
Acara perayaan sederhana itu telah usai, meninggalkan euforia yang kemudian akan mereka simpan di dalam kepala masing-masing sebagai sebuah kenangan yang akan mereka lihat lagi beberapa tahun ke depan.
Orang-orang yang turut serta menyukseskan acara telah satu persatu pamit pulang, menyisakan Astari, Andanu, Kinara dan Sekala. Mereka telah sepakat untuk pulang paling akhir demi membereskan sisa-sisa pesta.
Tidak banyak yang harus dikerjakan sebenarnya, mereka cuma perlu menata kembali meja dan kursi, mencopot balon-balon gemas dari dinding Orion dan mencuci beberapa peralatan makan yang tadi sempat digunakan.
Keempatnya berbagi tugas, sehingga pekerjaan yang memang hanya sedikit itu bisa selesai dalam waktu singkat.
"Makasih, ya." Kata Sekala, kepada Astari yang membantunya membuang sampah.
Sekarang pukul delapan malam, langit sudah gelap karena kebetulan juga mendung. Tetapi kini, hati Sekala begitu cerah setelah menghabiskan waktu dengan orang-orang baik di Orion.
"No prob," Astari menyunggingkan senyum.
Setelah sampah dibuang ke tong besar di sisi kiri bangunan cafe, mereka berjalan beriringan kembali ke dalam cafe, di mana Andanu dan Kinara sedang beristirahat sambil menenggak air minum.
Baru saja satu kaki Sekala melangkah melewati pintu, dia terhuyung karena seseorang menarik bajunya dari belakang. Tanpa sempat mencerna situasinya, Sekala kemudian mendapati tubuhnya sudah jatuh ke lantai cafe bagian luar. Punggungnya terasa nyeri, tapi pukulan yang mendarat di wajahnya setelah itu juga tidak kalah ngilu.
"Bajingan!" seorang lelaki duduk di atas perutnya, masih mengepalkan tangan di udara setelah melayangkan satu tinju keras yang berakhir membuat wajah tampan Sekala membiru.
Astari yang tadi berjalan lebih dulu, dan sudah hampir sampai ke meja di mana Andanu dan Kinara duduk, praktis berlarian keluar setelah mendengar suara ribut itu.
Namun, langkahnya tidak bisa dibawa lebih jauh ketika dia menemukan sosok lelaki yang kini berada di atas Sekala.
Sekala sudah siap untuk menerima satu tinjuan lagi dengan lapang dada, tetapi saat matanya melihat kehadiran Astari—juga Kinara dan Andanu, Sekala memberanikan diri menahan lengan laki-laki itu.
"Jangan di sini, Mas. Ayo, ke ruangan aku aja," bisiknya pada lelaki itu.
Awalnya, si lelaki tidak peduli dan masih bersikeras untuk melayangkan pukulan. Tetapi saat Sekala mengode melalui tatapan mata, memberi tahu bahwa ada enam pasang mata yang kini mengawasi mereka, laki-laki itu akhirnya mengalah.
Sambil mengumpat, laki-laki itu bangkit dari atas perut Sekala. Tatapannya masih dipaku pada sosok yang terlihat susah payah untuk bangkit itu.
"Buruan!" seru si laki-laki, yang kemudian berjalan lebih dulu ke dalam cafe, melewati tiga orang yang berdiri di ambang pintu begitu saja.
Emosi telah menguasai dirinya, sehingga yang ada di dalam pandangannya hanyalah Sekala dan segala rasa kesalnya pada lelaki itu. Membuatnya tidak menyadari bahwa perempuan yang bahunya sempat dia tabrak ketika dia menerobos masuk adalah seseorang yang dia kenal, yang dulu pernah memiliki sejarah panjang dengan dirinya.
"Brengsek!" Andanu mengumpat. Dia hendak menyusul si laki-laki yang sudah menghilang di balik pintu, namun Astari dengan cepat menahan lengannya.
