
Di rumah, Kinara menunggu kepulangan Papa di ruang tamu dengan gerak gelisah. Dia masih menolak untuk bicara meskipun Mama telah berulang kali mendesaknya untuk bercerita.
Adegan pertemuannya dengan Papa sore tadi kembali terputar jelas di kepala. Bagaimana Papa terlihat berusaha keras menyembunyikan kesedihan telah berhasil mencabik hati Kinara berkali-kali lipat lebih parah ketimbang sebelumnya.
Lalu, ketika Papa akhirnya berjalan meninggalkannya tanpa penjelasan apa-apa, Kinara merasa dirinya bagai dilemparkan ke sebuah labirin panjang nan gelap dan dia terlalu buta untuk bisa mencari jalan keluar.
Sementara itu, di sampingnya, Mama ikut-ikutan gelisah. Dia sedang menyiapkan makan malam ketika Atha tiba-tiba muncul dari balik pintu depan bersama Kinara yang terlihat seperti telah kehilangan separuh nyawanya. Gadis itu berjalan lesu, tatapannya kosong dan Mama hampir tidak bisa melihat rona apa pun di wajah putri semata wayangnya itu.
Dan semenjak kedatangannya, sampai akhirnya Atha pamit pulang dan kini mereka berdua duduk berdampingan, Kinara masih tidak mau menjawab satu pun pertanyaan yang dia lontarkan. Gadis itu cuma memberitahunya bahwa dia ingin menunggu Papa pulang kerja. Hanya itu. Benar-benar hanya sebatas itu, kemudian tidak ada lagi yang keluar dari bibirnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Mama juga mulai khawatir dengan keadaan Papa, karena biasanya lelaki itu tidak akan pulang sampai selarut ini. Paling malam mungkin cuma setengah sepuluh, itu pun dengan alasan ada pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Jarum jam terus berputar, berpindah dari satu angka ke angka yang lain tanpa peduli bahwa di ruang tamu itu sedang ada dua orang yang berharap waktu tidak berlalu secepat itu.
"Udah malam, Ra, kamu tidur aja, nggak usah nungguin Papa." Bujuk Mama sekali lagi. Selama hampir tiga jam mereka duduk di ruang tamu, Mama telah berulang kali membujuk Kinara untuk masuk ke dalam kamarnya. Tetapi berulang kali dibujuk, gadis itu juga berulang kali menolak dengan gelengan kepala.
"Mama nggak tahu apa yang terjadi, tapi apa pun itu, masih bisa dibicarakan besok." Mama masih tidak menyerah untuk membujuk Kinara. "Udah malam, kamu harus tidur."
Namun sekali lagi, Kinara hanya menggelengkan kepala. Dia terus melayangkan tatapan ke arah pintu, berharap sosok Papa akan segera muncul dan dia bisa mengakhiri penantian panjangnya malam ini.
__ADS_1
Dan, penantian itu akhirnya terbayar saat sosok Papa betulan muncul dari balik pintu. Raut wajahnya kusut, berbanding terbalik dengan setelan kemejanya yang masih terlihat bersih dan rapi.
Kinara harus mati-matian menahan diri untuk tidak menangis ketika Papa berjalan pelan ke arahnya. Kemudian, saat tangan besar Papa terulur dan dalam sekejap berhasil membawanya ke dalam sebuah pelukan, Kinara tidak lagi mampu menahan laju air mata yang sejak tadi sudah berdesakkan minta keluar.
Kinara menangis. Sejadi-jadinya di pelukan Papa.
Sementara Mama yang masih tidak mengerti situasinya cuma bisa berdiam diri sembari menerka-nerka.
...****************...
"Maaf, ya, Ra."
Kinara hampir menangis lagi sewaktu Papa mengatakan itu sambil menggenggam tangannya erat.
"Cuma pekerjaan ini yang bisa Papa kerjakan untuk sekarang." Ucap Papa sedih. Pilihan untuk menerima pekerjaan sebagai sopir tentu tidak mudah baginya. Dia telah menghabiskan banyak malam untuk berdiskusi dengan Mama, sampai akhirnya mereka mencapai kata sepakat karena tidak ada pilihan lain lagi.
