
Usai memberi tahu Papa dan Mama soal dia yang diterima bekerja part time di Orion Cafe dan meyakinkan kedua orang tuanya itu bahwa pekerjaannya tidak akan mengganggu jadwal kuliah, Kinara bergerak masuk ke dalam kamar.
Malam ini, Lestari tidak menginap karena Sinta sedang mengambil libur. Perempuan itu bilang, memang akan mengambil libur beberapa kali dalam sebulan, hanya untuk memastikan Lestari bisa tidur nyenyak di atas kasur sederhana miliknya setidaknya beberapa malam dalam sebulan.
Sekarang baru jam sembilan lewat enam, entah karena suasana hatinya yang terlampau baik sehingga dia merasa begitu bugar dan tidak mengantuk, atau memang tubuhnya belum memberikan sinyal untuk dirinya beristirahat.
Yang jelas, daripada memaksakan diri untuk berbaring di atas kasur dan berakhir gelisah karena tidak kunjung bisa memejamkan mata, Kinara pun berjalan menuju meja belajarnya.
Sebenarnya, tidak ada tugas yang harus dia selesaikan karena semua tugas yang diberikan oleh beberapa dosen pengajar sudah dia selesaikan jauh-jauh hari. Beruntung dia memiliki kebiasaan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dia punya jauh sebelum deadline sehingga kini dia bisa bersantai.
Karena kalau dia tidak terbiasa mengerjakan sesuatu di awal waktu, dia mungkin masih harus mengerjakan tugas-tugas itu sambil menangis.
"Enaknya ngapain, ya?" gumamnya kepada dirinya sendiri setelah duduk di atas kursi. Lampu belajar masih belum dinyalakan, laptop di hadapan juga belum dibuka karena dia belum memutuskan untuk melakukan apa malam ini.
"Kepo-in Mas Kala kali, ya? Penasaran juga, orangnya kayak gimana kalau di sosial media. Hitung-hitung untuk cari tahu gimana caranya menghadapi dia sewaktu kerja nanti, kan?" bertanya sendiri, dijawab sendiri.
Tidak usah heran, Kinara memang begitu. Dan dia yakin dia tidak sendirian. Di dunia ini, pasti ada orang yang juga hobi melemparkan pertanyaan kepada dirinya sendiri, sekaligus menyiapkan jawabannya.
Apa yang akan dia lakukan malam ini sudah diputuskan, jadi Kinara membuka laptopnya dengan gerakan perlahan dan segera menekan tombol power.
Setelah laptop menyala, Kinara kemudian membuka akun Instagram miliknya yang sudah dia log in di sana secara permanen, tidak lagi dia log out setelah selesai menggunakan laptopnya. Karena, entah kenapa, dia jadi malas bermain dengan ponselnya sekarang.
Sebelum pergi ke kolom pencarian untuk mengetikkan nama Sekala, Kinara lebih dulu menyempatkan diri untuk menggulir ke bawah, sekadar melihat unggahan dari orang-orang yang dia ikuti.
Mulanya, Kinara sudah hendak beralih ke kolom pencarian ketika dia tidak menemukan unggahan yang cukup menarik perhatiannya.
Sampai akhirnya, dia melihat satu unggahan dari akun favoritnya, @dyellow. Akun itu mengunggah sebuah foto pohon Flamboyan yang Kinara kenal, yaitu pohon Flamboyan yang ada di depan Orion Cafe. Dilihat waktunya, foto itu diunggah sekitar tiga jam yang lalu, itu artinya tidak terlalu lama berselang setelah dia sampai di rumah.
Kalau biasanya Kinara akan segera menekan tombol hati dan meninggalkan jejak berupa komentar di setiap unggahan yang @dyellow buat, kali ini dia malah pergi ke profil @dyellow, hanya untuk mengiriminya sebuah pesan langsung.
__ADS_1
Hai ... been a while since you upload the last picture of the beautiful sky.
Begitu yang dia tulis di sana. Lalu, karena pesannya belum juga dibalas setelah dua menit berlalu, Kinara mengirimkan satu pesan lagi.
I just saw your latest post. That's kinda beautiful Flamboyan tree. I mean ... saya cuma mau tanya, pohon Flamboyan yang kamu ambil gambarnya itu, lokasinya di mana?
