
Seperti mimpi, Kinara mendapati rumahnya dipenuhi banyak orang, yang beberapa di antaranya tidak dia kenal.
Ruang tamu yang luasnya tidak seberapa telah dirubah menjadi area pertemuan, di mana sofa dan meja yang sebelumnya menghuni telah disingkirkan entah ke mana lalu digantikan dengan karpet yang digelar dan kini menjadi alas duduk bagi orang-orang yang datang.
Di antara mereka yang dia kenal, ada Sekala beserta ibu dan kakak laki-lakinya. Ada pula Andanu dan Astari, yang sedari tadi menatap ke arahnya dengan dua tatapan yang berbeda. Andanu seperti masih kebingungan, sedangkan Astari tampak berbinar-binar penuh bahagia.
Kinara sendiri duduk berseberangan dengan mereka, bersama Mama dan Papa juga Lestari dan Sinta.
Ia yang biasa hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaus oblong saat di rumah, kini dipaksa mengenakan gaun panjang berwarna merah muda dengan hiasan payet di beberapa bagian seperti leher dan di ujung lengan. Rambut yang biasa cuma dia cepol atau ikat kuda, kini ditata sedemikan rupa, diikat setengah dengan ikat rambut berhiaskan tiga mutiara cantik yang membuat penampilannya semakin paripurna. Wajahnya juga dipulas make up, meskipun ia tetap bersikeras agar riasannya tidak dibuat terlalu tebal.
Tentu saja, ini semua berkat ulah Sekala yang dengan seenak jidatnya mengatakan akan datang membawa rombongan keluarga untuk melamarnya secara resmi setelah kemarin menculiknya ke toko perhiasan untuk memilih cincin.
Meksipun kesal, Kinara tetap berusaha menyunggingkan senyum di sepanjang jalannya acara tadi. Dan kini, setelah semua rangkaian acara selesai, ia ingin segera bangkit dari duduknya lalu menyeret Sekala untuk diajak bicara hanya berdua.
Tapi sayangnya, orang-orang yang datang ke sini malam ini seolah tidak mau bekerja sama dengannya. Sehingga bukannya segera pamit undur diri, mereka semua malah secara kompak berdiam diri di posisi masing-masing, terus melemparkan tatapan ke arahnya seolah dia lah bintangnya malam ini.
"Ma, ini acaranya udah selesai, kan?" bisiknya pada Mama yang duduk di sebelah kiri.
Mama mengangguk dengan tatapan yang tertuju pada Sekala di seberang mereka. Dan ketika senyum Mama terbit, Kinara jelas tahu itu ditujukan untuk laki-laki itu.
"Terus, kenapa nggak pada pulang?" ia berusaha agar suaranya hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan Mama. Karena tidak enak juga, kan, kalau tamu-tamu undangan itu mendengar.
Mama yang awalnya keras kepala sekali untuk tetap menatap Sekala, akhirnya menoleh juga. Hanya untuk melemparinya tatapan kebingungan. "Emangnya kenapa?" tanya Mama.
Kinara melirik sekilas ke arah Sekala, kemudian mendekatkan dirinya ke arah Mama, lebih tepatnya mendekatkan bibir ke telinga Mama agar lebih mudah untuk membisikkan kalimat selanjutnya.
"Nara mau ngobrol berdua sama Mas Kala. Boleh nggak sih kalau Nara seret Mas Kala keluar dari sini?"
Menanggapi itu, Mama terdiam sebentar sebelum akhirnya malah kembali menatap Sekala.
Kinara tidak tahu apa yang akan Mama lakukan selanjutnya, dia cuma bisa menunggu.
__ADS_1
Sampai tiba-tiba, Mama memanggil nama Sekala pelan sehingga membuat bukan cuma si empunya nama tapi juga semua tamu yang datang ikut menoleh ke arah Mama.
"Nara mau ngobrol berdua katanya," ucap Mama. Sekonyong-konyong, tanpa peduli kalau kini wajah putrinya sudah semerah kepiting rebus saat orang-orang yang ada di sana menatapnya dan menyunggingkan senyum penuh arti.
Kinara hendak protes, namun urung karena netranya menangkap pergerakan Sekala yang mulai bangkit dari duduknya. Lelaki itu kemudian berjalan ke arahnya, sedikit membungkuk lalu mengulurkan tangan ke hadapannya.
Sudah begitu, tidak ada pilihan selain menerima uluran tangan Sekala agar mereka bisa segera pergi dari sana dan menghindari tatapan-tatapan yang semua orang layangkan kepada mereka.
Sekala menariknya pelan, membantunya bangkit kemudian menggiringnya untuk berjalan menuju pintu.
Ketika mereka sampai di pintu dan hendak melangkah keluar, matanya tidak sengaja bersitubruk dengan milik Andanu, dan Kinara bersumpah itu kali pertama ia melihat Andanu menatapnya sedalam itu.
"Ayo," suara Sekala menginterupsi. Membuyarkan pikiran apapun yang baru akan dimulai di kepalanya tentang Andanu.
