After The Rain

After The Rain
Jangan Mati


__ADS_3

"Lompat dari sini nggak akan bikin kamu langsung mati."


Sebuah suara yang asing datang menyapa Kinara sehingga membuatnya refleks membuka mata dan menolehkan kepala.


Di sampingnya, berdiri seorang laki-laki berambut cepak yang tingginya mungkin sekitar 175 senti. Pandangan laki-laki itu tampak menerawang jauh ke depan, pada seuatu yang Kinara sendiri tidak tahu apa.


Mungkin pada lampu-lampu jalan di seberang yang bersinar dengan enggan. Mungkin pada jajaran gedung tinggi yang masih tampak bersinar terang meskipun sudah tidak ada lagi aktivitas di dalamnya. Atau mungkin, laki-laki itu hanya menatap pada kehampaan, pada ketiadaan yang terlalu sulit untuk diceritakan.


Kinara masih bungkam, malah asik memperhatikan hidung laki-laki itu yang serupa perosotan. Indah. Satu kata itu otomatis muncul di kepalanya sebagai bentuk penghargaan. Rasanya, hidung itu memang pas sekali untuk ada di wajahnya, melengkapi fitur-fitur lain yang tak kalah memesona.


"Kemarin, saya lihat di berita ada siswi SMA yang coba lompat dari sini, tapi ujung-ujungnya cuma patah tulang dan dia harus nanggung malu karena namannya muncul di berbagai media. Walaupun identitasnya disamarkan, tapi orang-orang terdekatnya pasti tetap tahu kan kalau itu dia?"


Kinara masih bungkam, terlalu bingung untuk menanggapi omongan random dari laki-laki itu. Berita tentang siswi SMA yang berusaha bunuh diri di jembatan penyeberangan ini beberapa waktu lalu memang sampai juga di telinga Kinara. Tetapi dia tidak bisa memberikan komentar apa-apa karena dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya melatarbelakangi tindakan nekat siswi tersebut.


"Lagipula, kalau kamu tetap nekat untuk lompat dari sini, kamu pasti akan merasa kesakitan selama beberapa lama sambil mendengar orang-orang yang berbicara bersamaan bagai dengungan lebah yang akan membuat kepala kamu semakin pusing dan kamu berharap nyawa kamu segera dibawa pergi."


Laki-laki itu memberi jeda sebentar, hanya untuk kembali berbicara setelah menarik dan membuang napas secara perlahan.


"Sebenarnya bisa aja sih kamu langsung mati, tapi itu juga kalau ada mobil apes yang kebetulan melintas dan langsung menggilas tubuh kamu setelah kamu melompat dari sini."


Ada jeda yang cukup panjang setelahnya. Laki-laki itu kembali menghela napas panjang sebelum menolehkan kepala, di saat Kinara sama sekali tidak siap untuk bertatapan dengan manik matanya yang segelap langit jam setengah tiga dini hari.


Seketika itu juga, Kinara merasakan tubuhnya membeku, lidahnya terasa kelu dan Kinara pikir dia telah kehilangan kemampuan untuk mengolah kata saat manik kelam itu menatapnya dalam, seolah menyeretnya untuk tenggelam di dalamnya. Tersesat. Kemudian hilang.


"Jangan, ya." Kata laki-laki itu pelan. Suaranya yang serupa harmoni indah dalam sekejap berhasil mendapatkan tempat tersendiri di hati Kinara. Padahal suara itu baru pertama kali dia dengar berpuluh-puluh detik yang lalu dan dia bahkan belum tahu siapa nama laki-laki di sampingnya itu.


"Jangan mati dengan cara yang menyedihkan. Lebih dari itu, jangan menyusahkan orang lain di hari terakhir kamu hidup di dunia." Kata laki-laki itu lagi. Kemudian, dia mengalihkan pandangan lagi, kali ini tertuju pada jalanan di bawah sana yang sepenuhnya lengang.

__ADS_1


Hening dibiarkan berkuasa selama bermenit-menit setelahnya. Baik Kinara maupun laki-laki asing di sampingnya itu sama-sama enggan membuka suara. Kinara kembali sibuk dengan keributan di dalam kepala, yang kini bertambah satu lagi tugas otaknya untuk mencerna apa yang laki-laki di sampingnya itu katakan.


Entah menit ke-berapa sejak mereka terdiam, ketika Kinara akhirnya berhasil mengembalikan fungsi organ tubuhnya seperti semula, Kinara menghela napas panjang. Dia mengalihkan pandangan dari laki-laki di sampignya, melabuhkannya pada sepasang sepatu kets coklat yang warnanya sudah mulai pudar.


Sumpah, Kinara ke sini bukan untuk bunuh diri. Sekalut apa pun dia, seribut apa pun isi kepala, dia tidak pernah berpikir untuk mati lebih cepat (apalagi dengan usahanya sendiri).


Kinara tidak tahu apakah kehidupan setelah kematian itu benar-benar ada, tetapi dia sama sekali tidak memikirkannya. Bukan kehidupan itu yang Kinara pikirkan ketika dia bicara tentang kematian, melainkan ketakutan lain yang berkaitan dengan kedua orang tuanya.


