
Ketika matahari mulai berani menampakkan diri, Kinara membantu Sinta dan Lestari membereskan kios. Dagangan mereka memang tidak semuanya habis, tapi melihat dari senyum Sinta yang terkembang hingga nyaris ke telinga, Kinara tahu kalau hari ini dia sudah berhasil membantu Sinta menjual lebih banyak kelapa ketimbang hari-hari sebelumnya.
"Makasih, Nara." Kata Sinta begitu mereka selesai beres-beres dan siap untuk pulang ke rumah.
"Sama-sama, Mbak." Kinara menjawab disertai senyum tipis. "Ternyata, jualan asik juga, ya. Kapan-kapan Nara mau ikut jualan lagi, boleh?"
"Dengan senang hati," ucap Sinta. Dia benar-benar berterima kasih kepada Kinara, karena berkat bantuan gadis itu, dia bisa mendapatkan upah yang lebih banyak dari bosnya sebagai imbalan karena telah menjual banyak kelapa. Kebetulan sekali, dia memang butuh uang lebih untuk membeli beberapa keperluan sekolah Lestari.
"Tapi," Kinara mengehentikan langkahnya. Lestari yang berjalan di sampingnya dan tangannya dia gandeng erat praktis ikut berhenti. Bocah itu mendongakkan kepala, menatapnya penuh tanya.
"Kamu kayaknya jangan ikut ke pasar lagi deh, Tar." Kata Kinara seraya menatap lurus ke mata bulat Lestari.
"Kenapa?" tanya Lestari.
"Kamu masih bocil, nggak boleh sering kena angin malam, nanti gampang sakit." Kinara berusaha menjelaskan dengan cara yang paling sederhana.
Bukan karena dia takut Lestari tidak akan mengerti, tetapi lebih kepada dia berusaha untuk tidak menampakkan pada bocah itu bahwa dia sedang berusaha menawarkan bantuan secara tidak langsung. Lestari tidak suka dikasihani, dia tentu ingat soal itu.
Lestari tidak menjawab, bocah itu malah menoleh ke arah sang ibu yang mau tidak mau harus mengambil alih tugas untuk menjawab perkataan Kinara.
"Saya nggak mungkin tinggalin Lestari sendirian di rumah, Ra." Jelas Sinta. Padahal dia yakin Kinara juga sudah mengerti alasan dia membawa Lestari ikut berjualan di pasar. Tetapi karena boca itu terus menatapnya, Sinta terpaksa menjelaskan lagi kepada Kinara. Yah, siapa tahu gadis itu memang lupa.
"Nara tahu, kok," ucap Kinara. Dia kembali menunduk menatap Lestari.
"Bocil ini biar tidur di rumah Nara aja," kata Kinara seraya menaikkan kembali pandangannya ke arah Sinta. "Sebagai gantinya, Nara yang akan nemenin Mbak Sinta jualan di pasar. Gimana?" lanjutnya.
Sinta bahkan tidak perlu berpikir untuk menggelengkan kepala. Selama ini, dia memang hidup di kelilingi oleh orang-orang baik, itu sebabnya dia dan Lestari masih bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan di ibu kota. Hanya saja, kebaikan yang Kinara tunjukkan ini sudah next level sekali, dan Sinta jadi merasa sungkan untuk menerimanya.
"Kenapa?" tanya Kinara dengan nada yang sarat akan kekecewaan.
__ADS_1
"Saya nggak mau ngerepotin kamu, Nara."
"Nggak repot!" sergah Kinara.
"Nara nggak repot, Mbak...." rengek Kinara, persis seperti bocah yang sedang membujuk ibunya untuk dibelikan mainan baru yang harganya tidak main-main.
"Boleh, ya? Pleaseeee...."
Disuguhi pemandangan gadis berusia awal dua puluhan yang cantik, imut dan lucu sedang menunjukkan raut memelas yang membuat kedua bola matanya membulat dan pipi tirusnya menggembung, siapa yang akan bisa menolak permintaannya?
Seperti sudah begitu ahli dalam hal merayu, Kinara berhasil membuat Sinta menghela napas pelan sebelum menganggukkan kepala pasrah.
"Yeay!!!" seru Kinara. Semangat sekali, seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre senilai ratusan juta.
