
Sekala tidak tahu apakah meninggalkan Kinara bersama Seruni adalah pilihan yang tepat, karena dia tidak sempat berpikir ketika Sagara menyeretnya keluar tepat ketika Kinara menyusulnya masuk ke dalam ruang rawat.
"Kin nggak boleh pulang terlalu malam, Mas. Aku harus antar dia pulang sebelum orang tuanya khawatir," ucap Sekala, ketika kini mereka berdiri berdampingan di atap gedung rumah sakit dan Sagara tidak kunjung mengatakan apa-apa sejak beberapa menit yang lalu.
Sedari tadi, Sagara asik mengarungi dunianya sendiri. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tatapan matanya jatuh ke jalanan di sekitar rumah sakit yang lengang. Angin malam yang berembus cukup kencang telah menerbangkan helaian rambutnya yang mulai memanjang, namun lelaki itu sama sekali tidak terlihat keberatan.
"Pulang," itu yang Sagara katakan setelah keterdiaman yang cukup lama.
Sekala berpikir itu adalah ajakan untuk dirinya kembali ke rumah, jadi dengan tegas dia menggelengkan kepala meskipun dia tahu Sagara yang masih menatap ke jalanan tidak akan bisa menangkap pergerakannya itu.
Merasa omongannya tidak disahuti, Sagara akhirnya menoleh pada Sekala. Dia menemukan lelaki itu melemparinya tatapan yang sulit sekali untuk diterjemahkan. Entah karena dia yang memang tidak mengenal Sekala dengan baik, atau justru karena lelaki di sampingnya itu yang telah menutup diri jauh lebih rapat ketimbang sebelumnya.
"Jangan jadi pengecut," ucapnya lagi. Tatapannya beradu dengan Sekala, berlarian di satu tempat yang gelap dan mereka sama-sama kesulitan menemukan jalan keluar.
Keheningan yang tercipta di antara dua saudara beda ibu itu tidak pernah berlangsung selama ini sebelumnya, sebab salah satu dari mereka akan langsung melarikan diri supaya tidak semakin terseret pada arus deras yang mengerikan.
Tetapi malam ini, mereka seolah memasrahkan diri. Seperti sudah lelah kabur dari hubungan rumit yag tercipta bukan atas kemauan mereka sendiri.
Dulu, saat Sagara masih berusia sepuluh atau sebelas tahun, dia pernah merengek kepada ayahnya untuk dibuatkan satu adik laki-laki. Tujuannya supaya dia tidak merasa kesepian, dan ada teman untuk diajak memainkan mainan-mainan mahal yang ayahnya belikan karena sang ayah seringkali tidak pulang ke rumah ketika dia sedang ingin ditemani main.
__ADS_1
Sayangnya, dia lupa meminta pada ayahnya untuk membuat adik itu lahir dari rahim yang sama dengan dirinya. Sehingga saat ayahnya mengabulkan permintaan itu, dengan menghadirkan Sekala ke dalam keluarga mereka beberapa tahun setelahnya, Sagara justru murka.
Ia meluapkan kemarahannya kepada Sekala, yang saat itu hanya bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Bocah yang usianya lima tahun lebih muda, dan lebih mudah untuk dia tindas sesuka hatinya.
Sagara tidak berani marah pada ayahnya, karena dia tahu ayahnya punya lebih banyak daya dan bisa saja malah pergi meninggalkan dirinya dan Ibu.
Jadi, selama beberapa tahun selama ayahnya masih hidup di dunia, Sagara berpura-pura menerima kehadiran Sekala setiap kali ayah mereka sedang memperhatikan, dan mulai kembali membenci Sekala saat ayah mereka tidak di rumah.
Dan puncak kemarahannya terjadi saat ayahnya mati, meninggalkan mereka dengan Sekala yang semakin hari semakin terlihat mirip dengan laki-laki tua itu. Membuat usaha Sagara untuk menyangkal dan menganggap kalau Sekala cuma anak malang yang dipungut ayahnya dari jalanan seketika sirna.
Ia membenci Sekala, itu yang Sagara yakini selama bertahun-tahun. Terus berusaha menolak setiap kali naluri seorang kakak untuk melindungi adiknya muncul ketika Sekala sedang dalam bahaya. Sagara menipu dirinya sendiri, berubah menjadi sosok yang jahat untuk melampiaskan kemarahannya pada sang ayah yang sudah mati dan tidak bisa lagi dituntut pertanggung jawaban.