Astari menggeleng pelan. "Jangan ikut campur, Nu. Biarin Sekala yang beresin," bisiknya.
__ADS_1
Kinara yang berdiri di tengah-tengah mereka sebenarnya tidak terlalu setuju pada pendapat Astari, namun saat matanya menangkap sosok Sekala yang berjalan ke arah mereka dengan sudut bibir yang berdarah, segala protes yang hendak dia layangkan lenyap seketika, tergantikan dengan ocehan khawatir di sepanjang langkahnya menghampiri lelaki itu.
"Pasti sakit," rengeknya, sembari menyentuh sudut bibir dan pipi Sekala pelan-pelan. Dia meringis, merasa seperti luka itu adalah miliknya sendiri.
Di saat seperti ini, Sekala masih bisa tersenyum, membuat Kinara gemas ingin sekali mencubit pipi lelaki itu agar rasa sakitnya bertambah dan dia berhenti tersenyum.
"Semuanya oke, kamu nggak perlu khawatir." Kata Sekala, tangan Kinara yang masih ada di pipinya dia pegang, untuk pertama kalinya dia berani sejauh itu.
"Sekarang, kamu tunggu di sini sama Astari dan Andanu. Biar saya bereskan masalahnya, terus kita pulang."
"Tapi, Mas-"
"Kin," sela Sekala. Tangan Kinara dia turunkan, kemudian dia genggam. "Tolong percaya sama saya." Lanjutnya, dengan tatapan yang kian melembut.
"Tapi janji sama saya, luka Mas Kala nggak akan bertambah setelah keluar dari sana."
Kinara berharap, Sekala akan menganggukkan kepala dan membuat janji kepadanya. Namun, lelaki itu hanya tersenyum dan pelan-pelan melepaskan genggaman tangan mereka, yang membuatnya kemudian sadar bahwa Sekala memang tidak bisa menjanjikan apa-apa.
Keberadaan Sekala yang kini mulai berjalan masuk ke dalam cafe digantikan oleh Astari yang langsung memeluk lengannya, berusaha menenangkan. Sedangkan Andanu masih berdiri di ambang pintu, terlihat berbincang sebentar dengan Sekala sebelum Sekala menghilang dari pandangan.
"Aku takut Mas Kala kenapa-kenapa, Mbak." Lirih Kinara, matanya mulai berair.
Pada akhirnya, yang Astari bisa lakukan cuma terus mengusap-usap bahu Kinara selagi gadis itu berusaha menghentikan laju tangisnya.
Sementara itu, saat Sekala tiba di ruang kerjanya, dia sudah ditunggu oleh laki-laki yang tadi. Di mana laki-laki itu duduk di atas kursi kerjanya, menatap nyalang dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Masuk." Perintah laki-laki itu, seolah dia lah sang pemilik ruangan.
Sekala menuruti perintah itu, melangkah maju dengan berani setelah menutup pintu rapat-rapat.
"Ada perlu apa Mas Saga ke sini?" tanyanya, berusaha tetap tenang meskipun dadanya kembali bergemuruh dan ketakutannya menjadi-jadi sekali lagi.
"Duduk." Laki-laki yang Sekala panggil Mas Saga itu kembali memerintah. Didorongnya single sofa menggunakan kaki, kemudian menggerakkan kepalanya sebagai tanda agar Sekala cepat-cepat duduk.
Kali ini, Sekala menolak dengan sedikit lebih berani. "Aku berdiri aja," ucapnya.
"Keras kepala." Cibir laki-laki tadi, Sagara, usai berdecak kesal atas penolakan Sekala.
"Ada perlu apa, Mas?" Sekala mengulangi pertanyaannya lagi. "Apa sekiranya hal penting itu, sampai Mas Saga sudi menginjakkan kaki ke sini?" sambungnya, meringis setelah mengingat fakta bahwa laki-laki yang merupakan kakaknya itu tidak pernah menginjakkan kaki ke Orion sejak pertama kali tempat ini dibangun.
