
Saat sedang serius mengajari Lestari mengerjakan tugas Matematika soal perkalian, Kinara terpaksa menghentikan kegiatannya karena pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Dia dan Lestari saling pandang sebentar, sebelum akhirnya mereka sama-sama menoleh ke arah pintu, di mana Mama muncul degan raut wajah yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.
"Masih lama?" tanya Mama.
"Tiga soal lagi, kenapa?" Kinara balik bertanya, sebab dia merasa ada yang aneh dengan Mama. Wanita itu seperti sedang menahan diri untuk mengatakan sesuatu. Atau barangkali, dia sedang kesulitan mencari cara untuk menyampaikannya.
Mama terlihat menarik napas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya, membuat Kinara semakin yakin bahwa apa yang akan wanita itu katakan bukanlah sesuatu yang enak untuk didengar.
"Ada Atha di depan."
Dan benar saja. Saat nama Atha disebut, Kinara kembali merasakan sesak itu memenuhi dadanya. Perasaan sakit dan ngilu yang awalnya bisa sedikit terlupakan karena kehadiran Lestari mendadak kambuh lagi. Kabar buruknya, perasaan itu kembali dengan efek yang berkali-kali lipat lebih kuat. Meremas dada Kinara lebih hebat.
"Mama nggak tahu kamu lagi ada masalah apa sama Atha, tapi berhubung dia udah merelakan waktunya buat datang ke sini, ada baiknya kalau kamu temuin dia dulu. Setidaknya sampaikan sendiri kalau kamu memang nggak mau ketemu dia untuk sementara waktu, supaya nggak menyinggung perasaan dia."
Tapi, untuk berhadap-hadapan dengan Atha udah nggak segampang dulu, Ma. Kinara meratap dalam hati. Meskipun demikian, dia tetap bangkit dari duduknya, memberi kode kepada Lestari untuk menunggu sebentar selagi dia menyelesaikan urusannya dengan Atha. Setelah si bocah mengangguk, barulah Kinara berjalan menuju pintu.
"Tolong temenin Lestari sebentar," ucap Kinara ketika melewati Mama yang masih berdiri di ambang pintu.
Mama belum sempat menjawab karena Kinara langsung melesat dengan kecepatan penuh, seolah tidak mau membuang sedetik pun yang berharga dalam hidupnya.
Seiring langkah Kinara yang semakin dekat dengan di mana Atha berada, rasa sakit itu semakin terasa menyiksa. Kinara meremas ujung kaus yang dia kenakan, berharap perasaan sakit itu bisa sedikit berpindah ke serat-serat kain yang dia kenakan.
__ADS_1
Dari celah pintu yang terbuka, Kinara bisa melihat keberadaan motor Atha yang terparkir di sebelah mobilnya. Sekarang, dia sedikit menyesal karena telah memarkirkan mobilnya agak ke pinggir sore tadi. Karena kalau saja dia memarkirkan mobilnya seperti biasa, motor Atha mungkin tidak akan punya ruang untuk tampil begitu percaya diri di sana.
Sebelum langkahnya benar-benar mencapai pintu, Kinara memperlambat ayunannya sembari menarik dan membuang napas secara teratur. Segala kenangan baik dan buruk berseliweran di kepala, membuat usahanya untuk tetap bersikap tenang berakhir sia-sia.
Karena tepat ketika matanya menangkap keberadaan Atha yang sedang duduk sendirian di teras rumah dengan kedua tangan yang saling bertaut, Kinara mendapat dorongan yang kuat untuk menendang kepala laki-laki itu sampai nyaris putus. Sebesar itu dia merasa kesal dan marah pada Atha sekarang. Tetapi realitanya, dia malah cuma bisa diam di tempat ketika Atha menoleh dan tatapan mereka bertemu.
"Ra," Atha bangkit dari kursi dengan gerakan terburu-buru, nyaris membuat kursi kayu itu jatuh ke belakang kalau tangannya tidak sembari memeganginya ketika dia bangkit.
"Mau apa?" tanya Kinara, dengan nada suara dan tatapan mata yang datar.