"Maaf kalau Papa bikin kamu malu, Ra." Usai mengatakan itu, Papa menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sungguh, tidak pernah terbayang olehnya bahwa dia akan ketahuan secepat ini. Lebih dari itu, Papa semakin merasa sedih karena mereka harus bertemu di lingkungan kampus Kinara, di mana bisa saja ada mahasiswa lain yang mengenal Kinara dan akan membuat gadis itu malu ketika orang-orang tahu bahwa ayahnya bekerja sebagai seorang sopir.
__ADS_1
Tapi sebenarnya, jauh dari perkiraan Papa, Kinara sama sekali tidak berpikir demikian. Dia menangis dan syok bukan karena malu terhadap Papa yang kini bekerja sebagai seorang sopir. Kinara merasa sedih karena tahu betul bahwa sejak dulu, Papa tidak pernah berada di posisi itu. Kinara merasa kasihan karena Papa harus terjun bebas dari posisinya yang dulu sebagai bos di perusahaan besar, menjadi seorang sopir yang harus tunduk pada perintah atasan.
"Maaf, Ra..." lirih Papa sekali lagi.
Karena sudah tidak tahan mendengar kata maaf itu diucapkan berulang-ulang kali, Kinara beringsut mendekat ke arah Papa. Diraihnya tubuh besar Papa kemudian dia peluk erat-erat. Dia labuhkan tepukan di punggung Papa, berusaha mengatakan kepada laki-laki itu bahwa dia tidak apa-apa.
"Papa nggak perlu minta maaf." Bisik Kinara masih sembari menepuk-nepuk punggung Papa. Dia merasakan tubuh Papa sedikit bergetar, membuatnya berpikir bahwa Papa mulai menangis.
"Kinara sama sekali nggak malu sama pekerjaan Papa yang sekarang. Kinara justru bangga karena Papa mau mengambil pekerjaan ini demi keluarga kecil kita supaya tetap bisa bertahan." Jejak air mata yang semula sudah mengering di pipi, kini basah lagi. Bulir-bulir bening kembali berjatuhan dari mata Kinara, membawa serta kepedihan yang memenuhi hatinya.
"Makasih, Papa. Makasih udah jadi pahlawan buat keluarga kecil kita." Suara Kinara bergetar seiring dengan usahanya untuk menahan isakan.
Lalu, saat Kinara rasa dia sudah cukup mampu mengendalikan diri, dia menjauhkan tubuhnya dari Papa.
Tepat ketika matanya beradu dengan milik Papa yang kini terlihat kemerahan, Kinara mengulurkan tangan, menangkup wajah Papa yang basah oleh air mata kemudian menghapus bulir-bulir bening itu menggunakan ibu jarinya.
"You know, right? That you're the hero. Papa adalah pahlawan untuk Nara dan Mama." Kinara beralih meraih kedua tangan Papa dan menggenggamnya erat. Dia meremas kedua tangan yang sudah bekerja keras itu lalu melabuhkan sebuah kecupan di sana. "Jadi, Papa nggak perlu merasa bersalah. You're the greatest, Papa."
Tidak ada yang lebih bisa menghangatkan hati Papa selain senyum yang terbit di wajah Kinara saat ini. Meskipun air mata masih terus mengalir membasahi wajah cantiknya, tapi gadis itu menyunggingkan senyum yang sama sekali tidak berpura-pura. Papa bisa merasakan ketulusan dari senyum itu, yang pada akhirnya mampu membuatnya menangis lebih hebat.
__ADS_1
Jadi, Papa kembali merengkuh tubuh kecil Kinara. Memeluknya erat sembari menepuk-nepuk punggung sempit putrinya itu sembari terus membisikkan kalimat menenangkan yang sebelumnya Kinara sampaikan kepadanya. Bahwa dia adalah pahlawan. Bahwa Kinara tidak pernah menganggapnya sebagai pecundang.
Bersambung