
"Saya minta kamu off biar bisa istirahat di rumah, terus kenapa malah keluyuran ke sini?" sambil mengomel, Sekala meletakkan satu cup Vanilla Latte di atas counter, tepat di hadapan Kinara.
"Saya datang sebagai customer, Mas Kala. Jadi, Mas Kala nggak boleh marah-marah sama saya." Cup Vanilla Latte disambar, dan isinya langsung disedot sembari memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Sekala yang semakin cemberut.
"Mana ada customer yang duduknya di belakang meja kasir?" cibir Sekala. Dia memicing, menatapi Kinara yang duduk anteng di belakang meja kasir, yang semula adalah tempatnya.
"Loh, saya ini VVIP."
Sekala memutar bola mata jengah. Gadis cerewet satu ini memang keras kepalanya luar biasa. Kalau ada nominasi untuk kategori manusia paling keras kepala sejagad raya, Sekala yakin Kinara akan langsung jadi pemenangnya.
Malas mendebat Kinara lebih jauh, Sekala memilih untuk menarik kursi lain ke dekat coffee maker kemudian duduk di atasnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Matanya masih terus mengawasi Kinara, mengantisipasi aksi apapun yang akan gadis itu lakukan selanjutnya.
"Mas Kala diajakin main tuh sama Lestari," Kinara bersuara setelah sekian lama, setelah cup Vanilla Latte miliknya menjadi setengah kosong.
"Lestari atau kamu?" todong Sekala, membuat Kinara seketika berdecak.
"Lestari." Tegasnya, setelah menghela napas kasar dan meletakkan cup Vanilla Latte ke atas counter. "Mainan yang waktu itu Mas Kala beliin belum dia sentuh sama sekali, katanya harus dimainin pertama kali sama Mas Kala." Sambungnya, tatapannya berubah serius dalam sekejap.
"Hari Sabtu saya ke rumah," ucap Sekala setelah memakai waktunya untuk berpikir sebentar demi mencocokkan jadwal, mengingat-ingat apakah dia memiliki janji lain hari Sabtu besok.
"Ke rumah Lestari?"
"Ke rumah Andanu," celetuk Sekala, membuat Kinara mendengus sebal.
Tahu bahwa mood gadis di hadapannya ini masih belum sepenuhnya membaik sejak insiden kemarin, Sekala buru-buru meralat ucapannya.
"Ke rumah kamu, Kin." Katanya, dengan suara yang jauh lebih lembut ketimbang sebelumnya. "Lestari kan biasanya ada di sana," imbuhnya supaya Kinara tidak menyalahartikan ucapannya lagi.
Sebelum Kinara membuka mulutnya untuk menyahut, sebuah suara lain datang dari luar counter. Dia dan Sekala serempak menoleh, di mana sudah ada Dimas dan Jeremy yang berdiri bersebelahan di samping counter. Dua pemuda itu menatap dirinya dan Sekala bergantian, kemudian si penyumbang suara yang tadi, Jeremy, kembali membuka mulutnya.
"Gue sama Dimas juga mau ikut ke rumah lo, boleh?" tanya Jeremy. Kinara menangkap pergerakan mencurigakan ketika Jeremy melirik ke arah Sekala selagi senyumnya tiba-tiba saja melebar secara perlahan.
Hal itu membuatnya kembali mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang Jeremy dan Sekala obrolkan sebelum dia datang tadi. Karena setelah kedatangannya, Sekala langsung menyeret Jeremy masuk ke dapur dan kembali lagi ke counter dengan tanpa jawaban untuk pertanyaan yang sudah ia lontarkan kepada lelaki itu.
"Ya ... boleh-boleh aja, sih," jawab Kinara. Ya karena memang tidak ada yang salah. Sah-sah saja kalau Jeremy dan Dimas juga mau main ke rumahnya, mereka kan memang rekan kerja dan hubungan mereka juga sudah lumayan akrab.
Namun, tidak seperti dirinya yang senang-senang saja kalau Jeremy dan Dimas betulan mau berkunjung, Sekala malah mendengus samar sebelum akhirnya berkata, "Nggak." Dengan nada super ketus dan raut wajah yang jutek abis.
"Ah, Mas Sekala nggak asik." Cibir Jeremy, sementara Dimas masih tidak bersuara sama sekali.
"Kamu berisik, Jer. Saya nggak mau kamu jadi sering nyamperin Kinara ke rumahnya dan bikin keributan." Sekala beralasan.
Tentu saja alasan itu sudah tidak akan kedengaran masuk akal di telinga Jeremy. Terbukti saat pemuda itu malah tersenyum jahil sebelum kembali membuka mulutnya.
"Bilang aja Mas Sekala cemburu. Iya, kan?" godanya.