"We need to talk, about-"
"Please, Ra. Kasih aku kesempatan sekali lagi. You know I didn't meant it, I-"
"Stop!" sergah Kinara. Usahanya menahan emosi sudah sepenuhnya gagal. Atha yang tampil di hadapannya sekarang ini terlihat seperti laki-laki bajingan pada umumnya, yang masih terus mencari-cari alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri, mencari pembenaran untuk setiap kesalahan yang dia perbuat dan mengemis pemakluman.
Atha yang berdiri di hadapannya kini sungguh jauh berbeda dari Atha yang dia kenal selama bertahun-tahun kemarin. Kinara hampir tidak bisa lagi menemukan sosok Atha yang membuatnya jatuh cinta seperti orang gila sebelumnya. Yang ada, kini Kinara benar-benar merasa muak dan benci pada pemuda ini.
"Tanggung jawab aja sama apa yang udah kamu perbuat, Tha. Nggak usah banyak omong dan berusaha cari pembelaan terus!" nada suara Kinara meninggi secara signifikan. Dia terlalu kalut, terlalu emosi untuk sekadar ingat bahwa Mama bisa saja mendengar teriakannya.
"Dahayu hamil, anak kamu! Terus apa lagi yang kamu harapkan dari aku?! Kamu mau aku terima kamu lagi, dan tetap jalanin hubungan kita di saat ada satu nyawa lagi yang harus kamu pertangung jawabkan hidupnya, iya?!" satu tetes air mata tiba-tiba jatuh tanpa bisa Kinara hindari. Dadanya sesak, napasnya tersengal.
__ADS_1
"Tolong, Tha ... tolong, jangan kayak gini." Volume suara Kinara menurun drastis, dia juga menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang mulai deras berjatuhan. "Tolong jangan lari dari tanggung jawab dan bikin aku semakin benci kamu." Sambungnya lirih, sudah nyaris tak terdengar.
Atha kaku di tempatnya. Sedari dulu, melihat Kinara menangis adalah kelemahan terbesarnya. Dan kini, dia terpaksa melihat gadis yang paling dicintainya ini menangis, dan penyebabnya adalah dirinya.
Di hari lalu, ketika Kinara menangis begitu hebat di depan matanya, Atha tidak butuh banyak waktu untuk berpikir. Dia akan langsung menarik Kinara ke dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung gadis itu sampai tangisnya mereda. Tapi karena sekarang keadaannya sudah lain, Atha cuma bisa terima saat dirinya tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantu. Sebab dia akhirnya tahu, semakin dia berjalan mendekat, luka yang diderita Kinara akan semakin hebat.
Tangis Kinara yang semakin menjadi rupanya sampai juga di telinga Mama, sehingga wanita itu muncul dari balik pintu kamar dengan tergopoh-gopoh menghampiri putri semata wayangnya yang tengah tersedu-sedu seorang diri di ambang pintu.
"It's ok, Nara. Mama di sini." Bisik Mama setelah merengkuh Kinara ke dalam pelukannya.
Mama melirik Atha sekilas, berusaha mendapatkan jawaban tentang apa yang terjadi pada putrinya. Tetapi pemuda itu hanya membisu dengan mata yang berkaca-kaca, seperti sudah siap untuk ikut menangis juga.
Karena tangis Kinara tak kunjung reda dan Atha juga tidak memberikan penjelasan apa-apa, Mama akhirnya mengambil langkah terbaik menurutnya. Yaitu dengan menyuruh Atha segera pulang agar dia bisa menenangkan Kinara.
"Tha, kamu pulang dulu aja ya, Nak." Kata Mama dengan suara lembut.
Atha geming. Dia menatap Kinara yang masih terisak untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas berat dan bergerak mendekat, hanya untuk mencium tangan Mama kemudian membalikkan badan cepat.
Pada akhirnya, Atha meninggalkan kediaman Kinara dengan hati yang lebam-lebam dan perasaan bersalah yang barangkali akan dia bawa sampai mati.
Bersambung
__ADS_1