
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah melewati beberapa drama, Kinara dan Sekala akhirnya telah sah menjadi sepasang suami istri setelah Sekala mengucapkan ijab kabul dengan lancar dalam satu kali percobaan. Semua hadirin yang menyaksikan jalannya prosesi penyatuan dua anak manusia ke dalam ikatan suci pernikahan itu pun bersorak gembira, turut bahagia atas senyum yang terbit di wajah kedua mempelai.
Berondongan kata selamat dan doa baik telah mereka terima di sepanjang jalannya resepsi yang hanya digelar sederhana. Tamu yang datang tidak lebih dari seratus orang karena baik Sekala maupun Kinara sama-sama ingin megundang hanya orang-orang terdekat yang benar-benar tahu bagaimana perjalanan hidup mereka sampai akhirnya bisa berdiri berdampingan seperti sekarang.
Dan sekarang, ketika serangkaian acara yang melelahkan itu sudah selesai setelah berjalan dengan lancar, Kinara harus merelakan dirinya untuk diboyong oleh Sekala menuju rumah lelaki itu.
Mama dan Papa serta Andanu dan Astari turut mengantarkan mereka menuju mobil yang akan dikemudikan oleh Sagara. Di bagasi, telah ada dua koper besar berisi segala macam perlengkapan milik Kinara yang di malam sebelumnya telah Mama siapkan sedemikian rupa.
Setelah berpamitan dan dibumbui sedikit drama di mana Mama memeluk Kinara begitu erat sambil menangis, Kinara dan Sekala pun masuk ke dalam mobil dan Sagara selaku sopir langsung tancap gas meninggalkan gedung tempat dilaksanakan resepsi pernikahan.
Kinara duduk di kursi penumpang belakang, bersama dengan Ibu. Sedangkan Sekala menemani Sagara di kursi depan.
"Kalau butuh apa-apa, misalkan ada yang kurang di rumah, jangan sungkan untuk kasih tahu Ibu, ya, Ra." Ibu meremas pelan tangan Kinara yang diletakkan di atas pangkuannya.
Kinara tersenyum, membalas perlakuan Ibu dengan mengusap pelan punggung tangan wanita paruh baya tersebut. "Iya, Ibu. Makasih, ya."
"Sama-sama, Sayang."
Sedangkan di depan, Sekala dan Sagara masih tidak berkata apa-apa. Hubungan mereka berdua memang sudah tidak sepanas dulu, tetapi untuk berbincang panjang lebar selayaknya saudara pada umumnya masih terlalu sulit bagi mereka. Biarlah, tidak apa-apa. Baik Sekala ataupun Sagara tidak akan memaksa. Mereka hanya akan menjalani hubungan mereka dengan apa adanya, membiarkannya mengalir seperti air dari hulu ke hilir.
Tiga puluh menit berkendara, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan dua lantai. Halaman depannya lumayan luas jika dibandingkan dengan rumah di kanan dan kiri. Gerbang yang menjulang di depannya juga tidak terlalu tinggi, seolah tidak ingin keberadaannya menghalangi eksistensi rumah itu sendiri.
"Masuk aja, biar gue yang turunin koper dari bagasi." Kata Sagara. Dan tanpa menunggu respon Sekala, lelaki itu turun lebih dulu dan langsung berlarian menuju bagasi lalu menurunkan dua koper besar dari sana.
Sekala tidak menolak apa yang Sagara lakukan. Dia turun dari mobil setelah melihat Kinara dan Ibu melakukan hal yang sama. Dua wanita beda usia itu kemudian berjalan lebih dulu melewati pintu gerbang, dengan Ibu yang menggamit lengan Kinara erat.
"Aku aja yang bawa kopernya ke dalam," Sekala hendak merebut dua koper yang ada di tangan Sagara. Namun, lelaki itu segera menahan pergerakan tangannya.
"Susulin aja bini lo sana," Sagara sedikit mendorong tubuh Sekala, memaksa adiknya itu untuk segera menyusul sang istri yang kini sudah berdiri di depan pintu rumah.
"Mas,"
"Gue geplak pala lo kalau masih ngeyel!" gerutu Sagara.
Sekala mengembuskan napas pelan, kemudian dengan langkah gontai menyusul Kinara sembari mengeluarkan kunci dari saku jasnya.
Pintu dibuka tanpa kesusahan, lalu ia mempersilakan Kinara dan Ibu untuk masuk lebih dulu sementara ia menunggu Sagara sampai di sisinya.
__ADS_1
Tetapi, ketika Ibu baru akan menapakkan satu kakinya di lantai bagian dalam rumah, Sagara tiba-tiba saja menarik pelan lengan Ibu sehingga membuat wanita itu menghentikan niatnya.
"Kenapa, Mas?" tanya Ibu bingung.
"Ibu mau ngapain?" Sagara malah balik bertanya. Yang bukan cuma membuat ibunya bingung, tetapi juga Kinara dan Sekala yang kini malah saling pandang.
"Mau masuk, kenapa emangnya?" tanya Ibu lagi, masih tidak mengerti kenapa langkahnya dihentikan.
"Besok-besok aja," ucapa Sagara. Kemudian dua koper yang sedari tadi dia bawa diserahkan kepada Sekala. "Udah malam, Kinara sama Sekala pasti mau langsung istirahat." Lanjutnya.
Ibu terdiam sebentar, lalu menatap Kinara dan Sekala secara bergantian. Pikirnya, benar juga apa kata Sagara. Selain lelah, Kinara dan Sekala pasti juga ingin menghabiskan waktu berdua.
Maka, Ibu tersenyum kemudian mundur ke sisi Sagara. "Ibu mampirnya besok-besok aja, deh." Katanya sambil cengengesan.
