
Selama bermenit-menit sembari menunggu hujan reda, pikiran Kinara kembali melayang-layang ke udara. Kenyataan bahwa kini dia bukan lagi Kinara Adorelia si putri tunggal kaya raya membuat hatinya kembali gelisah.
Ini pertama kalinya dia bertemu kembali dengan Dahayu sejak libur semester. Dan selama liburan berlangsung, mereka tidak saling bertukar kabar karena biasanya Dahayu akan menghabiskan waktunya untuk solo traveling ke tempat-tempat yang belum pernah dia kunjungi sehingga ponsel gadis itu akan sulit untuk dihubungi.
Jadi sampai sekarang, Kinara masih belum menceritakan apa pun pada Dahayu soal kehancuran bisnis keluarganya.
Kinara menoleh ke samping, menemukan Dahayu sedang meneliti ponselnya dengan bibir yang komat-kamit tanpa suara. Ada keraguan yang mengganjal tenggorokannya saat akan memulai cerita tentang kisah hidupnya yang berubah drastis dalam satu malam.
Bukan. Kinara bukannya takut Dahayu tidak akan mau lagi berteman dengannya karena sekarang dia telah jatuh miskin. Sedari dulu, Dahayu tidak pernah membeda-bedakan teman berdasarkan status ekonomi dan sosial orang tersebut. Gadis itu berteman dengan semua orang yang dia rasa cocok dengan kepribadiannya dan bisa membuatnya nyaman, terlepas bagaimana latar belakang keluarganya.
Kinara justru takut kalau Dahayu akan mulai mengerahkan daya upaya untuk membantunya keluar dari masalah ini. Seperti yang telah mereka lewati selama dua tahun ini, Dahayu selalu jadi pihak yang berdiri paling depan untuk memperjuangkan dirinya. Gadis itu selalu menjadi yang pertama sebelum Atha. Jadi kalau Atha saja sempat menawarkan bantuan yang sedemikian rupa, maka Dahayu pasti akan melakukan yang lebih.
"Tapi, kasihan juga ya, si Layla itu. Hidupnya berubah drastis cuma dalam waktu satu malam. Padahal, sehari sebelum video laknat itu kesebar, dia masih bisa ke kampus dengan kepala yang terangkat tegak." Dahayu menolehkan kepala, sedikit melupakan layar ponsel yang ternyata masih menampilkan berita tentang Layla.
Ada jeda cukup lama, menciptakan keheningan yang menyelimuti dua anak manusia yang saling pandang itu. Kinara menatap lekat manik cokelat terang Dahayu, menyelami sedikit demi sedikit untuk sampai di dasar meski ia tahu, tidak akan semudah itu.
Kemudian, Kinara menjadi orang pertama yang memecah keheningan dengan mengembuskan napas keras-keras.
"Hidup memang suka begitu, kan? Yang tadinya kita pikir semua bakal baik-baik aja, ternyata ada badai yang tiba-tiba datang dan bikin semuanya berantakan." Kinara memalingkan wajahnya saat tak sanggup lagi beradu tatap dengan Dahayu.
Pada hujan yang perlahan-lahan berubah menjadi gerimis tipis, Kinara melayangkan pandangan penuh harap. Semoga seperti hujan yang perlahan-lahan mereda, masalah di hidupnya juga akan satu persatu menemukan jalan keluar.
.
.
.
__ADS_1
.
"Kamu beli mobil baru?" tanya Kinara sesampainya mereka di parkiran.
Di sana, di barisan ke-empat dari tempat Kinara memarkirkan mobilnya, ada satu unit mobil Porsche Cayenne yang tampak mencolok. Dan Dahayu mengakui mobil itu sebagai miliknya.
Sebagai putri dari seorang pengusaha batubara, sebenarnya tidak mengherankan kalau Dahayu bisa membeli barang-barang mewah dan berganti mobil sesuka hatinya. Hanya saja, Kinara jelas tahu bahwa Dahayu tidak sesuka itu mengganti kendaraannya. Gadis itu selalu mengutamakan kenyamanan di atas segalanya.
"Hadiah tutup mulut." Sahut Dahayu santai.
Kinara menoleh. "Lagi?"
Dengan santainya Dahayu mengangguk. Senyum miris terbit menghiasi wajah cantiknya. Sorot matanya jelas tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang terlampau kentara terpancar dari sana.
