
Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat ketimbang saat mereka berangkat. Sama seperti saat ini, ketika mobil Atha tahu-tahu sudah berhenti di halaman rumah Kinara, padahal mereka masih ingin bersama-sama.
Tautan tangan mereka tidak kunjung lepas. Bahkan ketika mata Kinara menangkap pergerakan Papa mulai dari saat lelaki itu bangkit dari kursi dan kini berjalan cepat menghampiri mobil Atha, Kinara masih enggan melepaskan tangan Atha dari genggamannya. Seolah tangan itu adalah pegangan hidupnya. Seolah jika pegangan itu terlepas sebentar saja, Kinara akan menemukan hidupnya berantakan.
Jendela mobil diketuk pelan, Papa terlihat menunduk untuk mengintip keadaan di dalam mobil, membuat Kinara dan Atha saling pandang selama beberapa saat sebelum akhirnya tergelak bersama.
Tingkah Papa memang selalu ada-ada saja. Meskipun Atha sudah bersumpah atas nama ibunya yang telah tiada bahwa dia tidak akan menyakiti Kinara, tetapi sebagai ayah yang baik, Papa masih terus menanamkan rasa curiga.
Tetapi, Atha sama sekali tidak tersinggung. Dia justru senang karena calon mertua nya itu selalu berusaha menjaga sang putri, yang itu artinya, Atha sudah melabuhkan hatinya kepada orang yang tepat.
Karena Papa masih terus mengetuk kaca jendela dan lama-kelamaan irama ketukan itu semakin cepat dan mulai menjadi brutal, Atha segera menurunkan kaca, hanya untuk menyunggingkan senyum cengengesan yang membuat Papa melotot ke arahnya.
"Anak saya habis kamu bawa ke mana?" tanya Papa dengan wajah yang dibuat sok sangar, tetapi hal itu justru membuat Atha semakin tergelak.
"Maaf, Om. Anaknya betah sih soalnya sama saya." Kata Atha sambil cengengesan. Dia menyenggol lengan Kinara, membuat gadis itu melirik ke arahnya dengan tatapan julid, tetapi sedetik kemudian tersenyum.
"Oh, mulai nakal kamu, ya?" omel Papa.
Kinara menoleh dan tertawa pelan. Kemudian, dia melepaskan tautan tangannya dengan Atha dan mulai bergerak membuka pintu. Tetapi sebelum pintu benar-benar dibuka, Kinara kembali mendongak menatap Papa.
"Papa, bisa geser dulu? Kinara mau buka pintu mobilnya, nanti Papa kepentok, nangis." Goda Kinara.
Papa mendelik, namun tubuhnya secara otomatis bergeser ke kiri.
Kinara, masih dengan cengengesan, membuka pintu dan akhirnya turun dari mobil. Dia segera menghampiri Papa, berdiri di sisi tubuh lelaki itu kemudian menggamit lengannya.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua." Bujuknya sembari mengusap pelan lengan Papa yang kini dia gelendoti.
Papa sedikit menunduk, memicingkan mata sambil memasang raut wajah antagonis, yang justru membuatnya semakin tampak lucu di mata Kinara.
Lalu, karena usahanya menakut-nakuti Kinara tidak berhasil, Papa beralih menatap Atha yang kini sudah ikutan keluar dari mobil. Pemuda itu berdiri di hadapannya dengan senyum yang tidak bisa ditahan.
"Denda seratus juta karena kamu telat memulangkan anak saya." Kata Papa sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Wah, nggak bisa gitu dong, Om. Kan, kita udah sepakat tadi kalau saya boleh bawa anaknya satu jam lebih lama." Atha tidak mau kalah.
"Saya kasih ijin ke kamu satu jam, tapi ini sudah lewat lima menit." Papa masih mempertahankan raut wajah antagonisnya.
Atha, sambil susah payah menahan tawanya agar tidak meledak, masih sanggup meladeni sang calon mertua.
"Kami sampai di rumah tepat waktu kok, Om. Lima menitnya kan buat parkir mobil."
"Alasan." Cibir Papa dengan muka julid abis.
Kinara sudah tidak kuat lagi menahan tawa, jadi dia ledakkan tawa miliknya, sekencang-kencangnya sampai membuat Papa dan Atha serempak menolehkan kepala ke arahnya.
"Kamu habis bawa anak saya ke mana? Kok dia kayaknya kesambet jin gini?" Papa berkata pelan. Bergerak menjauhkan diri dari Kinara dan malah beringsut mendekat ke arah Atha.
"Ke pinggir danau sih, Om. Kayaknya memang banyak demitnya di sana." Atha menanggapi. Dia diam saja saat ayah Kinara menelusupkan tangan ke lengannya, persis seperti seorang anak yang sedang meminta perlindungan kepada sang ibu.
"Kamu ada kenalan ustadz yang sakti, nggak? Kayaknya harus diruqyah deh biar nggak kebablasan."
