
Seumur-umur, Kinara cuma pernah beberapa kali datang ke pasar malam. Selain karena komplek tempat tinggalnya yang dulu memang tergolong berada di kawasan elit, dia juga tidak punya teman untuk diajak menikmati jajajan dan berbagai permainan yang ada di pasar malam.
Tidak jauh berbeda dengan Kinara, Sekala juga cuma beberapa kali diajak main ke pasar malam oleh ibunya. Dan sepeninggal wanita itu saat umurnya masih sembilan tahun, Sekala tidak pernah lagi datang ke pasar malam karena ayahnya memboyongnya untuk tinggal di lingkungan baru yang benar-benar berbanding terbalik dengan kehidupan yang sebelumnya ia miliki.
Lain lagi halnya dengan Lestari. Gadis kecil itu cukup sering datang ke pasar malam bersama ibunya. Meskipun keadaan ekonomi mereka tidak baik-baik amat (malah cenderung kekurangan di beberapa kesempatan), tetapi Sinta cukup sering membawa bocah itu ke pasar malam untuk mencari hiburan, meskipun tidak jarang mereka cuma berjalan-jalan tanpa membeli apapun karena tidak punya uang.
Dan karena di antara mereka bertiga cuma Lestari yang cukup paham dengan suasana pasar malam di sini, maka Kinara dan Sekala membiarkan gadis kecil itu berjalan memimpin di depan. Mereka mengikuti saja ke mana langkah kaki kecil itu tertuju.
Tadi, mereka sudah dengan sabar menunggu Lestari ketika gadis itu meminta untuk bermain memancing ikan, mewarnai gambar sampai naik odong-odong. Sekarang, ketika gadis itu sudah mulai kebingungan permanian apa lagi yang harus dicoba, Sekala berinisiatif menawarkan opsi untuk mereka menikmati jajanan yang ada di pasar malam saja.
Lestari, selaku pemandu wisata pasar malam setuju, dan mereka akhirnya berjalan menghampiri seorang penjual tahu bulat yang sedang dikerumuni beberapa orang.
"Aku mau yang rasa pedas," pesan Lestari kepada si abang penjual, padahal dia sama sekali tidak punya uang.
"Mau berapa?" tanya si penjual.
Lestari tidak tahu dia harus membeli berapa banyak, jadi dia menoleh ke belakang untuk meminta saran dari Sekala dan juga Kinara. Tetapi, bukannya memberikan saran, dua orang dewasa itu malah saling pandang kebingungan.
Dengan gaya yang sok dewasa, Lestari menghela napas kemudian geleng-geleng kepala. Gadis kecil itu kemudian kembali menatap si penjual yang masih menunggu jawaban.
"Aku mau sepuluh ribu, jadi dua, ya. Yang satu rasa pedas, yang satu pedas manis."
"Oke, siap!" si penjual segera membuatkan pesanan Lestari dengan semangat.
Sementara itu, Kinara dan Sekala kembali saling tatap, seolah dengan begitu saja mereka sudah bisa saling mengerti isi di dalam kepala masing-masing.
"Uangnya mana,"
Sekala menunduk ketika merasakan celananya ditarik-tarik. Ditemukannya sosok Lestari yang mendongak sembari menengadahkan satu tangan.
"Uang, Abang-nya udah nungguin," ulang gadis kecil itu.
Sekala mengeluarkan dompet dari dalam saku celana, menarik pecahan seratus ribu dari sana lalu diulurkan kepada si penjual untuk ditukar dengan dua kantong plastik berisi tahu bulat yang masih panas.
__ADS_1
"Kembalinya, Mas," ucap si penjual seraya mengulurkan kembalian.
Sekala mengambil uang kembalian, mengucapakan terima kasih kemudian segera berlalu bersama Lestari dan Kinara.
"Kita makan di sana aja, ya," Lestari menunjuk tanah lapang yang di atasnya digelari terpal warna-warni, beberapa sudah diduduki oleh pengunjung pasar malam yang lain.
Kinara dan Sekala menurut. Mereka bertiga berjalan ke tanah lapang itu lalu segera melepaskan alas kaki dan duduk di atas terpal kosong yang letaknya paling dekat dengan jalanan.
"Mas ganteng, aku boleh minta uang lagi nggak?" tanya Lestari ketika mereka baru saja mendaratkan bokong di atas terpal.
Tanpa bertanya terlebih dahulu uang itu untuk apa, Sekala langsung memberikan semua uang kembalian yang dia dapat dari tukang tahu bulat tadi kepada Lestari.
Namun alih-alih mengambil semuanya, Lestari cuma mengambil selembar pecahan lima puluh ribu kemudian segera melesat pergi tanpa berkata apa-apa.
