After The Rain

After The Rain
Feeling Guilty


__ADS_3

Setelah puas hanya mengamati dari kejauhan, Atha memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah Dahayu dan Kinara. Teman yang sedari tadi berjalan bersamanya sudah pergi, dan dia menghabiskan waktu yang cukup lama berdiam seorang diri.


Tepat ketika langkahnya sampai di hadapan Dahayu dan Kinara, Atha melihat pacarnya sudah menarik diri dari pelukan Dahayu. Gadis itu tampak terkejut saat menemukan eksistensi dirinya dan buru-buru mengusap jejak air mata yang membekas di kedua belah pipinya.


Atha sendiri cukup terkejut saat mengetahui bahwa ternyata Kinara habis menangis. Karena sedari tadi, dia hanya memperhatikan dari kejauhan sehingga tidak tahu kalau Kinara sebenarnya sedang menangis di pelukan Dahayu.


Sementara itu, Dahayu yang menyadari kalau Kinara tiba-tiba berusaha menuntaskan isak tangis yang masih tersisa pun ikut menolehkan kepala dan menemukan Atha sudah berdiri menjulang di belakang tubuhnya.


"Ngapain lo berdiri di situ?" tanyanya dengan nada ketus khas dirinya.


Ditanya begitu, Atha cuma menanggapi dengan santai. "Ada juga gue yang harus nanya, lo apain pacar gue sampai bisa nangis begini?" tanyanya balik setelah mendudukkan diri di samping Kinara.


"Si bawel ngapain kamu?" tanya Atha kepada Kinara sembari membantu gadis itu mengusap air matanya.


"Nggak diapa-apain." Jawab Kinara dengan suara yang sedikit serak.


"Nggak diapa-apain kok nangis?"


"Habis gue marahin." Sela Dahayu, yang sontak membuat Atha mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Gue capek ngeliat dia musingin soal masalahnya Layla terus. Jadi, gue marahin dia biar stop ngurusin hidup orang lain." Dahayu mengatakan itu dengan santai, seolah-olah apa yang dia katakan bukan masalah besar.


Tetapi kalimat itu sampai di telinga Atha dengan cara yang berbeda. Dia memang sering bicara dengan nada tinggi kepada Kinara saat gadis itu menghilang tanpa ada kabar, tetapi jika Atha tahu ada orang lain yang bersikap demikian kepada pacarnya itu, entah mengapa Atha merasa kesal.


"Ngomongnya bisa baik-baik, kan? Kenapa harus marah-marah?" tanya Atha dengan nada suara tidak ramah.


Dahayu sudah biasa mendengar nada itu, jadi dia cuma menanggapinya dengan santai, sama sekali tidak tersulut emosi. Lagipula, dia sekarang lebih fokus pada Kinara yang menatapnya sendu.


"Gue punya cara gue sendiri untuk ngelindungin orang-orang yang gue sayang." Kata Dahayu dengan tatapan yang lurus tepat ke manik mata Kinara.

__ADS_1


"Ta-"


"Tha," sela Kinara ketika dia tahu Atha mulai menaikkan nada suaranya. "Aku nangis bukan karena Dahayu marahin aku." Sambungnya.


Bukan cuma Atha yang dibuat mengerutkan kening atas statement Kinara barusan, tetapi juga Dahayu. Sebab dia juga berpikir kalau Kinara menangis karena dia terlalu keras memarahi gadis itu tadi. Kalau bukan karena itu, lantas karena apa?


"Terus, lo nangis karena apa?" tanya Dahayu setelah tidak kuat lagi menekan rasa penasarannya.


"Karena terharu." Ucap Kinara tanpa ragu. Gadis itu bahkan tidak butuh waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Seolah jawaban itu sudah tertulis di kepalanya dan akan otomatis keluar sebagai jawaban.


Kerutan di kening Dahayu semakin kentara, begitu juga dengan Atha yang memang tidak tahu menahu awal mula mengapa Dahayu mengomeli Kinara perihal masalah yang menimpa Layla.


"Aku terharu karena punya teman kayak kamu, Ay." Kata Kinara setelah jeda yang tercipta cukup lama. "Saking terharunya, aku sampai kepikiran, gimana jadinya hidup aku kalau tanpa kamu. Orang yang terlalu mengedepankan perasaan seperti aku, pasti hidupnya akan serba sulit kalau nggak ketemu sama manusia logis kayak kamu. Jadi," Kinara kembali memberi jeda. Dia meraih tangan Dahayu, kemudian menggenggamnya erat. "Makasih, ya, udah selalu ada di sisi aku buat mengingatkan aku tentang banyak hal."