Tiga menit berlalu, masih tidak ada balasan dari @dyellow. Orang itu juga memang tidak terlihat sedang aktif. Tetapi, Kinara masih dengan sabr menunggu.
Sembari menunggu balasan dari @dyellow, Kinara pergi ke kolom pencarian untuk melanjutkan niatnya yang sempat tertunda. Di sana, dia segera mengetikkan nama Sekala.
Ada beberapa hasil yang muncul atas pencarian tersebut. Kinara meng-klik satu persatu akun yang ada untuk memastikan apakah akun itu milik Sekala yang dia maksud.
Tapi sayangnya, dari sekian banyak akun yang dia periksa, tidak ada satu pun milik Sekala. Meksipun ada beberapa akun yang digembok, tetapi Kinara tetap bisa tahu kalau akun itu bukan milik Sekala yang dia maksud melalui foto profil yang terpasang di sana.
"Masa iya, Mas Kala nggak punya akun sosmed, sih?" monolognya lagi.
Hasil pencarian dengan nama Sekala di Twitter dan TikTok ternyata lebih banyak ketimbang yang ada di Instagram. Hal itu membuat Kinara membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengunjungi satu persatu akun yang dia temukan di sana.
Tetapi, sudah hampi setengah jam dia berkutat, tetap saja tidak ditemuinya akun milik Sekala.
"Gila, Mas Kala beneran nggak pakai sosmed? Masa, sih? Tapi, kan, dia owner dari sebuah cafe paling hits di area kampus elit, aneh banget kalau dia beneran nggak main sosmed." Kinara sedikit menggerutu, agak tidak terima pada kenyataan bahwa dia kesulitan menemukan akun milik Sekala di berbagai sosial media yang dia punya.
"Atau jangan-jangan ... pakai nama alias?" dugaan baru muncul setelah sekian lama dia terdiam.
"Yah, kalau gitu sih, udah susah." Kinara melenguh kecewa, bahunya merosot secara dramatis dan dia sudah sepenuhnya kehilangan semangat untuk melanjutkan pencariannya.
Sampai tiba-tiba sebuah notifikasi terdengar dari laptopnya. Kinara yang semula hendak menyandarkan kepala di atas meja sontak mengurungkan niatnya. Bahunya kembali ditegakkan, dan dia segera membuka notifikasi pesan yang baru saja masuk.
Ada total dua pesan, semuanya dari @dyellow. Kinara jelas sumringah, karena memang balasan pesan itu yang dia tunggu-tunggu sejak tadi. Kekecewaannya karena tidak berhasil menemukan akun milik Sekala seketika sirna setelah dia serius membaca balasan pesan dari @dyellow.
__ADS_1
Balasan yang pertama berbunyi :
Hai, saya juga menunggu kamu posting foto baru, tapi nggak ada juga.
Dan ini balasan yang ke-dua :
Cantik, ya? Pohon itu tumbuh di depan sebuah cafe, namanya Cafe Orion. Kebetulan saya sering ke sana, dan pohon Flamboyannya memang secantik itu, jadinya saya foto terus unggah.
Kinara pun mengetikkan balasan.
*Saya nggak terlalu suka posting sesuatu di sosial media, makanya postingan di akun saya cuma ada beberapa.
Cafe Orion? Kebetulan saya juga beberapa kali datang ke sana. Pohonnya memang secantik itu, sih, hehe*.
Tidak membutuhkan waktu yang lama seperti yang sebelumnya, kali ini @dyellow membalas dengan cepat.
Ah, saya baru ingat. Kamu juga pernah posting foto pohon Flamboyan, ya?
Kinara tersenyum membaca balasan pesan itu. Akhirnya, @dyellow ingat juga kalau dia pernah mengunggah foto yang sama.
*Yep, and it was a same tree.
Oh, really? I don't mention it*.
Angle fotonya berbeda sekali, wajar kalau kamu nggak sadar that it was a same tree.
Balasan demi balasan terus bermunculan. Obrolan random via sosial media itu berlanjut terus sampai tengah malam, sampai keduanya lupa bahwa hari esok masih panjang dan ada banyak sekali badai yang masih harus mereka lewati.
Bersambung
__ADS_1