
Tiga minggu berlalu sejak terakhir kali Kinara bertemu dengan Atha dan Dahayu, dia mendengar kabar bahwa mereka akhirnya melangsungkan pernikahan setelah secara resmi mengundurkan diri dari kampus seminggu sebelumnya.
Kabar itu Kinara dengar dari Irfan, ketika pemuda itu datang ke Orion untuk nongkrong bersama beberapa teman dari fakultas lain yang tidak terlalu Kinara kenal.
Menanggapi hal itu, Kinara cuma tersenyum tipis. Sakit hatinya masih ada, masih terasa nyata. Kalau bisa divisualisasikan, mungkin serupa luka robek yang menganga lebar dan tidak kunjung kering meskipun telah diberikan berbagai macam pertolongan.
Tetapi, Kinara tetap merasa bahwa tindakan Dahayu dan Atha itu patut diapresiasi. Karena setidaknya, mereka sudah berani mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka perbuat. Setidaknya mereka tidak melarikan diri. Dan sebagai seseorang yang pernah menjadi teman, cuma senyum tipis itu yang bisa Kinara persembahkan.
Sebab dia tidak mungkin datang secara langsung untuk memberikan selamat atas pernikahan mereka. Selain karena undangan itu memang tidak sampai secara langsung kepada dirinya, Kinara juga bukan manusia yang sekuat itu. Dia masih gadis rapuh yang sama, yang pasti akan menangis tersedu-sedu ketika melihat Atha, laki-laki yang sampai saat ini masih dia sayangi pada akhirnya menikah dengan orang lain.
Maka, demi menjaga semua orang dari hal-hal yang tidak diinginkan, Kinara lebih baik tidak muncul lagi di hadapan mereka. Dan Kinara juga berharap bahwa baik Atha maupun Dahayu juga tidak akan ada yang muncul lagi ke hadapannya, agar dia bisa menata kembali apa yang telah dua orang itu porak-porandakan.
"Kin,"
Saat Kinara menoleh, Sekala sudah berdiri di sampingnya, sembari menyodorkan sebuah ponsel ke arahnya.
"Boleh saya minta nomor telepon kamu?" tanya lelaki itu kemudian.
"Mas Kala bukannya udah punya nomor saya?" Kinara balik bertanya, namun dia tetap meraih ponsel milik Sekala dan mulai mengetikkan sebelas digit nomor telepon miliknya.
"Belum,"
"Kok belum? Kan, waktu pertama kali datang untuk menanyakan lowongan pekerjaan, saya udah tinggalin nomor telepon saya ke Mas Ardi?" tanya Kinara heran seraya menyerahkan kembali ponsel milik Sekala.
"Kamu kan ngasihnya ke Ardi, bukan ke saya." Sekala menjawab sembari mengetikkan satu kata sebelum menyimpan nomor telepon Kinara.
Kin. Begitulah Sekala menamai kontak Kinara. Benar-benar hanya Kin, tidak ada embel-embel apapun di belakangnya. Singkat. Padat. Jelas. Tipikal Sekala sekali.
"Bukannya sama aja?" Kinara masih kebingungan.
"Gimana bisa sama, sih? Saya dan Ardi kan jelas dua orang yang berbeda." Sekala menyimpan ponsel ke atas counter, melipat tangan di depan dada lalu menatap Kinara serius.
"Ya kan masih satu tempat kerja, Mas Kala. Kenapa nggak minta ke Mas Ardi aja coba?" Kinara geregetan. Rasanya, dia ingin sekali menarik pipi Sekala supaya melar seperti keju mozzarella.
Sayangnya, dia tidak bisa merealisasikan niat tersebut karena Sekala ternyata jauh lebih tua ketimbang dirinya. (Kinara baru-baru ini tahu kalau umur Sekala ternyata sudah 27 tahun). Selain itu, Sekala juga bos di sini, jadi dia tidak bisa bersikap seenaknya kalau tidak mau ditendang keluar dari pekerjaan paruh waktu ini.
__ADS_1
"Kenapa harus minta ke Ardi, kalau saya bisa minta langsung ke kamu?"
Hmm ... apa yang Sekala bilang ada benarnya juga, sih. Tapi, kan ... ah, sudahlah, Kinara sedang malas berdebat, karena saat ini, dia sebenarnya sedang menikmati perasaan galau yang masih tersisa setelah mendengar kabar pernikahan Atha dan Dahayu.
Karena itu, Kinara menarik diri. Dia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah dan membiarkan Sekala terbengong-bengong di sampingnya selagi dia menerima pesanan.
