
Gara-gara bergadang sampai menjelang subuh, Kinara jadi bangun kesiangan. Dia juga melewatkan ibadah sholat subuh, karena ketika dia membuka mata, matahari sudah bersinar terik di atas kepala. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang ketika dia mengintip ke ponselnya.
"Alamak!" pekiknya, menepuk keningnya keras-keras lalu segera melompat turun dari kasur.
Kinara menyambar handuk dari gantungan, membawanya melesat keluar dari kamar menuju kamar mandi. Dia bahkan tidak sempat menyapa Mama yang tengah berkutat dengan peralatan dapur, mungkin hendak menyiapkan makan siang.
Di dalam kamar mandi, Kinara tidak melamun seperti yang biasa dia lakukan setiap hari sebelum mandi. Pakainnya dibuka dengan terburu-buru, dilemparkan asal ke bak cucian kotor lalu segera diambilnya gayung kemudian dia pakai untuk mengambil air dan diguyurkan ke seluruh tubuhnya, termasuk kepala.
Gerakan yang dia buat cenderung serabutan, bahkan saking tidak terkoordinasinya, busa sampo yang seharusnya hanya memenuhi rambutnya kini menetes hingga mengenai matanya, membuatnya memekik heboh karena matanya yang terasa perih.
Setelah sekian banyak drama yang terjadi di kamar mandi, Kinara akhirnya selesai juga. Tapi kemudian, dia kembali termenung setelah mengenakan handuk untuk membalut tubuh kecilnya. Dia lupa tidak membawa baju ganti.
"Kan, ceroboh sekali manusia satu ini." Ocehnya, yang ditujukan kepada diri sendiri.
Sebenarnya, bisa saja dia keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk seperti ini. Toh cuma ada Mama di dapur, dan Papa entah ada di mana. Tapi masalahnya, dia tidak pernah tahu kejadian apa yang bisa saja terjadi nantinya. Mungkin saja tiba-tiba ada tukang sayur keliling yang datang untuk mengantarkan pesanan Mama. Atau mungkin tukang galon dan tugas gas?
Ah, pokoknya, dia tidak boleh keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk begini.
Maka, setelah berpikir sebentar, Kinara membuka pintu kamar mandi. Hanya sedikit, hanya sampai kepalanya bisa menyembul keluar untuk mengintip Mama yang untungnya masih ada di dapur.
"Mama..." panggilnya pelan.
Mama yang sedang menggoreng sesuatu di wajan cuma berdeham, membuatnya berdecak sebentar.
"Mama ... nengok dulu bentar," ucapnya lagi.
Terdengar suara Mama menghela napas pelan, kemudian wanita itu membalikkan badan setelah mengecilkan api di kompor.
"Apa?" tanya Mama sabar.
"Boleh minta tolong nggak?" suara Kinara masih dijaga tetap kecil. Entah kenapa juga dia melakukan itu.
"Minta tolong apa?"
__ADS_1
"Tolong ambilin baju ganti, Nara lupa nggak bawa." Diakhiri cengiran yang membuat Mama geleng-geleng kepala.
"Ya udah, tunggu di situ." Kemudian, Mama mematikan kompor. Biarlah gorengannya terendam minyak di sana selagi dia mengambilkan baju untuk putri kesayangannya itu. Daripada Kinara kelamaan di kamar mandi dan jadi masuk angin, dia juga yang akan repot nantinya.
Sembari menunggu Mama mengambilkan baju ganti, Kinara masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dia menutup closet lalu duduk di atasnya. Dalam hitungan detik saja, dia sudah kembali melamun. Kembali terpikirkan bagaimana cara untuk meminta maaf kepada Sekala. Sungguh, dia benar-benar tidak bisa tenang sebelum menyampaikan kata maaf kepada lelaki itu.
"Kayaknya emang harus ajak Mas Kala ketemuan deh hari ini." Gumamnya, sembari bertopang dagu.
"Tapi, alasannya apa? Terus, sopan nggak ya? Lagipula ini hari Sabtu, Mas Kala pasti juga punya kesibukan sendiri nggak sih?"
"Ih, tapi gimana dong? Masa harus nunggu hari Senin, sih? Itu pun nunggu sore?"
"Nggak, nggak bisa. Harus segera, Nara. Harus segera."
"Apanya yang segera?"
"Allahu Akbar!" Kinara nyaris terjungkal dari posisinya duduk ketika Mama tiba-tiba saja sudah berdiri menjulang di hadapannya, menyodorkan pakaian ganti dengan tampang tak berdosa.
Saking fokusnya dia berdiskusi dengan diri sendiri, dia sampai tidak mendengar ketika Mama membuka pintu kamar mandi dan menyelinap masuk. Padahal, pintu kamar mandi mereka suka bunyi dan itu berisik.
