
Keesokan harinya, Kinara dibuat terheran-heran kala menemukan Dahayu sudah mejeng di depan ruang kelas. Padahal kelas pertama baru akan dimulai satu setengah jam lagi dan seumur hidup, gadis itu tidak pernah datang lebih dulu ke kampus ketimbang dirinya. Kinara sendiri sengaja datang lebih awal agar bisa menumpang menggunakan WiFi untuk mengerjakan sesuatu.
"Tumben, Ay?" tanyanya setelah mendudukkan diri di sebelah Dahayu.
"Biasalah, ada yang mau bikin citra family man, makanya gue dianterin sampe depan gerbang kampus." Sahut Dahayu.
Tidak perlu banyak berpikir untuk tahu apa maksud perkataan Dahayu. Karena saat gadis itu menyebut kata kunci family man, itu berarti merujuk hanya pada satu orang, yaitu Om Haris.
"Mau pencitraan di depan siapa? Memangnya ada yang bakal ngeliat kalian sepagi ini?" tanya Kinara lagi sembari mengeluarkan laptop dari dalam tas.
"Salah satu kolega dia ada yang ngajar di kampus ini." Dahayu tetap menjawab meskipun sebenarnya dia sangat malas membahas tentang ayahnya. "Lo mau ngerjain apa?" tanyanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan. Dia melongokkan kepala untuk mengintip ke layar laptop di pangkuan Kinara.
"Novel." Kinara menjawab singkat. Karena sekarang dia sudah mulai masuk ke dalam dunia yang dia ciptakan sendiri. Jemari lentiknya menari-nari di atas keyboard dan bibirnya sesekali berkomat-kamit tanpa suara.
Di sebelahnya, Dahayu cuma manggut-manggut sebelum menarik kembali kepalanya menjauh dari layar laptop. Pandangannya kemudian berlabuh ke atas, pada hamparan langit berwarna putih yang seolah ingin menunjukkan kepada dunia betapa sucinya ia.
"Gue pengin berhenti kuliah."
Gerakan jemari Kinara di atas keyboard refleks terhenti ketika mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Dahayu. Sejenak ia terdiam, berusaha mencerna apa yang dia dengar sedikit lebih lama untuk memastikan bahwa otaknya masih bekerja dengan normal.
Kemudian, dengan gerak super lambat mirip di film-film action yang sering dia tonton, Kinara menoleh ke arah Dahayu. Hanya untuk mendapati gadis itu tengah menengadah menatapi langit di atas sana dengan senyum sumir yang tersungging menghiasi wajah cantiknya.
"Gue capek menggantungkan hidup gue sama mereka berdua." Kata Dahayu dengan tatapan yang masih tak beralih. "Gue mau coba hidup mandiri, Ra." Sambungnya.
Ketika Dahayu akhirnya menarik pandangan dari langit dan mengalihkannya kepada Kinara, dia menemukan gadis itu tengah menatapnya dengan tatapan yang terlalu sulit untuk diterjemahkan.
__ADS_1
"Hidup mandiri nggak segampang itu, Ay." Kata Kinara dengan suara super pelan. Seolah semangat dan semua tenaga yang dia miliki menguap begitu saja setelah mendengar penuturan Dahayu.
"Gue tahu." Sahut Dahayu. "But, if we never try, how we will know?"
Apa yang bisa Kinara lakukan selain menghela napas mendengar itu? Dia tahu bagaimana keras kepalanya Dahayu jika sudah menginginkan sesuatu. Maka setelah satu tarikan napas dalam yang dia ambil untuk memenuhi rongga dadanya yang mendadak terasa ngilu, Kinara kembali memusatkan perhatian ke layar laptop dan melanjutkan pekerjaannya.
Lama sekali hening melingkupi keduanya. Hingga Kinara sampai ke kalimat terakhir pada akhir paragraf yang dia tulis untuk bab ke-5 dari novel yang sedang dia kerjakan.
Sebelum menutup layar laptop, Kinara berhenti sejenak untuk memilih diksi mana yang tepat untuk dia realisasikan ke dalam sebuah ucapan. Lalu saat pilihan itu telah mantap, dia menolah kepada Dahayu dan menatap gadis itu lekat-lekat.
"Apa pun keputusan yang kamu ambil, aku sebagai teman cuma bisa mendukung. Tapi janji sama aku, kapan pun kamu menemukan kesulitan, kamu harus cari aku."
Sebab Kinara merasa sudah waktunya dia membalas semua kebaikan Dahayu. Sudah saatnya mereka bertukar posisi agar bukan cuma Dahayu yang selalu berdiri untuk membela dirinya, tetapi dia juga bisa melakukan hal yang sama.
Bersamaan dengan laptop Kinara yang akhirnya ditutup, obrolan mereka pagi itu juga berakhir.
