
Total ada empat kelas yang harus Kinara ikuti, dan keempat kelas itu dia lewati dengan perasaan tidak nyaman karena dia masih saja mendengar bisik-bisik yang semakin terasa jelas ditujukan untuk dirinya.
Tiga mahasiswi yang duduk beberapa kursi di sebelah kirinya menyumbang bisikan paling nyaring. Bukan cuma berbisik, mereka juga bahkan melempar tatapan sinis ke arahnya.
"Ya wajar sih kalau diputusin, penampilannya aja begitu, jomplang banget sama Atha yang keren."
"Lagian, udah tahu pacarnya cowok paling hits di kampus, ngapain pake dibiarin deket sama temennya sendiri."
"Dia tuh emang antara polos sama goblok."
"Tahu nggak sih? Gue denger-denger, ternyata dia cuma anak seorang supir. Wajarlah kalau Atha lebih milih Dahayu, biar lebih setara dari segi penampilan dan ekonomi."
Semua kalimat itu Kinara dengar tanpa tahu harus menyahutinya dengan apa. Masih ada lima belas menit sebelum kelas terakhir ini usai, dan Kinara tidak punya pilihan selain menahan diri walaupun harus beberapa kali meremas kedua tangannya untuk menahan emosi.
"Nggak usah didengerin,"
Kinara mengehentikan gerakan tangannya yang tengah menuliskan sesuatu di buku catatan lalu menoleh ke belakang, menemukan Andanu tahu-tahu sudah duduk persis di belakangnya. Pemuda itu menatap datar ke arahnya, kemudian segera melemparkan tatapannya ke depan kelas untuk kembali mengikuti pelajaran.
"Liat ke depan, nanti lo kena semprot sama Pak Gatot." Kata Andanu lagi dengan tatapan yang masih tertuju lurus ke layar proyektor.
Kinara menghela napas pelan, kemudian kembali memusatkan perhatiannya kepada Pak Gatot yang sedang mengajar.
"Lo punya Twitter?" Andanu setengah berbisik.
Kinara hanya menganggukkan kepala, memulai kembali kegiatannya mencatat.
"Jangan dibuka, kalau perlu hapus aja aplikasi nggak guna itu dari hape lo." Kali ini, suara Andanu sedikit lebih keras, tetapi tidak cukup keras untuk membuat orang lain selain mereka berdua mendengar suaranya.
Kinara tidak menyahut. Dari cara Andanu menyampaikan hal itu kepadanya saja, Kinara sudah tahu kalau dirinya pasti sedang jadi bahan gosip oleh para mahasiswa di base kampus, seperti yang pernah terjadi kepada Layla beberapa waktu yang lalu.
Tetapi, Kinara tidak peduli. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, jadi dia hanya akan menutup mata dan telinga atas gosip yang menerpa dirinya terkait putusnya hubungan antara dia dan Atha.
Lima belas menit sisa kelas yang terasa bagaikan setahun lamanya itu akhirnya selesai. Kinara menghela napas lega, buru-buru membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas kemudian segera berlalu meninggalkan kelas hanya beberapa menit setelah Pak Gatot keluar dari ruangan.
__ADS_1
Kinara tahu semua mata kini tertuju padanya, dalam artian yang buruk dan tidak menyenangkan. Seperti dia adalah tokoh antagonis di dalam sebuah drama percintaan di mana setiap kemunculannya akan selalu menimbulkan kebencian dan kecaman dari para penonton.
Bisik-bisik itu kembali Kinara dengar, bahkan volumenya jadi lebih keras hingga membuat telinganya terasa pengang. Jadi, Kinara melebarkan langkah sembari terus berusaha mengenyahkan kalimat-kalimat yang dia dengar itu dari dalam kepala.
...****************...
Hari masih cukup terang ketika Kinara sampai di rumah. Mobil dia parkiran agak ke pinggir kemudian dia segera turun dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Dari ambang pintu depan, dia bisa melihat Mama yang baru saja muncul dari balik pintu dapur. Ketika wanita itu mengangkat kepala dan tatapan mereka bertemu, Mama jelas terlihat keheranan.
Tetapi Mama tetaplah Mama, yang tidak akan pernah memaksanya untuk bercerita dan hanya akan menunggu sampai dia membuka mulut secara sukarela.
Maka, wanita hanya berjalan menghampirinya sembari mengulaskan senyum hangat seperti biasa.
"Mandi, terus makan." Kata Mama ketika sampai di depannya.
