After The Rain

After The Rain
Surprise


__ADS_3

Caramel Macchiato sudah tandas, Strawberry Pistachio Tart dan Poured Tiramisu juga sudah habis tak bersisa. Perut sudah kenyang, kebutuhan gula juga sudah terpenuhi, kini saatnya Kinara dan Dahayu bangkit dari tempat duduknya sebelum matahari semakin turun dan tenggelam.


Semakin sore, cafe semakin ramai, jadi mereka memutuskan untuk tidak berdiam diri lebih lama demi memberikan kesempatan bagi pengunjung yang lain untuk menempati spot yang semula mereka kuasai.


Sembari menunggu Dahayu selesai membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas, Kinara iseng mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai selagi pandangannya berpendar meneliti setiap sudut cafe yang tadi sempat terlewatkan.


Pada lukisan yang terpajang di beberapa spot di dinding cafe. Pada beberapa pot tanaman hias yang diletakkan di dekat jendela-jendela kaca yang mengarak ke jalanan. Pada sepasang muda-mudi yang saking melemparkan tawa setelah menyiapkan sesendok Chesee Cake ke dalam mulut masing-masing. Juga pada gerombolan mahasiswa yang tampak masih berkutat dengan laptop dan buku catatan sembari menyeruput minuman masing-masing.


Awalnya tidak ada yang aneh. Suasana cafe masih normal selayaknya suasana cafe pada umumnya. Sampai akhirnya, Kinara terpaksa memicingkan mata untuk meyakinkan diri bahwa kemampuan indera penglihatannya masih bagus kala menemukan satu sosok tidak asing sedang berdiri di depan counter, berdiri tegak berhadapan dengan gadis berambut pendek yang bertugas menerima pesanan.


Mulanya Kinara ragu, karena yang bisa dia lihat hanyalah postur tampak belakangnya saja. Tetapi saat sosok itu menoleh dan tatapan mereka tidak sengaja bertemu, Kinara tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Pria yang berdiri di depan counter itu jelas Papa. Iya, Papa. Ayah yang selalu dia elu-elukan dan dia anggap sebagai laki-laki paling baik nomor satu di dunia. Tidak ada yang aneh dengan bertemu Papa di sebuah cafe. Yang aneh adalah, kenapa Papa bisa berada di cafe dekat kampusnya dan... sedang mengenakan seragam berwarna hitam yang biasa digunakan oleh para sopir?


Bukankah Papa seharusnya ada di kantor untuk bekerja sekarang? Bukankah pekerjaan yang Papa lakukan terlampau banyak sehingga memaksa laki-laki itu sering pulang malam? Lalu kenapa Papa malah berkeliaran di sini, alih-alih berada di kantor, duduk di depan komputer dan menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa pulang ke rumah lebih cepat?


"Ayo, Ra." Kinara menoleh sebentar kepada Dahayu saat merasakan gadis itu menyentuh lengannya.


Kemudian, dengan gerakan pelan, Kinara menyingkirkan tangan Dahayu di lengannya dan berjalan cepat menghampiri Papa.


Kinara bisa melihat keterkejutan yang kentara di raut wajah Papa ketika dia berjalan mendekat. Pria itu bahkan seperti berusaha untuk menghindari kontak mata, seolah ingin kabur dan menghilang saat itu juga.


"Papa?" panggil Kinara sesampainya ia di hadapan Papa.

__ADS_1


"Papa ngapain di sini? Nggak kerja?" tanyanya lagi ketika Papa tak kunjung menjawab sapaannya.


"Nara, Papa bisa jelasin. Papa-"


"Pak, kopi saya sudah dipesan?"


Kinara dan Papa serempak menoleh ke arah suara perempuan yang tiba-tiba menyela ucapan Papa. Seorang perempuan berusia sekita akhir dua puluhan dalam balutan dress putih polos selutut, berambut pirang sebahu dan berwajah oriental berdiri di samping Papa, menatap Papa penuh tanya.


"Sudah, Non. Sedang dibuatkan."


Non? Batin Kinara yang masih belum paham situasinya. Dia masih tidak mengerti, kenapa Papa bisa ada di sini dan kenapa Papa menyebut perempuan cantik ini dengan sebutan Non, sebutan yang biasa digunakan oleh seorang asisten kepada atasannya.


