After The Rain

After The Rain
Bencana


__ADS_3

Dahayu menunggu dengan gelisah, bergerak mondar-mandir di depan ruang kelas Atha sambil mengigiti kuku jarinya. Berkali-kali dia melongokkan kepala ke arah ruang kelas yang sudah ditinggalkan oleh sang dosen, menyisakan mahasiswa yang mulai keluar satu persatu.


"Nyari siapa?" tanya salah seorang mahasiswa yang baru keluar dari ruang kelas.


Dahayu mengangkat kepala, menatap pemuda berambut cepak dengan kemeja kotak-kotak yang berdiri di hadapannya. Dia tahu pemuda itu adalah salah satu teman yang sering nongkrong bersama Atha.


"Atha. Masih ada di dalam kan orangnya?" Dahayu balik bertanya. Sekali lagi melongok ke dalam ruang kelas untuk menemukan keberadaan Atha.


"Ada. Masuk aja." Kata pemuda tadi, Brian, yang kemudian segera berlalu tanpa menunggu respon lebih lanjut dari Dahayu.


Selepas Brian pergi, Dahayu masih geming. Terdiam di tempat dengan kepala yang semakin ribut.


Dia meremas tangannya sendiri untuk meredam kegugupan yang melanda, sembari memeras otaknya untuk mencari jalan keluar terbaik bagi masalah yang kini menjeratnya dan Atha.


Sampai tiba-tiba, Atha muncul dari balik pintu dan langsung menarik tangannya untuk masuk ke ruang kelas yang telah kosong.


Dahayu tersentak, agak tidak siap saat Atha menarik kasar lengannya dan memaksanya untuk duduk di salah satu kursi di barisan paling depan. Pemuda itu juga menutup pintu kelas dengan kasar sehingga menimbulkan suara debaman yang keras.


"Gimana?" tanya Atha dengan tatapan lurus ke manik mata Dahayu. Dia berdiri di hadapan gadis itu dengan lengan yang terlipat di depan dada. "Hasilnya udah keluar, kan?"


Dahayu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kasar sembari merogoh tasnya. Dari dalam tas itu, dia mengeluarkan sebuah benda kecil yang bentuknya mirip termometer pengukur suhu badan dan meletakkannya ke atas meja.


Atha menunduk, menatapi benda kecil itu dengan perasaan tidak keruan. Dia terpaku selama beberapa saat dengan hati yang mendadak terasa ngilu kala menemukan ada dua garis berwarna merah menghiasi benda kecil yang ternyata adalah test pack tersebut.


"Nggak mungkin." Gumam Atha. Dia membalikkan badan, mulai menjambaki rambutnya sendiri dengan gerak frustrasi.


"Ini nggak mungkin, Ay." Ulangnya. Dia kembali membalikkan badan, menatap Dahayu dengan sepasang mata yang tampak sayu. "Kalau Kinara tahu, dia bisa hancur."


"Gue juga nggak mau ini terjadi!" sergah Dahayu. Dia meraih test pack dari atas meja, hanya untuk melemparkan benda itu ke tubuh Atha sebelum benda kecil itu akhirnya mendarat dengan mengenaskan di lantai yang keras. "Gue juga nggak mau hamil anak lo, Atha!"


"Gugurin." Kata Atha, dengan entengnya.


Mendengar itu, emosi yang sudah sejak tadi berkecamuk di dalam diri Dahayu terasa semakin menjadi-jadi. Rasanya, dia ingin menendang kepala Atha agar otaknya bisa sedikit berfungsi. Agar pemuda itu bisa berpikir dulu sebelum berbicara.


"Nggak semudah itu, bajingan!" geram Dahayu. Tatapannya tajam, seolah bisa merobek wajah tampan Atha hanya dalam hitungan detik. "Lo pikir gampang nyari dokter yang benar-benar kompeten dan mau ngelakuin tindakan ilegal itu? Lo pikir, aborsi nggak berisiko untuk keselamatan nyawa gue?" sambungnya dengan suara yang mulai bergetar.


