After The Rain

After The Rain
It's Getting Worse


__ADS_3

Selama kelas berlangsung, Kinara tidak bisa berkonsentrasi dengan materi yang disampaikan oleh dosen pengajar karena teman-teman sekelasnya asik berbisik kepada satu sama lain. Kinara tidak tahu apa pastinya yang mereka bicarakan karena suara bisik-bisik itu bercampur menjadi satu hingga membuatnya terdengar seperti dengungan lebah yang tak jelas.


Di sampingnya, Dahayu tampak memasang raut kesal. Ini adalah mata kuliah yang sempat membuat Dahayu nyaris gila karena materinya betulan susah masuk ke dalam otak, dan sekarang materinya semakin susah dicerna karena suara dosen pengajar kalah dengan suara bisik-bisik yang menganggu.


"Lo semua bisa pada diem nggak, sih?! Gue mau belajar ya, anjing!" teriak Dahayu tiba-tiba, membuat Kinara dan seluruh isi kelas menatap ke arahnya, termasuk si dosen pengajar yang seketika mengatupkan bibirnya dan menatap tajam ke arah Dahayu.


"Ada masalah apa?" tanya si dosen dengan suara tegasnya.


"Mereka berisik, Pak! Saya jadi nggak bisa konsentrasi mendengarkan penjelasan Bapak!" Dahayu tidak kalah ngegas. Dia melotot pada sekumpulan mahasiswi yang duduk tak jauh dari tempatnya. Menurut pendengarannya, kumpulan mahasiswi itu lah yang telah menyumbang polusi suara terbanyak sejak kelas dimulai satu jam yang lalu.


Pak Purnomo, dosen berusia akhir empat puluhan itu mengikuti arah pandang Dahayu kemudian berkata, "Kalian berempat, kalau nggak mau ikut kelas saya, mending pulang aja. Jangan bikin teman yang mau belajar terganggu." Katanya memperingatkan dengan tegas.


Empat mahasiswi itu menciut, mereka langsung pura-pura fokus pada buku pelajaran di atas meja dengan mulut yang terkatup rapat.


Setelah itu, kelas benar-benar hening. Pak Purnomo kembali melanjutkan kegiatannya menyampaikan materi. Sementara Kinara malah memandangi Dahayu yang kini melayangkan tatapan lurus ke depan ke arah layar proyektor.


"Lihat ke depan! Lo mau diusir juga sama Pak Purnomo?" bisik Dahayu dengan penuh penekanan. Dia menoleh sebentar pada Dahayu kemudian kembali fokus menatap ke depan.


Kinara tidak menyahuti omelan Dahayu dan hanya mengikuti arahan gadis itu untuk melihat ke depan. Kinara hanya berpikir mungkin saja suasana hati Dahayu memang sedang buruk. Lagi dapet, mungkin?


...****************...


Selesai kelas pertama, Kinara tahu Dahayu masih menyimpan kekesalan saat gadis itu melirik tidak suka ke arah empat mahasiswi yang selama jam pelajaran menyumbang polusi suara paling banyak.


Sementara empat mahasiswi itu terlihat tidak peduli pada Dahayu dan lirikan matanya. Mereka kembali bergunjing, mengeluarkan apa pun yang ada di dalam kepala tanpa peduli pada sekitar.


"Ay," panggil Kinara pelan sembari menepuk pundak Dahayu agar gadis itu mengalihkan pandangannya dari empat mahasiswi di seberang mereka.


Dahayu menoleh, tatapan matanya masih terlihat kesal walau Kinara tahu tatapan itu tidak ditujukan kepada dirinya.


"Kantin yuk, laper." Ajak Kinara. Ada jeda hampir satu jam sebelum kelas selanjutnya dimulai dan Kinara tidak lagi berpikir mereka bisa menyembunyikan diri di perpustakaan sejak kejadian ribut-ribut yang terakhir kali.


Kinara melihat Dahayu menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya susah payah.


Setelah membereskan barang-barang mereka, Dahayu menarik tangan Kinara dan mereka berjalan beriringan meninggalkan ruang kelas yang riuh.

__ADS_1


"Mau makan apa?" tanya Dahayu ketika mereka berjalan menyusuri koridor menuju kantin fakultas.


Di sepanjang jalan, mereka masih mendengar bisik-bisik dari beberapa mahasiswa yang mereka temui. Selain saling berbisik, mereka juga tampak saling menunjukkan layar ponsel kepada satu sama lain.


"Mi ayam." Kata Kinara. Sesekali dia melirik ke arah segerombolan mahasiswa yang tengah bergosip itu, kemudian dia merapatkan tubuhnya ke arah Dahayu dan berbisik pelan, "Mereka lagi gosipin soal apa, sih? Seru amat kayaknya ngomongin hidup orang."


"Lo sendiri juga lagi ngomongin orang, tuh."


Langkah Kinara praktis terhenti. Dia mendelik ke arah Dahayu yang lebih tinggi darinya. Bibirnya cemberut, persis bocah lima tahun yang merajuk minta mainan baru.


"Aku kan cuma nanya, mereka lagi gosipin apa?!" kesalnya.


