
Waktu berjalan sedikit lebih lambat setelah kepindahan Kinara ke rumah baru. Walau harus bersusah payah membiasakan diri dengan kondisi tempat tinggal yang baru, pada akhirnya Kinara tetap bisa melakukannya hingga sampai lah ia di hari ini. Hari di mana dia harus kembali ke kampus dan menjalani kehidupannya sebagai mahasiswi semester empat.
Kinara berjalan ke luar dari kamar sambil sedikit merapihkan penampilan. Hari ini, dia hanya mengenakan setelan celana jeans dan kaus oblong warna putih. Tas yang dia pakai bukanlah dari merk terkenal, melainkan hanya sebuah goodie bag berwarna putih dengan sablon bertuliskan namanya. Goodie bag itu dia pesan di tempat salah satu teman yang punya usaha sablon akhir semester lalu.
"Pagi, baby." Sapa Mama yang baru muncul dari dapur sambil membawa sepiring nasi goreng dengan telor ceplok setengah matang dan segelas susu putih. "Sarapan dulu. Di ruang tamu aja, ya."
Kinara hanya mengangguk. Membiarkan Mama berjalan lebih dulu menuju ruang tamu dan dia mengekor di belakang.
Di ruang tamu, Papa sudah duduk di atas sofa dengan sepiring nasi goreng yang sama di tangannya. Mulutnya tampak penuh sementara matanya menatap tidak siap pada sosok Kinara yang tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.
Kinara juga tidak kalah heran mendapati penampilan Papa yang rapih. Pria itu mengenakan kemeja garis-garis warna putih, celana bahan hitam dan juga sepatu pantofel. Rambut hitam pendek yang sudah ada beberapa helai yang mulai memutih itu ditata rapi dengan bantuan minyak rambut. Dari tubuh Papa juga menguar aroma parfum yang biasanya hanya dipakai oleh Papa saat akan bepergian saja.
"Papa rapih amat? Mau ke mana?" tanya Kinara setelah mendudukkan diri di sebelah Papa dan menerima nasi goreng yang diulurkan oleh Mama.
"Kerja." Papa menyahut setelah menelan makanannya.
"Kerja?" Kinara menatap Papa tak percaya. Sendok yang sudah berada di depan mulut diturunkan kembali.
Papa mengangguk kemudian menyuapkan sesendok nasi goreng lagi ke dalam mulutnya. "Ada satu teman yang menawarkan pekerjaan." Lanjut Papa dengan mulut penuh.
Kerja apa? Kinara ingin menanyakan itu, tetapi urung karena takut hal itu akan menyurutkan semangat Papa yang tampak begitu menggebu saat ini.
Akhirnya, percakapan tidak berlanjut dan Kinara mulai menikmati nasi goreng buatan Mama dalam keheningan. Mama sudah kembali ke dapur, entah hendak mengerjakan apa lagi.
__ADS_1
Bermenit-menit kemudian, Kinara telah menyelesaikan makannya. Ketika hendak berdiri untuk menyimpan piring kotor ke bak cuci di dapur, Papa mengentikannya.
Dengan tangan kekarnya, Papa mengambil alih piring kotor itu dari tangan Kinara dan menyodorkan susu sebagai gantinya. "Minum susunya. Biar Papa yang bawa piringnya ke dapur."
Kinara menurut saja. Dia ambil segelas susu itu kemudian meneguknya cepat-cepat. Setelah tandas, Kinara pasrah saja saat Papa merebut gelas kosong itu dari tangannya dan langsung melenggang pergi dari hadapannya.
"Kamu kelas jam berapa?" tanya Papa sebelum mencapai pintu dapur. Ia berbalik, menunggu Kinara memberi jawaban.
"Jam 9." Jawab Kinara.
Papa melirik jam di pergelangan tangan kirinya sebentar kemudian kembali menatap Kinara. "Kalau gitu jajan sekarang, takutnya macet. Mobil kamu udah Papa panasin tadi, jadi tinggal jalan aja." Lalu Papa melanjutkan langkah.
Kinara ingin menyusul Papa agar bisa berpamitan dengan Mama juga. Tetapi pada akhirnya Kinara tidak melakukan itu karena ia menangkap sinyal bahwa Papa tidak ingin adegan berangkat ke kampus ini berubah menjadi penuh tangis dan drama.
