
Kelas terakhir selesai pukul tiga sore. Kinara buru-buru membereskan barang-barangnya dan berniat untuk segera meninggalkan ruang kelas yang mulai kembali riuh ketika Dahayu menepuk pundaknya beberapa kali.
Kinara menolehkan kepala sembari berusaha menghentikan laju tangan Dahayu yang masih terus menepuk-nepuk pundaknya.
"Apa?" tanyanya setelah tepukan di bahunya berhenti dan Dahayu kini tampak fokus menatapi layar ponselnya.
"Ini gila, sih." Kata Dahayu, semakin membuat Kinara kebingungan.
"Apanya yang gila?" tanya Kinara lagi. Berusaha mengabaikan bising-bising yang mulai semakin tidak terkendali di sekitarnya.
"Nih," Dahayu menyerahkan ponsel yang sedari tadi ia tekuri.
Kinara meraihnya, hanya untuk menemukan sebuah postingan yang ramai diperbincangkan di base kampus. Di sana, bermodalkan akun anonim, si pengirim postingan mengatakan bahwa laki-laki yang ada di dalam video asusila yang melibatkan Layla adalah Pak Andreas, dosen muda berusia awal tiga puluhan yang baru mengajar di kampus mereka di tahun ajaran baru kemarin.
"Bohong ini mah." Kata Kinara sembari menyodorkan kembali ponsel milik Dahayu.
"Tahu dari mana kalau ini bohong?" tantang Dahayu.
Menanggapi itu, Kinara santai saja. Sambil meneruskan pekerjaannya membereskan barang-barang, Kinara menjawab, "Kamu juga tahu dari mana kalau itu benar?"
Skak mat! Dahayu lupa kalau Kinara memang selalu pandai membalikkan kata-kata. Dua tahun berteman dengan anak ini seharusnya membuat Dahayu paham bahwa tidak akan pernah semudah itu untuk menggoyahkan seorang Kinara Adorelia.
"Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api, Kinara. Mana mungkin nama Pak Andreas tiba-tiba disebut kalau dia memang nggak terlibat?"
Kinara mengehentikan kegiatannya tepat sebelum barang terakhir masuk ke dalam tas. Ia menghela napas, lalu menatap Dahayu malas. "Gimana kalau ada oknum yang memang nggak suka sama Pak Andreas, terus memanfaatkan momen ini untuk menjatuhkan namanya?"
"Lagian, di video itu kan nggak jelas muka cowoknya kayak gimana. Cuma samar-samar aja. Gimana bisa langsung nuduh seseorang dengan bukti seminim itu?" selesai dengan ucapannya, Kinara bangkit. Diraihnya goodie bag yang teronggok di atas meja kemudian melangkah santai membelah sekumpulan mahasiswi yang sedang berkerumun di satu meja. Topik pembahasan mereka tentu saja masih seputar video asusila Layla.
Suara berisik yang berasal dari bibir-bibir mereka sebisa mungkin Kinara abaikan. Bukan cuma suara berisik dari mahasiswi yang sedang bergosip itu saja, Kinara juga menulikan telinga dari teriakan Dahayu yang berkali-kali memanggil namanya.
Telinga Kinara yang semula terasa panas dan pengang berangsur membaik begitu ia berhasil keluar dari ruang kelas. Tidak mau membuang waktu, Kinara segera melanjutkan langkahnya.
Di sepanjang koridor menuju parkiran, pikiran Kinara terpecah menjadi dua. Satu bagian sibuk memikirkan bagaimana caranya dia menghasilkan uang untuk membantu perekonomian keluarga, sedangkan satu bagian lain ikut memikirkan tentang nasib Layla.
Sebetulnya, Kinara tidak sedekat itu dengan Layla untuk ikut memikirkan masalahnya. Selama berkuliah di kampus ini, ia hanya beberapa kali bertemu dan bertegur sapa dengan gadis itu. Itu pun juga secara tidak sengaja karena dia kebetulan memiliki kenalan senior di fakultas kedokteran. Selebihnya, Kinara tidak tahu sosok seperti apa Layla sebenarnya.
Hanya saja, sebagai sesama perempuan, Kinara merasa iba karena sejak video asusila itu beredar hanya Layla saja yang mendapatkan kecaman. Padahal pihak laki-laki yang ada di dalam video itu juga punya kontribusi yang besar. Bahkan bisa jadi si laki-laki lah yang telah dengan sengaja merekam kegiatan dewasa mereka dan membuat rekaman itu bocor ke khalayak umum.
__ADS_1
Kinara merasa kesal karena dalam kasus seperti ini, selalu saja pihak perempuan yang disalahkan dan dituntut pertangungjawaban.
Di tengah kemelut yang mendera, Kinara mendesah kasar saat hujan tiba-tiba turun sesampainya ia di ujung koridor. Langkahnya seketika terhenti. Kinara mendongak, menatapi langit sore yang cerah tetapi mampu menjatuhkan butir-butir air yang deras. Barangkali, langit sore ini serupa dirinya. Yang masih bisa tersenyum meski di dalam hatinya ada begitu banyak perasaan sakit yang butuh untuk ditumpahkan.
