
Hari berikutnya, tepatnya sore ketika matahari sudah beranjak kembali ke peraduan, Kinara menemukan Sekala sedang berdiri sendirian di depan Orion, memandangi pohon Flamboyan yang bunga dan daunnya sudah mulai berguguran. Posisi lelaki itu membelakanginya, dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan satu lagi terdiam di sisi tubuh.
Dari balik meja kasir, Kinara sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Diabaikannya saja celotehan Jeremy yang sudah berlangsung cukup lama, hanya dia anggap sebagai desau angin tak berarti.
"Mas Sekala kayaknya lagi ada masalah,"
Dan anehnya, nama Sekala seperti sebuah mantra yang membebaskannya dari belenggu sihir jahat. Sebab ketika nama itu mengudara, Kinara tiba-tiba saja mendapatkan kembali kesadarannya, dan langsung mencurahkan perhatian kepada Jeremy yang berdiri bersandar di sisi counter.
"Lo tahu, dia ada masalah apa?" tanya Jeremy sembari menegakkan tubuhnya. Pemuda itu lalu berjalan menghampirinya, berhenti tepat di hadapannya di mana itu adalah posisi biasanya para pelanggan membuat pesanan.
"Gue pengin bantu," kata Jeremy lagi.
"Itu bukan sesuatu yang Mas Jer ataupun saya bisa bantu," usai menjawab, Kinara kembali melabuhkan pandangan pada Sekala di seberang sana. Lelaki itu masih tidak beranjak dari posisinya, bahkan postur tubuhnya pun masih dijaga seperti semula.
"Soal keluarga?" Jeremy menembak tepat sasaran.
Tanpa menolehkan kepala, Kinara mengangguk. "Kita semua tahu masalah keluarga adalah hal paling sensitif, yang nggak boleh orang lain ikut campur di dalamnya."
Suara hela napas Jeremy terdengar, membuat Kinara akhirnya sudi menolehkan kepala, hanya untuk menemukan Jeremy ikut-ikutan melayangkan pandangan ke arah Sekala.
"Padahal, Mas Sekala udah banyak bantu gue dan Dimas. Tapi sekarang giliran dia yang ada masalah, gue nggak bisa bantu apa-apa. Sedih rasanya," Jeremy bergumam. Tatapan pemuda itu semakin terlihat nanar.
"Saya ngerti maksud Mas Jer," Kinara menyahut, kembali melabuhkan pandangan ke arah Sekala. "Tapi barangkali, kita memang cukup bantu dengan doa. Karena, bukankah doa juga termasuk ke dalam salah satu bentuk usaha?"
__ADS_1
Kinara masih tidak melepaskan pandangannya dari Sekala, sehingga dia tidak akan tahu bahwa kini Jeremy sedang menatapnya begitu dalam. Kemudian, pemuda itu menarik pandangan yang akhirnya dia labuhkan pada ujung-ujung sepatunya sendiri.
Langit yang semula masih dihiasi semburat oranye, kini perlahan-lahan menggelap. Lampu-lampu jalan di seberang mulai secara serempak dinyalakan. Bersamaan dengan itu, gerimis turun tipis-tipis, membuat Sekala akhirnya beranjak dari posisinya.
Ketika lelaki itu membalikkan badan, Kinara buru-buru menarik kembali pandangannya, pura-pura menyibukkan diri dengan pekerjaan di belakang meja kasir di saat sebenarnya tidak ada apapun yang bisa dia lakukan. Orion sedang tidak terlalu ramai hari ini, itu juga yang membuat Jeremy bisa berdiam diri di sisi counter untuk bicara omong kosong dalam waktu yang cukup lama.
Sementara itu, saat Kinara sesekali melirik ke arah pintu untuk melihat langkah Sekala sudah sampai mana, ia mendapati Jeremy malah tidak bergerak dari posisinya. Pemuda itu malah terus menatap ke arah pintu, bahkan tatapannya terlihat semakin intens ketika sosok Sekala akhirnya masuk ke dalam cafe dan berjalan ke arah mereka.
"Jangan gangguin Kin," satu kalimat itu meluncur dari bibir Sekala, jelas ditujukan kepada Jeremy yang malah berdecak.
"Posesif banget sih, Mas? Nggak akan goyah juga kok Kinara walaupun saya gangguin tiap hari," Jeremy sembari melirik ke arah Kinara.
