
Sejak ditinggal hanya berdua dengan Ibu, Sekala menjadi lebih diam ketimbang sebelumnya. Selama bermenit-menit pertama, dia cuma duduk di kursi sembari berkali-kali mengalihkan tatapannya ke arah lain, merasa canggung karena Ibu terus-menerus menatap ke arahnya dengan senyum yang tak kunjung luntur.
"Dik," panggil Seruni.
Sekala terpaksa menatap ibunya lagi. Senyum yang wanita itu sunggingkan kini sudah serupa oasis yang menyelamatkannya dari bencana kekeringan. Ia menyukai senyum itu, meskipun di beberapa kesempatan, senyum itu mengingatkannya pada rasa bersalah yang ia miliki berkali-kali lipat lebih banyak.
"Sejak kapan kamu tumbuh sebesar ini?" Seruni mendekatkan tubuhnya. Tangannya yang kurus terulur, menyentuh wajah Sekala kemudian mengusap lembut pipi anaknya itu.
"Padahal rasanya baru kemarin kamu nangis karena Mas Saga nggak mau berbagi mainan," pandangan Seruni menerawang. Kembali diingat-ingat lagi adegan demi adegan dari masa lalu, di mana Sekala masih bocah ingusan yang sering rewel mencari sang ibu. Di mana putra pertamanya, Saga, belum terlalu mengerti kalau anak yang dibawa oleh ayah mereka di malam yang gelap dan hujan adalah adiknya, mengira bahwa anak itu hanyalah anak malang yang tidak punya tempat tinggal.
Dikhianati oleh orang disayangi tentu saja sakit. Seruni tidak munafik. Dia sering menyumpahi Graha, suaminya, karena telah membuat seorang anak lahir ke dunia tanpa sepengetahuan dirinya.
Namun, binar kepolosan yang terpancar dari kedua bola mata Sekala saat bocah itu takut-takut untuk menerima uluran tangannya malam itu seolah melunturkan semua kebenciannya terhadap Graha.
Seruni hanya berpikir, bagaimana jika seandainya Sagara yang berada di posisi Sekala? Bukankah ia akan begitu nelangsa, sebab putra yang dilahirkan dengan bertaruh nyawa harus ditinggalkan, dan tumbuh dengan perasaan kesepian?
Lagipula, Seruni tahu bahwa Sekala tidak salah apa-apa. Tidak ada seorang anak pun yang bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim siapa, dan dengan kondisi keluarga yang bagaimana. Maka ketika Sekala hanya memiliki Graha sebagai orang tua setelah ibunya meninggal waktu itu, Seruni dengan besar hati mau menerimanya untuk dirawat seperti anaknya sendiri.
"Mas Saga masih keras kepala, Dik. Kamu jelas tahu seperti apa keras kepalanya mas-mu itu," kali ini, tangan Seruni beralih menggenggam erat tangan Sekala yang terasa dingin. "Tapi, kamu juga yang paling tahu kalau sebenarnya Mas Saga sayang sama kamu. Benar?"
Sekala mengangguk meskipun gerakannya terkesan ragu.
"Pulang, yuk, Dik. Kita hidup bertiga lagi kayak dulu," Seruni masih belum menyerah untuk membujuk Sekala agar mau kembali ke rumah.
Namun, dia lupa kalau Sekala sama persis dengan Sagara dalam hal keras kepala. Anak itu tentu saja menggeleng tanpa perlu banyak berpikir.
"Tempat Sekala bukan di sana," ucap Sekala. Tangan Seruni yang menggenggam tangannya dilepaskan pelan. Namun, dia tidak berniat untuk menjauhkan tangan yang telah merawatnya dengan baik itu, melainkan untuk balik dia genggam menggunakan kedua tangan.
"Siapa yang bilang begitu? Mas Saga?"
__ADS_1
Sekala menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum.
"Dari awal, rumah itu memang bukan tempat Sekala, Bu. Ayah harusnya nggak bawa Sekala ke sana malam itu,"
"Dik,"
"Sekala nggak akan kabur lagi," Sekala menyela, tanpa sedikitpun mengurangi rasa hormatnya kepada sang ibu.
"Sekala ... akan sering datang ke rumah untuk jenguk Ibu. Tapi kalau untuk pulang lagi ke sana, Sekala nggak bisa, Bu."
"Kenapa?" Seruni tampak sedih. Harapannya untuk membawa kembali bocah kecilnya ke rumah seketika pupus kala dia melihat keyakinan dari sorot mata Sekala.
Berbanding terbalik dengan Seruni yang galau, Sekala justru tersenyum tipis.
"Karena Sekala udah menyusun rencana, untuk menambahkan satu lagi anggota keluarga di rumah yang sekarang Sekala huni."
...****************...
