
Dahayu bersandar di badan mobil bagian samping, berulang kali mengetuk-ngetukkan sepatu ke aspal sembari menarik dan membuang napas secara teratur.
Kepalanya masih terasa ribut, perasaannya mendadak gelisah dan dia mulai menggigiti kuku jarinya untuk meredam kecemasan yang semakin menjadi-jadi.
Lima menit sudah dia berdiam diri di sini, menunggu kedatangan Atha yang sudah berjanji untuk bertemu dengannya selepas mengantarkan Kinara pulang.
Lima belas menit yang lalu, ketika Atha menelepon dan mengajaknya bertemu di sini, Dahayu langsung tancap gas tanpa banyak berpikir. Karena bukan cuma Atha yang perlu tahu tentang kejadian di cafe sore tadi, tetapi dia juga perlu tahu ada masalah apa sebenarnya Kinara dan orang tuanya. Sebab setahu Dahayu, ayah Kinara adalah pebisnis sukses yang asetnya ada di mana-mana. Meskipun anak itu tidak pernah mengatakan secara gamblang apa bisnis yang digeluti oleh ayahnya, tapi Dahayu tahu kalau Kinara bukan berasal dari keluarga menengah kebawah.
Dahayu mulai bergerak gelisah di tempatnya. Jarak antara rumah Kinara dengan kedai kopi tempat mereka janjian untuk bertemu ini tidak terlalu jauh, bahkan tidak sampai setengah jam kalau jalanan sedang lengang. Tapi entah kenapa, Atha masih belum juga menampakkan batang hidungnya dan membuatnya semakin merasa tidak tenang.
"Mbak,"
Dahayu refleks menegakkan badan dan menoleh ke sumber suara. Di sampingnya, seorang pemuda berusia awal dua puluhan tampak tersenyum canggung kepadanya. Dari seragam yang pemuda itu kenakan, Dahayu tahu pemuda itu adalah salah satu karyawan di kedai kopi tempatnya menunggu Atha sekarang ini.
"Kenapa, Mas?" karena si pemuda tak kunjung bicara lagi, Dahayu memutuskan untuk duluan bertanya.
"Maaf, saya disuruh sama manajer saya untuk tanya, Mbaknya mau masuk ke dalam atau nggak? Kalau nggak, mohon maaf sekali, Mbak, mobilnya nggak bisa parkir di sini karena ini area parkir khusus pengunjung." Si pemuda berusaha menyampaikan maksudnya dengan kata-kata yang sopan.
"Sebentar lagi saya masuk, Mas. Saya lagi nunggu teman. Dia baru pertama kali ke sini, takutnya nggak ketemu." Bohong Dahayu.
Si pemuda tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya, agaknya kebingungan untuk memutuskan apakah Dahayu diperbolehkan untuk tinggal lebih lama di sana atau tidak.
Beruntung, tak lama berselang setelahnya, Dahayu melihat mobil Atha melaju dari kejauhan. Semakin mobil itu mendekat, Dahayu merasakan jantungnya berdegup semakin cepat. Entah mengapa, dia memiliki firasat buruk tentang obrolan yang akan mereka lewati malam ini.
"Itu teman saya, Mas." Kata Dahayu setelah Atha turun dari mobilnya.
__ADS_1
Si pemuda tadi menganggukkan kepala kemudian bergegas pergi dari sana, masuk kembali ke dalam kedai kopi di mana sang manajer sudah menunggu.
"Kok lama?" tanya Dahayu sembari berjalan beriringan dengan Atha menuju kedai kopi.
"Gue nemenin Kinara dulu, dia keliatan syok banget tadi."
Dahayu cuma mengangguk dan terus melanjutkan langkah. Lonceng kecil yang terpasang di atas pintu kedai berdenting nyaring saat dia mendorong pintu kaca itu ke depan. Beberapa pengunjung yang sedang menikmati kopi ditemani dessert serempak menoleh ke arah pintu masuk sebelum menarik kembali pandangan mereka dan melanjutkan aktivitas masing-masing.
Dahayu menggiring Atha menuju salah satu meja di sisi paling pojok dalam kedai karena spot itu terlihat sepi dan sedikit terpisah dari meja-meja yang lain.
