
Hari Senin selalu menjadi hari yang sibuk untuk Kinara. Bukan cuma saat di kampus, tetapi juga saat di Orion.
Pesanan tidak henti-hentinya datang sejak pertama kali dia berdiri di belakang meja kasir, membuatnya tidak punya waktu barang sedikit saja bahkan untuk sekadar membasahi tenggorokannya dengan air minum.
Parkiran di halaman depan penuh, beberapa pengunjung yang baru melongok banyak yang putar balik setelah melihat betapa sesaknya Orion hari ini.
Kinara berusaha maklum. Karena hari Senin memang identik dengan hari yang berat dan pekerjaan atau tugas yang menumpuk. Wajar saja bila orang-orang ini kemudian mencari hiburan untuk melepas penat setelah bertarung seharian.
"Minum dulu, Ra," Jeremy muncul dari balik ruang staf, meletakkan sebotol air mineral ke atas counter setelah satu pengunjung terakhir menyelesaikan pesanan.
"Makasih, Mas Jer," Kinara menyunggingkan senyum.
Jeremy juga ikut tersenyum sebelum menjawab, "Sama-sama,"
"Omong-omong," Kinara menjeda sejenak untuk menenggak air minum, kemudian setelah menelan tetesan air itu, dia melanjutkan. "Mas Kala belum datang, ya? Aku belum lihat dari tadi."
"Oh, Mas Sekala kayaknya nggak datang hari ini, kemarin sih bilang mau ada yang diurus." Kata Jeremy sembari menyandarkan tubuhnya di counter selagi matanya menyapu seluruh isi Orion yang penuh dengan manusia dari berbagai kalangan.
"Oh ... gitu, ya," Kinara bergumam, lalu menenggak air minum sekali lagi.
"Jer! Balik ke dapur buruan! Jangan godain Kinara mentang-mentang Mas Sekala nggak ada!" seru Dimas, menyembulkan kepala dari balik pintu dapur. Pemuda itu bahkan tidak peduli ketika bukan cuma Kinara dan Jeremy saja yang menoleh ke arahnya, melainkan sebagian besar pengunjung yang ada di sana.
Usai berteriak, Dimas berlalu kembali ke dapur seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Bacot banget manusia satu," gerutu Jeremy. Meskipun begitu, dia tetap menegakkan badan dan menuruti titah Dimas untuk segera kembali ke dapur, mengingat hari ini mereka memang sangat sibuk.
Baru sampai di depan pintu, Jeremy menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap Kinara yang rupanya sedari tadi memperhatikan setiap pergerakan yang dia ambil.
"Kalau butuh bantuan, teriak aja. Panggil gue atau Dimas, atau ke anak-anak yang lain juga nggak apa-apa. Jangan lo kerjain sendirian kalau emang nggak bisa," ucap Jeremy kemudian.
"Iya, Mas Jer, makasih."
Jeremy mengangguk, kemudian membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya yang semula tertunda.
Sementara itu, selepas kepergian Jeremy, Kinara kembali disibukkan oleh pesanan lain yang masuk. Rupanya, penuhnya Orion tetap tidak menyurutkan niat bagi beberapa orang untuk tetap menikmati kopi dan beberapa menu lain yang memang hanya bisa ditemui di Orion, untuk mereka bawa pulang.
Mama ... capek ... Keluhnya di dalam hati, tetapi dia tetap melayani pelanggan dengan senyum ramah yang tidak pernah luntur.
...****************...
__ADS_1
Menjelang pukul sembilan malam, Orion sudah mulai sepi. Hanya tersisa tiga orang yang masih menikmati kopi mereka yang sisa sedikit.
Tadi, sekitar jam tujuh, Andanu dan Astari juga sempat mampir sebentar untuk membeli kopi dan dessert untuk dibawa pulang. Mereka bilang baru kembali dari menghadiri acara dan menyempatkan mampir untuk sekadar setor muka.
Kinara bersyukur karena setidaknya kedatangan mereka berhasil membuat keresahannya yang masih tersisa soal kesalahpahaman sebelumnya sepenuhnya sirna. Dia pikir, Astari tidak akan mau datang lagi. Syukurlah itu hanya ketakutannya saja.