Di depan ruang rawat, Kinara dan Saga duduk berdampingan. Mungkin sudah hampir setengah jam, namun keduanya masih sama-sama enggan membuka suara.
Di saat Kinara tidak tahu harus berbuat apa dan hanya menyibukkan diri dengan menggeser layar ponselnya ke kanan dan ke kiri berkali-kali, Sagara beberapa kali melirik gadis itu, tampak berniat membuka mulut namun selalu saja berakhir tidak jadi karena keragu-raguan masih terus datang menghampiri.
"Dia ... adik kecil saya," ucap Sagara tiba-tiba, setelah mengembuskan napas panjang dan menegakkan kembali punggungnya.
Akhirnya, dia berhasil buka suara. Meskipun kini dia terpaksa melemparkan tatapannya jauh ke depan, pada lalu-lalang tim medis yang tengah melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Ia tidak yakin bisa menatap Kinara, maka menghindari tatapan gadis itu adalah cara terbaik agar ia bisa tetap berbicara.
Kinara menarik perhatiannya dari ponsel, lalu mencurahkannya kepada Sagara sepenuhnya.
"Saya nggak tahu seberapa jauh hubungan kamu dan Sekala, atau hubungan apa yang kalian miliki. Tapi, melihat kamu bisa datang ke sini bersama dia, saya rasa dia udah kasih tahu kamu semuanya."
__ADS_1
Telinga Kinara disiapkan baik-baik, untuk menangkap apapun yang Sagara katakan, tanpa berniat sedikit pun menyela.
"Dua tahun terakhir, dia kabur dari rumah, memutuskan untuk tinggal sendirian setelah kami bertengkar hebat dan saya mengungkit tentang dia yang bukan anak kandung Ibu."
Kinara bisa menangkap senyum miris yang terbit di wajah Sagara. Lelaki itu menundukkan pandangan sejenak, untuk kembali menegakkan kepala menatap kehampaan di depannya.
"Dan saya menyesal," aku Sagara. Barulah setelah ungkapan penyesalan itu keluar, Sagara mau menoleh ke arahnya.
"Saya udah gagal jadi kakak yang baik untuk dia, sehingga dia memutuskan untuk pergi dan menikmati rasa sakitnya sendirian. Padahal, sedari dulu, dia yang selalu maju paling depan untuk jadi tameng supaya saya dan Ibu nggak terluka. Dia ...." seolah tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, Sagara memberi jeda yang cukup lama.
"Dia mengorbankan banyak hal untuk saya dan Ibu, tanpa orang lain tahu." Sagara melanjutkan setelah menimbun banyak sekali oksigen di paru-parunya karena dadanya tiba-tiba saja terasa sesak.
"Jadi sekarang, anak itu harus bahagia." Kata Sagara lagi. Kemudian, tatapannya terasa semakin dalam dan menghanyutkan.
Sejauh ini, Kinara masih menjadi pendengar. Sebab dia tahu komentar-komentar yang akan keluar dari mulutnya bisa jadi malah menahan Sagara dari niatnya untuk berbicara lebih banyak.
"Saya cuma mau bilang sama kamu, tolong jaga dia, jangan bikin dia terluka. Karena Sekala itu aslinya cengeng. Dia banyak menangis, tapi terlalu gengsi untuk menangis di depan orang lain." Saat Sagara mengatakan itu, Kinara bisa melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata lelaki itu. Sesuatu yang kemarin tidak dia dapati saat lelaki itu menyambangi Sekala dan melayangkan tinju ke wajah tampannya.
Dari sana, Kinara akhirnya tahu bahwa Sagara dan Sekala sebenarnya hanya terpisah sekat tak kasat mata, yang jika keduanya bisa merobohkan sekat itu, maka status saudara beda ibu yang mereka sandang bisa terlupakan begitu saja. Sebab, Kinara jelas melihat bahwa mereka berdua sebenarnya saling menyayangi, dengan cara mereka sendiri.
"Saya harap, kamu bisa jadi rumah untuk Sekala pulang. Rumah yang bisa kasih dia rasa aman, yang nggak pernah sepenuhnya dia dapatkan sewaktu bersama saya dan Ibu." Itu yang Sagara ucapkan, kemudian lelaki itu bangkit dari duduknya lalu menyakui kedua tangan.
Sagara tidak langsung pergi, dan malah berdiam di depan Kinara sembari menatap gadis itu lekat-lekat.
"Sekala anak baik, kamu nggak akan menyesal udah kenal sama dia." Lalu, Sagara beranjak setelah melabuhkan tepukan pelan di bahu Kinara.
Sementara itu, Kinara masih sibuk mencerna perkataan Sagara yang sebelumnya. Tentang menjadi rumah untuk Sekala. Karena sejujurnya, dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Bersambung
__ADS_1