Sekala dan Kinara saling tatap lagi. Kemudian Sekala menjadi orang yang menganggukkan kepala sehingga Ibu segera putar balik, sambil menyeret Sagara untuk segera pergi dari sana.
"Hati-hati!" teriak Sekala karena dalam waktu singkat Ibu dan Sagara sudah sampai lagi di sisi mobil.
Sagara cuma mengacungkan jempolnya tanpa menoleh, karena Ibu sudah mendorong-dorong tubuhnya untuk segera masuk ke dalam mobil.
Lalu, mobil melaju menembus kegelapan malam. Meninggalkan jejak keceriaan yang kini berubah menjadi kecanggungan ketika tatapan Sekala dan Kinara kembali bertemu.
Seharusnya, Kinara menurut saja saat Sekala menyuruhnya mandi lebih dulu, bukan malah ngeyel dan balik menyuruh Sekala untuk mandi.
Karena, ketika kini dia keluar dari kamar mandi, ada Sekala yang sudah menunggunya di atas kasur.
Lelaki itu memang tidak melakukan sesuatu yang bisa memunculkan rona merah di kedua belah pipinya. Tapi tetap saja, mengingat ini adalah malam pertama mereka sah menjadi suami istri, otak Kinara tidak bisa berhenti berpikir bahwa mereka akan melakukan itu.
Oh, tidak! Tolong jangan salah paham. Kinara bukannya mau berpikir kotor atau bagaimana. Dia cuma ... ha ... bukankah tidak apa-apa untuk memikirkan hal-hal tersebut karena mereka sekarang sudah sah menjadi suami istri?
"Ngapain di situ? Sini."
Sial! Kinara hampir saja mengumpat dengan lantang ketika Sekala tahu-tahu bangkit dari posisi rebahannya, dan kini duduk sembari menyandarkan punggung di headboard kasur. Dengan senyum tipis yang tersungging, laki-laki itu menepuk-nepuk ruang kosong di samping kirinya.
Dan sebagai istri yang baik, Kinara tidak punya pilihan selain segera berjalan menghampiri Sekala lalu naik pelan-pelan ke atas kasur untuk mengisi kekosongan yang semula ada.
"Kamu udah ngantuk belum?" tanya Sekala, sembari menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Kinara.
__ADS_1
"B-belum," tiba-tiba saja, Kinara tergagap.
"Kalau gitu, temenin saya sebentar ya." Setelah mengatakan itu, Sekala beringsut ke arah nakas untuk kembali ke posisinya tak lama kemudian dengan ponsel di tangan.
Ponsel itu dimainkan sebentar, kemudian layarnya disodorkan ke arah Kinara.
"Saya ada rencana buat rombak sedikit bagian Orion. Mau saya tambahin area baca, terus saya sediain rak berisi buku-buku yang bisa dibaca gratis selama pelanggan ada di sana. Lumayan juga, bisa bantu promosiin buku kamu yang terbit bulan lalu." Sekala menjelaskan rencananya kepada Kinara sambil menggeser layar ponselnya yang menunjukkan beberapa gambar yang berbeda.
"Menurut kamu, gimana?" tanyanya kemudian.
Kinara tidak lantas menjawab, malah merebut ponsel dari tangan Sekala untuk kemudian ia kuasai seperti miliknya sendiri. Foto-foto yang tadi sudah sempat Sekala perlihatkan sedikit, ia lihat lagi satu persatu dengan lebih saksama. Lalu dia mengangguk-anggukkan kepala setelah selesai memindai dan mengembalikan ponsel kepada si empunya.
"Setuju," ucapnya. "Mas Kala mau ambil bagian samping, kan?"
"Iya, bagian samping kan masih luas tanahnya. Sayang juga, soalnya saya sekarang udah jarang parkir di sana."
Kinara manggut-manggut lagi. "Nanti saya bantu Mas Kala pilih buku apa aja yang mau ditaruh di rak," ucapnya.
Sekala jelas sumringah mendengar idenya mendapatkan dukungan penuh dari sang istri.
"Makasih, ya."
"No prob," Kinara ikut-ikutan tersenyum.
Kemudian, perbincangan melebar ke mana-mana. Tidak cuma membahas tentang rencana perombakan Orion, tetapi juga tentang rencana mereka ke depannya. Apakah Kinara akan bekerja di tempat lain (karena dia sudah tidak bekerja di Orion setelah acara lamaran) atau ingin di rumah saja dan melakukan hal-hal yang ia inginkan dari rumah.
Sampai akhirnya, malam kian larut dan tanpa sadar Kinara telah jatuh tertidur dengan lengan Sekala sebagai bantalnya.
Mendapati pemandangan wajah polos Kinara yang tertidur di lengannya membuat Sekala tidak kuasa menahan senyum. Ditatapnya wajah cantik itu lekat-lekat. Sampai tahu-tahu wajahnya bergerak maju sendiri dan dia melabuhkan kecupan di kening Kinara setelah menyingkirkan helaian rambut yang menutupinya.
"Good night, Kin." Bisiknya, lalu ikut memejamkan mata setelah merapalkan doa.
Sekala tidak akan pernah tahu, kalau Kinara sebenarnya masih setengah sadar. Dan semua perlakuan juga kalimat yang ia ucapkan masih bisa didengar dengan jelas oleh perempuan itu.
Di tengah perjalanannya menuju alam mimpi, Kinara tersenyum, dengan rona merah yang mulai menjalar menghiasi pipinya.
Ia tahu ini bukanlah akhir, melainkan babak baru yang harus dia jalani dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Maka yang bisa Kinara lakukan sebelum kesadarannya benar-benar hilang adalah bergerak pelan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sekala, membaui aroma parfum lelaki itu sebagai bekal untuk mengarungi mimpi indah penuh bunga-bunga.
Bersambung