
Selama perjalanan pulang, mereka tidak banyak berbicara. Dahayu selaku sopir hanya sesekali menanyakan kepada Layla ke arah mana dia harus membelokkan kemudinya.
Sementara Layla dan Kinara yang duduk di bangku penumpang juga tidak banyak bertukar suara. Layla sibuk melayangkan pandangan ke luar jendela, menikmati pemandangan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala di tengah keabu-abuan langit di atas mereka. Sedangkan Kinara terlihat berkutat dengan ponselnya, entah apa yang tengah dia kerjakan.
"Belok atau lurus?" tanya Dahayu ketika mereka sampai di pertigaan.
"Belok." Jawab Layla dengan suara pelan.
Dahayu membelokkan kemudia seperti yang Layla arahkan. Kemudian dia mulai menyadari bahwa mobil mereka melaju di jalanan yang sudah biasa di lewati setiap hari. Ini jalan menuju ke komplek perumahannya. Lima ratus meter lagi, gerbang utama komplek perumahannya akan terlihat di sebelah kiri.
Dan benar saja, Layla mengarahkanny untuk berbelok masuk menuju gerbang perumahan. Gadis itu kemudian mengarahkan Dahayu untuk lurus terus sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah berpagar tinggi warna abu-abu.
Sejenak, Dahayu terdiam mengamati rumah Layla. Dia baru tahu kalau Layla ternyata tinggal di komplek perumahan yang sama dengan dirinya, hanya berbeda blok saja dan antara blok rumahnya dan blok rumah Layla terpisah dua blok lainnya.
Layla dan Kinara sudah turun lebih dulu dari mobil dan Dahayu menyusul tidak lama setelahnya.
"Makasih, ya." Ucap Layla kepada Kinara.
Dahayu menoleh untuk memeriksa respon seperti apa yang akan Kinara berikan. Dan dia berani sumpah, ingin sekali rasanya dia melakban mulut Kinara agar gadis itu berhenti tersenyum seperti sekarang.
"Sama-sama."
"Kalian mau mampir dulu?" tawar Layla basa-basi.
Karena Dahayu paling peka soal itu, dia segera menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lagipula, dia harus segera menginterogasi Kinara tentang apa yang terjadi dan bagaimana gadis itu bisa berakhir bersama Layla. Ada begitu banyak pertanyaan yang harus dia tuntut jawabannya dari Kinara, dan itu mungkin tidak akan cukup menghabiskan waktu semalaman.
"Kalau gitu, aku masuk, ya." Pamit Layla.
Dahayu mengangguk semangat. Menyunggingkan senyum lebar dan matanya berbinar-binar. Dia betulan ingin Layla segera masuk supaya bisa menyeret Kinara dari sana.
"Kalau butuh apa-apa, kamu bisa hubungi aku. Walaupun nggak bisa bantu banyak, setidaknya aku bisa sediakan telinga buat kamu."
__ADS_1
Dahayu melirik sinis ke arah Kinara. Agaknya bocah yang satu ini benar-benar suka menyulitkan dirinya sendiri.
Kemudian, Dahayu mengalihkan pandangan ke arah Layla dan menemukan gadis itu mengangguk. Lalu gadis itu berlalu dari hadapan mereka. Tubuh yang berbalut gamis dan kerudung menjuntai menutupi dada itu menghilang di balik gerbang yang tinggi menjulang.
Sejenak, Dahayu masih menahan diri sedikit lebih lama sampai ia memastikan Layla betulan sudah masuk ke dalam rumahnya.
Setelah yakin Layla tidak akan berbalik lagi ke hadapan mereka, Dahayu segera menyeret Kinara dan memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Dahayu tidak memberi kesempatan pada Kinara untuk melayangkan protes ketika dia sengaja mengunci pintu dan langsung menodong gadis itu dengan tatapan penuh selidik.
"Kamu nyeremin, Ay." Celetuk Kinara tiba-tiba, yang tentu saja semakin membuat Dahayu kesal.
"Diem, lo!" semprot Dahayu. "Sekarang giliran gue yang ngomong. Udah gatel banget gue pengin ngomong panjang lebar ke lo!"
Bukan Kinara namanya kalau tidak menanggapi kekesalan Dahayu dengan santai. Alih-alih merasa terintimidasi, gadis itu malah memutar tubuhnya sehingga mereka bisa berhadap-hadapan. Dia menyenderkan punggungnya ke pintu mobil yang terkunci dan menatap Dahayu lekat-lekat.
"Ya udah, kamu mau ngomong apa?"