__ADS_1
Sekala melotot pada Jeremy, kemudian melirik Kinara yang tengah menatapnya penuh tanda tanya.
"Kalau ngomong dipikir dulu, Jer. Jangan sampai jadi fitnah." Sekala menekankan setiap kata yang dia ucapkan, tetapi Jeremy malah cengengesan saja sebagai tanggapan.
"Kita jadi ke supermarket nggak, sih?" Dimas, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara.
"Supermarket?" Sekala keheranan. "Mau ngapain?" tanyanya lagi.
"Belanja beberapa bahan yang habis," Dimas menjelaskan. Singkat, padat dan jelas.
"Udah hampir jam sembilan, besok aja." Cegah Sekala. Letak supermarket tempat dia biasa berbelanja bahan-bahan baku lumayan jauh dari sini, bisa memakan waktu hampir satu setengah jam untuk bolak-balik. Dia tidak ingin karyawannya harus melewatkan jam pulang hanya untuk memenuhi stok bahan baku di dapur mereka.
"Nggak apa-apa, Mas, sekarang aja. Soalnya saya besok mau ijin datang agak siang, ada urusan." Dimas kembali bersuara.
"Ya nggak apa-apa kalau kamu mau datang siang, biar saya sama Jeremy yang belanja. Atau saya sendiri juga nggak masalah. Kamu kasih aja ke saya daftar belanjanya." Sekala masih teguh dengan keinginannya.
"Saya jalan sekarang aja, Mas." Kemudian, Dimas bergerak mendekat ke arah Jeremy dan langsung menarik lengan baju pemuda itu. "Ayo, Jer, jangan gosip mulu kerjaan lo." Katanya, langsung menyeret Jeremy pergi meninggalkan Sekala dan Kinara yang kemudian dilingkupi keheningan panjang sampai mereka menghilang di balik pintu cafe.
"Mas," panggil Kinara.
Sekala menoleh, tetapi dia tidak menyahuti panggilan itu.
"Maksud omongannya Mas Jer tadi apa?" tanya Kinara.
"Omongan yang mana?" Sekala pura-pura tidak tahu.
Rentetan pertanyaan dari bibir Kinara itu terdengar seperti dengungan lebah di telinga Sekala, membuatnya merasa pusing dan berkunang-kunang hanya dalam waktu singkat.
"Mas?" tagih Kinara. Seperti bocah yang sudah dijanjikan akan dibelikan mainan baru, Kinara menatap Sekala dengan penuh pengharapan bahwa lelaki itu akan segera menjawab pertanyaannya.
Namun, alih-alih mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Kinara malah melihat Sekala bangkit dari kursinya dan berjalan santai keluar dari counter dengan satu tangan yang dimasukkan ke saku celana.
Sebelum sosok Sekala menghilang di balik pintu ruang staf, lelaki itu berhenti sejenak, menoleh ke arahnya kemudian berkata, "Omongan Jeremy nggak usah kamu dengerin, kayak nggak tahu aja kalau dia suka asal ngomong." Kemudian lelaki itu melanjutkan langkah, meninggalkan Kinara yang justru semakin merasa curiga.
"Yakin banget ada yang disembunyikan dari aku. Heh, menyebalkan." Kinara menggerutu sendirian.
...****************...
Gara-gara Dimas dan Jeremy nekat pergi belanja, Sekala jadi harus menunggu lebih lama di cafe. Meksipun dia telah memberikan kunci cadangan kepada Jeremy, tetapi Sekala selalu tidak pernah mau meninggalkan dua anak manusia itu menjadi orang terakhir yang ada di cafe.
Bukan. Bukan karena dia tidak percaya pada Jeremy dan Dimas. Dia tidak mau mereka tinggal lebih lama karena dua anak manusia itu pasti akan mengerjakan lebih banyak hal dan berakhir pulang ke kos jauh lebih lambat ketimbang jam pulang yang seharusnya.
Meskipun Jeremy terkenal bermulut lemes dan Dimas kelihatan jutek, tapi mereka sebenarnya sangat rajin bekerja. Itulah yang membuat Sekala senang mempekerjakan mereka meskipun ketika datang ke sini, mereka cuma bermodalkan KTP tanpa ijazah dan syarat-syarat melamar pekerjaan yang lainnya.
Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Namun sama sekali belum ada tanda-tanda kedatangan Jeremy dan Dimas.
__ADS_1
Dan yang membuatnya lebih gusar lagi adalah keberadaan Kinara di cafe bersamanya saat ini. Gadis itu bersikeras untuk tetap tinggal, menemaninya dengan dalih ingin membantu memindahkan barang belanjaan ke lemari penyimpanan ketika Jeremy dan Dimas sampai.
Sekala menoleh ke samping. Di salah satu meja, Kinara meletakkan kepalanya. Gadis itu tadinya cuma asal bersandar saja sembari memainkan ponselnya, tetapi karena mungkin matanya sudah lelah, dia pun jatuh tertidur.
