
Sesuai dengan rencana yang sudah dia susun sejak pagi, Kinara betulan pergi ke cafe incarannya. Tetapi langkahnya tersendat karena di sampingnya, Dahayu sedang merengek meminta untuk ikut. Berkali-kali Kinara berusaha melepaskan gelayut manja Dahayu di lengannya, namun selalu gagal karena gadis itu selalu lebih cepat menempelkan dirinya kembali di sana.
"Aku ke sana buat cari kerja, Ayu. Bukan buat nongkrong!" seru Kinara saat dirinya sudah tidak sanggup lagi mengatasi tingkah Dahayu yang mendadak jadi seperti anak kecil.
Dalam beberapa kesempatan, Kinara menemukan kemiripan antara Dahayu dan Atha. Dua orang itu suka sekali tiba-tiba berubah menjadi seperti bayi saat sedang berusaha membujuknya untuk melakukan sesuatu. Dalam beberapa situasi, itu tampak lucu. Tapi di beberapa situasi lain, sikap mereka yang seperti ini justru tampak menyebalkan.
"Lagian ngapain sih lo cari kerja? Bokap lo kan kaya!" Dahayu memberengut. Menyilangkan kedua tangan di depan dada sementara bibir bawahnya sudah maju beberapa senti.
Kinara memutar bola mata jengah menanggapi ucapan Dahayu barusan. Seandainya saja Dahayu tahu kalau sekarang hidupnya sudah tidak bisa lagi bergantung dengan Papa... ah, tapi Kinara tidak ingin memberitahukan hal itu kepada Dahayu sekarang.
"Udah sore, mendung pula, mendingan kamu pulang sekarang sebelum turun hujan." Bujuk Kinara lagi. Ia tahu Dahayu tidak menyukai hujan, jadi seharusnya cara ini cukup ampuh untuk membuat gadis ini diam.
"Mobil gue kan masih di bengkel, Nara! Gue nggak mau naik kendaraan umum, lo juga tahu apa alasannya." Dahayu melepaskan diri dari lengan Kinara. Matanya menatap sayu sosok Kinara yang beberapa senti lebih pendek ketimbang dirinya.
Sementara Kinara mulai menghela napas berat. Tentu saja dia tahu kalau Dahayu tidak bisa naik kendaraan umum. Bukan karena gadis itu mau sok jadi orang paling kaya sedunia, tetapi karena dia memiliki trauma di masa lalu yang membuatnya tidak bisa lagi naik kendaraan umum, apa pun itu bentuknya.
Sebab beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih SMA, Dahayu pernah hampir menjadi korban perampokan dan pelecehan seksual oleh driver taksi online yang dia pesan setelah pulang les. Dahayu menceritakan semua itu kepadanya, jadi Kinara jelas mengerti.
"Pakai mobil aku, Ay." Kinara mengeluarkan kunci mobilnya dan menyerahkannya kepada Dahayu. "Sana, pulang." Sambungnya sembari mendorong pelan tubuh Dahayu agar segera berbalik dan berhenti mengekori dirinya.
Tapi bukannya menurut, Dahayu malah semakin memasang wajah cemberut. "Nggak mau!" Dahayu si keras kepala.
"Harus mau." Kinara yang jauh lebih keras kepala.
"Raaaa..."
"Pulang, atau aku nggak akan mau temenan sama kamu lagi." Ancam Kinara.
Padahal Dahayu tahu itu hanya gertak sambal belaka. Padahal dia tahu Kinara tidak akan pernah tega meninggalkan dirinya. Padahal, dia tahu Kinara akan selalu jadi orang pertama sekaligus orang terakhir yang bertahan di sisinya saat seluruh dunia berbondong-bondong pergi meninggalkannya.
Tapi mendengar ancaman itu tetap saja membuat Dahayu ketakutan. Dia menatap Kinara sendu, berharap gadis itu mau menarik kembali ucapannya.
"Pulang, Ay." Kata Kinara lagi.
Setelah itu, Dahayu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Terpaksa menuruti keinginan Kinara supaya pertemanan mereka tidak berhenti sampai di sini.
__ADS_1
"Ya udah." Kata Dahayu lesu. Bahu semampainya yang biasa tegak mendadak jatuh, wajahnya murung. "Tapi sampai rumah nanti langsung telepon gue, ya? Jangan Atha! Gue dulu yang pertama!"
"Iya, iya. Nanti kalau aku udah sampai rumah, aku langsung telepon kamu. Udah, sana pulang." Kinara membalikkan tubuh Dahayu, mendorong punggung sempit itu menuju mobil dan sedikit memaksanya untuk segera masuk.
"Jangan lupa telepon gue!" seru Dahayu lagi saat sudah duduk di atas kursi pengemudi dan siap melajukan mobilnya.
"Iya, bawel."
Kemudian, kaca mobil dinaikkan kembali dan Dahayu melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran kampus yang sudah sepi.
Setelah kepergian Dahayu, Kinara melanjutkan kembali langkahnya menuju tempat impiannya.
...****************...
