
Ketukan yang dilabuhkan ke pintu berhasil menarik perhatian Kinara. Ia yang tadinya duduk termenung memikirkan nasib hidup ke depannya seketika mencurahkan seluruh atensinya pada pintu kamar.
Tak berselang lama, Mama mundur dari balik pintu yang terbuka. Meski dengan raut wajah lelah yang kentara, wanita itu masih bisa menyunggingkan senyum tulus untuk putri semata wayangnya.
"Susu." Kata Mama sembari menunjukkan segelas susu putih yang ada di tangannya kepada Kinara.
Mama berjalan mendekat, meletakkan segelas susu itu di atas nakas kemudian mendudukkan diri di tepian kasur dan tangannya terulur untuk membelai lembut helaian rambut Kinara yang telah dibiarkan tumbuh sampai sebatas punggung.
"Everything's good, right?" tanya Mama sembari mengusap pelan pipi Kinara.
"Sejauh ini, iya." Kinara menjawab sesuai dengan apa yang ada di kepalanya. "Semoga ke depannya juga tetap baik, ya, Ma."
"Pasti sayang." Mama berusaha menyakinkan Kinara dan juga dirinya sendiri. "Semua pasti akan tetap berjalan baik selama kita masih sama-sama."
Apa yang Kinara khawatirkan sebenarnya bukan soal uang. Sebab dari dulu, sebanyak apa pun uang yang dihasilkan oleh Papa, Kinara tidak pernah menikmatinya secara berlebihan. Yang menjadi kekhawatiran Kinara adalah tentang apakah mereka bisa melewati masa sulit ini sama-sama. Kinara hanya takut keadaan sulit yang mereka hadapi sekarang akan merubah banyak hal.
"Ma," panggil Kinara pelan.
"Kenapa, sayang?"
"Malam ini, Kinara mau tidur sama Mama. Boleh?" sebab malam ini, Kinara ingin memeluk cinta pertamanya ini erat-erat. Benar. Cinta pertama Kinara memang bukan Papa, melainkan Mama. Entah mengapa, Kinara memang sejatuh cinta itu pada wanita yang telah melahirkannya itu. Tidak peduli seberapa baiknya Papa bertindak sebagai suami dan ayah. Bagi Kinara, Mama tetap yang nomor satu.
"Boleh." Mama menjawab tanpa ragu. "Sebelum tidur, minum susunya dulu. Mama ke kamar dulu kasih tahu Papa."
Kemudian Mama beranjak setelah menyodorkan segelas susu kepada Kinara.
Kinara hanya memandangi gelas di tangannya untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya, ia mulai menyesap susu yang sudah mulai mendingin itu pelan-pelan. Menikmati rasa manis yang menyentuh setiap jengkal bagian lidahnya.
"Apa pun itu yang akan hilang dari hidup aku, nggak apa-apa, asal bukan Mama."
...****************...
Matahari sudah naik, sinarnya menerobos masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka hingga mengenai wajah Kinara, membuatnya meringis karena panas yang dihasilkan dari sinar matahari itu cukup membuatnya tidak nyaman.
Kinara mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berhasil membuka mata sepenuhnya. Dan senyumnya tidak bisa ditahan saat menemukan Mama masih berada di sampingnya.
__ADS_1
Semalam, Kinara memang meminta kepada Mama untuk tidak meninggalkan dirinya sebelum dia bangun. Kinara ingin ketika ia membuka mata, Mama adalah orang pertama yang ia lihat. Dan seperti biasa, Mama memang selalu mengabulkan permintaannya.
"Morning, baby." Sapa Mama sembari membuka matanya perlahan.
Kinara tersenyum lebar. Langsung mendaratkan sebuah kecupan di pipi Mama dan terkikik kecil saat wanita itu menghadiahinya dengan tiga kecupan di dahi.
"Mau sarapan apa hari ini?" tanya Mama masih dengan posisi berbaring.
Namun alih-alih menjawab, Kinara malah beringut mendekat ke arah Mama lalu mulai melingkarkan lengan ke pinggang wanita itu dan memeluknya erat. Wajahnya ia sembunyikan di dada Mama, sambil hidungnya asik menyesapi aroma sabun yang masih tercium bahkan setelah dibawa tidur semalaman.
Beberapa kali Kinara bertanya, apa rahasia di balik harum semerbak yang terus menguar dari tubuh Mama meskipun wanita itu sedang bermandikan keringat. Tapi jawaban Mama selalu sama. Wanita itu bilang rahasianya hanya harus rajin mandi.