Malam minggu kemarin, ketika Sekala mengantarnya dan Lestari pulang dari pasar malam, lelaki itu memang sudah mengatakan padanya bahwa dia tetap memperbolehkan Astari berkunjung, karena itu sepenuhnya hak perempuan itu. Sekala juga bilang untuk tidak perlu khawatir karena hubungan antara lelaki itu dan Astari tetap baik.
Mulanya dia pikir Sekala cuma sedang berusaha membuat perasaannya membaik, tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia percaya bahwa apa yang lelaki itu katakan memang selalu sesuai dengan kenyataan yang ada.
"Kita closing setelah tiga customer itu selesai, ya."
Kinara menoleh ke samping, ada Dimas yang sudah berdiri menjulang dengan tatapan yang jatuh ke ponsel di tangan.
"Tapi, baru jam sembilan lebih,"
Dimas mendongak, sehingga tatapan mereka bertemu. "Nggak apa-apa, ini perintah langsung dari Mas Sekala." Kata pemuda itu. Dan seolah tahu kalau Kinara adalah manusia yang harus diberikan bukti untuk setiap perkataan yang dia dengar, Dimas menunjukkan layar ponselnya ke hadapan gadis itu.
Hari ini closing lebih cepat aja, biar kalian bisa cepat istirahat.
Begitu yang Sekala tulis di dalam pesan singkat yang kemudian hanya ditanggapi oleh Dimas dengan stiker bergambar jempol.
"Oke deh kalau gitu," Kinara manggut-manggut, kembali menatap Dimas setelah pemuda itu menarik kembali ponselnya.
"Iya, makasih Mas Dimas,"
Dimas tidak menyahut lagi dan segera berlalu menuju dapur untuk membantu yang lain beres-beres.
Tidak seperti Jeremy yang terkesan lebih friendly, Dimas punya karakter yang sedikit lebih dingin dan terlihat cuek. Meskipun demikian, Kinara tahu, baik Dimas maupun Jeremy punya kepedulian yang tinggi terhadap sesama karyawan. Hanya cara mereka dalam menunjukkan kepedulian itu saja yang berbeda.
Setelah hanya berdiam diri menatapi kepergian Dimas selama beberapa saat, Kinara akhirnya kembali menarik pandangan saat rungunya mendengar suara lonceng yang berbunyi nyaring, menandakan ada satu lagi pelanggan yang datang.
"Selamat datang di Orion, bisa kami bantu pesanannya Ka-"
Kalimat Kinara tidak selesai, sebab sosok yang muncul di hadapannya kini bukanlah seorang pelanggan yang dia harapkan.
Pemuda tinggi dengan rambut sedikit gondrong dan kumis serta jenggot tipis itu ... Kinara hampir tidak bisa mengenalinya karena penampilannya benar-benar berubah drastis dari terakhir kali mereka bertemu.
"Ngapain kamu ke sini?" ketusnya, bahkan sebelum si pemuda membuka bibirnya untuk bicara.
__ADS_1
"Kasih aku kesempatan untuk ngomong sama kamu sebentar, Nara." Pemuda itu, Atha, memelas. Tatapan matanya begitu sendu, suaranya bergetar dan kepercayaan dirinya jelas hampir tidak ada jika dilihat dari postur tubuhnya yang sudah tidak lagi tegap.
"Mau ngomong soal apa lagi? Kan, kita udah lama selesai. Udah nggak ada apapun yang perlu dibahas," Kalau saat ini dia tidak sedang berada di tempat kerja, dan masih ada tiga pengunjung yang tersisa di sana, Kinara mungkin akan berteriak dengan lantang di depan muka Atha. Tapi karena dia tidak bisa melakukan itu, Kinara cuma bisa menahan amarahnya agar tidak pecah saat ini juga.
"Hidup aku nggak tenang, Ra. Aku ... aku nggak bahagia sama pernikahan aku dengan Dahayu. Kami sering ribut karena hal-hal sepele. Kami ... " tatapan Atha semakin terlihat frustrasi, tapi Kinara sama sekali tidak terlihat peduli.
