After The Rain

After The Rain
Bertemu Ibu


__ADS_3

Batas waktu yang Sagara berikan sudah hampir habis, namun Sekala masih belum berhasil mengumpulkan keberanian untuk datang ke rumah sakit dan bertemu Ibu.


Kini, di dalam ruang kerjanya, Sekala malah sibuk mondar-mandir selama hampir setengah jam, memikirkan alasan yang cukup masuk akal untuk dia katakan kepada Sagara agar lelaki itu mau memberinya tambahan waktu.


Tetapi, dipikirkan sebanyak apapun, Sekala pada akhirnya tahu bahwa tidak satupun alasan yang akan diterima oleh Sagara, sebab lelaki itu tidak pernah mau mendengarkan dirinya.


Sekala berhenti dari kegiatan mondar-mandir, melirik jam di tangan kirinya yang kini menunjukkan pukul enam lewat tiga belas menit. Perjalan ke rumah sakit akan memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit, jadi dia memiliki waktu kurang dari satu jam untuk meyakinkan diri. Sesuatu yang kedengaran mustahil karena nyalinya masih begitu ciut.


Kalau boleh jujur, Sekala tidak takut pada ancaman Sagara yang katanya akan menghabisinya dan mengirimnya ke neraka. Sebab dari dulu, dia tahu bahwa Sagara adalah orang baik. Lelaki itu tidak akan sampai hati untuk melakukannya. Justru, Sekala takut kalau Sagara akan melarangnya bertemu dengan Ibu, jika hari ini dia betulan tidak datang untuk menjenguk wanita itu.


"Mas?"


Sekala menoleh ke arah pintu. Di sana, Kinara sudah berdiri di sisi pintu yang sedikit terbuka. Di tangan kanannya ada kantong plastik kecil yang entah apa isinya.


"Kenapa, Kin? Masuk aja kalau kamu perlu bicara sama saya." Sekala mempersilakan Kinara masuk karena sepertinya gadis itu perlu bicara.


Yang dipersilakan tidak serta-merta masuk, malah terpaku cukup lama menatapnya, kemudian menghela napas panjang. Setelah itu, barulah Kinara melangkah mendekat. Kantong plastik yang tadi dibawa, diletakkan di atas meja, lalu gadis itu kembali menatapnya lekat-lekat.


"Kenapa?" tanya Sekala lagi, dengan nada yang lebih lembut ketimbang sebelumnya.


"Saya dapat laporan dari Mas Jer kalau Mas Kala belum makan dari tadi siang." Kata gadis itu, tatapan matanya mulai berubah sedikit galak. "Kenapa nggak makan? Nanti kalau sakit gimana?" lanjutnya, sudah mulai mengaktifkan mode protektif, mirip ibu-ibu.


"Nanti saya makan,"


"Nanti kapan?" Kinara memotong. "Tunggu asam lambungnya naik dulu? Tunggu lemas dulu? Tunggu pingsan dulu, baru mau makan?" cerocos Kinara. Tanpa jeda, tanpa koma. Membuat Sekala menghela napas pelan.


"Makan, saya temenin." Lengan Sekala ditarik, kemudian tubuhnya didudukkan di atas kursi lalu Kinara bergerak mengeluarkan isi di dalam kantong plastik yang ada di atas meja, yang ternyata isinya adalah sekotak makanan siap saji.


"Nih," Kinara menyodorkan sendok setelah membuka penutup kotak makan tersebut, sedangkan Sekala malah bengong menatapnya, tidak kunjung meraih sendok itu.


"Kenapa? Perlu saya suapin?" Kinara sudah siap untuk menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut Sekala, seandainya lelaki itu mengiyakan.


Namun, Sekala malah meraih sendok itu, kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.


"Mas," mata Kinara agak melotot.


"Tunggu, Kin. Jangan marah-marah dulu," Sekala berusaha menenangkan Kinara yang sudah hampir keluar tanduk merah dari kedua sisi kepalanya. "Saya butuh bantuan kamu dulu," sambungnya.


Mendengar Sekala butuh bantuan, tatapan Kinara langsung berubah. Raut garang dia buang jauh-jauh, diganti dengan raut ramah-tamah juga tatapan yang begitu lembut.


