini. Seperti senyum Mama dan Papa, pohon Flamboyan di depan cafe incarannya, juga hal-hal indah lainnya. Dia hanya berharap dengan membayangkan hal-hal indah semacam itu bisa membantu suasana hatinya agar tidak semakin buruk.
Soal rasa sakit yang dia derita, Kinara tidak akan menuntut dirinya sendiri untuk segera sembuh. Hanya saja, dia berharap rasa sakit itu tidak semakin tumbuh, supaya dia juga punya kesempatan yang lebih besar untuk menyembuhkan lukanya sembari mengais kepingan-kepingan hatinya yang berserak di mana-mana.
Entah sudah berapa lama Kinara terdiam di tempatnya sambil memejamkan mata. Dan dia mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk tenggelam di dalam dunianya sendiri, kalau saja tidak muncul sebuah suara yang tahu-tahu sudah terdengar tepat di telinganya yang sebelah kiri.
Itu suara seorang pria, mengalun begitu lembut tetapi juga terkesan tegas di saat yang bersamaan.
Siapa? Batin Kinara sebelum dia membuka matanya.
__ADS_1
Bersambung