"Kamu kalau lagi tidur beda ya, Kin. Anteng banget kayak bayi," gumamnya. Dipandanginya wajah polos Kinara yang sedang terlelap meskipun dengan posisi duduk yang sangat tidak nyaman. Beberapa helai rambut gadis itu yang keluar dari ikatan menjuntai ke depan sehingga menutupi sebagian wajahnya.
Awalnya cuma memandangi, lama-kelamaan Sekala jadi punya keinginan untuk menyentuh wajah polos itu dengan jemari tangannya yang bahkan sudah bersiap diulurkan, entah sejak kapan.
Tetapi, Sekala bukan tipikal yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia bahkan tidak akan menyentuh siapapun secara sembarangan ketika orang itu sedang dalam keadaan sadar ataupun tidak.
Jadi, jari telunjuk yang sudah hampir sukses menyentuh hidung mancung Kinara praktis berhenti hanya sekitar tiga senti sebelum kulit mereka benar-benar bersentuhan.
Meskipun demikian, telunjuk itu tidak lantas ditarik kembali, malah dibiarkan menggantung di udara selagi matanya semakin lekat menatap wajah Kinara yang selalu tampil polos tanpa make up.
"God, she's so damn beautiful." Sekala bergumam.
Sepanjang hidupnya, ada banyak sekali gadis cantik yang telah dia temui. Dari yang sekadar cantik sampai yang benar-benar cantik--definisi dari cantik yang akan membuat orang-orang langsung merasa terkagum dan bahkan tidak percaya bahwa manusia jenis itu memang ada di dunia.
Tetapi, di mata Sekala, cantiknya Kinara itu berbeda. Ada satu sisi dari gadis itu yang belum pernah Sekala temui di diri gadis-gadis lainnya. Sisi yang semakin hari semakin membuat Sekala terpikat, dan berani mengakui dengan penuh kesadaran diri bahwa dia telah jatuh hati pada gadis ini. Meskipun kenyataannya, dia masih belum memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan itu kepada Kinara secara langsung.
"God ... " Sekala berbisik. Pelan sekali, sehingga mungkin cuma dia dan Tuhan yang benar-benar bisa mendengar bisikannya itu. "I want her so bad, can I?"
Untuk pertama kalinya dalam hidup, dia merasa benar-benar menginginkan sesuatu.
Sekala telah tenggelam dalam pesona seorang Kinara Adorelia, sehingga dia tidak akan tahu bahwa saat ini, Jeremy dan Dimas sudah berdiri di depan pintu cafe, menyaksikan bagaimana dia mengagumi Kinara yang sedang terlelap damai dalam tidurnya.
"Apa gue bilang, Mas Sekala tuh emang suka sama Kinara." Jeremy mulai membanggakan diri sendiri. Merasa hebat karena tebakannya memang tidak pernah salah.
"Tapi Kinara enggak," sela Dimas.
Jeremy berdecak, melirik sinis ke arah sohibnya itu lalu kembali membuka suara.
"Bukan enggak, tapi belum." Ralatnya. "Lo lihat aja, nggak akan lama lagi, Kinara juga bakalan ngerasain yang sama kayak Mas Sekala."
"Sok tahu, lo."
"Yeu, nggak percayaan banget sih dibilangin. Nih, ya, lo boleh potong lidah gue kalau sampai Mas Sekala dan Kinara nggak jadian."
"Deal," potong Dimas. Kemudian, pemuda itu nyelonong masuk ke dalam cafe, padahal Jeremy sudah wanti-wanti supaya mereka diam dulu di luar cafe sampai Sekala selesai mengagumi Kinara.
Karena pintu cafe dibuka, lonceng di atasnya praktis berbunyi nyaring. Hal itu membuat Sekala tersentak dan buru-buru menarik kembali tangannya lalu menatap ke arah pintu seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Oh, udah balik kalian?" basa-basi itu terlontar secara otomatis, berbarengan dengan gerakan tubuhnya yang refleks bangkit dan segera menghampiri Dimas yang terlihat kesusahan membawa dua kantong belanja berukuran besar di kedua tangannya.
"Saya aja yang bawa ke dapur," Sekala merebut dua kantong belanja itu, dan Dimas sama sekali tidak berusaha mencegahnya.
__ADS_1
Kini, dengan dua kantong belanja di tangan kanan dan kiri, Sekala berjalan menuju dapur. Ketika dia melewati meja di mana Kinara masih tertidur, dia memperlambat langkah dan melirik ke arah gadis itu sebentar sebelum melanjutkan kembali langkahnya setelah berbisik lirih di dalam hati, Saya mau dia, Tuhan. Tolong berikan jalan.
Bersambung