Masih dengan tangan yang digenggam erat oleh Sekala, Kinara melanjutkan langkahnya.
Bukannya berhenti di teras, ia malah menyeret Sekala menuju bagian samping rumah. Tubuh Sekala yang lebih tinggi dan besar ketimbang dirinya di dorong pelan sampai punggung lebarnya menyentuh tembok, lalu ia berdiri di hadapan lelaki itu dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
"Bapak sama Ibu." Jawab Sekala enteng. Lelaki itu bahkan menyunggingkan senyum, yang membuat Kinara semakin jengkel.
"Tapi saya belum bilang iya!" Kinara setengah berteriak. Namun saat menyadari bahwa di dalam rumah sana masih banyak orang dan suaranya bisa saja didengar, dia buru-buru membekap mulutnya sendiri.
"But you didn't say no either. So I take it as a yes." Lagi-lagi, Sekala menjawab enteng. Lelaki itu bahkan ikut-ikutan melipat tangan di depan dada, semakin melebarkan senyum kala melihat semburat merah yang semakin kentara di kedua belah pipi Kinara.
"Mas Kala nyebelin!" gerutu Kinara, karena dia sudah tidak punya hal lain untuk dikatakan lagi.
Dengan bibir yang cemberut, Kinara membalikkan badan, memunggungi Sekala yang kini terkekeh ringan melihat tingkahnya.
"I am." Aku Sekala. Tidak keberatan dikatakan menyebalkan oleh calon istrinya sendiri.
Lalu, Sekala memberanikan diri menyentuh kedua bahu Kinara, untuk membuat gadis itu kembali menatapnya.
__ADS_1
Dan ketika berhasil, ia semakin tidak bisa menahan senyum kala menemukan binar di mata Kinara justru mengatakan yang sebaliknya. Meksipun bibirnya cemberut dan gadis itu terus menggerutu tentang tindakannya yang terkesan terburu-buru, Sekala bisa melihat bahwa memang hal itu lah yang sebenarnya Kinara butuhkan.
Ia tahu gadis itu butuh seseorang yang bukan cuma mengumbar kalimat-kalimat manis memuakkan, tetapi seseorang yang bisa langsung membuktikan dengan tindakan.
Hanya saja, ia sadar kalau tindakannya memang sedikit berlebihan dan agak terlalu mengambil risiko.
Karena kalau Kinara sampai menolak ajakannya untuk menikah, dia bukan cuma akan malu, tetapi mungkin akan sepenuhnya kehilangan kepercayaan diri untuk mendekati siapapun lagi.
"Maaf kalau saya terkesan buru-buru," ucapnya setelah larut dalam perasaannya sendiri. "Saya cuma ... nggak mau kehilangan kesempatan untuk menjadikan kamu bagian dari hidup saya." Kemudian, tangan Kinara ia genggam, keduanya.
"Saya telah hidup dalam kesepian dan rasa bersalah yang begitu menyiksa. Sampai akhirnya ketemu kamu, bocah ingusan yang berhasil bikin saya nggak jadi mau mati."
"Saya bukan bocah ingusan!" Kinara sempat-sempatnya melayangkan protes.
Sekala terkekeh sebentar, kemudian kembali menatap Kinara serius. "Kamu berarti banyak buat saya, Kin. Saya serius."
Saat Kinara terdiam demi meresapi apa yang Sekala katakan, lelaki itu tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya, membuat Kinara, entah mengapa, malah memejamkan matanya.
Namun, beberapa detik berlalu, tidak ada yang terjadi. Kinara tidak merasakan apa-apa di wajahnya. Hanya embusan angin yang menerpa wajahnya berkali-kali.
Sebelum Kinara membuka kembali matanya untuk memeriksa, dia lebih dulu dibuat memekik saat dahinya disentil pelan oleh Sekala.
"Ngapain merem begitu? Mikir apa, hmm?" tanya lelaki itu. Kini, jarak antara wajah mereka sudah kembali berjauhan. Jadi, sebenarnya, Sekala bergerak mendekat tadi untuk apa?
"Mas Kala yang tiba-tiba maju! Saya cuma refleks merem soalnya ... soalnya ...." Duh, Kinara tidak tahu harus beralasan apa pada Sekala.
"Pokoknya, Mas Kala yang salah!" Kinara mendorong dada Sekala kemudian berlarian kembali ke dalam rumah.
Sekala cuma bisa geleng-geleng kepala. Lalu, setelah sosok Kinara menghilang di balik pintu, ia beralih menatap telapak tangan kirinya sendiri. Di sana, ada sehelai bulu mata milik Kinara. Iya, dia memajukan wajahnya untuk mengambil bulu mata yang rontok itu, tetapi Kinara malah memikirkan hal yang lain.
"Ha ... gemes banget sih, calon istri." Gumamnya. Lalu ia masukkan bulu mata itu ke kantong kemeja, kemudian berjalan menyusul Kinara dengan senyum yang terkembang sempurna.
__ADS_1
Bersambung