"Bagus, deh. Kalau gitu, saya tunggu di mobil ya, Pak." Ucap si perempuan itu sebelum akhirnya melenggang pergi.


Kebingungan semakin menguasai diri Kinara, terlebih saat Papa tidak kunjung mengatakan apa-apa dan malah bergerak meraih kopi yang baru saja selesai disajikan. Dengan tangan yang terlihat sedikit gemetar dan bahu yang merosot drastis, Papa berjalan melewati Kinara begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Papa bahkan tidak mau menatap matanya, seolah mereka telah menjadi asing dalam sekejap mata.


...****************...


Karena takut terjadi apa-apa pada Kinara, Dahayu akhirnya memaksa gadis itu untuk pulang bersama Atha. Dia menyeret Kinara ke gedung fakultas Teknik dan menunggu sampai Atha menyelesaikan kelas terakhirnya.


Sekitar tiga puluh menit menunggu, Dahayu bangkit dari duduknya begitu melihat sosok Atha berlarian menghampiri mereka. Laki-laki itu terlihat panik dan khawatir pada kondisi Kinara.


"Hey, you okay?" tanya Atha yang langsung mengambil posisi duduk di sebelah Kinara lalu menangkup wajah kekasihnya yang tampak lesu tak bertenaga.

__ADS_1


"Mending lo langsung anterin pulang aja deh, nggak usah banyak tanya dulu." Sela Dahayu yang sudah sangat khawatir pada kondisi Kinara.


Sejak meninggalkan cafe, gadis itu sama sekali tidak bicara apa pun. Dahayu bahkan harus memegangi lengannya untuk memastikan bahwa gadis itu masih bisa berdiri tegak di atas kakinya sendiri.


"Tha?" di tengah-tengah kepanikan yang melanda Dahayu dan Atha, Kinara tiba-tiba bersuara.


Atha dan Dahayu pun serempak menatap Kinara, menunggu dengan sabar sampai gadis itu melanjutkan kalimatnya.


Namun, penantian mereka berakhir sia-sia karena alih-alih bicara, Kinara malah mengembuskan napas dengan cara yang terkesan frustrasi. Lalu gadis itu menunduk, menatapi ujung-ujung sepatunya yang tumpul.


"Udah, mendingan lo anterin dia pulang dulu." Bisik Dahayu.


Atha mengangguk. Segera dia tuntun Kinara untuk bangkit dari duduknya. Pelan-pelan dia menggiring Kinara menuju mobilnya. Memastikan gadis itu duduk dengan aman dan nyaman di kursi penumpang sebelum dia menutup pintu dan berjalan mendekat ke arah Dahayu.


"Gue anterin Kinara dulu, setelah itu, kita ketemu. Lo harus ceritain apa yang terjadi sama Kinara sampai dia bisa jadi begini." Ucap Atha.


Dahayu cuma mengangguk sebagai respon. Kemudian, dia membiarkan Atha berlarian memutari mobil untuk sampai ke sisi pengemudi.


Tidak butuh waktu lama, mobil pun melaju, meninggalkan Dahayu dengan beribu pertanyaan yang mengerubungi kepala.


Sementara itu, di dalam mobil, sesuai dengan imbauan yang Dahayu telah berikan, Atha tidak mengatakan apa-apa. Dia berusaha menekan kecerewetan dirinya untuk tidak bertanya banyak hal pada Kinara yang kini tampak bersandar di jendela dengan pandangan yang terlempar jauh ke jalanan.


Langit di atas mereka sudah sepenuhnya gelap, segelap perasaan Atha yang dipaksa meraba-raba apa yang sekiranya tengah menimpa kekasih hatinya ini sehingga membuat binar cerah di kedua matanya menghilang. Senyum gadis itu pun luntur dan tidak ada lagi suara riang yang biasa memenuhi indera pendengarannya selagi mereka dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


Tidak seperti hari-hari yang biasa mereka lewati selama ini, kali ini, untuk pertama kalinya, Atha merasa dirinya dan Kinara berada di dua dunia yang berbeda.


Bersambung


__ADS_2