__ADS_1
"Nyokap gue sakit lagi," ucap Sagara, tatapannya masih tidak melunak barang sedikit, begitu jelas menunjukkan ketidaksukaan terhadap Sekala.
"Aku udah minta tolong Dokter Anne untuk rutin cek kondisi Ibu, jadi-"
"Dia sakit gara-gara lo, bangsat!" tiba-tiba saja, nada suara Sagara naik beberapa oktaf. Lelaki itu bahkan bangkit dari duduknya, menumpukan kedua lengan di atas meja kerja Sekala, menatapnya tajam.
"Semenjak lo kabur dari rumah, nyokap gue jadi sering sakit karena kepikiran sama lo terus!"
"Maaf," lirih Sekala.
"Makan aja kata maaf lo itu biar kenyang." Ketus Sagara, kemudian dia berjalan mendekati Sekala, hanya untuk menunjuk-nunjuk dada yang lebih muda demi menyalurkan emosinya.
"Gue nggak butuh kata maaf yang basi itu, sialan." Bisik Sagara, tepat di depan wajah Sekala. "Balik, dan temuin nyokap gue. Lo udah terlanjur masuk ke dalam hidup kami, jadi nggak usah sok mau jadi pahlawan dengan menjauhkan diri karena itu sama sekali nggak berguna."
"Aku nggak bisa pulang ke rumah itu lagi, Mas. Di sana bukan tempat aku,"
"Memang." Sagara menyela. "Tempat lo memang bukan di sana, tapi di neraka, bareng sama nyokap lo yang udah mati itu."
"Jangan bawa-bawa Bunda," entah mendapatkan kekuatan dari mana, Sekala berani bicara seperti itu kepada Sagara. Padahal seumur hidup, dia terus menundukkan kepala di depan lelaki itu, karena rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Sagara tersenyum miring, lalu mundur dua langkah. "Lo marah karena gue bawa-bawa nyokap lo? Sama, gue juga marah karena lo harus hadir di dunia ini, dan bikin nyokap gue menderita."
"Kelahiran lo adalah bahagia untuk wanita murahan itu. Tapi bagi gue dan nyokap gue, kelahiran lo adalah duka. Adalah bencana yang seharusnya bisa dicegah sedemikian rupa."
Lagi-lagi, Sekala mendengar kalimat itu. Setelah susah payah dia meyakinkan diri bahwa kelahirannya adalah sebuah berkah, lagi-lagi Sagara datang untuk menyadarkan bahwa kehadirannya ke dunia hanyalah sebuah musibah.
Pada akhirnya, Sekala kalah lagi. Pada ucapan Sagara. Pada perasaan tidak berharga. Juga pada rasa bersalah yang seolah tidak ada habisnya.
"Gue nggak peduli bahkan kalau lo mati di jalanan." Sagara kembali bersuara, memecah keheningan yang semula tercipta cukup lama.
"Tapi, nyokap gue peduli. Bahkan kalau dia dihadapkan pada pilihan antara dia harus menyelamatkan gue atau lo, dia pasti akan memilih untuk menukar nyawanya, supaya kita berdua bisa selamat. Sedalam itu nyokap gue sayang sama lo, dan itu bikin gue malah semakin nggak suka sama kehadiran lo."
"Jadi, lo better pulang dan temuin nyokap gue secepatnya, atau gue akan habisin lo dan kirim lo ke neraka."
Kemudian, Sagara melangkah pergi. Namun sebelum dia mencapai pintu, dia berhenti dan berbalik.
"Rumah Sakit Mitra, Ruang Anyelir nomor 3025. Nyokap gue dirawat di sana, dan gue kasih lo waktu 1x24 jam untuk datang. Kalau nggak, gue beneran akan ubrak-abrik hidup lo."
Lalu Sagara melanjutkan langkah, meninggalkan Sekala bersama rasa bersalah yang kembali datang berkali-kali lipat lebih besar ketimbang sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung