
It's a flashback yeoreobun...
Setelah menghabiskan empat jam di Malioboro, Atha memisahkan diri dari rombongan. Teman-temannya yang lain telah memiliki janji masing-masing sehingga mereka harus mengakhiri sesi main bersama mereka.
Mulanya, Atha berniat kembali ke rumah kakeknya dan langsung beristirahat karena besok dia sudah punya janji dengan Brian untuk berburu nasi gudeg yang enak di sekitaran Malioboro.
Tetapi, niat itu seketika urung saat matanya menangkap sosok gadis yang dia kenal baru saja memasuki sebuah bar ketika dia mengendarai mobilnya untuk kembali ke rumah sang kakek.
Karena penasaran apakah dia sedang salah lihat atau tidak, Atha pun membelokkan kemudi dan berhenti di area parkir bar tersebut.
Atha segera turun. Pelan tapi pasti, dia mengayunkan langkah memasuki bar yang ternyata tidak terlalu ramai.
Berhubung penerangan di bar tersebut remang-remang, Atha jadi harus masuk lebih ke dalam sambil memicingkan mata untuk menemukan keberadaan gadis yang sedari tadi mencuri perhatiannya.
Dan setelah beberapa saat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, Atha akhirnya menemukan gadis itu sudah duduk di salah satu meja paling ujung. Sendirian, dengan dua botol minuman keras merk lokal yang berjajar di atas meja.
Atha pun berjalan menghampiri gadis itu dan langsung menarik kursi yang berseberangan tanpa mau repot-repot menyapa gadis itu terlebih dahulu.
Sementara gadis itu, Dahayu, yang merasa bahwa baru saja ada orang yang dengan tidak sopan bergabung di mejanya tanpa permisi pun sontak mengangkat wajah. Dia sudah hampir menyemburkan kalimat-kalimat umpatan, namun urung ketika dia mendapati laki-laki yang duduk di hadapannya itu adalah seseorang yang dia kenal.
"Ngapain lo di sini?" tanya Dahayu, dengan nada ketus seperti biasanya.
"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain di sini?" Atha balik bertanya dengan santai.
Dengan punggung yang bersandar di kursi, Atha mulai kembali mengedarkan pandangannya menjelajahi seluruh isi bar. Mulai dari lampu-lampu kemuning yang tergantung di langit-langit, botol-botol bir yang tertata rapi di rak hingga lukisan-lukisan kuno tang tertempel di beberapa bagian dinding bar yang berwarna abu-abu tua.
"Lo nggak takut ke tempat kayak gini sendirian?" tanya Atha lagi setelah dia selesai mengobservasi dan kembali mencurahkan perhatiannya kepada Dahayu.
"Takut apa? Di sini nggak ada hantu." Kata Dahayu enteng. Kemudian, dia mulai menarik gelas yang tersedia di hadapannya, membuka botol bir dengan pembuka botol lalu menuangkan cairan berwarna kecoklatan itu ke dalam gelas dan menenggaknya dengan brutal.
Atha cuma bisa terkekeh sembari menggelengkan kepala pelan melihat Dahayu yang seolah ingin menunjukkan betapa tangguh dirinya. Padahal, siapa pun juga pasti bisa melihat betapa rapuhnya gadis itu hanya melalui tatapan matanya saja.
"Banyak amat pesannya, emang lo bisa habisin?" goda Atha ketika Dahayu hendak menuangkan bir lagi ke dalam gelasnya.
__ADS_1
Merasa dirinya sedang diremehkan, Dahayu pun mengisi gelasnya sampai penuh. Tetapi, dia tidak menenggak bir di dalam gelas itu dan malah menyodorkannya ke hadapan Atha.
"Kenapa gue harus habisin sendiri, kalau sekarang ada lo di sini?" ucapnya sembari tersenyum miring.
Lagi-lagi Atha terkekeh. Dahayu memang begitu. Tidak pernah mau kalah. Jadi, daripada mereka berakhir adu mulut untuk hal-hal yang tidak perlu, Atha segera meraih gelas itu kemudian menenggak isinya sampai tandas.
Sebenarnya, Atha tidak terbiasa minum alkohol. Bukan karena dia adalah manusia suci yang enggan menyentuh hal-hal haram semacam itu, dia hanya terus berusaha menahan diri karena tahu kalau Kinara, kekasih yang sangat dia cintai itu tidak menyukai seorang pecandu alkohol. Demi Kinara, Atha rela meninggalkan banyak hal.
"Ayo pulang." Katanya setelah meletakkan kembali gelas kosong di atas meja. "Lo nginep di hotel mana? Biar gue antar."