Sejujurnya, Dahayu mulai merasa takut. Tadi pagi setelah dia melakukan tes untuk menguji apakah dia betulan hamil (dan hasilnya ternyata positif) Dahayu sudah kelimpungan. Dia sibuk menjelajah di internet untuk mencari tahu cara paling aman untuk menggugurkan kandungan yang masih dalam usia trimester pertama.

__ADS_1


Tapi nihil, dia hampir tidak menemukan cara yang aman untuk menyingkirkan janin sialan ini dari dalam perutnya.


Dahayu sering berharap bahwa dia bisa mati cepat, setidaknya agar dirinya tak harus melihat hubungan kedua orang tuanya yang semakin kacau dan lama-kelamaan akan hancur. Tapi, Dahayu tidak mau mati konyol. Dia tidak mau meregang nyawa dalam usahanya untuk membunuh satu nyawa lain yang tumbuh di dalam perutnya ini.


Dan sekarang apa? Atha dengan entengnya memintanya untuk menggugurkan kandungan?


"Terus lo maunya gimana? Kita nggak mungkin pertahanin anak itu!" suara Atha mulai meninggi. Kemudian, dia bergerak maju, mencondongkan tubuh ke arah Dahayu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. "Anak itu adalah sebuah kesalahan, kita nggak bisa biarin dia lahir ke dunia." Tegas Atha sekali lagi.


"Bajingan." Geram Dahayu. Tangannya mengepepal di samping tubuh, berusaha keras agar tidak terlayang tinju ke wajah tampan pemuda di hadapannya itu.


"Lo bajingan, Atha." Ulangnya.


Atha tidak menjawab. Karena dia tahu, dia memang bajingan.


...****************...


Kinara sedikit berlari saat kaki kecilnya hampir sampai di koridor menuju kelas Atha. Meskipun dia sudah mengenakan payung, tetapi angin yang bertiup cukup kencang nyatanya tetap membuat tetesan air terbawa hingga beberapa tampias ke pakaiannya.


Payung ditutup saat kaki Kinara berhasil menyentuh koridor. Sembari mengibaskan rambutnya yang ikutan basah terkena air hujan, Kinara berjalan menyusuri koridor untuk sampai ke kelas Atha. Dia terlalu sibuk mengurusi sisa-sisa air hujan yang menempel di tubuh dan pakaiannya, sampai tidak sengaja tubuhnya menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.


Di hadapannya, Brian berdiri menjulang, menatap datar ke arahnya seperti yang biasa laki-laki itu lakukan. Entah kenapa, Kinara merasa Brian tidak menyukai dirinya. Padahal dia merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang mengusik laki-laki tersebut.


"Kalau jalan tuh matanya dipake, jangan buat pajangan doang." Ketus Brian dengan suara rendah, namun cukup menyakitkan. Laki-laki itu tidak berkata apa-apa lagi dan segera berlalu dari hadapan Kinara.


Sementara Kinara cuma bisa menghela napas pelan menyikapi respon Brian yang menurutnya berlebihan.


Tidak mau berlarut-larut dalam perasaan tidak nyaman karena interaksi tidak mengenakkan antara dirinya dan Brian, Kinara pun melanjutkan langkah.


Seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan ruang kelas Atha, senyumnya terkembang semakin lebar. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu kekasihnya itu. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan, yang pagi tadi terpaksa dia tahan karena laki-laki itu sedang menikmati kesedihannya.


Pintu ruang kelas seidikit terbuka ketika dia sampai di depannya. Kinara mengintip sedikit melalui celah yang ada. Tetapi, senyum yang semula terkembang sampai telinga perlahan-lahan sirna ketika dia mendapati bukan cuma Atha, tetapi juga Dahayu di dalam ruang kelas itu. Hanya berdua, dan terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius.