"Ayo, bilang. Mas Kala butuh bantuan apa?" tanyanya.


Sekala terdiam sebentar, untuk memilih dari mana dia harus memulai ceritanya. Lalu, setelah dapat, barulah dia membuka mulutnya untuk bicara.


"Kemarin Mas Saga minta saya untuk datang ke rumah sakit jenguk Ibu," ucapnya mengawali.


Kinara manggut-manggut. "Iya, terus?"


"Saya dikasih batas waktu 1x24 jam untuk datang. Kalau dalam 1x24 jam itu saya nggak datang, Mas Saga akan buat perhitungan sama saya."


Sekala tersentak saat Kinara tahu-tahu menarik lengannya, memintanya untuk segera berdiri. "Ayo, kita berangkat sekarang." Kata gadis itu.


"Tunggu dulu, Kin, tunggu." Sekala menarik kembali lengannya, sekaligus meminta Kinara untuk kembali ke posisinya.


"Tunggu apa, sih, Mas? Waktunya udah mepet, saya nggak mau cowok yang kemarin itu mukulin Mas Kala lagi."


"Saya ... takut, Kin." Tatapan Sekala berubah sendu, membuat Kinara yang awalnya begitu menggebu-gebu, kini justru mengembuskan napas keras-keras sebelum meraih tangan Sekala kemudian menggenggamnya erat.


"Takut apa? Kan, ada saya. Saya temani Mas Kala ke sana," ucapnya. Berusaha meyakinkan Sekala bahwa tidak apa-apa jika mulai sekarang laki-laki itu bergantung pada dirinya.


Tangan yang berada di genggaman Kinara itu Sekala pandangi cukup lama, sampai kemudian dia kembali menatap Kinara. "Kamu ... nggak masalah?" tanyanya.

__ADS_1


Untuk pertanyaan itu, Kinara mengulaskan sentum tipis sebelum memberikan jawaban. "Saya temani Mas Kala ke mana pun, untuk menyelesaikan masalah apapun."


Sekali lagi, Sekala menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Kemudian, dia menarik napas dalam-dalam dan bergerak pelan bangkit dari duduknya.


"Tolong jangan lepas tangan saya selama kita di sana, ya, Kin." Pintanya.


Kinara sama sekali tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. Gadis itu langsung mengangguk dengan begitu semangat.


"Saya temani sampai akhir," ucap gadis itu. Kemudian, mereka berjalan beriringan keluar dari ruangan yang lampunya sengaja tidak dinyalakan.


Begitu mereka berjalan melewati meja kasir yang saat ini dijaga oleh Jeremy, mereka langsung dilempari tatapan juga senyum menggoda dari pemuda itu.


"Aman, Kin. Gue handle di sini, kalau perlu sampai tutup juga nggak masalah." Kata Jeremy, bahkan sebelum Kinara berhasil membuka mulutnya. Tatapan pemuda itu jelas tertuju pada genggaman tangan Kinara dan Sekala.


Mendengar itu, Kinara tersenyum, lalu melanjutkan langkah, memastikan genggaman tangannya dan Sekala tidak terlepas, agar laki-laki di sampingnya ini bisa sedikit merasa lebih tenang.


...****************...


Kinara menepati janjinya. Gadis itu benar-benar tidak melepaskan genggaman tangannya bahkan sampai kini mereka sudah tiba di rumah sakit.


Mereka masih berada di dalam mobil sekarang, dan Kinara memutuskan untuk memberi Sekala sedikit lebih banyak waktu untuk membulatkan niat bertemu ibunya.


"Saya ... pasti bisa, kan, Kin?" tanya Sekala.


Kinara langsung mengangguk. "Ada saya," entah sudah berapa kali Kinara mengatakan itu. Tetapi dia sama sekali tidak bosan. Akan terus dia katakan hal itu kepada Sekala, berkali-kali, bahkan kalau perlu sampai membuat telinga Sekala panas. Asalkan laki-laki itu paham kalau sekarang, benar-benar akan ada dirinya di sisi Sekala.


