After The Rain

After The Rain
Part Time Hari Pertama


__ADS_3

Tiga kelas berhasil diselesaikan dengan baik. Kinara bergegas keluar dari ruangan kelas setelah memastikan tidak ada barang-barang miliknya yang tertinggal.


Andanu, yang memang sejak kelas pertama terlihat lengket dan tidak mau jauh dari Kinara pun ikut bangkit dan mengekori langkah gadis itu.


"Lo mau langsung ke Orion?" tanyanya, sembari berusaha menyejajarkan langkahnya dengan milik Kinara yang terpaut beberapa langkah.


"Iya. Harusnya sih aku datang jam 5, tapi karena kelas udah selesai, ya aku ke sana aja sekarang." Kinara menjelaskan setelah Andanu berhasil menyamakan langkah mereka.


"Gue ikut." Celetuk Andanu, membuat Kinara seketika menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh, dengan satu alis yang terangkat.


"Ngapain?" tanyanya.


"Mau lihat lo kerja," Andanu menjawab asal. Tapi sepersekian detik setelahnya, dia meralat ucapannya karena melihat raut wajah Kinara yang berubah menjadi sedikit kesal. "Bercanda!" serunya. "Gue mau lihat si owner yang katanya muda dan tampan itu."


Kinara berdecak, kemudian kembali melanjutkan langkah tanpa mengatakan apa-apa kepada Andanu.


"Mobil lo mau dibawa ke sana? Atau ditinggal aja di parkiran kampus?" tanya Andanu ketika mereka hampir selesai menyusuri koridor.


"Bawa ke sana aja, repot kalau harus balik lagi ke sini cuma buat ngambil mobil."


"Oke, gue setirin."


Kinara menoleh lagi, namun dia tidak mengajukan protes apa-apa dan hanya menyodorkan kunci mobilnya kepada Andanu. Pemuda itu menerimanya dengan senang hati, lalu segera berjalan mendahuluinya menuju ke parkiran.


Tidak seperti laki-laki kebanyakan yang akan membukakan pintu untuk teman perempuannya, Andanu membiarkan Kinara melakukannya sendiri. Tentu saja Kinara tidak keberatan, karena menurutnya, Andanu sama sekali tidak memiliki kewajiban untuk melakukan hal-hal semacam itu kepada dirinya. Terlebih mereka memang baru saja berteman. Meksipun tidak ada di antara mereka yang secara gamblang mendeklarasikan status pertemanan mereka.


"Ada parkir khusus karyawan nggak di sana?" tanya Andanu setelah menginjak pedal gas.


"Nggak tahu, sih, aku belum nanya. Di samping bangunan cafe ada lahan kosong, mungkin di sana parkir khusus karyawannya." Kinara menjawab sesuai apa yang dia tahu.


"Berarti nanti gue parkirin mobil lo di depan aja dulu, ya, di tempat parkir pengunjung."


"Iya."


"Oke,"


Mobil dilajukan dengan kecepatan pelan, karena memang jarak antara parkiran dengan Orion Cafe tidak terlalu jauh.


Sampai di halaman depan cafe, Kinara disambut oleh pemandangan cantik pohon Flamboyan yang bergoyang tertiup angin, seolah sedang menyapanya dengan lambaian dari tiap tangkai dan daun yang digerakkan angin.


Andanu memarkirkan mobil di tempat paling ujung sebelah kiri, menggantikan posisi mobil pengunjung lain yang baru saja keluar.

__ADS_1


"Nih," Andanu menyerahkan kembali kunci mobil kepada Kinara.


Kinara menerima kunci itu, memasukkannya ke dalam tas dan langsung bergegas masuk ke dalam cafe diikuti oleh Andanu di belakangnya.


Baru saja pintu cafe didorong dan tubuhnya muncul, Kinara dibuat terkejut akan teriakan Sekala yang menggema memenuhi seluruh sudut cafe yang kala itu tidak seramai kemarin, hanya ada beberapa meja yang terisi.


Di belakang counter, Sekala melambaikan tangannya sambil berteriak sekali lagi.


"Kin!" begitu yang diteriakkan laki-laki itu.


Karena tidak tahu kepada siapa Sekala melambai, Kinara menoleh ke kanan dan ke kiri serta ke belakang. Karena barangkali, ada orang lain yang datang bersamaan dengan dirinya dan Andanu. Seseorang yang Sekala panggil dengan sebutan Kin itu.


Tapi, tidak ada siapa-siapa di sekitar pintu masuk selain dirinya dan Andanu. Sedangkan Kinara yakin Sekala tidak mungkin memanggil Andanu, karena dua orang itu tidak saling kenal.