"Kenapa lo bisa sama Layla?" tanya Dahayu langsung pada intinya.
"Kok bisa? Bukannya lo bilang mau ketemu saa Irfan? Kenapa malah keluyuran ke gazebo belakang?"
"Nyari jalan pintas." Kinara masih tetap santai.
"Terus kenapa lo harus samperin Layla? Kan, tujuannya buat nyari jalan pintas biar lebih cepet balik ke sini? Kenapa lo malah bikin gue nunggu semakin lama? Kena-"
"Satu-satu, Ay." Sela Kinara karena berondongan pertanyaan Dahayu tak habis-habis. "Satu-satu." Ulangnya.
Dahayu membuang napas kasar. Mengajak Kinara bicara memang selalu butuh kesabaran ekstra. Padahal, kalau bisa diibaratkan, kesabaran yang dia miliki mungkin hanya setipis tisu wajah. Tetapi Tuhan malah memberinya teman modelan Kinara yang benar-benar selalu membuatnya naik darah.
Setelah menarik dan membuang napas beberapa kali untuk menekan emosinya agar tidak melonjak naik, Dahayu kembali berkata. "Intinya, kenapa lo memutuskan buat nyamperin Layla? Lo tahu kan situasinya lagi kayak gimana sekarang?"
__ADS_1
Kini giliran Kinara yang menghela napas. Punggung yang semula bersandar di pintu mobil dia tegakkan. "Dia lagi nangis waktu aku lewat. Terus, sebagai seorang teman, apa salah kalau aku samperin dia untuk sekadar nemenin dia nangis?"
"Tap-"
Sebelum kalimat Dahayu selesai, Kinara kembali menyela. "Terlepas dari kesalahan apa yang dia perbuat, Layla masih manusia, Ay. Dia masih punya hak untuk diperlakukan selayaknya manusia lainnya. Lagipula, dia bukannya sengaja sebarin aib dia sendiri, kan?"
Dahayu bungkam. Entah ke mana perginya ribuan kosa kata yang sudah dia susun di kepala dan sedari tadi ingin dia muntahkan kepada Kinara.
"Yang seharusnya kita benci dan hakimi bukan Layla, Ay. Tapi bajingan yang udah menyebarluaskan video itu dan bikin Layla ada di keadaan yang sulit seperti sekarang."
Tepat ketika langit di atas mereka sepenuhnya gelap, Dahayu tidak lagi mampu mengeluarkan kata-kata. Apa yang Kinara sampaikan berhasil membuatnya bungkam bahkan sampai gadis itu mulai melajukan mobil meninggalkan area kampus.
...****************...
"Besok mau aku jemput?" Kinara melongokkan kepala ke luar jendela mobil yang terbuka.
Dahayu yang semula sudah berjalan menuju gerbang rumahnya praktis menghentikan langkah dan berbalik.
"Nggak usah, mobil gue udah jadi."
"Oke."
Kinara hendak kembali duduk di balik kursi pengemudi ketika gerbang rumah Dahayu tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok Tante Lisa, ibunya Dahayu yang tampil dalam balutan dress hitam selutut yang simpel namun tetap terlihat elegan. Wanita itu melirik Dahayu sekilas, kemudian beralih menatap Kinara dan tersenyum ramah.
"Mampir dulu, Ra. Udah lama Tante nggak ngobrol sama kamu."
Ditawari begitu oleh Tante Lisa membuat Kinara tidak kuasa untuk menolak. Terlepas dari bagaimana sikap Tante Lisa yang gemar bergonta-ganti pasangan tidak sah, wanita itu tetaplah ibu dari sahabatnya, jadi Kinara merasa dia wajib bersikap sopan dengan tidak menolak permintaan itu.
Maka, Kinara mengurungkan niat untuk menginjak pedal gas dan segera kembali ke rumah. Sebagai gantinya, dia melakukan mobilnya masuk ke halaman rumah Dahayu yang luas setelah gadis itu membantunya membukakan gerbang.
Mobil dia parkirkan di halaman, di sebelah mobil yang dia jelas tahu itu milik siapa. Walaupun dia sedikit terkejut mendapati mobil itu ada di sana, tetapi Kinara tetap menyambut uluran tangan Tante Lisa dengan senang hati.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju ke dalam rumah, meninggalkan Dahayu di belakang. Sekarang, kalau ada orang asing yang melihat pemandangan ini, mereka pasti akan berpikir bahwa Kinara adalah putri di keluarga ini sedangkan Dahayu hanyalah remahan rengginang yang eksistensinya sama sekali tidak layak untuk dipedulikan.
Bersambung