Dia hanya berpikir ... jika dia mati lebih dulu, terlebih dalam keadaan mereka yang masih seperti ini, bagaimana dengan Papa dan Mama? Bagaimana dua orang yang telah mempertaruhkan hidup mereka untuk dirinya itu akan bertahan di dunia ini, ketika semesta sedang gemar bercanda dengan mereka? Apalagi semesta akhir-akhir ini bercandanya ekstrem sekali, jadi Kinara tidak sampai hati untuk meninggalkan mereka dengan cara yang menyedihkan seperti bunuh diri.


"Saya nggak berminat mati cepat." Kata Kinara pelan. Teramat pelan, sampai dia sendiri tidak yakin apakah ucapannya barusan sampai ke telinga laki-laki itu atau  tidak.


Dan Kinara tahu suaranya bisa didengar ketika lelaki di sampingnya itu terkekeh pelan. Kinara kembali menoleh, hanya untuk menemukan laki-laki itu tengah tersenyum sumir pada ujung-ujung sepatunya sendiri. Entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini, yang jelas ketika bibirnya kembali lurus dan dia menolehkan kepala, Kinara merasakan sesak di dalam dada yang entah asalnya dari mana.


Manik kelam itu seolah sedang memberi tahu dirinya bahwa sang empunya sedang terluka dan butuh pertolongan, dan dia mungkin bisa jadi seseorang yang mau berbaik hati menawarkan bantuan.


"Saya nggak tahu masalah kamu seberat apa, tapi saya bersyukur kalau kamu benar-benar nggak berniat untuk melompat dari sini." Setelah mengatakannya, laki-laki itu menegakkan badan, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana bahan warna coklat yang tampak serasi dipadukan dengan kaus putih polos dan kemeja lengan pendek warna navy yang semua kancingnya dibiarkan terbuka. Pandangannya kembali lurus ke depan.


"Saya juga nggak tahu masalah Mas seberat apa, tapi saya harap Mas nggak datang ke sini dengan pikiran untuk bunuh diri dan terpaksa mengurungkan niat karena bertemu dengan saya." Entah mendapat keberanian dari mana sehingga Kinara bisa mengatakan itu.


Lelaki di sampingnya tidak menyahut, tetapi Kinara bisa melihat sudut-sudut bibir lelaki itu terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sarat akan kepedihan yang mendalam.


"Kamu kelas berapa?" tanya laki-laki itu secara tiba-tiba setelah membisu untuk waktu yang cukup lama.


"Saya udah kuliah, semester empat." Kinara menjawab sekenanya, kemudian ikut-ikutan melemparkan pandangan ke depan.


"Muka kamu masih kayak bocah."

__ADS_1


Jika itu adalah pujian, bukankah seharusnya Kinara merasa senang? Bukankah itu artinya dia dibilang awet muda?


Tapi alih-alih merasa senang, Kinara malah merasa kesal. Dia merasa lelaki di sampingnya ini hanya sedang berusaha mengejek dirinya.


"Mana ada bocah yang berani keluyuran sendirian jam setengah tiga dini hari." Kata Kinara sedikit sewot.


Kinara kembali mendengar laki-laki di sampingnya terkekeh. Karena penasaran dengan ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh laki-laki itu, Kinara pun menolehkan kepala, hanya untuk dibuat terdiam membisu kala mendapati laki-laki itu tengah tersenyum ke arahnya. Senyum yang kali ini kelihatan lebih tulus daripada sebelumnya.


Dan ... berani sumpah, baru kali ini dia melihat senyum seindah ini. Seolah hanya dengan melihatnya saja, sudah mampu membuat suasana hati Kirana berkali-kali lipat lebih baik.


"Sekala."


"Hah?" tanya Kinara kebingungan karena laki-laki itu hanya menyebutkan satu kata tanpa embel-embel apa pun lagi di belakangnya.


"Nama saya Sekala." Jelas laki-laki itu sembari mengulurkan tangan.


Kinara memandangi uluran tangan Sekala selama enam detik penuh, sebelum akhirnya meraih tangan itu dan menjabatnya pelan.


Kehangatan seketika menjalar ke seluruh tubuh Kinara ketika telapak tangan mereka saling bersentuhan. Dan entah dari mana asalnya, Kinara merasa sesuatu telah membuatnya merasa nyaman.


"Kinara. Nama saya Kinara." Kinara balik memperkenalkan diri seraya melepaskan tautan tangan mereka.


Sekala menganggukkan kepala seraya menarik tangannya kembali dan langsung memasukkannya lagi ke dalam saku celana.


"It's a pleasure to meet you, Kinara," ucap Sekala. "Tapi saya harap, kita nggak akan ketemu lagi di tempat-tempat seperti ini." Lanjutnya, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Sekala beranjak dari sana. Meninggalkan Kinara sendirian tanpa kata pamit sebab di dalam kepala, dia telah memiliki keyakinan bahwa mereka akan segera bertemu lagi, di tempat dan suasana yang lebih baik.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2