Entah kebetulan atau tidak, anak perempuan itu muncul dari balik pintu lengkap dengan seragam merah putih dan kerudung yang menjuntai menutupi bagian dadanya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa saat sebelum akhirnya ibu si anak perempuan ikutan muncul dari balik pintu dan langsung menggandeng tangan anaknya.
Kinara memerhatikan mereka berjalan melewati pekarangan rumah sampai akhirnya menjejakkan kaki di jalanan menuju jalan besar di depan sana. Sebelum melanjutkan langkah, Kinara sempat bersitatap dengan ibu si anak perempuan. Tanpa diduga, ibu si anak mengulaskan senyum ramah yang seketika membuat hatinya menghangat. Sebab dari sekian banyak tetangga di sekitar rumahnya, cuma ibu dari anak perempuan itu yang pernah tersenyum ramah kepadanya dan tidak melayangkan tatapan julid seperti yang ibu-ibu lain di sekitarnya layangkan.
Setelah anak perempuan dan ibunya itu menghilang dari pandangan, barulah Kinara masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan area tempat tinggalnya.
...****************...
Sampai di kampus, Kinara memarkirkan mobilnya di posisi paling ujung dekat gerbang supaya memudahkannya untuk keluar sore nanti.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di dalam mobil, Kinara berjalan cepat. Melewati kerumunan mahasiswa dari jurusan lain kemudian berjalan melewati lorong yang sepi untuk menuju ke ruangan kelas pertamanya.
Kinara mengambil jurusan Sastra Inggris karena ketertarikannya belajar bahasa asing. Papa dan Mama juga tidak melarangnya untuk mengambil jurusan yang ia inginkan. Tapi sekarang saat kondisi ekonomi keluarganya memburuk, Kinara jadi agak menyesal mengambil jurusan ini karena khawatir akan kesulitan mencari kerja setelah lulus nanti.
Beberapa menit menyusuri lorong, Kinara akhirnya sampai di ruang kelas. Sebelum masuk, ia sempat melongokkan kepala ke dalam kelas untuk memeriksa apakah sudah ada mahasiswa lain yang datang atau belum mengingat sekarang baru jam sembilan kurang lima belas menit.
Ternyata benar saja dugaan Kinara, ruang kelas masih sepi. Hanya ada bangku-bangku kosong yang sepertinya sedikit berdebu karena sudah lama tidak digunakan karena libur kuliah.
Karena tidak mau bergelut dengan debu-debu yang akan membuatnya bersin-bersin, Kinara pun memutuskan untuk duduk di depan kelas sembari menunggu teman-temannya yang lain datang.
Kinara mengambil posisi duduk di sebuah meja di bawah pohon asem yang rindang. Biasanya Atha akan selalu mewanti-wanti dirinya untuk tidak duduk di sana karena takut kesurupan, tapi Kinara tetap nekat karena toh tidak pernah terjadi apa-apa padanya dan teman-temannya yang suka duduk di sana.
Setelah menemukan posisi nyaman, Kinara mengeluarkan laptop dari goodie bag miliknya dan dalam sekejap ia telah fokus menyelami berbaris-baris kalimat yang muncul di layar. Sudah tidak peduli lagi pada apa yang terjadi di sekitar karena ia benar-benar mencurahkan semua perhatian ke layar laptopnya.
Sampai...
"Nara!" sebuah suara perempuan menginterupsi kegiatan Kinara, membuatnya mengalihkan pandangan dan sejenak menarik diri dari kegiatannya.
Di sana, beberapa meter di depannya, berdiri seorang gadis berambut cokelat sebahu sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Penampilan gadis itu masih sama seperti biasanya. Tampak anggun dengan dress bunga-bunga warna biru muda di bawah lutut dan sepatu sneaker warna putih polos. Rambut cokelatnya dibiarkan tergerai indah dengan sebuah jepit rambut bentuk kelinci sebagai penghias.
Nara balik tersenyum dan melambaikan tangan pada gadis itu. Satu tangannya yang bebas bergerak menutup kembali laptop karena dia tahu, setelah kehadiran gadis itu, ia tidak akan bisa lagi fokus pada apa yang dia kerjakan sebelumnya.
Bersambung
__ADS_1