Kinara jelas kesal dengan jawaban itu karena ia tahu betul kalau jawaban yang Mama berukan adalah sindirian untuk dirinya yang terkadang malas mandi.
"Ditanya mau sarapan apa kok malah nemplok ke Mama begini." Protes Mama. Namun wanita itu tetap membalas pelukan Kinara. "Kamu mau jadiin Mama menu sarapan?"
Pertanyaan nyeleneh dari Mama itu tentu saja membuat Kinara langsung menarik diri dari pelukan. Ia menatap Mama dengan mata yang memicing sempurna. "Emang Mama pikir aku Sumanti?" tanyanya dengan nada kesal yang dibuat-buat.
"Sumanto, kali!" sergah Mama.
Tetapi Kinara menggeleng. "Sumanto kan laki-laki, Kinara perempuan, jadi namanya Sumanti."
"Ma," panggil Kinara dengan suara yang kelewat manja.
"Apa, Kinaraaaa." Mama gemas. Dicubitnya pipi Kinara yang sedikit lebih tirus hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Sakit, ih!" protesnya. Tetapi Mama malah menambah satu cubitan lagi.
"Mama!" Kinara memukul pelan tangan Mama dan Mama hanya tergelak menanggapinya.
"Habisnya kamu gemes sih."
Kinara memajukan bibir. Tidak percaya pada ucapan Mama yang mengatakan bahwa dia menggemaskan. Karena apa yang wanita itu katakan biasanya merupakan sindirian halus untuk dirinya.
"Kenapa, sih?" tanya Mama sembari menarik tubuh Kinara agar kembali ke dalam pelukan. "Kenapa manggil Mama tadi?"
__ADS_1
"Kinara mau tidur lagi." Suara Kinara sedikit teredam karena wajahnya benar-benar tenggelam di dada Mama.
"Ya udah, tidur aja." Mama menanggapi dengan santai.
"Tapi Nara maunya tidur sambil dipeluk sama Mama." Kinara mengangkat wajahnya, menatap Mama lekat-lekat.
Sejenak, Mama terdiam. Kinara menunggu dengan sabar sembari menyelami mata jernih Mama yang tidak pernah menampakkan kilat amarah. Saking tidak pernahnya marah, Kinara pernah berpikir bahwa Mama bukanlah manusia, melainkan malaikat yang diutus Tuhan untuk mengurus anak manja seperti dirinya.
Lalu, saat Mama mengaggukkan kepala pelan, Kinara langsung memeluk Mama seerat yang dia bisa.
Mama terkekeh melihat tingkah Kinara yang tiba-tiba saja menjadi manja. Sebenarnya bukan tiba-tiba, hanya jarang saja Kinara menampakkan tingkah manja seperti sekarang ini. Di banyak kesempatan, Mama justru menemukan Kinara bersikap jauh lebih dewasa ketimbang usianya.
"Ma,"
"Apa lagi?"
"Mama jangan ke mana-mana, ya? Sama Kinara terus."
Ditodong pertanyaan seperti itu, Mama tentu butuh waktu lebih lama untuk menjawab. Karena, bagaimana ia akan menjawab sesuatu yang belum bisa dia pastikan?
Sebagai seorang ibu, Mama tentu ingin bisa terus ada di sisi Kinara. Mendampingi putri semata wayangnya itu melewati setiap fase dalam hidup yang datang silih berganti. Tetapi, Mama jelas sadar bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. Jadi benar-benar hanya Tuhan yanh tahu akan jadi bagaimana jalan hidup mereka ke depannya.
Merasa tak segera mendapat jawaban, Kinara kembali menjauhkan wajahnya, hanya untuk menemukan Mama tengah menatapnya dengan kilat kesedihan yang kentara. Kinara jelas terkejut, karena ini kali pertama ia melihat kilat sedih itu di mata Mama.
"Ma?"
"Iya, sayang. Mama nggak akan ke mana-mana. Mama akan ada di samping Kinara, temenin Kinara terus."
Setelah kalimat itu selesai, Mama memeluk Kinara lebih erat dari sebelumnya. Dikecupnya puncak kepala Kinara sembari merapalkan doa di dalam hati, semoga Tuhan berkenan membiarkannya hidup sedikit lebih lama agar bisa menemani Kinara, setidaknya sampai keadaan mereka membaik.
.
.
.
__ADS_1
.
Apapun yang hilang, asal bukan sosok ibu, aku masih bisa menerimanya dengan lapang dada.