Kinara cuma mengangguk, lalu menyambar tangan Mama dan melabuhkan kecupan di punggung tangannya seperti biasa. Setelahnya, dia melenggang masuk ke dalam kamar, untuk keluar lagi beberapa menit kemudian dengan handuk yang mengalung di leher. Dia kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Kinara tidak langsung menunaikan niatnya untuk membasuh badan. Dia terduduk di atas closet, melamun untuk waktu yang cukup lama. Menarik dan membuang napas seolah hal itu bukan lagi menjadi sesuatu yang hanya akan menjaganya tetap hidup, tetapi bisa membantunya meredakan perasaan tidak nyaman yang menyelimutinya seharian.
Kemudian, dia mulai bertanya-tanya, mengapa dia? Di saat dirinya lah yang disakiti, mengapa justru dia juga yang dihujat sana-sini? Sebenarnya, standar untuk menentukan seseorang bersalah atas sesuatu itu apa? Kinara sungguh tidak mengerti, tidak paham kenapa dia dibenci padahal yang dia lakukan hanyalah berusaha mempertahankan diri dari orang-orang yang telah melukai hatinya.
"Ra?! Kamu masih lama?! Ada Lestari nih, katanya mau ditemenin belajar!" Mama tiba-tiba berteriak dari luar pintu kamar mandi.
Kinara menoleh ke arah pintu, kemudian menghela napas panjang sebelum menyahut. "Sebentar lagi!"
Lalu Kinara segera menanggalkan semua pakaian dan mulai menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.
Lima belas menit kemudian, Kinara keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang setengah basah. Di dapur, Lestari sudah duduk anteng di meja makan. Gadis kecil itu tampak asik mengunyah potongan buah semangka yang Mama sediakan, pipinya tampak menggembung dan itu lucu.
"Kamu ke sini cuma buat makan semangka, kan? Ngaku." Goda Kinara sembari mencomot sepotong semangka dari atas piring di hadapan Lestari.
"Enggak. Orang aku ke sini mau belajar." Kata Lestari dengan mulut setengah penuh.
__ADS_1
"Masa?"
Lestari mengangguk. Sari dari semangka yang dikunyah melebar sampai membuat sudut bibir dan dagunya memerah. Memancing rasa gemas sehingga Kinara segera mengusap tetesan air semangka itu menggunakan tisu yang dia comot dari atas meja.
"Udah gede makannya masih belepotan," ejek Kinara. Tetapi dia mengatakan itu dengan senyum yang melebar sampai ke telinga.
Bukannya tersinggung karena diledek demikian, Lestari malah ikutan tertawa. Terkikik geli atas kecerobohannya sendiri.
"Kamu mau diajarin belajar apa?" tanya Kinara, melirik tiga buku tulis yang tertumpuk di atas meja makan. Di buku paling atas, Kinara bisa melihat nama Lestari ditulis menggunakan pulpen warna hitam. Dari bentuk tulisannya saja, Kinara sudah bisa menebak kalau bocah itu sendiri yang melakukannya.
"Matematika." Jawab Lestari. Setelah kenyang memakan semangka, bocah itu melompat turun dari kursi seraya mencomot beberapa lembar tisu untuk mengelap tangannya yang lengket.
"Aku nggak pintar Matematika." Kata Kinara, hanya untuk membuat Lestari menatapnya tak percaya.
"Umur kamu berapa?" tanya Lestari tiba-tiba, Kinara pun mengerutkan kening dibuatnya.
"Dua puluh,"
"Udah tua," celetuk Lestari dengan raut wajah tengil.
"Lah, kok malah ngatain aku tua?!"
"Aku belum selesai ngomong, Kak Kinara ... jangan dipotong."
Kinara kembali mengatupkan bibirnya, mempersilakan Lestari untuk melanjutkan apa yang dia bilang belum selesai.
Tapi, setelah bocah itu kembali membuka mulutnya, Kinara seketika menyesali keputusannya untuk membiarkan Lestari kembali bicara.
Sebab dengan tampang berdosa, Lestari kembali nyeletuk, "Udah tua, masak nggak bisa ajarin anak SD pelajaran Matematika." Kemudian bocah itu ngeloyor begitu saja membawa serta buku-bukunya menuju ruang tamu.
"Wah, ngeselin banget ni bocah satu...." gumam Kinara yang masih tak percaya bahwa dia baru saja dikatai oleh bocah ingusan semacam Lestari.
Tapi, Kinara harus berterima kasih pada Lestari, sebab bocah itu telah secara tidak sadar membantunya sedikit melupakan pelik yang sedari tadi memenuhi kepalanya.
__ADS_1
Bersambung