
Kinara jelas bingung saat Sekala ternyata membawanya ke sebuah toko perhiasan yang letaknya di dalam sebuah mal tidak jauh dari Orion.
Dan kebingungannya semakin menjadi-jadi kala menemukan seorang wanita berusia akhir tiga puluhan yang tampil cantik dalam balutan dress warna putih tulang selutut berlarian menghampiri mereka begitu matanya bertubrukan dengan milik Sekala.
"Sekarang?" tanya wanita itu.
Kinara melihat Sekala hanya mengangguk, kemudian si wanita berjalan lebih dulu dan ia cuma bisa pasrah saat Sekala mengeratkan genggaman tangan mereka dan menuntunnya untuk mengikuti langkah si wanita.
Ia dibawa ke sebuah ruangan yang letaknya di samping toko perhiasan. Ukurannya tidak terlalu besar, dan tidak terlalu banyak barang yang ada di dalamnya sehingga Kinara menduga bahwa ruangan itu merupakan ruang istirahat untuk para karyawan toko perhiasan. Dan, wanita yang kini berdiri di hadapan mereka ini bisa jadi adalah si pemilik toko perhiasan tersebut.
"Silakan duduk, saya ambilkan dulu pesanan Mas Sekala." Kata si wanita, menunjukkan gestur mempersilakan Kinara dan Sekala duduk di atas sofa panjang di ruangan itu.
Sekala mengangguk, lalu menuntun Kinara untuk ikut duduk di sampingnya. Kemudian, si wanita keluar dari ruangan tersebut.
Selagi menunggu si wanita kembali, Kinara berniat untuk bertanya kepada Sekala mengapa ia dibawa ke sini, dan apa yang akan lelaki itu lakukan selanjutnya.
Namun, belum sempat bibirnya terbuka, Sekala sudah lebih dulu memberi kode supaya ia diam dulu dan tunggu saja apa yang akan Sekala tunjukkan.
Jadi, Kinara menurut. Ia tidak jadi membuka mulut, dan cuma pasrah saat merasakan genggaman tangan Sekala kian mengerat saat pintu ruangan kembali dibuka, menampilkan sosok wanita yang tadi dengan beberapa kotak beludru kecil yang dibawa menggunakan sesuatu yang bentuknya seperti nampan.
Si wanita berjalan menghampiri mereka dengan senyum yang merekah, lalu nampan yang ia bawa diletakkan di atas meja di hadapan Sekala dan Kinara kemudian wanita itu duduk di single sofa di sebelah kiri Sekala.
"Sesuai pesanan Mas Sekala, saya siapkan beberapa model dan ukuran." Jelas si wanita. Tatapannya terlihat berbinar, seperti baru saja menemukan sebongkah berlian di tengah tumpukan sampah.
"Terima kasih." Kata Sekala, membalas senyum wanita bernama Jenetta itu. "Boleh saya lihat?" tanyanya kemudian, dan Jenetta segera menganggukkan kepala.
Sekala melepaskan genggaman tangannya dengan Kinara, kemudian mengambil salah satu kotak beludru berwarna biru tua lalu membukanya perlahan. Di sana, ada sebuah cincin dengan satu berlian kecil yang bertahta di tengahnya. Modelnya simpel sekali, namun tetap terlihat cantik. Benar-benar mempresentasikan seorang Kinara Adorelia.
Senyum Sekala tidak bisa ditahan, apalagi saat dia mengambil cincin itu dan membawanya ke hadapan Kinara—yang tampak kebingungan karena tiba-tiba disodori sebuah cincin.
"Coba," titahnya.
__ADS_1
Kinara—dengan polosnya—mengulurkan tangan, membiarkan Sekala menyematkan cincin itu ke jari manisnya.
"Gimana? Bagus, nggak?" tanya Sekala usai puas memandangi cincin yang melingkar cantik di jari manis Kinara.
Sementara Kinara tidak punya pilihan selain menganggukkan kepala karena menurutnya cincin itu memang bagus.
"Ukurannya pas? Atau masih longgar?" tanya Sekala lagi.
Kali ini, Kinara menatapi jari manisnya sendiri, kemudian beralih menatap Sekala yang menanti jawaban.
"Pas," cicitnya.
Entah karena apa, Kinara menemukan Jenetta tiba-tiba saja terkekeh. Ia menatap wanita itu bingung, dan ketika beralih lagi kepada Sekala, laki-laki itu juga menunjukkan ekspresi yang persis sama.
"Tapi ..." ucapnya, sedikit tertahan karena masih ada keragu-raguan. Namun, setelah meyakinkan diri, ia akhirnya melanjutkan. "Cincin ini untuk apa?"
Bukannya menjawab, Sekala malah tersenyum penuh arti. Lalu nampan berisi kotak-kotak lain yang masih tersisa dia dorong ke arah Jenetta.