"Ada sih, Om. Tapi tinggalnya jauh, di Afrika Selatan."
Atha hampir saja menyemburkan tawa tepat di depan wajah Papa yang masih bergelayut manja di lengannya. Tetapi sekuat tenaga dia menahan tawa dan menganggukkan kepala pelan.
"Ongkosnya mahal kalau ke sana?"
"Mahal, Om. Paling nggak harus jual ginjal dulu, sih."
"Wah, kalau itu sih susah. Ya udah deh, nggak usah. Biarin aja dia kesambet, nggak apa-apa."
Sumpah! Kinara sudah tidak kuat lagi mendengar obrolan absurd antara Papa dan Atha. Tawanya semakin menjadi-jadi, napasnya terasa ngos-ngosan dan perutnya mulai keram. Bulir-bulir bening merembes dari sudut matanya, dia seka menggunakan jari telunjuk tangan kanan sedangkan tangan kirinya sibuk memegangi perut yang rasanya sudah tidak keruan.
"Tapi kasihan Om kalau dibiarin ketawa terus kayak gitu. Takutnya lama-lama jadi gila." Kali ini, Atha yang memancing.
Dan, seperti ikan yang sudah lama kelaparan di lautan dan tidak bisa menolak ketika disodori umpan, Papa menggigit umpan yang Atha berikan. Tetapi bukan dengan perkataan, melainkan dengan tindakan yang jangankan Kinara, Atha sendiri pun tidak menyangka akan laki-laki itu lakukan.
__ADS_1
Papa melepaskan diri dari lengan Atha, berjalan cepat menghampiri Kinara kemudian tiba-tiba saja menempelkan telapak tangan kanannya di kening sang putri. Dengan gaya persis seperti ustaz-ustaz yang dia lihat di televisi, Papa mulai berkomat-kamit membaca doa.
Kinara yang kaget karena keningnya tiba-tiba dipegang dan dia dibacakan doa pun sontak berhenti tertawa. Dia meronta, berusaha melepaskan diri dari Papa namun sia-sia karena satu tangan lelaki itu memegangi lengannya.
"Papa, ih! Lepasin!" pekik Kinara.
"Wah, demitnya kuat nih!" teriak Papa di sela kegiatannya membaca doa sembari menoleh ke arah Atha.
"Terus, Om. Dikit lagi juga keok tuh demitnya." Atha memberikan semangat kepada sang calon mertua.
"Kamu juga bantu doa, jangan ngomong doang!" omel Papa, kemudian kembali membacakan doa.
Atha menurut saja. Bibirnya mulai berkomat-kamit membaca doa meskipun sesekali harus berhenti karena perlu menahan tawanya agar tidak meledak saat itu juga.
Sekarang, dengan dua orang yang membacakan doa secara bersamaan dan Papa masih terus bergerak seperti orang yang betulan sedang meruqyah, Kinara merasa dirinya seperti sedang benar-benar kerasukan setan.
Tawanya sudah hampir meledak lagi, tetapi sekuat tenaga dia tahan dan dia berusaha mati-matian untuk bersikap tenang agar Papa berpikir ruqyah-nya telah selesai dan mereka bisa segera mengakhiri drama ini.
Karena sumpah, Kinara sudah lelah. Ini sudah malah dan tenaganya sudah terkuras habis untuk tertawa. Tenggorokannya juga jadi terasa kering dan serak. Jadi, dia ingin segera masuk ke dalam rumah untuk meneguk segelas penuh air minum.
Usahanya akhirnya membuahkan hasil. Dia tidak lagi terbahak dan Papa beserta Atha akhirnya berhenti membacakan doa. Papa menjauhkan telapak tangan dari keningnya lalu menepuk dadanya sendiri dengan gaya yang jemawa.
"Mantap juga nih kamampuan saya." Gumam Papa, membanggakan dirinya sendiri.
Karena tidak ingin kembali di-ruqyah, Kinara menahan diri untuk tidak tertawa. Berbanding terbalik dengan Atha yang dengan bodohnya malah terbahak-bahak sehingga membuat Papa bergerak cepat dan langsung melakukan hal yang sama yang tadinya dia lakukan kepada Kinara.
"Wah, demitnya pindah ke sini!" pekik Papa.
Melihat itu, pertahanan Kinara seketika runtuh. Dia kembali terbahak-bahak, apalagi saat melihat Papa menoleh dan terlihat kebingungan perihal siapa yang lebih dulu harus dia ruqyah.
Sementara itu, di ambang pintu rumah, Mama menyaksikan interaksi antara tiga manusia itu dengan senyum yang terkembang sempurna. Mama bersyukur karena badai yang menerpa keluarga mereka tidak serta-merta membuat tawa mereka sirna.
Tuhan, semoga kami masih selalu diberikan kenikmatan untuk bisa meledakkan tawa bersama orang-orang yang kami sayangi. Mama berbisik, dengan tulus dan sepenuh hati.
__ADS_1
Bersambung