
Ternyata bioskop cukup ramai untuk hitungan hari yang bukan weekend. Orang-orang dari berbagai kalangan usia tampak memenuhi area depan bioskop sembari berbincang-bincang dengan rekan yang datang bersama, beberapa sudah mulai masuk dan mengantre untuk membeli camilan dan minuman, beberapa lagi yang belum membeli tiket tampak mengantre di bagian pembelian tiket.
Kinara, Atha dan Dahayu termasuk ke dalam golongan yang terakhir. Karena rencananya dadakan, mereka jelas belum membeli tiket. Jangankan membeli tiket, menentukan film apa yang akan mereka tonton pun belum. Bahkan kini, ketika mereka sudah berada di antrean pertama, mereka masih tampak kebingungan.
"Mau nonton apa?" tanya Atha yang berdiri di belakang Dahayu dan Kinara. Sebenarnya, tindakan ini salah. Dia seharusnya menunggu saja di tempat duduk yang sudah disediakan supaya tidak memperpanjang antrean. Tapi mau bagaimana lagi, dia ingin dekat-dekat terus dengan Kinara.
Lebay!
Alasan sebenarnya adalah dia ingin memastikan dua anak gadis orang ini tetap aman dalam jangkauan pandangnya. Karena sebagai laki-laki, Atha merasa dia bertanggung jawab atas mereka berdua sekarang.
Dahayu menoleh sebentar ke belakang, kemudian kembali menatap ke depan untuk menilik pilihan film yang ada.
Akhirnya, karena terlalu bingung dan tidak enak pada orang-orang yang mengantre di belakang mereka, Atha memberi usul untuk menonton satu film dengan genre horor.
Dan entah bagaimana, Kinara menganggukkan kepala semangat. Padahal seumur-umur gadis itu tidak pernah suka menonton film horor. Gadis itu lalu menunjuk tiga kursi di layar dan si petugas langsung memproses pesanan mereka.
Tak butuh lama, tiket sudah berpindah ke tangan dan mereka akhirnya bisa keluar dari barisan antrean.
Tiket sudah ada, saatnya membeli camilan. Karena menonton film tanpa ditemani camilan itu bagai masak sayur tanpa garam. Hambar!
Tapi kali ini, Atha menawarkan diri untuk mengantre. Dia menyuruh Kinara dan Dahayu untuk menunggu saja di salah satu tempat duduk terdekat. Dua gadis itu pun mengiyakan.
Tak lama kemudian, Atha kembali dengan tiga cup minuman dan satu popcorn ukuran besar. Mereka bertiga kemudian berjalan menuju studio tempat film yang akan mereka tonton diputar.
Setelah menyerahkan tiket kepada petugas, mereka bertiga masuk dan segera mencari tempat duduk mereka masing-masing. Karena pintu studio memang baru dibuka, studio tersebut masih kosong dan mereka bisa lebih mudah mencapai tempat duduknya.
__ADS_1
Beberapa menit setelah mereka duduk dengan posisi Kinara yang berada di tengah-tengah antara Atha dan Dahayu, studio mulai dipenuhi oleh pengunjung yang lain dan tak lama setelah itu, film pun dimulai.
Selama film berlangsung, mereka bertiga tampak begitu fokus menatap layar. Sesekali Atha merasakan tangan Atha menggenggam erat tangannya saat adegan di mana hantu di dalam film muncul secara mengagetkan. Meskipun begitu, Atha salut karena Kinara sama sekali tidak menjerit. Padahal, Atha tahu kalau Kinara sebenarnya memang cukup penakut.
Di sebelah kiri Kinara, Dahayu mengikuti jalannya cerita dengan ekspresi datar. Bahkan saat sosok hantu muncul secara tiba-tiba, Dahayu tetap santai saja mencomot popcorn dan menyuapkannya ke dalam mulut.
Sesekali dia melirik ke arah Kinara yang duduk lebih condong ke arah Atha dan menggelengkan kepala pelan saat gadis itu sebuah menyembunyikan wajahnya di lengan lelaki itu.