Setelah serangkaian drama yang dilewatinya sejak pagi, Kinara akhirnya menjejakkan kaki di halaman depan cafe yang membuatnya jatuh cinta itu. Matanya langsung bergerak otomatis memindai setiap sudut yang tertangkap olehnya, berusaha untuk tidak melewatkan detail sekecil apa pun dari sana.
Di area parkir telah terisi empat unit mobil dari berbagai merk, enam buah sepeda motor dan satu buah sepeda berwarna pink yang seketika menarik perhatian Kinara. Siapa yang datang ke cafe menggunakan sepeda lucu itu? Imut sekali.
Puas mengobservasi bagian depan cafe, Kinara melanjutkan langkahnya. Dia berjalan pelan dengan hati yang berdebar-debar menuju pintu masuk cafe.
Ketika pintu yang didominasi kaca itu dia dorong, lonceng di atas pintu berbunyi nyaring. Membuat beberapa pelanggan yang duduk di dekat pintu masuk menolehkan kepala serempak ke arahnya sebelum kembali menarik pandangan.
"Halo, Kak, ada yang bisa dibantu?" tanya pemuda dengan suara yang terdengar jernih dan menyegarkan.
Debaran di dada kian terasa saat Kinara hendak menjawab pertanyaan si pemuda. Ada perasaan ragu dan takut yang bercampur menjadi satu. Maklum, ini pengalaman pertamanya mencari kerja.
"Saya mahasiswi di kampus depan, Mas." Itu kalimat pertama yang Kinara ucapkan. "Saya mau tanya, kira-kira di sini sedang buka lowongan part time nggak ya?" lanjutnya, berusaha meredam kegugupan dengan mengatur napasnya sebaik mungkin.
Si pemuda masih mempertahankan senyumnya. "Ada, Kak." Jawab si pemuda. "Kebetulan kita lagi butuh barista, soalnya barista yang lama lagi ambil cuti kuliah dan nggak tahu kapan baliknya."
Mendengar informasi itu, Kinara tentu saja senang. Bukankah ini satu langkah yang bagus untuk dirinya?
"Kalau gitu, saya boleh apply, Mas? Kira-kira syaratnya apa aja, ya?" tanya Kinara antusias.
"Boleh banget, Kak. Owner kita biasanya cuma minta kartu identitas aja, sih, Kak." Jelas sang pemuda.
__ADS_1
Kinara mengangguk-anggukkan kepala. "Bisa apply sekarang?" tanyanya kemudian. Dia sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan owner cafe ini dan menjalani serangkaian wawancara.
Tetapi, kalimat yang keluar dari bibir pemuda di depannya itu selanjutnya seketika membuat semangat Kinara yang membara perlahan-lahan memadam.
"Sebelumnya mohon maaf banget nih, Kak. Owner kita kebetulan lagi nggak ada di tempat. Jadi nggak bisa hari ini."
Kinara kecewa. Tetapi sebelum kekecewaan itu semakin menjadi, rungunya kembali mendengar si pemuda membuka suara.
"Tapi tenang, Kak. Kalau berkenan, Kakak bisa tinggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi supaya nanti waktu owner kita datang, saya bisa kontak Kakak."
"Boleh, Mas?"
"Boleh, Kak." Si pemuda mengangguk sembari tersenyum hangat.
Kemudian, Kinara melihat pemuda itu mengeluarkan kertas note dan sebuah pulpen lalu menyodorkannya ke hadapan Kinara. "Silakan tulis di sini ya, Kak."
Kinara menyambut kertas dan pulpen itu dengan senang hati. Dituliskannya 12 digit nomor ponsel di kertas itu kemudian segera menyerahkannya kepada si pemuda.
"Maaf sebelumnya, dengan Kakak siapa?" tanya si pemuda setelah melihat nomor telepon yang Kinara tuliskan.
"Kinara. Kinara Adorelia." Jawab Kinara.
"Oke, Kak Kinara. Saya Ardi, nanti saya akan hubungi Kakak lagi, ya."
"Terimakasih."
"Sama-sama, Kak." Ardi menyunggingkan senyum ramah sekali lagi.
"Kalau begitu, saya permisi ya, Mas. Mari." Pamit Kinara.
"Sampai ketemu lagi, ya, Kak."
Setelah menyunggingkan senyum terakhir, Kinara memutar badan dan mulai melangkah meninggalkan cafe. Sampai ketemu lagi. Kinara mengulangi kalimat itu di dalam kepalanya beberapa kali sampai dia berhasil keluar dari cafe.
"Sampai ketemu lagi. Semoga, ya, Mas Ardi." Gumam Kinara lalu dia buru-buru berjalan meninggalkan area cafe.
__ADS_1
Langit di atasnya sudah mulai berubah warna menjadi abu-abu pekat. Menurut prediksinya, hujan akan turun sebentar lagi dan dia setidaknya harus sudah ada di halte busway sebelum itu terjadi.
Maka, dengan sedikit berlari, Kinara mengayunkan kaki sembari terus menggaungkan doa di dalam hati. Semoga saya berjodoh dengan cafe ini.