
Kinara cuma bisa diam mendengarkan setiap penjelasan yang keluar dari bibir Atha. Sementara Dahayu sibuk menangis sejak pertama kali Atha membuka mulutnya untuk memulai penjelasannya sampai kini mereka telah berada di akhir cerita.
Terlalu banyak hal yang wira-wiri di kepala Kinara sekarang, membuatnya terlalu sulit untuk menentukan yang mana dulu yang harus dia proses lebih lanjut di dalam otaknya.
Soal Atha yang tidak sengaja bertemu dengan Dahayu ketika mereka ternyata sama-sama liburan di Jogja, Kinara bisa mengerti. Memang, dunia ini sempit, sehingga kebetulan semacam itu bisa saja terjadi.
Tetapi, sampai di bagian ketika Atha memutuskan untuk menemani Dahayu minum di kamar hotel, Kinara sudah tidak bisa lagi menemukan alasan masuk akal mengapa lelaki itu melakukannya.
Bukankah sejak awal mereka berpacaran, Kinara sudah bilang kalau dia tidak suka laki-laki yang merokok dan minum alkohol? Jadi, apakah selama ini Atha tidak menyentuh dua hal itu hanya semata-mata supaya bisa diterima olehnya, dan pemuda itu diam-diam berteman akrab dengan dua hal paling dia benci itu?
"Maafin gue, Ra."
Kinara menatap tangannya sendiri yang kini digenggam erat oleh Dahayu. Gadis itu bersimpuh di hadapannya, menumpahkan tangis yang entah kapan akan reda itu di pangkuannya.
"Gue nggak ... gue juga nggak mau ini terjadi. Gue ..." kalimat Dahayu terus terputus karena isakan yang semakin lama semakin menjadi.
Sejujurnya, Kinara tidak tahu harus bereaksi apa sekarang. Dia sedih, marah, kesal dan kecewa. Tetapi, karena perasaan itu terlalu bercampur aduk di dalam hatinya, Kinara bahkan tidak bisa memutuskan perasaan mana yang harus terlebih dulu dia validasi.
Apakah dia harus lebih dulu meluapkan emosi marahnya dengan berteriak di depan wajah Dahayu dan Atha secara bergantian? Atau dia harus lebih dulu mengeluarkan kesedihannya dengan mulai meneteskan air mata?
Tapi masalahnya, baik dia harus marah ataupun menangis, tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan. Sekeras apa pun mencoba untuk mendahulukan perasaan mana yang harus dia wujudkan dalam bentuk aksi, Kinara tetap menemukan dirinya hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Ini semua salah aku, Ra. Aku seharusnya bisa menahan diri untuk nggak menyentuh minuman itu."
__ADS_1
Kini, Kinara mendongak. Dia menemukan Atha yang berdiri menjulang di hadapannya tengah menunduk seraya menatapnya sendu. Kinara tahu, lelaki itu menyesal. Dia tahu Atha tidak pernah bermaksud untuk sengaja melukai hatinya dengan cara seperti ini. Hanya saja, alasan 'tidak sengaja karena mabuk' yang Atha dan Dahayu lontarkan tetap tidak bisa mendatangkan pemakluman dari dirinya.
Intinya sekarang adalah mereka sudah melakukan hubungan **** di luar nikah, dan Dahayu sedang mengandung anak Atha. Biar bagaimanapun juga, anak itu tidak berdosa. Janin yang sedang hidup di perut Dahayu itu tidak boleh berakhir menyedihkan dengan menanggung perbuatan ayah dan ibunya. Atha dan Dahayu harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat, sekalipun mereka berdalih bahwa itu adalah sebuah kesalahan tidak disengaja.
Maka, setelah memenuhi rongga paru-parunya dengan pasokan oksigen yang banyak, Kinara pelan-pelan melepaskan tangannya dari genggaman Dahayu.
"Jangan minta maaf sama aku," ucapnya, dengan tatapan lurus ke manik mata Dahayu.
"Minta maaf sama anak di dalam perut kamu, karena kamu sempat berpikir untuk membuang dia dan merenggut hidupnya bahkan sebelum dia lahir ke dunia." Usai mengatakan itu, Kinara bangkit. Dia tidak menghiraukan Dahayu yang kembali menangis sejadi-jadinya.
