After The Rain

After The Rain
It's Always You


__ADS_3

"Kamu naik apa ke kampus, Ra?" tanya Mama sembari meletakkan menu sarapan ke atas meja makan. Pagi ini menunya nasi uduk, entah Mama yang malas masak atau wanita itu sudah kehabisan ide menu masakan.


"Naik ojol." Kinara menjawab singkat dan mulai melahap nasi uduk di hadapan.


Setelah dua suapan, Kinara berhenti karena baru teringat soal Papa. Dia terlalu sibuk mengurusi hidupnya sendiri hingga tidak sempat bertanya bagaimana Papa dan pekerjaan barunya berjalan, apa angkutan yang Papa gunakan untuk sampai ke tempat kerja (mengingat sekarang mobil mereka hanya satu) dan berapa jam tepatnya Papa menghabiskan waktu di tempat kerja sebab pria itu tidak pernah pulang di satu waktu yang sama setiap harinya.


Kinara menoleh ke samping, pada Papa yang menikmati sarapan dalam diam. Benaknya mulai menimang, apakah dia harus menanyakan satu dari banyak pertanyaan di kepala atau dia harus membiarkan pertanyaan itu terus tertumpuk dan perlahan-lahan membusuk.


Lalu, setelah satu kali tarikan napas, Kinara membuka mulutnya dan bertanya, "Kalau Papa, biasanya naik apa ke kantor?"


Gerakan Papa otomatis terhenti karena pertanyaan itu. Sendok di tangan diletakkan pelan-pelan dan Papa mulai menatap Kinara dengan sorot mata yang terlalu sulit untuk diterjemahkan. Senyum tipis terbit, tapi entah mengapa Kinara merasa senyum itu tidak memiliki arti yang sesungguhnya. Hanya seperti sebuah topeng yang sengaja dipasang untuk menutupi perasaan lain yang bergemuruh di dalam dada.


"Busway." Jawab Papa kemudian. Senyumnya masih disunggingkan, tapi sorot matanya perlahan-lahan mulai menampakkan kesedihan yang kentara, yang Kinara tidak tahu apa sebabnya.


"Mulai besok mau bareng Kinara aja? Kantor Papa di mana? Searah nggak sama kampus?" tawar Kinara. Kalau pun tidak searah, dia tidak akan keberatan untuk mengantarkan Papa lebih dulu. Toh mereka bisa berangkat sedikit lebih pagi.


Namun Papa justru menggelengkan kepala dengan senyum palsu yang masih tersungging. "Papa udah biasa naik busway. Enak kok, bisa ketemu banyak orang."


Kinara tidak bisa lagi memaksa. Akhirnya, mereka melanjutkan sarapan dalam diam sehingga keheningan merayap dengan leluasa. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring, serta deru napas mereka masing-masing yang entah kenapa kedengaran bising.


Lalu ketika nasi di dalam piring sudah tandas tak bersisa, Kinara bangkit. Dia ambil piring-piring kotor itu dan membawanya ke bak cucian piring walau sempat dicegah oleh Mama. Sekarang baru pukul setengah delapan pagi, masih banyak waktu luang untuknya karena kelas pertama baru akan mulai jam sepuluh.


Sementara Kinara berkutat dengan cucian piring, Mama mengekori Papa yang bangkit dan berjalan gontai menuju ruang tamu.


"Jangan kasih tahu Kinara dulu ya, Ma. Papa takut dia kecewa." Kata Papa dengan suara lirih.


Selama pernikahan mereka, Mama hampir tidak pernah melihat Papa seputus asa ini. Hal itu membuat dadanya perih, tetapi seperti biasa, Mama menyimpan kepedihan itu untuk dirinya sendiri. Karena di saat anak dan suaminya sedang terpuruk, Mama harus bisa jadi tiang yang membantu mereka tetap berdiri.


Mama tidak menjawab perkataan Papa. Wanita itu hanya menemai sang suami sampai putri semata wayang mereka muncul dari arah dapur dan bergabung duduk di sofa.

__ADS_1


"Papa berangkat jam berapa?" tanya Kinara.


"Ini udah mau berangkat, nungguin kamu biar bisa pamitan." Papa bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangan kepada Kinara dan Mama. Dua orang itu meraih uluran tangan Papa dan mengecup punggung tangan si kepala keluarga secara bergantian.


"Papa berangkat dulu, ya." Pamit Papa sembari mengusap kepala Kinara dengan sayang.


"Hati-hati." Kata Kinara.


Papa hanya mengangguk sekilas kemudian segera berlalu setelah menyambar tas kerja yang tergeletak di atas meja.