Atha menurut saja, dia menarik kursi dan langsung duduk anteng di atasnya sembari menunggu Dahayu yang langsung melesat pergi ke counter untuk memesan.
Beberapa menit kemudian, Dahayu kembali dengan dua cup es kopi (Atha tidak terlalu tahu apa yang telah Dahayu pesan) dan gadis itu langsung mendudukkan diri di kursi yang berseberangan sembari menyodorkan satu cup ke arahnya.
Sampai akhirnya, hening yang berkuasa sedikit demi sedikit menyingkir seiring dengan mencairnya es di dalam cup mereka masing-masing ketika Atha memberanikan diri mengalihkan tatapannya kepada Dahayu. Dia membuang napas keras-keras, dengan maksud untuk menyita perhatian gadis di hadapannya itu agar tatapan mereka bisa bertemu.
Tentu saja cara itu cukup efektif, karena kini, mereka berdua akhirnya bisa memaku tatap selama beberapa detik sebelum kalimat demi kalimat keluar dari bibir mereka masing-masing.
Sekali lagi, Atha menjadi orang pertama yang memiliki inisiatif untuk memulai. Setelah mendorong cup es kopi agak menjauh dari hadapan, Atha menegakkan punggung lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja. Tangan besar itu saling bertaut, seolah ingin memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri untuk menghadapi apa pun yang akan keluar dari bibir Dahayu.
Lalu, setelah satu tarikan napas yang diambil dalam-dalam dan diembuskan secara perlahan, Atha mula bertanya.
"Jadi, apa yang terjadi siang tadi selama kalian hang out?"
Dahayu tidak langsung menjawab. Dia menyempatkan diri menyesap es kopi miliknya sebelum menyingkirkan cup itu jauh-jauh dari jangkauan.
__ADS_1
Kemudian, sama seperti bagaimana Atha mengawali pembicaraan, Dahayu juga menarik dan membuang napas secara perlahan.
"Kita ketemu papanya Kinara di cafe."
Saat Dahayu mengatakan itu, dia sembari mengawasi perubahan ekspresi di wajah Atha. Dan sumpah demi apa pun, dia belum pernah melihat ekspresi wajah Atha setegang itu.
"Sebagaimana kita tahu, papanya Kinara itu pebisnis sukses yang nggak kaleng-kaleng. Tapi sore tadi, papanya ke cafe pakai baju seragam yang biasa dipakai sama sopir pribadi." Lanjut Dahayu. Dia masih memperhatikan setiap gerak yang Atha ambil. Mulai dari bagaimana lelaki itu meremas tangannya kuat-kuat sampai kini mulai duduk tidak tenang di kursinya.
"What happened, Tha? Apa yang udah gue lewatkan selama liburan semester kemarin? Cerita apa yang gue nggak tahu soal Kinara?" kini, giliran Dahayu yang harus menuntut penjelasan.
Sementara Dahayu menunggu jawaban atas pertanyaan yang menggerubungi kepala, Atha harus berulang-ulang kali menarik dan membuang napas untuk sekadar mengusir kecemasan yang melingkupi hatinya. Dia telah berjanji pada Kinara untuk tidak bercerita apa pun kepada Dahayu, tetapi kalau sudah begini, dia tidak mungkin bisa kabur lagi.
Dahayu dan Kinara sama keras kepalanya. Dan kalau Atha dihadapkan dengan salah satu di antara mereka, Atha akan selalu menemukan dirinya kalah.
Maka, setelah berperang dengan dirinya sendiri, Atha mulai menceritakan kisah yang telah Dahayu lewatkan.
Atha menceritakan semua kronologi yang dia tahu. Harus beberapa kali memberi jeda karena dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
Sementara di seberangnya, Dahayu mendengarkan semua cerita yang Atha sampaikan dengan hati yang teriris. Dia meringis, meremas ujung kaus yang dia kenakan guna menahan perih yang semakin lama semakin terasa mencekik.
Semakin malam, obrolan mereka semakin jauh. Semakin banyak cerita baru yang Dahayu dengar dari Atha.
Dan di malam itu, bersamaan dengan seluruh es di dalam cup mereka yang sepenuhnya telah mencair, Dahayu, untuk pertama kalinya meneteskan air mata untuk orang lain.
Bersambung
__ADS_1