Kinara berjalan mendekati Atha, menatap pemuda itu dengan hati yang mulai terasa ngilu.
"Mulai hari ini, nggak ada lagi hubungan antara Kinara Adorelia dengan Atharya Danapati. Mereka berdua resmi putus." Kata Kinara, dengan kegetiran yang mulai terasa memenuhi dadanya.
"Aku nggak mau, Ra. Aku sayang kamu. Aku butuh kamu. Aku-"
"Anak di dalam perut Dahayu lebih butuh kamu." Sela Kinara cepat. Kemudian, Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Atha.
Setelah melirik sekilas ke arah Dahayu yang tersungkur di lantai dengan tangis yang tak kunjung reda, Kinara kembali menatap Atha dengan mata yang mulai berair.
"Kamu udah menghancurkan hati aku, Tha. Jangan sampai kamu juga menghancurkan hati Dahayu dan anak yang ada di dalam perutnya, yang bahkan nggak bisa memilih untuk hidup di rahim siapa."
Karena sadar suasana hatinya sudah mulai tidak keruan, dan tubuhnya mulai bisa bereaksi atas kesedihan yang memenuhi dadanya, Kinara pun memutuskan untuk melenggang pergi dari sana. Karena setidaknya, kalau dia harus menangis ataupun berteriak, dia tidak ingin melakukannya di sini. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan dua orang yang dia pikir, akan menjadi orang terakhir yang punya kemungkinan untuk menyakiti hatinya.
__ADS_1
Langkah Kinara terayun lebar, sepenuhnya mengabaikan teriakan Atha yang memanggil-manggil namanya.
Setelah beberapa meter berjalan menjauhi ruang kelas Atha, Kinara bahkan menyeret kakinya untuk berlari meskipun rasanya begitu berat, seolah kakinya telah dipasangi rantai dan diberi beban ribuan ton.
Hujan masih turun meskipun tidak sederas tadi. Payung yang dipinjamkan Andanu sudah tidak ada di tangannya lagi, tertinggal di ruang kelas dan dia bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan tentang benda itu.
Jadi, Kinara dengan nekat menerobos hujan. Mengabaikan tatapan yang dilayangkan oleh beberapa mahasiswa di fakultas Atha yang masih tampak berkeliaran di koridor sembari menunggu hujan reda.
Bersamaan dengan air hujan yang mulai membasahi seluruh tubuhnya, air mata Kinara mulai jatuh. Setelah menahannya, gadis itu akhirnya meluapkan semua kesedihannya ke dalam bentuk air mata yang mengalir deras bagai keran air yang rusak.
Semakin jauh kakinya berlari, Kinara merasakan napasnya semakin tersengal-sengal. Karena lelah, juga karena tangisnya yang semakin menjadi-jadi.
Sampai ketika dia akhirnya tiba di depan gerbang universitas, langkah Kinara terhenti. Tiba-tiba saja, dia merasakan kakinya lemas dan tubuhnya seketika jatuh tersungkur di atas tanah.
Kinara menangis sejadi-jadinya, menepuk dadanya berulang kali, berharap hal itu bisa membantunya meredakan sesak. Namun nihil, yang ada, sesak itu semakin terasa menyiksa.
Entah berapa lama Kinara membiarkan dirinya menangis di bawah guyuran hujan. Sampai tiba-tiba, dia merasakan tubuhnya tidak lagi terkena tetesan air hujan.
Mulanya Kinara pikir hujannya sudah reda, tetapi saat dia mendongakkan kepala, dia menemukan seorang pemuda berdiri di hadapannya sambil memegangi payung. Pemuda itu membiarkan dirinya sendiri basah, hanya demi memastikan tubuh Kinara tidak lagi terkena hujaman air hujan.
"Gue ada tempat yang nyaman buat nangis, lo mau ke sana?"
Mendengar itu, tangis Kinara bukannya mereda tetapi justru semakin menjadi-jadi. Bahunya bergetar hebat, membuat Andanu yang masih merelakan dirinya basah cuma bisa menghela napas berkali-kali.
__ADS_1
Bersambung