Kinara bisa saja langsung menerobos masuk, tetapi dia malah memutuskan untuk berdiam diri di ambang pintu. Menajamkan pendengarannya untuk menguping pembicaraan apa yang sedang terjadi di antara Dahayu dan Atha.


"Gue juga nggak mau hamil anak lo, Atha!" teriak Dahayu tiba-tiba.


Kinara yang sedang bergerak mendekatkan telinga ke arah pintu sontak berhenti. Otaknya diperas, dipaksa bekerja lebih keras untuk menerjemahkan informasi yang barusan telinganya dengar.

__ADS_1


"Gugurin." Terdengar Atha berbicara dengan nada suara datar dan terkesan dingin.


"Nggak semudah itu, bajingan! Lo pikir gampang nyari dokter yang benar-benar kompeten dan mau ngelakuin tindakan ilegal itu? Lo pikir, aborsi nggak berisiko untuk keselamatan nyawa gue?" suara Dahayu mulai terdengar gemetar.


"Terus lo maunya gimana? Kita nggak mungkin pertahanin anak itu!" Kinara sedikit tersentak saat Atha tahu-tahu meninggikan suaranya. Dia bahkan harus mundur satu langkah saking terkejutnya. Selama ini, Atha sering meninggikan nada suaranya, tetapi baru kali ini Kinara mendengar Atha meninggikan suaranya dengan penuh emosi yang meluap-luap.


"Anak itu adalah sebuah kesalahan, kita nggak bisa biarin dia lahir ke dunia."


Demi Tuhan, Kinara tidak tahu harus berbuat apa. Terlebih saat dia melihat Dahayu menatap nyalang ke arah Atha.


"Bajingan." Kata gadis itu dengan suara tertahan. "Lo bajingan, Atha."


Kemudian hening. Kinara tidak mendengar apa-apa lagi. Dua orang itu terdiam dengan tatapan yang saling menghindar.


Sementara Kinara, dibuat lemas tak berdaya ketika otaknya selesai memproses semua informasi yang dia terima dan sampai pada satu kesimpulan: Dahayu sedang hamil, anak Atha.


"Dahayu hamil, anak Atha?" Kinara mengulangi kalimat yang melintas di kepalanya itu dengan kegetiran yang kentara.


Senyum miris terbit tanpa bisa dihindari. Bahunya merosot dengan cara yang dramatis dan Kinara merasa dirinya hampir kehilangan seluruh kesadarannya ketika kalimat itu terus berulang di kepalanya, bagaikan sebuah rekaman yang rusak, yang jika didengarkan terus-menerus, maka fungsi otaknya juga bisa ikutan terganggu.


Dahayu hamil anak Atha. Adakah lelucon yang lebih brengsek ketimbang ini? Kenapa? Kenapa semesta gemar sekali bercanda dengannya akhir-akhir ini? Seolah merenggut semua gelimang harta yang selama ini dia nikmati tidaklah cukup, sehingga semesta kembali merenggut dua hal yang sama-sama berharga untuk dirinya. Dahayu dan Atha.


Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa, Kinara mengayunkan langkahnya. Dia menerobos masuk. Cuma bisa menatap kosong ke arah dua orang yang kini tampak terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.


"Ra," panggil Atha.


Tetapi Kinara tidak menyahut. Dia terus berjalan melewati Atha, kemudian berjongkok untuk memungut test pack yang teronggok tak berdaya di atas lantai.


Kinara tersenyum miris kala menemukan dua garis merah terpampang nyata di sana. Kabut bening mulai menyelimuti matanya, dan dia merasa dadanya mulai dipenuhi banyak hal hingga membuatnya merasa sesak.


"Explain." Gumamnya sembari berdiri.


Kinara menatap Atha dan Dahayu secara bergantian. Kemudian, dia berhenti di Atha, menatap lelaki itu lekat-lekat sembari menyodorkan test pack di tangannya ke arah pemuda itu.


"Explain to me, Atharya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2