
Sejak kelas pertama dimulai, Kinara tidak bisa berkonsentrasi pada materi yang sedang disampaikan oleh dosen pengajar karena fokusnya terus tertuju kepada Dahayu.
Dari awal mereka bertemu tadi pagi ketika dia dan Atha kembali dari makam, Dahayu sudah terlihat murung. Gadis itu lebih banyak diam dan tampak gelisah tanpa alasan yang jelas.
Akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi melihat sikap Dahayu yang aneh dan dia juga mulai khawatir takut terjadi sesuatu yang buruk terharap sahabatnya itu, Kinara pun beringsut ke arah Dahayu.
"Kamu kenapa, Ay?" bisiknya pelan sembari mengawasi situasi, takut tiba-tiba sang dosen menangkap basah dirinya sedang mengobrol dan berakhir dia dikeluarkan dari kelas.
Dahayu menoleh, menatapnya dengan sorot mata asing yang dia sendiri tidak mengerti maknanya. Lalu, alih-alih jawaban, Kinara cuma mendengar hela napas panjang sebelum gadis itu kembali melemparkan pandangan ke depan.
"Ay?" bisiknya lagi. Kali ini dibarengi dengan gerakan menggoyangkan lengan sang gadis untuk kembali menyita perhatiannya.
Namun Dahayu tetap geming, sama sekali tidak merubah posisinya barang sedikit. Gadis itu tetap kekeuh untuk menatap ke depan, seakan tak peduli kalau di sebelahnya, Kinara sedang menunggu jawaban.
"Ay, sumpah! Kamu kenapa?" desak Kinara lagi. Masih dengan bisik-bisik sebab dia betulan takut dikeluarkan dari kelas.
Merasa jengah karena Kinara terus merecokinya dan dia sadar beberapa mahasiswa lain yang duduk di sekitar mereka mulai menatap kesal, Dahayu pun menoleh. Ekspresi wajahnya datar, sorot matanya tampak dingin dan gadis itu terdengar sama sekali tidak bertenaga saat pada akhirnya bersedia menjawab pertanyaan Kinara.
"Nggak apa-apa."
Template! Kenapa semua perempuan di dunia ini selalu mengatakan tidak apa-apa ketika ditanya mereka sedang kenapa?
Padahal, Kinara jelas tahu kalau Dahayu kenapa-kenapa. Sikap gadis itu yang tidak biasa sudah menjadi indikator paling jelas yang menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi.
"Ya udah kalau nggak mau cerita." Kata Kinara pada akhirnya. Dia kembali ke posisi duduknya yang semula, mulai kembali melayangkan pandangan ke depan walaupun sebenarnya dia masih sesekali melirik ke arah Dahayu.
"Tapi, kamu tahu kalau aku bakal selalu nyediain telinga buat dengerin kamu, kan?" tanyanya dengan tatapan yang masih lurus ke depan.
Dahayu tidak menyahut. Gadis itu mulai menyibukkan diri menuliskan sesuatu di buku catatan.
Orang lain mungkin akan berpikir bahwa Dahayu sedang menuliskan beberapa rangkuman dari materi yang sedang dosen mereka jelaskan. Padahal sebenarnya, dia hanya sedang menulis banyak sekali kata umpatan di buku catatannya tersebut.
...****************...
__ADS_1
Dahayu itu keras kepala. Oke, Kinara jelas tahu soal yang satu itu. Tetapi dia tidak menyangka kalau gadis itu tetap akan bungkam bahkan sampai kelas terakhir mereka selesai.
Hanya berselang beberapa detik setelah dosen pengajar pergi meninggalkan kelas, Dahayu sudah bergerak secara serabutan membereskan barang-barangnya dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Jelas sekali terlihat kalau anak itu sedang terburu-buru dan ingin segera meninggalkan ruang kelas.
"Gue duluan." Pamitnya sembari bangkit dari duduknya.
Kinara yang semula cuma diam memperhatikan gerak-gerik Dahayu sambil berpangku tangan pun ikutan bangkit dari kursinya.
"Mau ke mana, sih? Buru-buru amat?" tanya Kinara sembari meraih tasnya yang tergeletak di atas meja.
"Gue ada urusan penting." Sahut Dahayu.
Tanpa menunggu respon lebih lanjut dari Kinara, Dahayu mulai mengayunkan kakinya sementara Kinara sendiri tidak bisa berbuat banyak dan cuma bisa memandangi punggung Dahayu yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sebelum kakinya mencapai pintu, Dahayu berhenti sebentar kemudian berbalik. "Nanti gue telepon." Ucapnya kemudian segera berbalik dan melanjutkan langkah.
Setelah sosok Dahayu menghilang di balik pintu, Kinara kembali duduk. Masalahnya, Atha masih memiliki satu kelas yang harus dihadiri, jadi dia tidak bisa langsung menghampiri pemuda itu ke fakultasnya.
Karena tidak tahu harus berbuat apa di sini sendirian, Kinara akhirnya mengeluarkan laptop dari dalam tas dan mulai mengetikkan beberapa kalimat untuk melengkapi bab terakhir dari novel yang sedang dia kerjakan.
