
Sesampainya di rumah, Kinara disambut oleh Papa dan Atha yang langsung berlari tergopoh-gopoh menghampirinya begitu dia menjejakkan kaki ke tanah.
Papa meraih lengannya, dalam sekejap mata laki-laki itu telah fokus meneliti setiap sudut tubuhnya untuk memeriksa apakah ada bagian tubuhnya yang terluka.
Sedangkan Atha cuma bisa menatap khawatir tanpa berani bergerak lebih dekat. Penyesalan itu masih terlihat jelas dari sorot matanya, tetapi Kinara berusaha mengabaikannya untuk saat ini. Karena sakit di hatinya harus diurusi lebih dulu.
"Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang? Kok nggak ngabarin Papa sama Mama?" cecar Papa setelah tidak menemukan luka fisik di tubuh putrinya.
Karena tidak ingin membuat Papa semakin khawatir, Kinara berusaha mengulaskan senyum meskipun sebenarnya dia sudah ingin menangis lagi sekarang. Kehadiran Atha di sini bukanlah sesuatu yang baik, yang justru membuat suasan hatinya semakin tidak keruan.
"Maaf, tadi Nara main ke rumah teman terus keasikan ngobrol, jadi lupa ngabarin. Hape Nara juga mati, habis baterai." Bohongnya. Padahal ponsel miliknya memang sengaja dimatikan supaya Atha tidak terus-menerus meneleponnya. Dia juga tidak ingin mendapatkan telepon yang sama dari Dahayu, karena lebih daripada Atha, gadis itu pasti akan berusaha lebih keras untuk mencari keberadaannya.
"Ke rumah teman yang mana?" Atha yang sedari tadi diam akhirnya berani bersuara.
Kinara melirik sekilas ke arah Atha kemudian menarik lengan Papa untuk menuju ke dalam rumah setelah menjawab pertanyaan Atha singkat.
"Ada, kamu nggak kenal."
Kinara dan ayahnya sudah mencapai pintu depan, tetapi Atha masih tidak bisa menyusul karena kakinya tiba-tiba saja terasa kaku. Atau barangkali, dia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk berada di jarak dekat dengan gadis itu.
Sebelum tubuh Kinara dan Papa benar-benar menghilang di balik pintu, Kinara mengentikan langkah dan mengisyaratkan kepada Papa untuk masuk lebih dulu. Papa menurut, setelah menoleh sebentar ke arah Atha, lelaki itu pun bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Setelah Papa masuk, Kinara membalikkan badan. Sekuat tenaga dia tahan emosi agar tidak kembali menguasai dirinya. Sebab, dia tidak ingin menguras energinya untuk marah-marah ataupun menangis, apalagi kalau dia harus melakukannya di depan pemuda ini. Big no.
"Udah malam, kamu pulang aja." Katanya dengan nada sedatar mungkin. Dia mengatakan itu tanpa menatap mata Atha sama sekali, karena kalau dia melakukannya, yang ada air mata yang sudah susah payah dia tahan pasti akan segera berhamburan keluar.
Tanpa menunggu jawaban Atha, Kinara membalikkan badan menunggungi pemuda itu. Lalu dia menutup pintu rapat-rapat dan langsung memutar kunci.
Setelahnya, Kinara menghabiskan waktu yang cukup lama terdiam dengan punggung yang menempel di pintu, menarik dan membuang napas berkali-kali sembari terus mengatakan kepada dirinya untuk tidak menangis lagi.
Karena, apa yang perlu ditangisi dari dua orang yang ternyata tidak sebaik itu kepada dirinya? Tidak ada. Seharusnya Kinara bersyukur karena Tuhan segera memperlihatkan kepada dirinya seperti apa rupa dua orang itu yang sesungguhnya, sebelum perasaannya semakin jauh dan harapannya semakin melambung tinggi.