Selama bermenit-menit setelah kepergian Papa, Kinara masih duduk di tempatnya. Sedangkan Mama sudah kembali ke dapur, berkutat dengan aktivitas seorang ibu rumah tangga.


Kinara benar-benar tidak bisa menebak bagaimana keadaan Papa yang sebenarnya, dia hanya berharap ayahnya itu akan menemukan alasan untuk tidak lagi menyunggingkan senyum palsu seperti tadi.


...****************...


"Sama-sama, Kak." Sahut si driver sembari menyinggung senyum ramah.


Kinara sudah hampir sampai di gerbang masuk ketika si driver memanggil dan membuatnya kembali menolehkan kepala.


"Semangat kuliahnya, Kak!" seru si driver yang umurnya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Kinara sembari menyunggingkan senyum yang hangatnya mampu menyentuh hatinya.


"Iya, Mas. Mas juga semangat, ya." Balas Kinara dengan senyum yang tak kalah cantik.


Kemudian si driver berlalu dan Kinara kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Kaki kecilnya mengayun ringan memasuki area kampus yang masih sepi. Langkahnya sama sekali tidak terburu-buru, benar-benar diayunkan sesantai mungkin sembari hidungnya mulai menyedot aroma-aroma udara pagi yang masih belum tercemar dengan bau parfum dari para mahasiswa.


Kinara sudah sampai di koridor menuju ruang kelas ketika suara yang teramat dia kenali memanggil dari arah belakang.

__ADS_1


Langkahnya terhenti, Kinara memutar tubuh dan tersenyum lebar saat mendapati Atha sedang berdiri di ujung koridor dengan senyum yang terkembang sempurna. Lelaki itu melambaikan tangan kepadanya dan Kinara membalasnya dengan senang hati.


"Tadi aku lihat kamu naik ojol." Kalimat pertama yang keluar dari bibir Atha ketika sampai di hadapan Kinara. "Mobil kamu kenapa?" tanyanya kemudian.


"Dipakai sama Ayu. Mobil dia kan masih di bengkel kemarin." Jelas Kinara.


Atha manggut-manggut, kemudian lelaki itu berjalan lebih dekat dan langsung menautkan jemari tangannya dengan milik Kinara. Membuat yang perempuan sedikit tersentak dan memandangi tautan tangan mereka dalam waktu yang cukup lama.


"Ayo, aku antar sampai depan kelas." Kata Atha setelah Kinara menarik pandangan dari tautan tangan mereka dan beralih memaku tatap ke arahnya.


"Biar apa?" tanya Kinara.


"Biar semua orang tahu kalau kamu pacar aku." Kata Atha dengan senyum cemerlang di akhir kalimatnya.


Mendengar itu, Kinara praktis tergelak. "Tanpa kamu antar aku sampai depan kelas pun, semua orang di kampus ini juga udah tahu kalau Kinara Adorelia, si mahasiswi Sastra yang biasa-biasa aja ini adalah pacarnya Atharya Danapati, si cowok populer yang kalau senyum sedikit aja udah bisa bikin anak gadis orang mati berdiri."


Seharusnya, Atha tersentuh dengan pujian itu. Tetapi dia justru memasang tampang cemberut karena dari kalimat yang Kinara ucapkan dengan suara riang itu terselip ketidakpercayaan diri yang jelas berusaha disembunyikan mati-matian.


Atha tidak suka melihat Kinara merasa kecil. Dia tidak suka gadis yang berhasil membuatnya tergila-gila ini merasa bahwa dirinya bukan apa-apa, di saat kenyataannya dunia Atha hanya berporos padanya.


Atha ingin Kinara tahu, bahwa penilaian orang lain tidak pernah penting baginya karena di matanya, Kinara tetaplah Kinara yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Baik tiga tahun lalu maupun sekarang.


Maka, sembari mengeratkan genggaman tangan mereka, Atha dengan tegas berkata, "Nggak ada yang namanya Kinara Adorelia si gadis biasa-biasa aja. Adanya cuma Kinara Adorelia yang luar biasa dan bikin Atharya Danapati jatuh cinta."


Kemudian tanpa mengijinkan Kinara menyahuti ucapannya, Atha mulai mengayunkan langkah agar gadis di sampingnya itu mengikutinya.


Mereka melangkah dalam diam. Sibuk meresapi perasaan masing-masing. Kinara dengan gelembung-gelembung yang terasa meletup-letup di dada, sedangkan Atha dengan debar-debar yang masih sama dahsyatnya seperti ketika ia pertama kali jatuh cinta pada Kinara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2