Senyum yang tersungging di bibir Kinara setelah kalimat itu selesai justru membuat Dahayu meringis. Sebab jauh di dalam hatinya, Dahayu tahu bahwa dia bukanlah teman yang sebaik itu.


Setelah drama selesai, Atha menarik Kinara untuk bangkit dari duduknya. Dia menggenggam tangan gadis itu erat, seolah tidak ingin ada apa pun yang memisahkan mereka.


Sementara Dahayu, gadis itu memutuskan untuk duduk sedikit lebih lama sembari mengumpul kembali kewarasannya yang tercecer akibat kalimat menyentuh yang Kinara ucapkan kepadanya.


Pikirannya mulai kacau. Kesemrawutan yang memang sudah menjadi hal lumrah di dalam kepalanya kini terasa semakin tidak keruan. Pikirannya bercabang banyak sehingga membuat Dahayu tersesat. Rasanya terlalu sulit untuk sekadar mencari jalan keluar dari pikirannya sendiri.


Sementara itu, Kinara dengan kepolosan yang ada di dalam dirinya menatap Dahayu untuk waktu yang cukup lama. Dia tentu tidak tahu apa yang sedang membuat sahabatnya itu risau.


"Tha," panggil Kinara sebelum Atha mengajaknya berlalu dari taman fakultas yang sudah sepi. Langit di atas mereka sudah mulai menggelap dan matahari sudah sepenuhnya pulang ke peraduan.


Atha berdeham sebagai jawaban. Satu tangannya yang bebas bergerak menyelipkan helaian rambut Kinara yang keluar dari ikatan yang terkesan asal.


"Bisa tolong anterin Dahayu pulang, nggak?" tanya Kinara setelah berpikir sejenak.

__ADS_1


Atha menarik kembali tangannya yang masih bermain dengan rambut Kinara. Dia kemudian melirik Dahayu yang masih duduk di tempatnya sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kinara.


"Nggak usah, nanti gue naik taksi aja." Sela Dahayu sebelum Atha membuka mulutnya untuk memberikan jawaban.


"Nggak." Kinara menggeleng kuat-kuat. "Kamu nggak bisa naik kendaraan umum, Ay. Nggak usah coba-coba."


Keinginan Kinara adalah perintah mutlak yang tidak bisa dibantah. Jadi, tanpa menunggu gadis itu mengatakan lebih banyak, tanpa menunggu Dahayu juga memberikan jawaban, Atha menganggukkan kepala.


"Gue anterin lo pulang." Finalnya.


Mendengar jawaban Atha, Kinara dan Dahayu memberikan respon yang berbeda. Kinara tersenyum cerah, menatap penuh puja pada sosok Atha yang di matanya terlihat seperti seorang malaikat yang baru turun dari langit atas perintah Tuhan. Sedangkan Dahayu justru tersenyum kecut karena itu artinya dia harus terlibat interaksi dengan Atha, tanpa adanya Kinara sebagai penengah di antara mereka.


"Makasih, Atha."


Dahayu melirik Kinara yang tersenyum senang. Hatinya kembali sakit melihat senyum tulus itu terbit begitu lebar. Lo nggak seharusnya begini, Nara. Batinnya sembari bergerak bangkit dari duduknya.


"Ayo." Ajak Dahayu sebelum dia melangkah lebih dulu.


Atha tidak langsung mengikuti langkah Dahayu. Dia terdiam sejenak di sisi Kinara sembari memperhatikan punggung sempit Dahayu yang semakin lama semakin menjauh dari pandangan.


Sampai akhirnya, Kinara menepuk pelan bahunya dan membuat kesadarannya kembali. "Iya." Sahut Atha ketika Kinara memberi kode kepadanya untuk segera menyusul Dahayu yang sudah semakin menjauh.


"Kamu hati-hati nyetirnya." Pesan Kinara sebelum Atha berjalan menjauh.


"Iya, kamu juga. Sampai rumah langsung kabarin aku." Ucap Atha sembari menepuk-nepuk pelan kepala Kinara. Yang ditepuk-tepuk kepalanya cuma mengangguk sebagai jawaban.


Kemudian, Atha berjalan meninggalkan Kinara sendirian. Meninggalkan gadis yang teramat dia cintai dengan perasaan bersalah yang mulai menggerogoti hati dan pikirannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2