After The Rain

After The Rain
Bekal Untuk Papa


__ADS_3

Setelah tenggelam dalam aktivitas memasaknya selama lebih dari satu jam, Kinara akhirnya bisa tersenyum bangga saat berhasil menyajikan ayam rica-rica kesukaan Papa.


Dia menata nasi, ayam rica-rica, dan beberapa jenis lalapan ke dalam kotak bekal kemudian membiarkan kotak itu terbuka sebentar agar uap panas dari nasi dan ayam rica-rica yang baru matang bisa sedikit berkurang.


Kemudian, dia berjalan menuju kulkas, mengeluarkan satu buah apel dan membawanya ke wastafel untuk dicuci kemudian dia masukkan buah apel yang sudah bersih dan telah dia keringkan menggunakan tisu itu ke dalam wadah yang lain.


Bekal sudah selesai dibuat, Kinara menyingkirkan kotak bekal itu agak ke pinggir meja karena dia harus menata masakannya di atas meja untuk sarapan.


Nasi sudah dikeluarkan dari penanak nasi dan dipindahkan ke wadah dan diletakkan ke atas meja. Disusul dengan ayam rica-rica, lalapan dan buah-buahan yang Kinara susun cantik di atas meja. Tidak lupa dia menyiapkan piring, sendok dan gelas serta air minum di atas meja.


Setelah selesai, Kinara menatap luas hasil kerjanya sendiri. Rupanya, hobinya merecoki Mama saat sedang memasak di dapur sekarang membuahkan hasil. Dia jadi tidak terlalu kagok berkutat dengan segala hal berbau dapur.


Sarapan sudah siap, tetapi jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan Papa pasti masih bersiap di dalam kamar. Jadi, sembari menunggu Papa selesai bersiap, Kinara melipir ke wastafel cuci piring di mana berbagai peralatan dapur yang kotor sudah teronggok di sana dan meraung-raung minta dicuci.


Akhirnya, Kinara bergegas mencuci satu persatu peralatan itu sembari bersenandung riang. Sesuatu yang jarang sekali terjadi, kalau kalian mau tahu.


Beres mencuci peralatan dapur dan menaruhnya kembali ke tempat semula, Kinara berniat untuk memanggil Mama dan Papa supaya mereka bisa sarapan bersama.


Tetapi belum sampai kakinya melangkah, dua orang yang hendak dia tuju itu sudah lebih dulu muncul di hadapannya.


..."Morning, Mama. Morning, Papa!" sapanya riang....


Mama dan Papa yang melihat gelagat tak biasa sang putri cuma bisa saling pandang sebelum akhir perhatian mereka tercuri saat Kinara tiba-tiba menyeret lengan mereka dan menuntun mereka menuju meja makan.


Kinara menarikkan kursi untuk Mama dan Papa, membalikkan piring yang telah disediakan di depan kursi masing-masing kemudian menuangkan air minum untuk mereka. Setelah itu, barulah Kinara duduk di kursi seberang dan melakukan semua hal tadi untuk dirinya sendiri.


"Anak kamu kesambet apa, Ma?" bisik Papa sembari mencondongkan tubuhnya ke kiri, ke arah Mama. Sementara tatapannya masih tertuju lurus ke arah Kinara.


"Nggak tahu. Kayaknya habis dapat mimpi indah, makanya cerah begitu mukanya." Mama balas berbisik. Ikut-ikutan mencondongkan tubuh ke kanan dengan tatapan yang juga tertuju pada Kinara.

__ADS_1


Sementara itu, Kinara yang menjadi objek gunjingan ayah dan ibunya sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Dia mulai menyendokkan nasi ke dalam piring, menaruh lauk-pauk di atasnya kemudian mengangkat sendoknya tinggi-tinggi.


"Selamat makan!" ucapnya riang yang sekali lagi mengundang kerutan di kening Mama dan Papa.


...****************...


Mereka selesai sarapan sekitar pukul delapan kurang. Setelah mencuci piring, sendok dan gelas kotor, Kinara menyusul Mama dan Papa yang sudah lebih dulu berada di ruang tamu. Sekadar mengobrol sebentar sebelum memulai aktivitas masing-masing.


Langkahnya masih seringan tadi. Senyumnya mengembang sempurna sambil memandangi kotak bekal makan siang yang ada di tangannya.


"Papa," panggil Kinara, membuat Papa yang sedang mengobrol dengan Mama praktis menolehkan kepala.