Sampai kemudian, Mama muncul dari balik pintu dapur dan menghampirinya. Wanita itu menatapnya khawatir, tetapi tidak bertanya apa-apa dan cuma menyodorkan gelas berisi air putih ke arahnya lalu merebut kantong kresek dan tas yang dia bawa.
Kinara menerima gelas itu dan langsung meneguk air di dalamnya sampai setengah tandas. "Makasih, Mama." Katanya, pasrah saat Mama meminta gelas itu lagi kemudian meletakkannya di atas meja ruang tamu.
"Udah," Kinara menjawab pelan. Tadi, saat di rumah Andanu, dia sempat memasukkan dua sendok nasi ke dalam mulutnya. Bukankah itu sudah bisa dikatakan sebagai makan? Jadi dia tidak sedang berbohong kan kepada Mama?
"Ya udah, kamu istirahat sekarang." Mama menuntun Kinara menuju kamarnya, tetapi gadis itu menahan tangannya.
"Itu baju kotor, Nara mau cuci dulu." Kata Kinara seraya menunjuk kantong kresek di tangan Mama.
Mama mengikuti arah jari telunjuk Kinara sebentar, kemudian kembali menatap putrinya sambil mengulaskan senyum tipis. "Biar Mama aja. Kamu istirahat aja sekarang." Lalu Mama kembali mendorong pelan punggung Kinara dan gadis itu menurut saja tanpa memberikan perlawanan apa-apa.
__ADS_1
"Kalau butu apa-apa, langsung panggil Mama, oke?" kata Mama seraya meletakkan tas Kinara ke atas meja belajar.
Kinara cuma mengangguk sambil berusaha mengulaskan senyum. Padahal senyum palsu itu sama sekali tidak berguna karena sebagai seorang ibu, Mama jelas tahu kalau Kinara tidak sedang baik-baik saja.
Meksipun demikian, Mama tetap membalas senyuman Kinara kemudian segera berlalu meninggalkan kamar Kinara setelah melabuhkan usapan halus di kepala putrinya itu.
Setelah Mama pergi, Kinara berjalan gontai menuju kasur. Dia mendudukkan dirinya di pinggiran, menatap sendu ke arah tembok kamarnya yang seperti sedang memutarkan kembali kejadian sore tadi.
Rasanya masih seperti mimpi. Mimpi buruk yang dia harap akan selesai ketika dia membuka mata dan kembali ke alam sadarnya.
Padahal pagi tadi mereka masih baik-baik saja. Dia masih bisa membelai lembut kepala Atha seperti yang biasa dia lakukan untuk membantu pemuda itu melenyapkan kesedihannya. Dia masih bisa menggandeng tangan pemuda itu, berpikir bahwa mereka tidak akan pernah terpisahkan jika bukan karena maut yang datang menjemput.
Padahal mereka baik-baik saja, tapi kenapa hal ini bisa terjadi?
Apa yang salah? Di mana letak kekeliruan yang telah dia perbuat sehingga dirinya berakhir disakiti oleh dua orang yang benar-benar dia percaya?
Tidak sengaja? Mabuk? Kinara bahkan tidak bisa menemukan sedikit pun pembenaran untuk memaklumi apa yang telah Atha dan Dahayu perbuat.
Sebanyak apa pun dia meyakinkan diri dan mencoba memberikan pemakluman, dia tetap tidak bisa. Karena, Kinara percaya bahwa semua hal buruk itu bisa saja dicegah kalau Atha dan Dahayu memang mau. Kalau dua orang itu memang tidak pernah berniat untuk melangkah mendekat kepada satu sama lain.
Sekali lagi, apa yang salah?
__ADS_1
Tanpa terasa, air mata Kinara jatuh lagi. Dia menangis, terisak sejadi-jadinya tanpa tahu bahwa Mama masih ada di depan kamarnya. Wanita itu belum beranjak, dan kini cuma bisa menahan tangisnya sendiri agar tidak pecah saat mendengar putri semata wayangnya menangis meraung-raung penuh kesedihan.
Bersambung