Sinta cuma bisa menggelengkan kepala pelan ketika Kinara tiba-tiba mengangkat Lestari ke dalam gendongan dan membawa gadis kecil itu melangkah lebih dulu meninggalkan dirinya.
"Nara, Nara ... beruntung banget sih yang nanti bisa jadi suami kamu. Udah cantik, pintar, baik pula." Puji Sinta, meskipun dia tahu Kinara tidak akan bisa mendengarnya.
Kinara tidak bisa menahan senyum saat Lestari menyodorkan sebungkus permen cokelat yang sudah gepeng, sepertinya tidak sengaja tertindih oleh bocah itu saat dia tidur.
"Makasih!" seru Kinara, menerima permen itu dengan senang hati meksipun bentuknya sudah tidak meyakinkan sama sekali.
"Aku cuma punya satu," ucap Lestari. "Aku kasih ke kamu karena kamu baik sama aku dan Ibu."
Senyum Kinara semakin lebar. Apalagi saat Lestari mengeluarkan satu benda lagi dari dalam saku celananya. "Kalau ini ada dua. Kamu mau satu?" tawar bocah itu sembari menyodorkan sebuah jepit rambut berbentuk boneka berwarna pink.
Kinara mengangguk dengan semangat. Bersama Lestari, Kinara merasa dirinya kembali menjadi seperti anak-anak lagi. Yang pemikirannya masih sederhana dan keinginannya terhadap sesuatu masih belum sebesar ketika dia mulai beranjak dewasa.
"Mau pakai sendiri atau mau akau pakaikan?" tanya Lestari.
__ADS_1
Jawabannya sudah jelas. Kinara ingin Lestari yang memakaikan jepit rambut itu ke rambutnya. Maka, Kinara segera berjongkok di depan Lestari supaya bocah itu bisa memakaikan jepit rambut seusai permintaannya.
"Udah," ucap Lestari. Matanya menatap puas pada jepit rambut yang kini menempel di kepala Kinara.
"Makasih, Tari." Kata Kinara seraya memegangi jepit rambut di kepalanya.
Lestari cuma mengangguk, kemudian dia melangkah mundur satu kali ketika Kinara mulai bangkit berdiri.
"Ya udah, aku pulang dulu, ya. Nanti sore kita main lagi kalau aku udah pulang dari kampus." Pamitnya.
Lestari mengangguk. Lalu, mereka melakukan salam perpisahan sederhana dengan saling melambaikan tangan.
Sinta muncul tak lama kemudian dan langsung membawa Lestari masuk karena bocah itu harus segera mandi dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Di perjalanannya menuju rumah, Kinara tidak henti-hentinya memandangi permen coklat yang ada di tangannya itu dengan senyum yang merekah. Permen itu tidak akan dia makan, akan dia simpan di satu kotak khusus tempat dia biasa menyimpan barang-barang yang memiliki kenangan tersendiri untuk dirinya.
Ah, bicara soal barang-barang penuh kenangan, sepertinya dia harus mulai membersihkan kotak penyimpanannya karena di sana terdapat banyak barang pemberian Atha dan Dahayu.
Sekarang, karena hubungan mereka sudah tidak bisa lagi kembali seperti dulu, Kinara harus mulai menjauhkan diri dari hal-hal yang akan mengingatkannya kepada hubungan mereka yang semula baik-baik saja. Karena Kinara tidak yakin dia bisa tetap menyimpan barang-barang itu setelah apa yang terjadi.
Sampai di depan pintu rumah, senyum Kinara masih ada, meskipun sudah tidak selebar sebelumnya setelah dia mengingat kembali tentang Dahayu dan Atha.
Tetapi, saat tangannya berhasil menyentuh kenop pintu dan hendak memutarnya, senyum yang semula masih tersisa sedikit itu seketika sirna saat rungunya menangkap suara motor yang sangat dia kenal.
Sampai detik sebelum dia membalikkan badan, Kinara masih berharap bahwa dia sedang salah dengar. Motor dengan suara seperti itu ada banyak di Jakarta, milik Atha jelas bukan satu-satunya.
Tapi saat tubuhnya sudah sepenuhnya berbalik, Kinara kembali merasakan dadanya sesak saat sosok Atha dan motornya yang legend bergerak memasuki pekarangan rumahnya.
"Kenapa harus datang sepagi ini, Atha?" gumamnya nyaris tanpa suara.
__ADS_1
Bersambung