After The Rain

After The Rain
Sympathy


__ADS_3

Tadinya Dahayu berniat untuk memberitahu Kinara soal kasus Layla yang menjadi semakin serius seusai mereka makan, tetapi niatnya itu tidak kunjung terlaksana bahkan sampai kelas terakhir selesai.


Selain karena tidak mendapatkan kesempatan untuk membuka obrolan karena Kinara selalu sibuk dengan buku-buku pelajaran, Dahayu juga ragu-ragu untuk memberitahu Kinara karena tahu gadis itu pasti akan heboh sendiri memikirkan nasib Layla, seolah dirinya lah yang sedang tertimpa musibah.


"Ay, kamu buru-buru nggak pulangnya?" tanya Kinara usai membereskan barang-barangnya.


Sambil menopang dagu dan tatapannya tidak beralih dari Kinara, Dahayu menjawab, "Nggak. Kenapa?"


"Aku ada janji buat ketemu sama Kak Irfan, ada yang mau kami discuss. Kalau kamu buru-buru, nanti aku minta tolong Atha aja buat anterin kamu pulang." Jelas Kinara.


Mendengar nama Irfan keluar dari bibir Kalea, Dahayu praktis menegakkan badannya. "Irfan yang anak kedokteran?" tanyanya memastikan.


"Iya."


"Nggak bisa besok aja ketemunya?"


"Nggak bisa, lah. Kan, udah janjian dari lama."


"Duh," Dahayu tiba-tiba memijat pelipisnya hingga membuat Kinara mengerutkan alis kebingungan.


"Kenapa, sih?" tanya Kinara saat Dahayu tak kunjung bersuara lagi.


"Nggak. Nggak apa-apa." Dahayu menggeleng. Dia hendak mengatakan pada Kinara alasannya memintanya untuk tidak ke gedung fakultas kedokteran karena takut gadis itu akan bertemu dengan Layla di sana. Tetapi setelah dipikirkan lagi, Dahayu mengurungkan niat itu karena kalau dia mengatakan yang sebenarnya, maka Kinara pasti akan semakin ingin datang ke sana.


Kinara itu kadang-kadang suka terlalu banyak memberikan simpati kepada orang lain, kalau kalian mau tahu.


"Nggak jelas banget kamu, Ay!" Kinara memukul lengan Dahayu agak keras hingga membuat gadis itu memekik dan melotot ke arahnya.


"Kamu tunggu aku di parkiran, ya. Kunci mobil masih sama kamu, kan?"


"Iya, masih. Tapi lo jangan lama-lama! Kalau lama gue tinggal!"


"Iya, bawel."

__ADS_1


Kemudian Kinara beranjak dari tempat duduknya. Mengabaikan bisik-bisik di sekelilingnya yang masih tetap berlangsung dari pagi hingga sekarang ketika sore sudah menjelang. Sebetulnya dia cukup penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi karena Dahayu bilang mereka tidak perlu tahu, maka Kinara memutuskan untuk mengikuti kata-kata sahabatnya itu.


Langkah Kinara semakin lama semakin lebar meski tanpa dia sadari. Koridor panjang yang masih ramai lalu-lalang manusia berhasil dia lewati dengan mulus tanpa kendala sama sekali.


Sampai akhirnya, Kinara berhasil menapakkan kaki di gedung fakultas kedokteran. Suasana di sini tentu berbeda dengan fakultas Seni dan Bahasa. Para mahasiswa di fakultas ini tampak lebih serius dan tidak punya sebanyak itu waktu untuk bergosip seperti yang terjadi di fakultasnya.


"Nara!"


Kinara menolehkan kepala ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Beberapa meter di depannya, Irfan berdiri sambil melambaikan tangan. Kinara membalas lambaian tangan itu dan segera berjalan menghampiri lelaki itu.


"Sorry udah bikin lo jauh-jauh datang ke sini. Soalnya gue cuma punya waktu sekarang dan memang cuma bisa di sini." Kata Irfan sesampainya Kinara di hadapannya.


"Santai, Kak. Aku ngerti kok kalau Kak Irfan sibuk." Kinara menjawab disertai senyum tulus.


"Ya udah, kita ngobrol di kantin aja, ya? Sekalian gue traktir lo makan, udah lama juga kita nggak makan bareng."


"Boleh."


...****************...