Tanpa terasa, dua jam terlewati begitu saja. Lampu-lampu di dalam studio mulai dinyalakan dan orang-orang mulai bangkit dari duduknya. Satu persatu pengunjung berjalan menuju pintu keluar. Sedangkan Kinara, Atha dan Dahayu memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama sampai semua pengunjung keluar.
Alasannya cuma satu, mereka terlalu malas untuk berdempetan dengan pengunjung yang lain.
Setelah studio sepi, barulah mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari sana. Suasana mal masih cukup ramai karena sekarang baru jam delapan malam.
Tapi Dahayu sama sekali tidak keberatan. Masa bodoh dengan penilaian orang lain, yang penting dia senang kalau Kinara juga senang.
"Masih ada waktu, mau cari makan dulu nggak?" tawar Atha sesampainya mereka di lantai dasar. Siang tadi, dia tidak sempat ke kantin untuk makan karena tugas kuliahnya sudha berteriak minta diselesaikan, jadi sekarang dia merasa lapar.
Tapi, Atha terpaksa menahan rasa lapar itu ketika Kinara menggelengkan kepala pelan.
"Kayaknya aku langsung pulang aja deh, ada tugas yang harus aku kerjain." Kinara menjawab cepat. "Kalau kalian mau makan dulu, nggak apa-apa. Aku bisa pulang duluan naik taksi."
Tentu saja Atha menolak ide tersebut. Mana mungkin dia membiarkan pacarnya itu pulang sendirian malam-malam begini. Lagipula, mereka datang ke sini menggunakan mobil Kinara. Aneh kalau justru Kinara yang harus mengalah.
"Kalau gitu, kita langsung pulang aja. Nggak apa-apa, kan, Ay?" tanya Atha kepada Dahayu yang sedari tadi memang lebih banyak diam.
__ADS_1
Dahayu menoleh sehingga tatapan mereka bertemu sebentar. Kemudian Dahayu melirik ke arah Kinara sebelum menganggukkan kepala. "Nggak apa-apa, kita langsung pulang aja."
Setelah mencapai kata sepakat, mereka akhirnya berjalan beriringan menuju basement tempat di mana mobil diparkirkan.
Di sepanjang perjalanan, mereka bertiga sama-sama diam. Kinara masih bersikeras duduk di bangku penumpang belakang untuk menemani Dahayu, padahal Atha sudah membujuknya untuk duduk di depan.
"Kita anterin Dahayu dulu?" tanya Atha setelah keterdiaman yang cukup lama.
"Iya. Ke Dahayu dulu." Kinara menjawab dengan tatapan yang terlempar jauh ke luar jendela.
"Ke rumah lo dulu aja, Ra. Biar nggak bolak-balik." Dahayu yang sedari tadi memainkan ponsel menyela, sejenak dia jauhkan perhatiannya dari layar ponsel dan beralih menatap Kinara yang kebetulan juga sedang menolehkan kepala.
Alih-alih mendapatkan jawaban, Dahayu malah melihat Kinara dan Atha saling melemparkan tatapan melalui pantulan kaca spion depan.
"Kenapa?" tanya Dahayu curiga. Entah mengapa, dia merasa ada yang sedang mereka berdua sembunyikan.
"Nggak apa-apa. Kita anterin kamu dulu aja, Ay. Soalnya aku sama Atha mau ngobrolin hal penting. Kan tadi ketunda karena kita pergi nonton." Kilah Kinara. Berusaha tetap tenang padahal sebenarnya dia sudah deg-degan bukan main. Takut kalau Dahayu curiga dan memaksa untuk mengantarkannya pulang terlebih dahulu.
Tidak. Kinara masih belum siap untuk memberitahu Kinara soal keadaan ekonominya yang sekarang. Dia masih butuh waktu sedikit lebih lama.
Mendengar alasan yang Kinara sampaikan, Dahayu cuma ber oh ria kemudian kembali memainkan ponselnya.
Kinara diam-diam menghela napas lega sambil sekali lagi berkontak mata dengan Atha. Kemudian, hening kembali menyapa untuk waktu yang lebih lama.
Bersambung
__ADS_1