"Dua Hazelnut Latte, es dan gula-nya normal atau less, Kak?" tanyanya kepada seorang gadis berseragam SMA yang baru saja membuat pesanan.
"Satu less ice less sugar, yang satu normal ice less sugar, ya, Kak." Si gadis menjawab.
"Baik. Saya ulangi, ya, dua Hazelnut Latte, yang satu less ice less sugar dan satu lagi normal ice less sugar, benar?"
"Iya, Kak."
"Baik, totalnya lima puluh empat ribu, pembayarannya mau cash, debit atau e-wallet?"
"Cash," ucap si gadis sembari mengulurkan uang pecahan seratus ribu.
"Uangnya seratus ribu, saya terima ya, Kak." Kata Kinara, sesuai S.O.P yang ada.
"Kembalinya empat puluh enam ribu, mohon ditunggu pesanannya." Kinara mengulurkan uang kembalian si gadis, lalu mempersilakan gadis itu untuk menunggu di barisan khusus untuk take away.
"Makasih, Mas Kala." Bisiknya, Sekala hanya menganggukkan kepala kemudian lelaki itu kembali sibuk menekuri ponselnya.
"Pesanannya, Kak." Kinara mengoper dua cup Hazelnut Latte itu ke arah si gadis SMA.
"Terimakasih," si gadis SMA meraih pesanannya lalu melenggang pergi meninggalkan cafe.
Kemudian, karena tidak ada lagi pengunjung yang datang dan cafe sore ini juga tidak terlalu ramai, Kinara berjalan ke arah pojok counter, menarik kursi kayu dan membawanya kembali ke belakang meja kasir.
"Saya boleh duduk sebentar, Mas Kala?" tanyanya, sebelum mendudukkan dirinya di kursi tersebut.
Sekala cuma mengangguk, dengan tatapan yang masih tertuju lurus ke arah ponselnya.
Sudah dapat ijin, Kinara pun duduk. Dia mengedarkan pandangan, meneliti setiap sudut cafe yang entah kenapa masih aja membuatnya takjub meskipun sudah beberapa minggu dia bekerja di sini.
__ADS_1
"Kin,"
"Hmm?" Kinara cuma berdeham sebagai jawaban, masih asik mengitarkan pandangan.
"Sepulang kerja, kita jalan-jalan, yuk?"
Kinara yang tadinya sedang asik memandangi sepasang muda-mudi yang tampaknya sedang jatuh cinta pun sontak menolehkan kepala ke arah Sekala, yang kini sudah melepaskan tatapan dari ponsel dan sepenuhnya menatap ke arahnya.
"Maaf, Mas. Nggak bisa," tolak Kinara secara halus.
"Saya harus langsung pulang. Soalnya pas terakhir kali saya pulang telat, Papa udah nungguin saya di depan rumah sambil bawa karung, katanya buat ngarungin saya biar nggak keluyuran lagi." Katanya, dengan raut wajah memelas.
Alih-alih menemukan Sekala tergelak dan meledeknya habis-habisan seperti yang biasa lelaki itu lakukan, Kinara malah melihat lelaki itu tetap tenang.
"Saya udah ijin sama ayah kamu, katanya boleh."
Mendengar itu, Kinara malah menaikkan sebelah alisnya, menatap Sekala penuh keragu-raguan kemudian mengibaskan tangannya di depan wajah. Dia pikir, Sekala hanya sedang bercanda.
"Saya serius. Barusan saya chat ayah kamu buat minta ijin, dan boleh."
"Mas Kala dapat nomor Papa dari mana?"
"Dari ayah kamu langsung, lah."
"Bohong," Kinara melempari Sekala tatapan menyelidik. Masih tidak percaya pada pengakuan Sekala soal Papa yang memberi lelaki itu nomor telepon. Karena, rasanya agak tidak mungkin. Lagipula, kapan mereka berdua sempat mengobrol untuk bertukar nomor telepon?
"Saya serius, Kin." Tegas Sekala lagi.
Kinara tidak menjawab. Selama beberapa saat, yang dia lakukan cuma diam sambil masih terus melempari Sekala tatapan menyelidik.
Sampai akhirnya Sekala jengah dan menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Kinara, di mana di sana terpampang nyata chat yang terjadi antara dirinya dan ayah dari gadis cerewet itu.
"Udah percaya?" tanyanya, setelah dia rasa Kinara telah selesai membaca chat tersebut.
Kinara mengangkat kepala, kemudian mengembuskan napas pelan sembari mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, mau nggak jalan-jalan sama saya?"
Bersambung