"Heh, bocah! Kamu mau kemana?!" Kinara panik. Karena pasar malam saat ini cukup ramai, dia takut Lestari akan hilang.
Namun Sekala menahan lengannya dan berusaha menangkan ketika dia hendak bangkit untuk menyusul Lestari.
"Biarin aja, kasih dia kepercayaan." Kata Sekala, dengan suara merdu yang seketika berhasil membuat kekhawatiran Kinara lenyap.
Pacarnya? Pikirnya. Namun pikiran itu tidak dia teruskan saat Sekala menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celana dan tatapan mereka bertemu selama beberapa detik sebelum dia menarik diri lebih dulu.
"Saya habis balas chat dari Bapak," ucap Sekala, berhasil membuat Kinara kembali menoleh ke arahnya.
"Papa saya?"
"Iya."
"Papa ngomong apa?" selidik Kinara. Karena Sekala senyum-senyum sendiri sewaktu membalas pesannya, Kinara jadi curiga kalau Papa sudah mengatakan yang tidak-tidak kepada lelaki itu.
"Cuma nanya, kamu happy atau nggak. Saya jawab aja, kalau kamu lebih dari sekadar happy."
Mas Kala, bisa nggak ngomongnya tanpa disertai senyum kayak gitu? Jantung saya lemah, Mas. Batin Kinara, saat menemukan senyum Sekala semakin terasa memikat setiap harinya.
__ADS_1
"Mas Kala sering chat sama Papa saya?" dari sekian banyak pertanyaan, yang satu itu muncul lebih sering di kepala, jadi Kinara menanyakannya. Lagi-lagi dia tidak mengerti, sudah sejauh apa hubungan antara Sekala dan ayahnya.
"Sering, hampir setiap hari."
"..." hampir setiap hari.
Sekali lagi Kinara bingung. Kenapa dengan Sekala, Papa bisa secepat itu menjadi akrab? Bukan maksud hendak membandingkan, tetapi dulu saat dia masih berpacaran dengan Atha, pemuda itu sama sekali tidak pernah bercerita kepadanya bahwa dia telah bertukar pesan dengan Papa. Entah Papa yang memang tidak melakukannya, atau Atha yang sengaja diam-diam saja tidak memberi tahu hal tersebut kepada dirinya.
"Papa ... nggak ngomongin yang aneh-aneh soal saya, kan?"
"Nggak kok, Kin. Bapak cuma nanya gimana keadaan kamu selama di Orion. Beliau cuma mau memastikan kalau kamu nggak mengalami kesulitan, that's it."
Oke, itu melegakan. Setidaknya Papa tidak berbicara omong kosong. Tetapi, itu tidak cukup untuk menjawab pertanyaan yang ada di kepalanya. Tentang bagaimana bisa Papa dan Sekala menjadi dekat dalam waktu singkat.
Kinara tidak punya kesempatan untuk mencari tahu lebih banyak, karena tiba-tiba saja si mungil Lestari kembali dengan membawa tiga cup minuman dan langsung mengambil posisi duduk di tengah-tengah, menjadi pembatas antara dirinya dengan Sekala.
"Aku beli jus alpukat buat kamu," ucap Lestari, sembari menyodorkan cup berisi minuman warna hijau.
Kinara menerima jus alpukat itu, menyimpannya di sisi tubuhnya selagi matanya kembali melirik ke arah Sekala yang masih saja mempertahankan senyumnya.
"Buat Mas ganteng, aku beli jus apel, sama kayak punya aku,"
Ough, that Mas ganteng! Kenapa Lestari harus menjuluki Mas Kala dengan sebutan itu? Kinara cuma bisa menggerutu di dalam hati.
"Makasih, ya, anak cantik." Sekala mengambil jus apel miliknya, dan lagi-lagi menggunakan tangan besarnya untuk mengusak rambut Lestari, seolah sudah menjadi kebiasaan baru.
"Sama-sama ya, Mas ganteng." Lestari cekikikan.
Kemudian, Kinara merasa dirinya telah ditendang menjauh ketika dalam sekejap saja Lestari dan Sekala sudah asik menikmati tahu bulat yang tadi mereka beli. Dua manusia beda usia itu sesekali saling melemparkan candaan, saling menggoda lalu berakhir terbahak-bahak berdua. Benar-benar hanya ada Lestari dan Sekala, dan Kinara hanyalah seonggok batu tak bernyawa yang kebetulan mendapat nasib sial untuk menjadi saksi betapa akrabnya dua anak manusia tersebut.
Memang Mas Kala yang friendly, atau orang-orang di sekitar aku yang aneh? Mereka dulu nggak sedekat ini sama Atha.
Baiklah, Kinara. Silakan simpan pertanyaan itu di dalam kepalamu sampai nanti tiba waktunya kamu menemukan jawabannya.
__ADS_1
Bersambung