After The Rain

After The Rain
Bukan


__ADS_3

Dahayu tidak bisa menahan ekspresi keheranan kala menemukan Kinara muncul di hadapannya dengan keadaan yang berantakan. Wajah gadis itu pucat, rambutnya acak-acakan dan ada lingkaran hitam yang melingkupi sepasang matanya.


"Hai, Ay." Sapa gadis itu dengan suara lesu.


Makin bertambahlah keheranan Dahayu. Sebab, tidak pernah ada sejarahnya seorang Kinara Adorelia anteng begini. Gadis itu akan selalu. Ingat, se.la.lu heboh setiap kali bersama dengan dirinya.


Lantas, apa yang membuat gadis itu menjadi lemah letih lesu lunglai seperti sekarang ini?


"Lo kenapa, deh? Habis bergadang?" tanya Dahayu, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil dan menyeret Kinara untuk duduk bersandar di kap depan.


Alih-alih menjawab, Kinara malah menghela napas panjang, seolah di dalam dadanya kini ada beban yang begitu berat dan harus segera dihempaskan.


"Heh! Lo dengar nggak gue tanya?!" Dahayu menggeplak bahu Kinara agak kencang. Tidak seperti biasa di mana gadis itu akan merengek kesakitan, lagi-lagi Dahayu dibuat keheranan sebab gadis itu pasrah saja saat tubuhnya terhuyung kesamping.


"Ra, sumpah nggak lucu! Lo kenapa?!" kali ini, habis sudah kesabaran Dahayu. Dia bergerak menarik tubuh Kinara agar berhadapan dengannya. "Kenapa?" desaknya semakin tidak sabaran.


Sebelum bibir pucat itu terbuka, Dahayu kembali mendengar Kinara menghela napas dan hal itu semakin membuatnya khawatir.


"Raaaa?!" Dahayu terus mendesak sembari mengguncangkan tubuh Kinara.


"Gue nggak tidur semalaman."


"Kenapa? Ada masalah apa?" cerocos Dahayu yang membuat Kinara lagi-lagi menghela napas. Entahlah, seolah menghela napas sudah menjadi hobi baru bagi gadis itu.


"Gara-gara Mama."


Dahayu menaikkan sebelah alisnya. "Tante kenapa?"


Sebelum memulai ceritanya, Kinara terlebih dahulu melepaskan tangan Dahayu yang masih tersampir santai di kedua pundaknya. Kemudian dia membetulkan posisi duduknya dan pandangannya mulai menerawang jauh ke depan, seolah sedang mengumpulkan kembali memori dari kejadian yang menimpanya semalam.


Iya, kejadian saat dia melihat penampakan.


"Semalam gue kebangun karena kepanasan." Katanya mengawali cerita. Dahayu di sampingnya diam mendengarkan dengan saksama. "Terus gue haus, jadinya gue ke dapur buat ngambil minum." Sambungnya, sembari membayangkan kembali peristiwa semalam.

__ADS_1


"Terus?"


"Terus pas mau balik ke kamar, gue lihat ada yang tidur di atas sofa. Karena penasaran, gue samperin dong buat memastikan itu beneran manusia atau bukan."


"Ternyata bukan?" sela Dahayu, membuat Kinara menoleh ke arahnya dan melotot.


"Dengerin dulu!"


"Iya, iya. Terus?"


"Aku jalan pelan-pelan, udah kayak maling lah pokoknya. Terus pas udah mau sampai, tiba-tiba ada yang nepuk pundak aku. Aku kaget dan refleks nengok ke belakang. Terus-"


"Hantu?" sela Dahayu lagi.


"Dengerin dulu, Ayu!" kesal Kinara karena Dahayu terus memotong ceritanya.


"Iya, iya, maaf. Buruan lanjutin."


"Pas aku nengok, aku refleks teriak karena di depan aku ada sosok berpakaian serba putih. Suasananya gelap, Ay. semua lampu mati, jadi aku nggak bisa ngeliat dengan jelas." Kinara memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan. "Dan kamu tahu, sosok itu bilang apa?"


"Setan mbahmu!" kata Kinara menirukan perkataan yang diucapkan oleh sosok berpakaian serba putih itu.


"Lah, bukan setan? Terus siapa?" tanya Dahayu yang langsung paham kalau ternyata yang Kinara pikir setan itu ternyata bukan.


"Mama." Jawab Kinara dengan bahu yang tiba-tiba merosot. Bibirnya kembali cemberut dan sekali lagi dia membuang napas. "Ternyata Mama habis sholat tahajud dan masih pakai mukena. Katanya beliau ngeliat aku lagi mengendap-endap kayak maling, makanya disamperin."


