After The Rain

After The Rain
Klarifikasi


__ADS_3

Karena dia masih tidak diperbolehkan untuk pulang melebihi jam malam yang telah Papa tentukan, Kinara mengusulkan kepada Astari agar mereka mengobrol saja di rumah dan perempuan itu setuju.


Setelah semua pekerjaannya beres, Kinara bergegas memberesi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Karyawan lain sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu. Dan seperti biasa, hanya tinggal ada dirinya dan Sekala yang memang bertugas mengunci pintu.


"Mas Kala nggak usah anterin saya pulang malam ini," katanya kepada Sekala ketika mereka sudah berdiri di samping mobil masing-masing. Hari ini mereka memarkirkan mobilnya bersebelahan di parkiran khusus pengunjung.


"Mana bisa begitu? Saya udah dapat tugas dari Papa kamu untuk memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat."


"Sekali ini aja, Mas."


"Nggak ada. Saya tetap harus kawal kamu seperti biasa."


Kinara mendengus saat Sekalala langsung masuk ke dalam mobil tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.


Karena tidak punya pilihan, akhirnya Kinara ikut masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya terlebih dahulu. Tapi tidak seperti biasanya ketika dia akan mengemudi dalam kecepatan sedang, malam ini Kinara sedikit ngebut karena tidak ingin membuat Astari menunggu lama. Iya, perempuan itu sudah ada di rumahnya sekarang.


Di belakang, mobil Sekala mengimbangi kecepatan mobil Kinara dengan ikut menaikkan lajunya.


Setengah jam perjalanan, dua mobil itu akhirnya tiba di area tempat tinggal Kinara. Seperti malam-malam sebelumnya, Sekala hanya akan mengantar sampai gang depan, mengamati sampai mobil Kinara menghilang di belokan dan memastikan gadis itu telah masuk ke dalam rumah dengan meneleponnya beberapa menit kemudian.


Setelah memarkirkan mobilnya, Kinara bergegas turun, menolak panggilan telepon dari Sekala dan langsung mengirimi lelaki itu pesan sebagai tanda bahwa dia sudah masuk ke dalam rumah.


Kinara melabuhkan ketukan sebelum mendorong pintu rumah, yang ketika dibuka, langsung menampilkan sosok Astari yang sudah duduk manis di atas sofa ruang tamu, bersama Mama.


"Maaf ya, Mbak, aku udah bikin Mbak nunggu lama." Ucapnya, setelah mencium tangan dan pipi Mama lalu mengambil posisi duduk di tengah-tengah mereka.


"Nggak apa-apa," Astari menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Ya udah, Mama masuk, ya." Pamit Mama, Kinara dan Astari serempak mengangguk.


Setelah kepergian Mama, Kinara langsung memusatkan perhatian kepada Astari.


"Jadi, apa yang udah Mas Kala lakuin ke Mbak Astari? Dia jahat? Dia kasar?" todongnya. Terus nyerocos seperti petasan banting.


Astari menghela napas panjang, kemudian menggelengkan kepala dan memberi isyarat kepada Kinara untuk diam sebentar dan dengarkan saja apa yang akan dia sampaikan.


"Ya udah, iya, aku dengerin." Pasrah Kinara. Lalu, dia benar-benar menyiapkan telinga.


"Mbak nggak suka sama Sekala, Ra." Kata Astari, langsung pada poin utamanya.


Kinara belum menyahut, karena dia tahu Astari masih punya banyak hal untuk disampaikan.


"Mbak sering memandangi Sekala karena anak itu mengingatkan Mbak sama seseorang."


"Mantan calon suami Mbak."


Mantan calon suami. Entah karena dia sudah lelah kuliah dan bekerja seharian ini, atau memang kapasitas otaknya saja yang sebenarnya pas-pasan, Kinara butuh waktu yang cukup lama untuk mencerna maksud Astari.


"Dulu, Mbak sempat hampir menikah dengan pacar Mbak. Tapi pernikahan kami batal karena suatu hal, dan hal itu bikin Andanu benci setengah mati sama mantan Mbak ini. Makanya, Mbak nggak bisa kasih tahu alasan yang sebenarnya kenapa Mbak sering datang ke Orion, karena Andanu pasti bakal ngamuk kalau tahu Mbak masih memikirkan mantan Mbak itu. Jadilah Mbak diam aja sewaktu kamu dan Andanu berpikir kalau Mbak menyukai Sekala." Astari menjelaskan panjang lebar, kemudian memberi jeda agar Kinara punya waktu untuk mencerna informasi yang dia berikan.


