After The Rain

After The Rain
Graduation


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Hari-hari sakit yang dia lewati akhirnya membawa Kinara sampai di titik ini, di mana dia telah berhasil menyelesaikan study dan mendapatkan gelar Sarjana. Sakit hatinya juga sudah sembuh, sudah tidak lagi tersisa barang sedikit. Lebam-lebam yang membuatnya menguras air mata di malam-malam tertentu sudah hilang. Sekarang, hanya tinggal kenangan baik saja yang ada di hati dan kepalanya.


Semua itu berkat Mama dan Papa, tentu saja. Juga berkat orang-orang di sekitarnya yang terus memberikan banyak efek positif yang semakin hari membuatnya semakin tumbuh ke arah yang lebih baik.


Ada Lestari dan Sinta, yang sudah lebih dulu mengajarinya untuk menerima segala garis takdir yang telah Tuhan tentukan.


Ada Andanu, yang mengajarinya untuk tetap tegak berdiri meskipun badai menerpa berulang-ulang kali.


Ada Astari, yang mengajarinya bahwa putus cinta bukanlah akhir dari dunia, dan dia bisa kembali menemukan cinta yang lebih baik ketika nanti sudah sepenuhnya sembuh dan menerima diri sendiri.


Ada Jeremy dan Dimas, yang mengajarkan kepadanya bahwa pertolongan Tuhan itu nyata, di mana dua orang yang awalnya cuma menggantungkan hidup di jalanan akhirnya memberanikan diri melamar pekerjaan hanya bermodal KTP dan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah tidur.


Kemudian, ada Sekala, yang mengajarinya bahwa menjadi baik tidak pernah merugikan siapa-siapa. Bahwa kebaikan-kebaikan yang dia taburkan tidak selalu kembali dari arah yang sama, tetapi pasti kembali meskipun dalam bentuk dan arah yang berbeda.


Kinara memang pernah kehilangan kekasih dan teman, tetapi setelah itu, Tuhan begitu berbaik hati menggantikan dua orang yang hilang itu dengan orang-orang yang lebih baik. Meksipun mereka semua tidak sempurna, meskipun mereka semua memiliki cacat dan luka masing-masing.


Kinara menyapukan pandangan ke seluruh area di Orion yang hari ini sengaja tutup karena Sekala selaku owner telah memutuskan untuk memakai cafe ini sebagai tempat mengadakan perayaan kecil-kecilan atas keberhasilannya menyelesaikan kuliah.


Semua orang yang Kinara sebutkan tadi hadir, turut bersukacita bersama dirinya. Bahkan Andanu yang masih galau karena skripsi-nya masih harus direvisi sekalipun, tetap ikut hadir dan tertawa bersama orang-orang yang hadir.


"Makasih, ya, Mas Kala." Bisiknya kepada Sekala, yang duduk anteng di sebelahnya sambil memperhatikan yang lain sedang asik bercengkerama.


"Sama-sama, Kin." Sekala menjawab dengan tatapan yang masih tertuju jauh ke depan.


Sejak beberapa menit yang lalu, dia dan Sekala memang agak menjauh dari keramaian, memilih duduk di belakang counter untuk sekalian membahas tentang unggahan-unggahan yang Sekala buat di akun Instagram-nya, @dyellow.


Ya, berkat rumor pacaran yang disebar oleh Jeremy juga lah dia akhirnya tahu kalau sosok @dyellow yang selama ini dia kagumi adalah Sekala.


Sore itu, dia sedang beristirahat sebentar sembari menunggu gilirannya untuk bertukar shift dengan Ardi. Dia duduk di sebelah counter, asik menggulir layar ponsel yang kala itu dia gunakan untuk menilik akun Instagram yang sudah lama tidak dia buka.


Pas sekali ketika dia iseng membuka profil Instagram milik @dyellow karena dia merindukan unggahan dari akun itu yang sudah lama sekali hiatus, Jeremy muncul dari balik pintu ruang staf. Rupanya pemuda itu tidak sengaja mengintip ke arah ponselnya dan langsung memekik heboh begitu tahu dia dan @dyellow saling mengikuti di Instagram.

__ADS_1


"Itu, kan akunnya Mas Sekala! Kok kamu bisa follow dia, sih?!" pekik Jeremy waktu itu. Kinara ingat sekali ekspresi wajah Jeremy sangat lucu, perbaduan antara rasa terkejut, kecewa dan kesal di saat yang bersamaan.


Kinara yang saat itu baru tahu kalau akun @dyellow ternyata adalah milik Sekala, tidak bisa bereaksi banyak untuk menanggapi pekikan Jeremy. Dia cuma terdiam sambil mendengar celotehan lelaki itu. Mendengarkan keluh kesah tentang Sekala yang ternyata tidak mau mutualan dengan para karyawan di Orion—entah apa alasannya.


Berhubung Kinara tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran, hari itu juga, tepatnya malam sebelum Orion tutup, dia mengajak Sekala berbicara empat mata untuk membahas tentang akun @dyellow itu. Mulai dari kenapa Sekala tidak mau karyawan di Orion mengikuti akunnya, sampai alasan akun itu hiatus untuk waktu yang cukup lama.


Berkat obrolan larut malam itu, Kinara tahu kalau alasan Sekala tidak mau mutualan dengan para karyawan karena tidak mau membuat mereka melihat sisi melankolis yang selama ini tidak dia tampakkan.