Untuk beberapa saat, Dahayu cuma diam. Dia sedang mencoba me-reka adegan cerita yang barusan Kinara sampaikan. Kemudian, saat adegan demi adegan berhasil tersusun rapi di dalam kepalanya, Dahayu praktis tergelak. Dia tertawa terbahak-bahak sembari menepuk-nepuk bahu Kinara, membuat sang empunya melirik tajam ke arahnya.


"Malah ketawa!" omel Kinara yang merasa sama sekali tidak ada yang lucu dari ceritanya. Dia hampir kena serangan jantung karena ulah Mama, kalau kalian mau tahu!


"Lo kocak!" kata Dahayu disela gelak tawa yang semakin membahana. "Mama sendiri dikatain setan. Durhaka lo!" kemudian tawanya berlanjut.


Kinara mendengus. Namanya juga refleks. Lagipula, sebelum peristiwa itu terjadi kan mereka memang habis menonton film horor. Wajar, kan, kalau Kinara jadi parno sendiri?

__ADS_1


Dahayu terbahak-bahak selama beberapa menit. Lalu saat dia merasakan napasnya mulai ngos-ngosan dan perutnya agak keram, Dahayu berusaha mati-matian meredakan tawa yang sebetulnya masih ingin dia ledakkan.


Satu tetes air mata merembes dari sudut mata sebelah kiri, Dahayu menyekanya menggunakan ujung jari telunjuk sebelum akhirnya memusatkan perhatian kembali kepada Kinara.


Hampir saja tawa Dahayu kembali meledak saat dia menemukan Kinara sedang memperlihatkan ekspresi wajah yang cemberut. Dan itu tampak sangat lucu di mata Dahayu.


"Terus, yang tidur di sofa ternyata siapa?" tanya Dahayu saat dia teringat bahwa asal mula kejadian lucu ini berawal dari rasa penasaran Kinara terhadap sosok yang teronggok di sofa.


"Papa."


"Lah, si Om ngapain tidur di sofa? Pisah ranjang sama si Tante?" ceplos Dahayu yang membuat Kinara mendelik.


"Sembarangan aja kalau ngomong!" semprot Kinara. Bukan cuma melalui kata-kata, Kinara juga meluapkan kekesalannya dengan melabuhkan satu tepukan keras di bahu Dahayu.


"Kan, gue cuma nanya!" Dahayu balik protes. Diusapnya pelan bahu yang barusan dianiaya oleh Kinara. "Soalnya bokap nyokap gue suka begitu." Sambungnya.


Kinara yang awalnya masih memasang raut kesal mendadak merubah ekspresi wajahnya secara total setelah mendengar kalimat terakhir Dahayu. Meskipun gadis itu mengatakannya dengan nada yang biasa-biasa saja, tetapi Kinara bisa mendengar dengan jelas kesedihan yang tersembunyi di sana.


Suasana mendadak canggung setelah itu. Kinara perlu berdeham beberapa kali untuk melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering tanpa alasan. Lalu, Kinara melompat turun dari atas kap mobil.


Setelah merapikan kemejanya yang sedikit kusut, Kinara mengulurkan tangan kepada Dahayu. Gadis itu pun menyambutnya dengan senang hati dan segera melompat turun juga dari atas kap mobil.


"Pulang kuliah nanti, mau nongkrong dulu di cafe yang baru buka depan kampus?" tawar Kinara selagi mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mobil.


Pagi ini, Dahayu yang akan menyetir. Mereka sudah menyepakatinya semalam melalui sambungan telepon.


"Tumben?" tanya Dahayu keheranan setelah dia mendudukkan diri di balik kemudi. "Biasanya lo paling susah kalau diajak nongkrong. Maunya langsung pulang aja biar bisa rebahan."


"Ya nggak apa-apa, sesekali nongkrong biar jadi anak gaul." Sahut Kinara sembari cengengesan.


"Ya udah, tapi gue maunya berdua doang, ya? Gue nggak mau kalau Atha ikut. Hitung-hitung sebagai ganti untuk agenda quality time kita yang gagal kemarin."


"Oke!"

__ADS_1


Setelah itu, mobil pun melaju meninggalkan area perumahan Dahayu. Mereka mungkin tidak akan pernah tahu, kalau sedari tadi, di balik gerbang yang menjulang tinggi, Lisa (ibu Dahay) berdiam diri cukup lama untuk menguping obrolan dua gadis remaja itu.


Bersambung


__ADS_2