Yang dilirik sadar, namun berpura-pura tidak tahu dan malah asik membolak-balikkan buku menu yang ada di atas meja kasir.
"Bukan masalah posesif," Sekala kembali buka suara setelah terdiam selama beberapa saat dengan tatapan yang tertuju lurus ke arah Kinara.
Sekala menoleh ke arah pemuda itu, lalu mengembuskan napas pelan sebelum mengayunkan tangannya, menunjukkan gestur menyuruh Jeremy untuk kembali ke dapur.
"Balik, kamu lebih aman ada di dapur ketimbang di sini." Kata Sekala.
Jeremy yang biasanya menurut saja saat disuruh, tiba-tiba berontak. Pemuda itu menggeleng kuat-kuat, tangannya dilipat di depan dada dan tatapannya begitu intens menatap Sekala.
"Saya mau di sini, sama Kinara." Kata Jeremy.
__ADS_1
Sekala tidak mengerti kenapa Jeremy tiba-tiba bersikap demikian, tapi dia juga tidak punya cukup banyak waktu dan tenaga untuk mencari tahu ataupun berusaha menanggapi rencana pemuda itu.
Sebab dia harus pergi ke tempat lain, dan Kinara harus ikut bersamanya.
Maka, Sekala menganggukkan kepala sembari berjalan menuju pintu untuk masuk ke dalam counter.
"Kalau gitu, kamu tolong gantiin Kin di kasir. Saya mau ajak dia keluar, mungkin sampai cafe tutup."
Belum sempat ada yang merespon ucapannya, Sekala tiba-tiba saja menarik pelan lengan Kinara. Setelah gadis itu berdiri di sebelahnya, tangan Sekala bergerak turun, perlahan menautkan jemari mereka sehingga membuat Kinara mengerutkan kening kebingungan.
"Nanti saya tambahin gaji kamu bulan ini," ucap Sekala. Lalu, tanpa menunggu sampai Jeremy menjawab, Sekala menggandeng Kinara untuk mengikuti langkahnya.
Sekala membawa Kinara berjalan menuju pintu keluar setelah membantu gadis itu melepaskan apron yang melekat di tubuh rampingnya. Payung yang disimpan di tempat khusus di sisi kiri pintu diambil, lalu dia mendorong pintu itu kemudian berjalan keluar bersama Kinara.
Gerimis yang semula hanya turun tipis, kini telah berubah menjadi hujan deras disertai embusan angin yang lumayan kencang. Sekala melepaskan genggaman tangannya sebentar, hanya untuk kembali menggenggam erat tangan Kinara setelah membuka payung lalu mereka melanjutkan perjalanan, dengan Kinara yang masih tidak tahu apa-apa.
"Jangan jauh-jauh, nanti kamu basah." Sekala menarik Kinara untuk lebih mendekat ke arahnya, mencondongkan payung ke arah gadis itu dan merelakan bagian tubuhnya yang sebelah kanan terkenan teteas air hujan.
Melihat bahu Sekala sudah basah, Kibar akhirnya menurut. Dia merapatkan tubuhnya ke sisi Sekala, kemudian membantu lelaki itu memegang payung dengan benar supaya mereka sama-sama aman dan tidak ada tetes hujan yang jatuh membasahi mereka berdua.
Langkah yang mereka ayunkan semakin lebar dan membawa mereka semakin menjauh dari Orion, tetapi sampai saat itu juga, Kinara masih belum bertanya dirinya hendak dibawa kemana oleh Sekala. Seperti kata Papa, ia tidak pernah merasa khawatir saat sedang bersama dengan lelaki ini. Seolah telah memasrahkan diri sepenuhnya pada Sekala, sebab ia tahu, bersama lelaki itu, ia tidak akan terluka.
Sementara itu, dari dalam cafe, Jeremy menyaksikan kepergian keduanya dengan senyum yang tertahan. Memang beluk secara resmi diumumkan, tetapi dia jelas yakin kalau Sekala dan Kinara sudah menjalin hubungan—atau setidaknya sudah berjalan ke arah sana.
__ADS_1
"Dasar anak muda," gumamnya. Tanpa sadar kalau sedari tadi Dimas sedang memperhatikan dirinya dengan kepala yang berkali-kali digelengkan pelan.
Bersambung