Setelah dirasa waktu yang dia berikan kepada Kinara cukup, dan gadis itu mulai paham ke mana arah pembicaraan mereka, Astari melanjutkan.


"Tapi, lama-kelamaan sikap kalian mulai berlebihan. Menjodoh-jodohkan Mbak dengan Sekala, bahkan memaksa Sekala untuk mengajak Mbak jalan itu sudah nggak bisa dibenarkan, Nara. Mbak jadi merasa nggak enak sama Sekala, dia kelihatan nggak nyaman." Astari meringis saat mengingat lagi betapa tidak nyamannya Sekala berada di sekitarnya. Bukan karena dia yang selalu menatap ke arah lelaki itu, melainkan reaksi Kinara dan Andanu yang heboh setiap kali mereka terlihat berdekatan di depan dua bocah kematian itu.


"Mas Kala tahu soal ini?"

__ADS_1


Astari mengangguk. "Tadi, sewaktu kamu minta Sekala untuk ajak Mbak jalan-jalan, Mbak udah jelaskan kepada Sekala. Dan ternyata, dia paham. Dia juga nggak keberatan kalau Mbak tetap datang ke Orion setelah tahu alasan Mbak yang sebenarnya. Dia cuma risi karena kamu dan Andanu terus-menerus menjodohkan kami. Dan seperti yang kamu tahu, Sekala nggak mungkin ngomong langsung ke kamu kalau di risi."


Kinara terdiam sepenuhnya. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Semakin membesar seiring dengan tarikan napas yang dia ambil.


Mungkin karena selama ini Sekala selalu bersikap baik terhadapnya, dia jadi lupa untuk membatasi diri. Dia jadi lupa untuk bersikap selayaknya karyawan terhadap bos, yang tetap harus menunjukkan rasa hormat meksipun dia tahu lelaki itu tidak pernah mengharapkannya.


Lebih dari itu, Kinara merasa bersalah karena telah memaksakan apa yang ada di dalam kepalanya untuk menjadi kenyataan.


Kisah cintanya yang kandas dengan cara yang begitu mengenaskan mungkin telah secara tidak sadar membuat dirinya memimpikan sebuah kisah cinta romantis dengan akhir yang manis, sehingga dia mengorbankan orang-orang di sekitarnya untuk memenuhi bayangannya itu.


Padahal Astari dan Sekala jelas-jelas tidak merasa nyaman. Padahal Astari dan Sekala cuma mau berteman. Padahal, dia tidak tahu apa-apa soal perasaan mereka masing-masing, tapi berani sekali mengatur segala macam hal dengan alasan ingin membantu melancarkan hubungan keduanya, yang bahkan mereka berdua saja tidak menginginkan hubungan semacam itu terjadi.


"Nggak apa-apa, Ra. Kamu nggak perlu merasa bersalah."


Kinara menggigit bibir bawahnya sendiri saat merasakan tangan hangat Astari menyentuh punggung tangannya dan memberikan usapan pelan di sana. Perasan bersalah dan rasa malu telah membuat wajahnya tertunduk jatuh, sama sekaki tidak berani beradu tatap dengan perempuan yang duduk di sampingnya itu.


"Mbak tahu niat kamu baik. Udah, jangan menyalahkan diri sendiri." Hibur Astari lagi, namun tidak cukup mampu untuk mengusir rasa bersalah yang justru semakin membesar.


"Ra? Bisa lihat Mbak sebentar?" tanya Astari lembut, membuatnya mau tidak mau mengangkat kepalanya perlahan.


"Maaf, Mbak ...." Lirihnya.


Astari menggelengkan kepala pelan. "Mbak sama Sekala nggak marah. Kami cuma kebingungan aja mencari cara untuk kasih tahu kamu dan Andanu supaya nggak salah paham lagi," sebuah senyum terukir di wajah cantiknya.


"Yang penting sekarang kamu udah tahu, itu udah cukup. Ah, satu lagi ... nggak usah bilang apa-apa sama Andanu, oke? Biar alasan ini jadi rahasia kita bertiga aja."


Kinara mengangguk patuh. Tapi perasaannya masih tidak membaik bahkan ketika Astari menggenggam tangannya erat. Sungguh, dia merasa sangat bersalah terhadap Sekala sekarang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2