"Bahagia atau nggak, itu urusan kamu sama istri kamu. Nggak ada hubungannya sama sekali sama aku," ucap Kinara dengan suara dan tatapan yang datar. Padahal sebenarnya, hatinya kembali terasa sakit dan dia nyaris menangis. Bukan lagi menangisi kisah cintanya dengan Atha yang kandas, melainkan menangis karena Tuhan masih saja mengijinkan manusia tidak tahu diri ini muncul di hadapannya, setelah dia bersusah payah untuk menata kembali hatinya yang telah dihancurkan.
"Aku tahu," lirih Atha. Pemuda itu bergerak mendekat, berusaha mempertipis jarak meskipun masih ada counter yang menjadi pembatas mereka berdua.
"Aku cuma mau minta maaf dengan cara yang benar sama kamu, Ra. Karena pengampunan kamu mungkin bisa membantu hidup aku supaya lebih tenang dan-"
"Nggak ada," sela Kinara. Dia memberanikan diri menatap tepat ke manik Atha. Manik yang dulu begitu dia gilai dan hampir menjadikannya candu. "Kalau kamu memang cuma bisa hidup tenang kalau udah dapat pengampunan dari aku, maka silakan nikmati sisa hidup kamu dalam kegelisahan. Karena sampai detik ini, aku masih nggak terpikirkan untuk memberi pengampunan ke kamu dan istrimu itu."
Pernah dengar istilah jangan membuat orang sabar marah, karena marahnya akan begitu jahat dan menyeramkan? Kinara tahu dia mungkin belum termasuk ke dalam golongan orang sabar itu sendiri. Tetapi, ketika dia sudah sampai pada titik di mana dia benar-benar marah, dia bisa saja menjadi sosok yang jahat. Setidaknya bagi orang-orang yang telah membangkitkan amarahnya tersebut.
"Sekarang, lebih baik kamu pergi. Karena sumpah demi Tuhan, aku muak ngelihat muka kamu." Kinara berusaha mendorong tubuh Atha agar pemuda itu pergi dari hadapannya.
Tetapi rupanya tindakan itu salah, karena Atha justru memanfaatkan hal tersebut untuk mencekal lengannya.
"Lepasin." Geramnya, masih berusaha menahan agar suaranya tidak melengking dan membuat pengunjung yang masih ada di sana terganggu.
"Kasih aku kesempatan ngomong dulu,"
"Nggak ada. Lepasin." Kinara berusaha menarik lengannya. Namun, seberapa banyak pun usaha yang dia kerahkan, tenaganya tetap tidak lebih besar jika dibandingkan dengan Atha. Maka usahanya hanya berakhir sia-sia dan lengannya malah terasa sakit karena Atha semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Lepasin, Atha. Sakit!" rintihnya, tetapi Atha seolah tidak peduli.
"Atha!" Kinara tidak tahan, jadi akhirnya dia berteriak.
"Aku cuma mau ngomong sebentar sama kamu, jangan bikin aku jadi kelihatan kayak orang jahat, Ra!"
"Kamu memang jahat! Lepasin!" sayangnya, semakin dia meronta, Kinara semakin merasakan lengannya sakit.
"Kita bicara dulu, baru aku lepasin kamu."
"Nggak mau!" Kinara melirik ke arah tiga pelanggan yang ada di sana. Namun sayangnya, tidak ada satupun di antara mereka yang berani untuk datang menyelamatkan dirinya. Mungkin karena mereka semua perempuan, dan tampilan Atha yang sekarang benar-benar menyeramkan, jadi nyali mereka seketika ciut.
Kinara sudah hampir pasrah dan hendak mengiyakan permintaan Atha untuk berbicara berdua karena dia tidak ingin membuat keributan yang lebih parah. Namun, sebelum niat itu terlaksana, dia merasakan lengannya tersentak dan seketika lepas dari cengkeraman Atha ketika seseorang membantunya.
__ADS_1
"Jangan sentuh pacar saya," ucap seseorang tersebut, membuat Atha dan Kinara sama-sama membeku di tempat.
Bersambung