"Sama aja." Ucap Dahayu enteng. Kemudian, tanpa menunggu sampai Kinara menyahut, Dahayu kembali melanjutkan langkah, membuat gadis yang lebih pendek berlarian untuk menyejajarkan kembali langkah mereka.


"Nyebelin!"


Dahayu tersentak saat Kinara tiba-tiba memukul bahunya agak keras. Dia berhenti melangkah, melotot pada Kinara namun gadis itu malah langsung melarikan diri.


"Berhenti nggak lo! Kinaraaaaaa!!!" pekik Dahayu sembari mengejar Kinara yang sudah berlarian tunggang-langgang.


Adegan kejar-kejaran itu terus berlangsung, sampai akhirnya ayunan langkah kaki kecil Kinara terhenti saat tubuhnya bertubrukan dengan seseorang sehingga membuat tubuh kecilnya terhuyung dan jatuh.


"Naraaaa!!!" pekik Dahayu yang buru-buru menghampiri Kinara yang sudah tersungkur di lantai.


Sedangkan Kinara cuma bisa meringis merasakan pantatnya yang mendarat cantik di atas lantai yang keras. Di depannya, berdiri menjulang seorang pria berkemeja biru tua yang menatapnya khawatir. Pria itu hendak mengulurkan tangan untuk membantu Kinara berdiri, tetapi niatnya tak bisa terealisasi karena Dahayu sudah lebih dulu menangkap tubuh Kinara dan membawa gadis itu kembali berdiri.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Dahayu cemas. Matanya menelisik setiap bagian tubuh Kinara, mencoba menemukan luka meski sekecil apa pun itu.


"Nggak apa-apa, Ay." Kinara menyunggingkan senyum demi membuat Dahayu berhenti khawatir.


"Makanya, jangan lari-larian!" omel Dahayu.


"Iya, iya." Kinara manggut-manggut saja.


Lalu, saat Dahayu hendak membuka kembali mulutnya untuk menyemprotkan omelan lain, suara dari pria di hadapan mereka seketika menginterupsi.

__ADS_1


"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya si pria.


Dahayu dan Kinara kompak mengangkat kepala. Mereka berdua sama-sama kehilangan kata-kata saat menyadari bahwa yang saat ini berada di hadapan mereka adalah Pak Andreas, dosen muda yang namanya santer disebut sebagai sosok laki-laki di video mesum yang melibatkan Layla.


Kinara sempat melamun sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Nggak apa-apa, Pak. Maaf, saya nggak hati-hati."


"Nggak perlu minta maaf. Saya juga lalai karena sempat nggak fokus ke jalanan." Pak Andreas menyunggingkan senyum tipis.


Kinara tidak tahu harus bereaksi apa, jadi dia ikut-ikutan menyunggingkan senyum canggung. "Kalau begitu, kami permisi." Pamitnya. Segera ditariknya lengan Dahayu untuk pergi dari sana.


Pak Andreas belum sempat menjawab, namun sosok Dahayu dan Kinara sudah menjauh darinya. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahnya.


Sementara itu, Dahayu masih tidak mengatakan apa-apa di sisa perjalanan mereka sampai akhirnya mereka tiba di kantin fakultas yang relatif sepi. Hanya ada beberapa bangku yang terisi dan Kinara memutuskan untuk memilih bangku di bagian paling luar.


"Kamu mau makan apa?" tanya Kinara setelah meletakkan tasnya di kursi kosong.


"Samain aja kayak lo." Dahayu menjawab singkat.


Kinara mengangguk dan langsung melesat menuju kedai mi ayam yang letaknya di ujung yang berseberangan dengan tempat duduk yang dia pilih.


Sembari menunggu Kinara selesai memesan, Dahayu mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Dibukanya aplikasi burung biru untuk melihat sedang ada kabar apa yang trending di pencarian pagi ini.


Dan... Dahayu harus membungkam mulutnya ketika mendapati nama Layla ada di urutan pertama mesin pencarian. Padahal sampai kemarin, berita soal video mesum Layla cuma beredar di base kampus saja, di mana yang tahu dan ikut bergunjing ya hanya penghuni kampus. Tapi sekarang nama gadis itu bahkan terpampang nyata dan semua orang di dunia bisa melihatnya.


Kerjaan siapa ini? Siapa yang sudah menyebarluaskan aib ini ke lingkungan luar kampus?


Dahayu tidak sempat menemukan jawaban untuk pertanyaan itu karena Kinara tahu-tahu sudah duduk di depannya, menyuguhkan dua mangkuk mi ayam dan dua gelas es teh manis.


"Simpan dulu hapenya, kita makan dulu." Kata Kinara, tanpa tahu kalau saat ini Dahayu sedang berada di ambang batas bingung dan kesal.


"Ay?" panggil Kinara saat Dahayu justru menatapnya tanpa bersuara. "Kenapa, sih?" tanyanya lagi. Agak seram juga melihat Dahayu seperti ini.


"Iya. Ayo makan." Dahayu menyimpan kembali menyimpan ponselnya dan memutuskan untuk terlebih dahulu menyantap makanan mereka sebelum mengajak Kinara masuk ke dalam diskusi panjang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2