Lagipula, Jeremy si kepo itu memang tidak sengaja juga menemukan akun miliknya ketika—sekali lagi—tidak sengaja melihat ketika dia sedang membuka akun itu untuk mengunggah sebuah foto. Beruntungnya, Jeremy menurut. Pemuda itu tidak membocorkan akun milik Sekala sehingga karyawan yang lain tidak punya kesempatan untuk menemukan dirinya.


Dan untuk alasan kenapa Sekala berhenti membuat unggahan ternyata karena lelaki itu lupa password Instagram setelah ponselnya tidak sengaja kembali ke setelan pabrik. Lalu, Kinara membantu Sekala membuka kembali akunnya sehingga dia bisa menagih beberapa foto untuk diunggah sebagai bayaran.


"Yang ini, saya mau simpan. Boleh, nggak?" Kinara menunjuk sebuah foto yang sudah lama sekali Sekala unggah. Foto yang menunjukkan tampak belakang lelaki itu, yang dulu dia berikan tanda hati.


"Buat apa? Kelihatan punggungnya doang gitu,"


"Ih, ini cantik, Mas Kala." Kinara masih berusaha meyakinkan agar Sekala mengizinkan fotonya ia simpan.


Sebenarnya, Kinara bisa saja asal mencomot foto itu lalu dia simpan di galeri ponsel. Tetapi karena itu tidak sopan, dan malah membuatnya terlihat seperti penguntit yang menakutkan, dia meyakinkan diri bahwa foto itu tetap harus diambil setelah mendapatkan izin dari sang empunya.


"Ini cantik, titik." Kinara jadi agak ngegas. Bukan supaya diberi izin, tetapi supaya Sekala sadar kalau setiap sisi tubuhnya itu cantik. Kinara merasa Sekala harus mulai mencintai dirinya sendiri lebih banyak, jadi ia akan mengatakan kepada Sekala betapa cantiknya lelaki itu setiap saat.


"Yaaa ... boleh yaaaaa," rengeknya, sambil menggoyang-goyangkan lengan Sekala.


Seperti biasa, Sekala tidak akan menang kalau lawannya adalah Kinara. Apalagi saat melihat manik gadis itu berbinar penuh harap seperti ini. Jangankan sebuah foto, kalau Kinara meminta kepadanya untuk dibelikan sebuah pulau sekalipun, Sekala akan dengan senang hati mengusahakannya.


Maka, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, kemudian dia sodorkan kepada gadis di sampingnya itu.


Bukannya senang, Kinara malah mengerutkan kening kebingungan. Dia meminta sebuah foto, lalu kenapa Sekala malah memberinya ponsel?


"Fotonya ada di dalam hape ini, kamu cari aja, terus kirim ke hape kamu. Selain foto yang itu, ada juga foto-foto lain yang udah pernah ataupun belum saya unggah ke Instagram. Ambil aja semua yang kamu mau,"


Barulah setelah Sekala menjelaskan begitu, Kinara meraih ponsel tersebut. Namun, Kinara tidak langsung melakukan apa yang Sekala katakan sebelumnya. Kini dia malah bertanya-tanya, kenapa Sekala bisa begitu percaya untuk memberikan ponselnya kepada orang lain? Bukankah ponsel adalah gudangnya rahasia dari setiap manusia? Di dalamnya ada banyak hal, yang seharusnya hanya disimpan untuk diri sendiri, benar?

__ADS_1


Kebingungan itu sepertinya sampai kepada Sekala, sehingga setelah mengembuskan napas pelan, lelaki itu kembali bersuara.


"Kenapa lagi?" suaranya terdengar begitu lembut, hingga membuat Kinara nyaris tenggelam terbawa arus.


"Saya boleh buka galeri di hape Mas Kala?" tanya gadis itu.


"Iya, boleh."


"Kok boleh?"


Kali ini, giliran Sekala yang mengerutkan kening. "Seharusnya nggak boleh?" tanyanya balik.


"Harusnya sih nggak boleh, kan nggak sopan."


"Emang kamu mau lihat sampai sejauh mana?"


"Ha?"


"Cuma saya ijinkan lihat isi galeri, kan? Nggak untuk lihat yang lain?"


Kinara terdiam sebentar, kemudian kembali bersuara setelah mengembuskan napas pelan. "Itu dia maksud saya, kok Mas Kala percaya kalau saya nggak akan lihat-lihat yang lain?"


"Feeling." Tandas Sekala. "Kamu nggak akan minta izin untuk save foto saya kalau kamu memang punya pikiran untuk mengintip lebih banyak daripada yang saya izinkan, karena bisa aja kamu langsung save foto saya tanpa sepengetahuan saya sama sekali."


Ya ... benar juga, sih...


"Udah, kamu cari aja foto mana yang kamu mau, saya mau gabung lagi sama yang lain, nggak enak terlalu lama pergi."


Kemudian, Sekala berjalan menghampiri yang lain, menghambur ke dalam obrolan yang semakin meriah setelah kedatangannya.


Sementara Kinara malah bengong, tidak kunjung melaksanakan niatnya untuk menyimpan foto Sekala karena tiba-tiba saja dia merasa terbebani, tidak berani untuk membuka ponsel Sekala meskipun sudah diberikan izin oleh sang empunya.


"Harusnya tadi ngobrolin yang lain aja, Ra. Kenapa juga harus minta izin save foto?" ia merutuki keputusannya sendiri, menatap nanar ponsel Sekala yang ada di tangan kirinya.

__ADS_1


Ternyata, diberi kepercayaan oleh orang lain memang bisa menimbulkan rasa tanggung jawab yang sebesar ini, ya...


Bersambung


__ADS_2