"Saya mau ambil semua yang ukurannya sama dengan yang ini," sambil meraih jemari Kinara dan menyodorkannya ke arah Jenetta.
...****************...
"Coba ulangi sekali lagi," pinta Kinara setelah mereka keluar dari toko perhiasan dan hendak berjalan menuju eskalator untuk turun ke lantai dasar.
Sekala, yang masih bersikukuh menggandeng tangan Kinara yang kini di jari manisnya tersemat cincin pilihannya, kembali tersenyum sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
"Ayo menikah," ucap Sekala. Kedengaran begitu santai di telinga Kinara sehingga gadis itu pun berdecak.
"Nggak usah bercanda, Mas Kala." Kinara berkata malas, sambil memutar bola mata dan berusaha melepaskan genggaman tangan Sekala.
Namun yang terjadi justru tangannya semakin digenggam erat, apalagi saat kaki mereka akhirnya menapak di tangga eskalator.
__ADS_1
"Saya nggak bercanda, Kin."
Kinara tidak bisa berkata-kata, jadi di sepanjang eskalator yang bergerak membawa mereka turun, dia cuma menatap Sekala tak percaya. Berusaha mencari kebohongan dari manik gelap Sekala yang menghanyutkan.
Namun, sedalam apapun dia mencari, sejauh manapun dia menjelajah, sama sekali tidak dia temukan kebohongan itu. Tapi, dia juga terlalu ragu untuk percaya bahwa apa yang dia dengar adalah sebuah kenyataan.
Bahkan sampai mereka tiba di lantai dasar mal pun, Kinara masih tidak melepaskan tatapannya dari Sekala. Malahan, dia semakin lekat menatap wajah tampan lelaki itu.
Sekala menyadari itu. Maka, ketika mereka hampir sampai di pintu keluar, ia menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat Kinara juga ikut menghentikan langkahnya.
"Saya serius, Kin. Ayo menikah," ulangnya. Berusaha mengatakan itu dengan suara yang lebih meyakinkan. Ia bahkan tidak membubuhkan senyum lagi, karena takut hal itu hanya akan membuat Kinara semakin berpikir bahwa dirinya sedang bercanda.
Bukan iya atau tidak yang kemudian Sekala dapatkan, melainkan pertanyaan lain yang untungnya bisa dia jawab dengan cepat tanpa kesulitan yang berarti.
"Papa sama Mama? Bukannya Mas Kala harus tanya dulu sama mereka?" itu pertanyaan yang Kinara ajukan.
"Bapak sama Ibu udah tahu. Mereka bahkan bantu saya kasih referensi model cincin yang mungkin akan kamu suka," dan ini adalah jawaban yang Sekala berikan. Polos, tanpa dosa. Tanpa tahu kalau jawabannya itu akhirnya membuat Kinara melepaskan genggaman tangan mereka dan malah melipat tangan di depan dada lalu melayangkan tatapan menyelidik.
"Kalau saya nggak mau, gimana?" tanya gadis itu.
Tapi sekali lagi, Sekala tidak menemukan kesulitan saat dia dengan entengnya balik bertanya, "Emang kamu nggak mau?" yang seketika malah membuat Kinara kicep.
"Kamu pasti bakal langsung bilang nggak mau, kalau emang nggak mau." Seolah sudah begitu mengenal Kinara, Sekala berani bicara begitu dengan percaya diri penuh.
Dan sialnya, itu memang tepat sasaran. Kinara sama sekali tidak memikirkan sebuah penolakan, bahkan ketika ajakan untuk menikah ini datang begitu tiba-tiba. Entahlah, seolah manusia bernama Sekala Pranadipa ini sudah meniupkan sihir ke dalam dirinya, yang membuatnya tidak akan bisa menolak apapun yang lelaki itu tawarkan kepadanya.
Bingung harus bereaksi apa, Kinara memutuskan untuk kabur. Dia berlari meninggalkan Sekala, yang kini terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang kelewat lucu.
"Jangan lari, Kin, nanti nabrak!" seru Sekala saat Kinara semakin cepat mengayunkan langkahnya. Kemudian, Sekala menyusul. Berjalan dengan satu tangan masuk ke dalam saku celana, sedangkan satu tangan lagi menenteng paper bag kecil berisi tiga kotak cincin, yang semuanya untuk Kinara.
Di sepanjang langkahnya, senyum Sekala tidak luntur.
__ADS_1
Setelah ini, ia harus bertemu dengan Sagara untuk berterima kasih secara langsung kepada kakaknya itu. Karena, berkat keyakinan dan dukungan yang lelaki itu berikan, dia akhirnya memberanikan diri untuk melamar Kinara, setelah sebelumnya sempat ingin menunda paling tidak sampai satu tahun lagi.
Bersambung