"Yah, hujan."
Kinara menoleh ke samping, menemukan Dahayu sedang menggerutu sembari membenahi helaian rambutnya yang beterbangan tertiup angin.
"Cuma air." Celetuk Kinara.
Dahayu yang semula sibuk dengan penampilannya praktis menolehkan kepala dan langsung memicingkan mata tidak suka. Memangnya, siapa yang bilang kalau hujan sore ini jatuhnya berupa batu permata? TIDAK ADA!
"Mulut lo udah pernah ditabrak sama Lamborghini belum, Ra?" sarkas Dahayu yang justru membuat Kinara tergelak.
Kinara tidak lagi memedulikan ocehan Dahayu di sebelahnya. Ia kembali mendongak, maju selangkah kemudian mengulurkan tangannya ke depan. Tangannya yang terulur itu menengadah, menyambut tetesan air hujan yang jatuh bebas tanpa beban.
Dingin seketika menjalari telapak tangan Kinara saat butir-butir air hujan itu sampai ke permukaan kulitnya. Kinara tersenyum lalu mulai memejamkan mata. Dihirupnya dalam-dalam aroma hujan yang menguar terbawa angin.
Di sampingnya, Dahayu sudah berhenti mengoceh. Diam-diam gadis itu mengamati bagaimana Kinara tampak begitu damai menikmati setiap tetes hujan yang jatuh ke telapak tangannya.
Lalu entah karena penasaran bagaimana rasanya atau memang dasarnya dia suka ikut-ikutan saja, Dahayu mengulurkan tangan dan melakukan hal yang sama seperti Kinara.
Kinara yang awalnya anteng menikmati kegiatannya sontak membuka mata dan menoleh cepat ke arah Dahayu. Takut kalau Dahayu kenapa-kenapa.
"Kenapa, Ay?" tanya Kinara sedikit panik. Ia berjalan mendekat ke arah Dahayu. Memerhatikan gadis itu dari atas kepala sampai ujung kaki untuk memeriksa apakah ada bagian tubuhnya yang terluka.
"Dingin." Dahayu menjawab diiringi cengiran yang seketika membuat Kinara memutar bola malas.
"Aku pikir kenapa." Kata Kinara, setengah lega karena ternyata tidak terjadi hal buruk pada Dahayu.
Kinara hendak meneruskan kegiatannya yang terjeda karena pekikan heboh Dahayu, namun gadis itu tiba-tiba saja menarik tangannya yang sudah setengah terulur.
"Kenapa sih, Ay?"
"Jangan main air! Dingin!" Dahayu mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya, kemudian menggunakannya untuk mengelap sisa air hujan yang menempel di telapak tangan Kinara.
"Nggak dingin, Ay," Kinara berusaha menarik tangannya, namun Dahayu bersikeras menahannya.
__ADS_1
"Dingin!" kata Dahayu sambil melotot.
Akhirnya, Kinara tidak punya pilihan selain menurut. Dia memasrahkan diri sepenuhnya saat Dahayu menarik lengannya dan mengajaknya duduk di bangku kayu di ujung koridor.
"Kita bisa aja lari ke parkiran, tapi gue nggak mau. Gue nggak mau lo sakit." Itu adalah kalimat pertama yang Dahayu katakan setelah mereka mendudukkan diri.
"So sweet." Puji Kinara dengan senyum cerah yang merekah.
Dahayu memutar bola mata malas. "Baru nyadar lo?"
"Kalau hobi marah-marahnya dikurangin, pasti makin sweet." Kata Kinara diakhiri cengiran lebar.
"Gue marah-marah begini aja lo masih nggak mau dengar apa kata gue, gimana kalau gue berubah jadi lemah lembut macem putri Solo? Yang ada kuping lo makin susah nerima omongan gue!" Dahayu menyentil pelan telinga Kinara.
"Sakit, Ay..."
"Lebay, pelan doang nyentilnya."
"Tapi tetap sakit!"
"Cengeng."
"Ayu jelek."
"Nara jamet."
"Ayu mirip ikan ******."
"Nara mirip ikan lohan."
Ledakan tawa tak terhindarkan saat tatapan mereka bertemu. Adegan saling meledek seperti ini memang sudah biasa terjadi. Baik Dahayu maupun Kinara sama sekali tidak pernah merasa tersinggung pada ejekan yang saling mereka lontarkan. Karena bagi keduanya, itu adalah bagian dari cara mereka menunjukkan kasih sayang kepada satu sama lain.
"Laper, Ay." Keluh Kinara setelah tawa mereka reda.
"Sama. Nanti kalau hujan udah reda, kita jajan bakso yang dekat persimpangan, yuk?"
"Boleh."
__ADS_1
Mereka semakin tenggelam dalam obrolan sampai tidak sadar bahwa tak jauh dari sana, Atha berdiri sambil memerhatikan bagaimana keduanya berinteraksi. Pemuda itu tersenyum, menggenggam erat cokelat yang ada di dalam genggaman sambil berucap pelan. "Isn't she lovely, Tha?"
Bersambung