"For you." Katanya sembari menyodorkan kotak bekal makan siang itu kepada Papa.


Mulanya Papa hanya diam sembari memandangi kotak bekal makan siang yang Kinara sodorkan dan Kinara secara bergantian. Kemudian, saat Kinara terus-menerus menyodorkan kotak bekal makan siang itu agar lebih dekat ke arah Papa, lelaki itu segera mengambilnya.


"Bekal buat Papa, buat tambah semangat kerjanya."


Mendengar itu, Papa terdiam. Sekali lagi dia dibuat tersentuh dengan perlakuan manis sang putri. Meskipun di keluarga kecil mereka tidak ada yang betul-betul pandai mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, tetapi perlakukan mereka terhadap satu sama lain sudah cukup untuk menggambarkan perasaan sayang itu sendiri.


"Makasih, Nara." Papa berucap dengan senyum yang kehangatannya menjalar ke seluruh tubuh Kinara hanya dalam waktu singkat. Seolah Papa sedang memeluknya erat sekarang.


"Sama-sama."


Kemudian, Papa bangkit dari sofa. Lelaki itu berjalan pelan dan langsung memeluk Kinara. Menyalurkan kasih sayang yang dia punya untuk Kinara melalui tepukan-tepukan pelan yang dia labuhkan ke punggung kecil sang putri.


"Papa berangkat kerja dulu, ya." Pamit Papa setelah pelukan mereka terlepas.


Kinara mengangguk semangat. Senyumnya sama sekali tak luntur. Bahkan ketika dia membawa tangan Papa ke depan mukanya dan melabuhkan kecupan singkat di punggung tangan itu, senyum Kinara masih bertahan.

__ADS_1


Lalu dia dan Mama mengantarkan Papa sampai ke halaman depan. Mulanya dia berinisiatif untuk mengantarkan Papa sampai ke halte, tetapi laki-laki itu menolak dan menyuruhnya untuk mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat.


Setelah Papa pergi, Kinara dan Mama berdiri cukup lama di depan pintu. Keduanya sama-sama memandang ke arah jalanan yang tadi Papa lewati. Dalam hati sama-sama berdoa untuk keselamatan dan kelancaran Papa selama bekerja sampai kembali ke rumah ini malam nanti.


"Anak pintar."


Kinara menoleh saat merasakan tangan Mama mendarat sempurna di kepalanya. Wanita itu tersenyum hangat, kemudian mulai menggunakan tangannya untuk menepuk-nepuk kepala Kinara pelan.


"You're the best." Puji Mama lagi.


Namun Kinara menggeleng. Karena bukan dia yang hebat, melainkan kedua orang tuanya yang masih bisa saling melemparkan senyum dan menghujaninya dengan limpahan kasih sayang walaupun kini mereka sedang diuji.


"No, Mama dan Papa yang the best." Lalu setelahnya, Kinara menghambur ke dalam pelukan Mama. Dia menempelkan telinganya cukup lama di dada sang ibu, menikmati setiap detak yang terdengar dari gerak jantung Mama di dalam sana.


Dari detak itu, dia merasa terhubung. Sebab dari setiap detak yang terdengar, kehidupan Kinara serasa kembali dimulai.


Kegiatan ini menyenangkan, dan Kinara bisa melakukannya seharian. Berdiam diri sembari mendengarkan detak jantung Mama selagi kepalanya diusap pelan. Wah, sungguh menyenangkan.


Tetapi Kinara segera menarik diri dari pelukan Mama ketika rungunya menangkap sebuah suara kecil yang jernih.


Kinara dan Mama sama-sama menoleh, hanya untuk mendapati Lestari sedang berdiri di depan teras rumah mereka sambil menenteng sebuah rantang yang entah apa isinya.


Gadis kecil itu berdiam cukup lama. Melemparkan tatapan ke arah Mama dan Kinara secara bergantian lalu sesekali menoleh ke belakang, ke arah rumahnya di mana sang ibu sedang menunggu di depan pintu dengan senyum yang mengembang.


Kemudian, setelah menghela napas panjang (Kinara tidak tahu mengapa bocah sekecil itu bisa melakukannya, seolah beban yang dia pikul benar-benar berat), Lestari melangkah mendekat.


Sampai di hadapan, Lestari mengulurkan rantang yang dia bawa ke arah Kinara. Dengan suara kecilnya yang jernih Lestari berkata, "Rendang, dari Ibu buat kamu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2