"Gue bisa sendiri." Tolak Dahayu. "Lagian, gue masih mau minum." Lanjutnya sembari meraih gelas kosong di hadapan Atha dan hendak mengisinya kembali.
Namun gerakannya terhenti karena Atha tiba-tiba saja mencekal tangannya. Lelaki itu menatapnya lekat, seolah sedang berusaha mengintimidasi melalui tatapan matanya.
"Minum di hotel aja, jangan di sini. Lo nggak sadar ada berapa banyak pasang mata laki-laki yang sedari tadi ngeliatin lo, nungguin lo teler?"
Dahayu mengedarkan pandangan. Dan benar saja, di satu meja yang jaraknya beberapa meter di seberang mejanya, ada sekelompok pemuda yang menatapnya persis seperti sekumpulan singa yang tengah kelaparan.
Karena ini bukan wilayahnya dan Dahayu tidak punya senjata apa pun untuk mempertahankan diri kalau ada sesuatu yang buruk terjadi, dia akhirnya menyetujui gagasan Atha.
Atha mengangguk. Tanpa menunggu lama, dia bangkit dan mulai berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
Sedangkan Dahayu harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Atha yang diayunkan lebar-lebar.
"Lo masih nggak aktifin hape kalau lagi solo trip?" tanya Atha ketika Dahayu sudah berhasil menyejajarkan langkah dengannya.
"Masih." Dahayu menjawab singkat.
"Itu bahaya, lo tahu? Gimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu yang buruk terhadap lo, dan lo nggak bisa cepat cari bantuan karena hape lo mati?"
"Nggak usah cerewet, mending buruan anterin gue ke hotel karena gue mau minum." Ketus Dahayu, kemudian dia masuk ke dalam mobil Atha tanpa menunggu si empunya membukakan pintu.
"Minimal jawab dulu pertanyaan gue, monyet!" gerutu Atha. Namun dia tetap masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikan mobilnya menjauhi area bar.
__ADS_1
...****************...
Hotel tempat Dahayu menginap ternyata tidak jauh dari rumah kakek Atha. Di mana itu adalah sebuah hotel budget yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Atha bahwa seseorang seperti Dahayu mau untuk menginap di sana.
"Gue kira lo nginep di bintang lima." Kata Atha sembari mengeluarkan kantung belanjaan berisi beberapa botol bir dari kursi penumpang bagian belakang.
"Sesekali nyobain rasanya jadi fakir miskin." Dahayu menjawab enteng, kemudian segera berjalan ke dalam bangunan lima lantai tersebut.
Hal pertama yang menyambut mereka pertama kali ketika berhasil masuk adalah seorang resepsionis perempuan berusia pertengahan dua puluhan yang masih berusaha tersenyum ramah meskipun terlihat sekali bahwa dia sudah sangat lelah.
Kemudian, seperti yang Atha sudah duga, tidak ada lift di bangunan ini. Jadi mereka harus naik tangga untuk sampai di lantai tempat kamar Dahayu berada, yang ternyata ada di lantai lima.
Mereka berhenti di depan sebuah kamar yang letaknya paling ujung. Dahayu segera mengeluarkan kunci dari dalam tas kemudian menggunakannya untuk membuka pintu.
Meskipun sedikit kesulitan, pintu itu akhirnya bisa terbuka dan Dahayu langsung melesat masuk ke dalam kamar sedangkan Atha mengekor di belakang.
Atha meletakkan kantung berisi bir ke atas meja dan mulai mengobservasi seluruh bagian di kamar itu.
Selagi menunggu Atha selesai dengan kegiatan observasinya, Dahayu mulai mengeluarkan botol bir dari dalam kantung. Matanya berbinar cerah saat melihat cairan di dalam botol itu yang seolah-olah melambai kepadanya, meminta untuk segera ditenggak.
"Gue langsung pulang, ya." Pamit Atha setelah dia selesai mengamati sekitar.
Tetapi, Dahayu justru menarik tangannya untuk ikut duduk di lantai.
"Temenin gue minum." Kata gadis itu dengan tatapan yang tertuju lurus pada botol-botol minuman di hadapannya.
Atha hendak menolak, tetapi saat Dahayu menoleh ke arahnya dan menyuguhinya tatapan memelas, dia tidak kuasa untuk tidak mengganggukkan kepala.
"Oke, gue temenin lo minum."
Karena Atha pikir, dia bisa segera menghentikan Dahayu sebelum gadis itu terlalu mabuk.
Padahal seharusnya, Atha tidak pernah menganggukkan kepala supaya mereka berdua tidak menimbulkan bencana untuk banyak orang.
__ADS_1
Bersambung