...****************...
Kelas berlangsung tidak kondusif karena sebagian besar mahasiswa yang tengah mengikuti jalannya kegiatan belajar mengajar malah sibuk bergosip dengan teman di kanan dan kiri tempat duduknya. Dosen pengajar sampai harus menegur mereka berkali-kali dan mengancam akan memberhentikan kelas, namun ancaman itu hanya berhasil membuat mereka takut selama beberapa menit sebelum kericuhan kembali terjadi.
Kinara yang duduk di bangku tengah mendengus berkali-kali. Selain karena dia tidak suka keributan, mata kuliah ini juga merupakan mata kuliah favoritnya. Jadi setidaknya dia ingin menyerap semua materi yang disampaikan oleh sang dosen dengan baik.
Di sampingnya, Dahayu tidak banyak bereaksi. Ketika Kinara menoleh untuk memeriksa keadaannya, dia menemukan anak itu sedang menatap lurus ke layar proyektor sambil sesekali menggoreskan tinta pulpen ke buku catatan. Tidak ada protes atau pun kata-kata pedas yang Dahayu lontarkan kepada para mahasiswa berisik ini, entah karena dia sudah lelah atau dunianya memang sedang terpisah cukup jauh sehingga dia tidak punya waktu untuk kembali dan memarahi mereka satu persatu seperti tempo hari.
"Hari ini saya masih bisa maklumi, tapi sekali lagi saya menemukan suasana kelas yang seperti ini, saya nggak akan mau lagi mengajar di kelas kalian." Ancam Bu Larasati, dosen cantik berusia akhir tiga puluhan yang selalu tampil cantik dan elegan sebelum melenggang pergi meninggalkan kelas.
__ADS_1
Setelah kepergian Bu Larasati, suasana kelas tentu menjadi lebih berisik. Bisikan-bisikan halus yang semula hanya bisa di dengar hingga satu atau dua meja di sebelahnya, kini mulai berubah menjadi pekikan-pekikan yang menulikan telinga.
Kinara merasakan kepalanya berdenyut, telinganya pengang dan dia mulai berkunang-kunang. Ini juga efek karena semalam dia baru bisa tidur setelah hampir jam setengah dua pagi.
"Lo harus terbiasa menghadapi keributan kayak gini." Kata Dahayu tiba-tiba di tengah berisiknya suasana sekitar mereka.
Kinara menoleh, hanya untuk menemukan gadis itu masih berkutat dengan pulpen dan buku catatan.
Selama beberapa detik, Dahayu tidak melanjutkan kalimatnya. Padahal Kinara tahu gadis itu punya lebih banyak hal untuk disampaikan.
Sampai akhirnya, Dahayu meletakkan pulpen di atas meja kemudian menolehkan kepala. Gadis itu tersenyum. Jenis senyum yang Kinara sendiri baru lihat dan dia benar-benar tidak tahu bagaimana mengartikannya.
"Nanti, kalau gue udah nggak kuliah di sini, nggak akan ada yang neriakin mereka buat berhenti bikin keributan. Gue juga tahu lo nggak akan punya nyali untuk lakuin itu. Jadi, yang bisa lo lakuin sekarang cuma berusaha untuk terbiasa sama keadaan."
Dari serentetan kalimat itu, akhirnya Kinara tahu bahwa apa yang selama ini Dahayu lakukan semata-mata karena gadis itu tahu dia tidak suka keributan. Padahal selama ini Kinara pikir Dahayu melakukannya karena memang gadis itu saja yang gemar marah-marah dan tidak suka ketika kegiatannya terganggu. Rupanya, setelah sekian lama berteman, Kinara masih saja menyalahartikan setiap perbuatan yang Dahayu tunjukkan.
Fakta itu membuat Kinara merasa bersalah. Jadi alih-alih fokus pada rasa sakit yang semakin menjalar di kepala, Kinara beringsut mendekat ke arah Dahayu. Dipeluknya gadis itu erat-erat seolah tidak mau apa pun memisahkan mereka saat ini.
"If I asked you to stay, would you like to stay here with me?" tanya Kinara dengan suara bergetar.
Selama ini, dia tidak pernah meminta apa pun kepada Dahayu. Tapi jika dia diperbolehkan untuk meminta sesuatu, dia akan meminta agar gadis itu bisa bertahan sedikit lebih lama di sini bersamanya. Supaya dia setidaknya bisa memberikan sebanyak yang Dahayu pernah berikan kepadanya. Atau bahkan lebih.
Suara bising di sekitar mereka sudah tidak terdengar lagi. Sebab sekarang ini, satu-satunya yang memenuhi telinga Kinara hanyalah suara Dahayu yang mengalun lembut ketika gadis itu berkata, "I'll try."
Bersambung.
__ADS_1