Menit demi menit habis begitu saja tanpa terasa. Bertepatan dengan selesainya Kinara mengetikkan kalimat penutup, hujan turun sangat deras, memaksanya untuk tinggal lebih lama di ruang kelas karena dia tidak membawa payung dan menerobos hujan hanya akan membuatnya berakhir kuyup dan kesulitan.
Kinara menutup laptopnya dan kembali menyimpan benda itu di dalam tasnya. Lalu, dia menyandarkan kepala di atas meja. Tatapannya terlempar jauh ke luar jendela, pada derasnya air hujan yang jatuh menimpa tanah.
Derasnya suara air hujan berhasil membuat Kinara terhanyut. Bagai sedang dinyanyikan sebuah lagu pengantar tidur, dia mulai memejamkan mata dengan napas yang berangsur teratur. Kepalanya mulai kosong, menyingkirkan satu persatu hal yang sedari tadi berputar-putar di sana dan membawanya pada fase di mana kesadarannya sudah di ambang batas.
Kinara mungkin akan betulan tertidur, kalau saja rungunya tidak mendengar sayup-sayup seseorang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Saat matanya kembali terbuka secara perlahan, Kinara mendapati seseorang baru saja meletakkan sebuah payung lipat di atas meja. Kepala Kinara secara otomatis terangkat untuk memeriksa siapa yang sudah meletakkan payung tersebut, dan dia menemukan seorang pemuda berambut kecoklatan dan agak ikal sedang berdiri di sampingnya, menatapnya lekat dengan manik berwarna kelabu yang cantik.
"Hujannya nggak akan reda dalam waktu dekat, jadi lo bisa pakai payung itu untuk jalan ke parkiran." Kata si pemuda sembari menunjuk payung yang barusan dia letakkan di atas meja itu menggunakan dagu.
"Nggak usah, nggak apa-apa. Aku tunggu sampai hujannya reda aja." Kinara menolak secara halus. Masalahnya, dia tidak terlalu mengenal pemuda ini. Mereka memang satu angkatan, tetapi Kinara cuma sekadar tahu namanya saja, tidak lebih.
__ADS_1
"Lo yakin mau nunggu hujan reda? Di sini, sendirian?" tanya si pemuda, Andanu, sembari menyakui satu tangannya.
Kinara menolehkan kepala untuk memeriksa suasana ruang kelas. Dan benar saja, kelas sudah dalam keadaan kosong, hanya tinggal dia dan Andanu saja yang ada di sini.
"Kalau aku pakai payungnya, kamu pakai apa?" tanya Kinara setelah kembali menatap Andanu.
"Gue bisa nunggu hujan reda di depan, sambil nyebat."
"Tapi-"
"Buruan, gue dari tadi cuma nungguin lo doang." Potong Andanu.
Kinara terdiam sebentar, berusaha mencerna maksud perkataan Andanu barusan.
"Anak-anak yang lain udah pada keluar dari tadi, tapi gue nggak tega ninggalin lo sendirian, makanya gue samperin lo karena lo nggak bangun-bangun dari tadi." Jelas Andanu yang sadar akan kebingungan Kinara.
"Berdiri, ambil payungnya, terus pulang. Buruan." Perintah Andanu. Kemudian, pemuda itu berjalan lebih dulu dan memutuskan untuk menunggu Kinara di ambang pintu kelas.
Meskipun masih bingung kenapa Andanu tiba-tiba bersikap baik kepadanya (well, Andanu memang tidak pernah bersikap jahat kepadanya atau mahasiswa lain, mereka cuma tidak pernah berinteraksi satu sama lain), Kinara tetap meraih payung milik Andanu kemudian bangkit dari kursinya.
Kinara berjalan mengjampiri Andanu dan mereka pun keluar dari dalam ruang kelas bersama-sama.
"Kamu mau ke parkiran aja? Kita jalan berdua, aku anterin kamu ke parkiran dulu." Tawar Kinara saat mereka berjalan di koridor. Payung sudah dibuka, sudah siap untuk digunakan.
"Nggak usah. Percuma lo anterin gue ke parkiran, karena gue ke kampus naik motor. Gue tunggu di situ aja." Andanu menunjuk bangku kayu panjang di ujung koridor.
Kinara mengikuti arah pandang Andanu, kemudian mengangguk singkat. "Ya udah, kalau gitu aku duluan, ya. Besok aku kembaliin payung kamu." Kata Kinara.
Andanu tidak menjawab, dia cuma menunjukkan gestur mempersilakan Kinara untuk berjalan meninggalkan koridor.
Kinara pun mulai berjalan menjauh, tanpa tahu kalau di belakangnya, Andanu terus memperhatikan dirinya sampai sosoknya tidak nampak lagi di mata pemuda itu. Lalu, Andanu menghela napas berat.
"Kalian nggak seharusnya nyakitin anak polos seperti Kinara." Gumamnya seorang diri.
__ADS_1
Bersambung