"Kin!" teriak Sekala lagi. Lambaian tangannya pun semakin kuat, dan senyumnya semakin lebar.


"Kayaknya dia manggil lo, deh." Bisik Andanu, selidiki membungkukkan badan ke depan agar bibirnya bisa mencapai dekat telinga Kinara.


Kinara menoleh sebentar ke arah Andanu, kemudian kembali mengarahkan pandangan ke arah Sekala, ketika lelaki itu berteriak sekali lagi.


"Kin!"


Kinara menunjuk dirinya sendiri dengan wajah kebingungan, dan tanpa diduga, Sekala mengangguk.


"Mas Kala manggil saya?" tanya Kinara lagi setelah sampai di depan counter.


Sekala mengangguk, kemudian dia mengarahkan Kinara untuk masuk melalui pintu setinggi pinggang orang dewasa yang terletak di bagian samping counter.


Kinada menurut dan segera menyusul Sekala ke belakang counter.


"Kenapa Kin?" tanyanya setelah berada di samping Sekala.


"Nama kamu Kinara, kan? Memangnya salah kalau saya panggil Kin?" Sekala bertanya balik dengan tampang iseng yang seketika membuat Kinara berasumsi kalau laki-laki itu sedang berusaha balas dendam kepadanya karena sebelumnya dia memanggilnya Kala.


"Orang-orang biasanya panggil saya Nara,"


"Kepanjangan." Potong Sekala.


Kinara mendengus sebal. Fix, Sekala memang sedang melakukan aksi balas dendam.


Namun, Kinara memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah dan menerima apron bertuliskan Orion Cafe yang diulurkan oleh Sekala dan segera memakainya.

__ADS_1


"Mas Ardi ke mana?" tanyanya, saat sadar bahwa tidak ada Ardi di sana. Padahal seharusnya lelaki itu masih ada di balik counter mengingat sekarang baru jam empat lewat dua puluh menit.


"Ardi nggak masuk hari ini, kondisi istrinya drop, jadi dia ijin buat nemenin istrinya di rumah sakit."


"Istrinya sakit apa?"


"Saya nggak tahu sakit apa, Ardi nggak cerita."


"Mas Kala nggak jengukin?" tanya Kinara lagi, menurut saja saat tangan Sekala menarik lengannya agar mereka bertukar posisi sehingga kini dia yang berdiri tepat di depan komputer yang digunakan untuk menerima pesanan.


"Nggak boleh sama Ardi,"


"Kenapa?"


"Takut istrinya naksir sama saya," canda Sekala, diakhiri kekehan yang membuat Kinara mendelik.


"Mas Kala sadar banget ya, kalau Mas Kala itu ganteng?"


Sekala yang sedang mengelap tetesan kopi di sekitar coffee maker praktis berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Saya ganteng?" tanyanya, dengan raut wajah polos yang membuat Kinara gemas. Entah kenapa, raut wajah Sekala yang begini malah mengingatkannya kepada Lestari. Ah, bocah itu sedang apa ya kira-kira?


"Mau jawaban jujur atau bohong?" Kinara bertanya balik.


"Jujur,"


"Ganteng." Sahut Kinara cepat, tanpa memerlukan waktu untuk berpikir.


"Kalau yang bohong?"


"Nggak ada yang bisa bohong, Mas Kala emang ganteng."


Sekala kicep. Bibirnya langsung terkatup rapat dan dia kembali tenggelam dalam kegiatannya mengelap meja. Berusaha menahan gejolak asing yang tiba-tiba saja menggerayangi dadanya.


Tidak boleh begini. Dia tidak boleh semudah itu tersentuh pada omongan asal yang keluar dari mulut seorang gadis ingusan seperti Kinara.


"Mas Kala nggak mau ngajarin saya gimana caranya menggunakan komputer ini?"


"Nanti saya ajarin, kalau udah waktunya kamu masuk ke jam kerja. Sekarang, kamu duduk di sana, masih ada tiga puluh menit sebelum jam part time kamu mulai." Sekala menunjuk sebuah kursi di sudut counter.


Kinara menurut saja, dia duduk di atas kursi dan hanya diam memperhatikan Sekala yang mulai sibuk menerima pesanan.

__ADS_1


Saking asiknya memperhatikan Sekala, dia lupa kalau ada Andanu yang duduk di salah satu meja di sana, juga sedang memperhatikan Sekala dengan perasaan yang berbeda. Entahlah, pemuda itu hanya merasa tidak asing dengan sosok laki-laki yang berdiri di belakang counter itu. Dia seperti pernah bertemu, tetapi tidak yakin di mana.


Bersambung


__ADS_2