Ketiadaan Sekala di sekitarnya selama enam bulan penuh berhasil membuat Sagara merasa tertampar, sampai akhirnya dia sadar kalau hidupnya sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran anak itu. Tidak peduli seberapa bencinya dia terhadap Sekala. Tidak peduli seberapa marahnya dia pada anak itu, juga tidak peduli seberapa banyak caci maki yang telah dia lontarkan, pada akhirnya Sagara tahu bahwa dia menyayangi Sekala sama banyaknya dengan rasa benci yang dia punya.
"Gue masih benci sama lo," Sagara kembali membuka suara setelah membisu cukup lama.
Usai menjelalah di tempat gelap itu, Sagara menarik pandangan ketika ada seberkas cahaya yang berhasil menariknya keluar. Seberkas cahaya terang yang datangnya dari ingatan tentang kenangan masa lalunya bersama Sekala. Di mana dia pernah merasa senang akan kehadiran Sekala, karena setidaknya dia tidak lagi sendirian.
"Kebencian itu akan tetap ada, bahkan mungkin sampai gue mati." Sagara sendiri meringis saat mengatakan itu. Menyadari betapa ciut nyalinya karena tidak mampu menunjukkan perasaan sayangya ketika berada di hadapan Sekala.
__ADS_1
"Tapi, kebencian gue, kemarahan gue, sakit hati gue, semua itu urusan gue. Lo nggak perlu bertanggung jawab atas hal itu." Tatapan Sagara kembali berlabuh pada Sekala, namun kali ini, ia tidak membiarkan dirinya terbawa arus karena ada lebih banyak hal yang harus disampaikan kepada anak itu.
"Gue cuma mau bilang kalau pelarian lo udah cukup sampai di sini. Sekarang, waktunya lo pulang. Ke gue, ke Ibu, atau ke cewek yang lo bawa ke sini. Lo harus pulang, jangan menghabiskan sisa hidup lo dengan jadi gelandangan."
Setidaknya, butuh waktu bertahun-tahun sampai kalimat itu berhasil keluar dari mulut Sagara. Waktu yang cukup panjang untuk sekadar menunjukkan kepeduliannya pada seorang anak yang di dalam tubuhnya mengalir darah dari ayah yang sama.
"Gue mau lo berdamai dengan keadaan, dan mulai menerima diri lo sendiri dengan lebih baik. Lagipula, kabur dari gue dan Ibu nggak akan merubah apapun. Takdir kita udah tertulis begitu, percuma juga kalau melawan." Sagara menjatuhkan pandangannya pada sepasang sepatu yang kini Sekala kenakan, lalu senyumnya terbit samar-samar.
Itu adalah sepatu yang dia belikan sebagai hadiah ulang tahun Sekala yang ke-23. Dan karena saat itu gengsinya masih berada di atas segalanya, Sagara meminta Ibu memberikan sepatu itu kepada Sekala dengan dalih bahwa Ibu lah yang telah membelikannya.
"Mas Saga sendiri, apa udah bisa berdamai dengan keadaan?"
Sagara mengangkat pandangan setelah Sekala akhirnya bersuara. Kemudian, alih-alih menjawab pertanyaan Sekala, Sagara malah membalikkan badan, bersiap untuk pergi dari sana.
"Kalau lo emang punya niat untuk mengikat cewek yang lo bawa itu, better lakuin secepatnya. Karena gue yakin ada banyak laki-laki di luaran sana yang antre buat bisa dapetin dia." Itu menjadi kalimat terakhir yang Sagara ucapkan, sebelum kakinya betulan terayun dan dia meninggalkan Sekala di sana sendirian. Membiarkan adiknya itu meresapi kata demi kata yang dia sampaikan, untuk kemudian memutuskan. Apakah anak itu ingin tetap bertahan di dalam pelariannya, atau mencoba untuk pulang.
"Mas udah berdamai dengan keadaan, Dik. Jauh sebelum kamu memutuskan untuk pergi dan menarik diri dari Mas dan Ibu." Bisik Sagara, yang hanya bisa didengar oleh desau angin yang menerpa tubuhnya berkali-kali.
Bersambung
__ADS_1