"Mama panggil-panggil kamu dari tadi, tapi kamu nggak nyahut, makanya Mama masuk aja." Mama berusaha membela diri.
"Lagian kamu tuh kebiasaan banget bengong di kamar mandi, kesambet setan baru tahu rasa!" omel Mama. Biasa, senjata para ibu-ibu untuk menyerang balik anak-anak mereka supaya dia tidak menjadi pihak yang bersalah. Kinara sudah hafal sekali soal itu.
"Kinara bukan lagi bengong, Mama. Tapi lagi mikir," ucap Kinara. Sambil bersungut-sungut, dia mulai mengenakan bajunya.
"Mikir apa di kamar mandi? Bukannya ketemu solusi, yang ada badan kamu dilihatin sama setan-setan yang ada di sini." Setelah mengatakan itu, Mama ngeloyor begitu saja keluar dari kamar mandi, meninggalkan Kinara yang mendumal seorang diri karena Mama terus-menerus menyebut soal setan. Seperti tidak tahu saja kalau anaknya ini penakut.
"Ini kalau setan-setan bisa ngomong, mereka bakal kesel nih karena dibawa-bawa terus namanya." Ocehnya, kemudian segera melesat keluar dari kamar mandi setelah selesai mengenakan pakaian.
...****************...
"Aku tadi nggak sholat subuh," aku Kinara, usai menelan suapan terakhir dari makan siangnya.
__ADS_1
Mama dan Papa cuma manggut-manggut saja, seolah itu bukan hal yang terlalu mengejutkan.
"Mama udah gedor-gedor pintu kamar kamu, tapi kamunya nggak bangun. Ya udah, Mama pikir mungkin kamu memang lagi haid makanya nggak sholat subuh." Dengan suaranya yang kelewat santuy, Mama menjelaskan.
"Serius pintu kamar aku digedor-gedor?" Kinara terkejut mendengarnya. Apa iya dia benar-benar se-nyenyak itu tidurnya?
Mama manggut-manggut. "Bukan cuma Mama, Lestari juga. Pagi-pagi dia lari-larian ke sini cuma buat ngasih kamu jagung rebus yang dia beli di pasar sepulang jualan, tapi kamunya nggak bangun-bangun, beneran kayak orang mati."
"Terus, nggak coba dicek gitu? Dobrak kek pintu kamar aku, siapa tahu aku beneran mati?" celetuk Kinara asal.
"Udah Papa cek. Papa ngintip kamu dari jendela kamar. Pas Papa lihat kamu masih napas, ya Papa pergi." Papa, tidak kalah santainya dengan Mama ketika menjelaskan. Bahkan, lelaki itu sempat-sempatnya menyuapkan sepotong tempe goreng, padahal sebelumnya sudah mengeluh kenyang.
"Kenapa harus muter jauh buat ngintip ke jendela? Kenapa nggak didobrak aja pintunya?" cerocos Kinara lagi, masih tidak habis pikir kenapa Papa harus repot-repot pergi ke samping rumah untuk mengintip lewat jendela kamar.
"Kalau pintunya didobrak, nanti rusak. Kalau rusak, harus dibenerin. Kalau mau benerin, harus pakai uang. Kalau pakai uang, harus kerja lebih keras lagi. Kalau harus kerja-"
"Stop!" Kinara memotong sebelum Papa makin nyerocos.
"Oke, oke. Kinara Paham." Dia angguk-anggukkan kepala demi meyakinkan Papa bahwa dia memang sudah paham apa maksudnya.
"Ya, oke." Sahut Papa, dengan gaya songong yang entah boleh belajar dari mana.
Kinara memutar bola mata malas, lalu segera bangkit dari kursi dan mengangkut piring-piring kotor bekas makan mereka ke bak cuci piring.
Mama menyusul tidak lama kemudian, berdiri di sisi tubuhnya ketika dia sedang menuangkan sabun ke spons cuci piring.
"Habis ini, kita ngobrol bentar di ruang tamu, ya, Ra." Bisik Mama. Dekat sekali ke telinganya.
Kinara menghentikan kegiatannya sebentar, hanya untuk menoleh dan menemukan Mama sedang menatap serius ke arahnya.
"Soal apa?" tanyanya.
"Nanti aja," Mama menepuk-nepuk pelan bahunya, kemudian berlalu dari sana, meninggalkan tanda tanya besar yang mulai mengerubungi kepala.
__ADS_1
"Soal apa, sih? Sok misterius banget, heran." Gerutunya, lalu kembali pada kegiatannya mencuci piring.
Bersambung