Mobil itu diberikan oleh ibunya satu minggu yang lalu, sebagai bentuk sogokan agar dirinya mau tutup mulut soal perselingkuhan yang ibunya lakukan. Ini bukan kali pertamanya mendapati sang ibu berselingkuh, jadi Dahayu tidak terlalu terkejut.
Kinara juga tahu soal ini karena Dahayu telah menceritakan semua borok yang disimpan di dalam keluarganya yang dari luar tampak baik-baik saja. Ayahnya yang sibuk mencari uang sampai lupa pulang membuat ibunya kesepian sehingga wanita itu mencari kesenangan lain dengan mengencani pria-pria acak yang dia temui di sepanjang perjalanan sambil menunggu sang suami pulang ke rumah.
Tetapi ayahnya mungkin jadi lupa kalau anak dan istrinya juga butuh diberikan kasih sayang. Sehingga saat mereka bertemu di bawah satu atap yang sama yang selama ini orang-orang sebut sebagai rumah, yang terjadi di antara mereka hanyalah perdebatan.
Yang satu gila harta, yang satu lagi haus kasih sayang. Dahayu merasa kedua orangtuanya seharusnya tidak dipertemukan.
"Mahasiswa di kampus ini juga." Kata Dahayu kemudian. Ia bersedekap, melayangkan tatapan pada mobil barunya lalu menghela napas berat tak lama setelahnya.
Dari sekian banyak perselingkuhan yang ibunya pernah lakukan, yang kali mungkin paling parah.
"Anak fakultas mana?" tanya Kinara penasaran. Bukan karena dia setertarik itu untuk mengorek luka yang diderita oleh sahabatnya. Ia hanya merasa semua ini sudah keterlaluan.
__ADS_1
"Teknik. Satu jurusan sama Atha."
Kinara tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas apa yang Dahayu sampaikan. Saking terkejutnya, Kinara sampai tidak sadar telah menarik Dahayu untuk berhadapan dengannya.
"Kalau satu jurusan sama Atha, seharusnya dia tahu dong kalau itu Mama kamu?" Kinara betulan tidak habis pikir. Mengapa masih saja ada orang-orang seperti itu, yang rela melakukan apa saja demi kesengan diri sendiri tapi merugikan orang lain.
Lagi-lagi Dahayu mengangguk. "Dia mana mau peduli. Yang penting kan dapat duit."
Kinara mendesah kasar. Otot-otot di sekitar lehernya seketika mengeras. Tatapan matanya menajam, seolah dia bisa mencabik-cabik sosok pemuda sialan yang sudah berani membawa sahabat baiknya ini ke dalam masalah. Karena kalau sampai kabar ini bocor, Dahayu pasti tidak akan bisa menjalani hari-harinya dengan nyaman lagi.
Di tengah tensi yang meninggi, Dahayu tiba-tiba terkekeh. "Nggak perlu setegang itu mukanya."
"Ya gimana nggak tegang! Itu anak bisa aja mulutnya bocor, Ay! Gimana kalau-"
"Dia nggak akan berani." Sela Dahayu."Dia nggak akan berani ngomong apa pun." Ulang Dahayu. Ia menegakkan punggung yang sempat jatuh, kembali menatap mobil barunya namun kali ini dengan tatapan yang lebih tegas ketimbang sebelumnya.
"Karena kalau dia sampai berani ngomong macam-macam, gue akan pastikan hidup dia hancur berantakan." Kata Dahayu penuh penekanan. Kinara bisa melihat kilat marah yang kentara dari dua bola mata Dahayu, dan itu mengerikan. Jadi yang Kinara bisa lakukan hanya diam sembari menunggu Dahayu melanjutkan kalimatnya.
"Karena kalau gue harus hancur, gue nggak akan hancur sendirian."
Kemudian Dahayu beranjak. Dengan langkah percaya diri, ia berjalan menghampiri mobilnya. Ia sempat menoleh kembali pada Kinara sebelum masuk ke dalam mobil sembari menyunggingkan senyum yang kelewat manis.
"Hari ini, gue yang traktir. Lo boleh pesan bakso sebanyak yang lo mau."
Lalu Dahayu masuk ke dalam mobil dan dalam sekejap mobil itu telah meninggalkan area parkiran kampus.
Kinara berdiri di tempatnya untuk waktu yang cukup lama setelah kepergian Dahayu. Kini, keraguannya untuk menceritakan masalahnya kepada Dahayu semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Karena bagaimana bisa dia mengeluhkan tentang nasib hidupnya kepada Dahayu, ketika gadis itu tengah bergelut dengan badainya sendiri?
Bersambung.