Selesai urusannya dengan Irfan, Kinara bergegas kembali ke gedung fakultasnya karena tidak mau membuat Dahayu menunggu lebih lama.


Untuk mempersingkat waktu, Kinara memilih jalan pintas lewat gerbang belakang. Tadi sewaktu kemari, dia sengaja tidak lewat jalan pintas ini karena tahu jam-jam segitu biasanya banyak mahasiswa yang nongkrong di taman belakang. Dan sekarang sudah cukup sore, Kinara yakin taman belakang sudah sepi.


Awalnya langkah Kinara terayun lebar. Sesekali dia bersenandung demi mengusir kejenuhan karena harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk kembali ke fakultasnya seorang diri.


Namun, langkahnya tiba-tiba menyempit dan lambat laun mulai terhenti ketika samar-samar dia melihat seseorang yang sedang duduk sendirian di gazebo belakang fakultas kedokteran. Walaupun kini orang tersebut sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam sehingga Kinara tidak bisa melihat wajahnya, tetapi dari postur tubuh dan cara berpakaiannya, Kinara yakin orang itu adalah Layla.


Setelah berulang kali memastikan, Kinara akhirnya memutuskan untuk menghampiri orang tersebut.


"Layla?" panggil Kinara ragu-ragu. Takutnya dia salah orang karena terlalu percaya diri.


Tapi ternyata tebakannya memang benar. Gadis yang sedang tertunduk lesu itu adalah Layla.

__ADS_1


"Hei, kamu nangis?" Kinara bergerak mendekati Layla ketika menyadari gadis itu sudah berurai air mata.


Setelah kini mereka ada di jarak dekat, Kinara bisa mencium aroma anyir yang kentara dari pakaian Layla. Bau itu terasa begitu menyengat hingga membuatnya terpaksa menahan napas.


"Kamu kenapa?" tanya Kinara berusaha melawan bau anyir yang semakin terasa meusuk ketika angin berembus menerpa tubuh mereka.


Layla tidak menjawab. Gadis itu kembali menyembunyikan wajahnya dan mulai menangis lebih keras. Kinara panik, tentu saja. Dia tidak pernah dihadapkan pada situasi seperti ini sebelumnya.


Jadi yang bisa Kinara lakukan cuma menepuk-nepuk pelan bahu Layla untuk membantu gadis itu meredakan tangisnya.


Bermenit-menit berlalu. Kinara harus berjuang melawan bau anyir yang masih tidak mau hilang sekaligus berusaha menenangkan Layla yang tangisnya masih belum juga reda.


"Nggak apa-apa, keluarin aja semuanya." Ucapnya sembari terus menepuk-nepuk punggung Layla.


Kemudian, saat Kinara merasakan getaran di punggung gadis itu mulai mereda, Kinara menarik tangannya dari sana. Tepat ketika Layla mengangkat wajah dan tatapan mereka bertemu untuk waktu yang cukup lama.


Ini pertama kalinya Kinara berada di jarak sedekat ini denga Layla. Mendengarkan tangisnya dan bahkan menepuk-nepuk punggungnya seperti seorang teman yang memang akan selalu ada.


Sedikit terselip perasaan tidak enak ketika Kinara membaca raut wajah Layla yang sepertinya mulai merasa malu karena telah menangis di hadapannya, padahal mereka tidak sedekat itu untuk saling berbagi air mata.


Namun, Kinara mengenyahkan perasaan tidak enak itu dari benaknya dan bertekad untuk memosisikan diri sebagai seorang manusia yang sedang bersimpati kepada manusia lainnya.


Dengan suara pelan dan lembut, Kinara mulai mengajak Layla bicara setelah memastikan tangis gadis itu sudah tidak separah sebelumnya.


"Kita memang nggak seakrab itu untuk saling berbagi cerita, tapi kalau memang ada yang bisa kamu bagi, aku siap untuk mendengarkan."


Sore itu, ketika matahari mulai bergerak pulang ke peraduan, Kinara sepenuhnya lupa akan janjinya untuk segera menemui Dahayu di parkiran karena ia asik mendengarkan kisah sedih yang Layla bagikan.


Sebuah kisah yang berhasil menyayat hati Kinara lebih dalam dari yang dia duga, dan berakhir membuatnya mempertanyakan tentang kasih sayang dan kepercayaan yang selama ini dia labuhkan kepada orang-orang di sekitar.


Apa... memang tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini selain Tuhan dan dirinya sendiri?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2