"Turun sekarang?" tanya Kinara. Mereka sudah berdiam diri di dalam mobil selama hampir lima belas menit. Waktu yang mereka punya semakin menipis, jadi sebaiknya mereka bergegas.


Sekala mengangguk. Usai menarik dan membuang napas dalam-dalam, mereka turun dari mobil.


Dan, genggaman tangan itu betulan tidak dilepas. Kinara rela repot-repot turun dari pintu sisi pengemudi hanya agar mereka tetap bergandengan tangan.


Berjalan selama beberapa menit, mereka akhirnya sampai di lantai tempat kamar rawat ibu Sekala berada. Di sepanjang perjalanan menyusuri lorong, Kinara merasakan genggaman tangan Sekala kian mengerat. Telapak tangan laki-laki itu juga terasa basah, dan Kinara bisa merasakan tubuh Sekala sedikit gemetar.


Maka, sebagai bentuk usahanya menenangkan Sekala, Kinara gunakan satu tangannya yang tidak saling bertaut dengan milik Sekala untuk mengusap-usap lengan lelaki itu.


"Semuanya akan oke, karena ada saya di sini." Bisik Kinara.


Sekala menatap Kinara sebentar, kemudian mengangguk lalu kembali melanjutkan langkah.


Ketika mereka akhirnya tiba di depan kamar rawat yang dituju, Sekala menatap Kinara lagi, seolah ingin diyakinkan sekali lagi.


Maka Kinara mengangguk dan menyunggingkan senyum.


Sekala menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang basah dan masih sedikit gemetar dia ulurkan, menyentuh gagang pintu yang anehnya terasa begitu dingin.


Lalu, gagang pintu digerakkan pelan sehingga pintu di hadapan mereka terbuka. Dari celah yang ada, Sekala bisa melihat sang ibu yang sedang setengah berbaring di atas kasur. Tidak ada Sagara di samping ranjang, dan hal itu semakin membuat Sekala was-was karena Sagara bisa muncul dari mana saja.


Usai meyakinkan diri sekali lagi, Sekala mulai melangkah masuk. Kinara yang dia gandeng juga ikut masuk, mengekori langkahnya yang diayunkan pendek-pendek.


Baru saja tubuh mereka berhasil masuk, Sekala menghentikan langkah ketika sosok Sagara benar-benar muncul dari balik pintu kamar mandi. Tatapan mereka bertemu, dan sama sekali tidak ada keramahan dari tatapan yang Sagara lemparkan.


"Masuk," perintah Sagara. Hal itu membuat Ibu yang awalnya berkonsentrasi menonton televisi dan tidak menyadari kehadiran Sekala praktis menoleh. Senyum wanita itu terbit begitu lebar dan tulus kala menemukan sosok Sekala yang berdiri mematung di ambang pintu, dengan seorang gadis di gandengannya.


"Dik," panggil Seruni, ibu Sekala, begitu pelan nan lembut. "Sini," sambungnya, sembari berusaha menegakkan posisi duduknya.


Sekala melirik Kinara yang berdiri di sampingnya sebentar, kemudian berjalan mendekati ranjang sang ibu.


"Maaf, Sekala nggak sempat bawa apa-apa buat Ibu," ucap Sekala. Dia melirik ke arah Sagara yang kini berdiri di sisi ranjang yang berseberangan, tengah menatapnya datar dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.


"Nggak apa-apa, Adik udah mau datang aja, Ibu udah senang." Senyum Seruni kian terkembang. Tatapan keibuan yang begitu tulus itu bukannya membuat Sekala senang, malah kembali menghadirkan rasa sakit yang terlampau sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


Tatapan Seruni kemudian beralih kepada Kinara. Dipindainya gadis itu dari atas kepala sampai ujung kaki, dan senyumnya semakin terlihat cerah ketika tatapannya sampai pada tangan Sekala dan Kinara yang saling bertaut. Kemudian, dia kembali menatap Sekala.


"Anak cantik ini siapa?" tanyanya.


"Teman," Sekala menjawab tanpa ragu.


Di seberang, Sagara menaikkan sebelah alisnya. Sebab, dia tahu betul seperti apa Sekala. Mana mungkin anak itu akan menggandeng seseorang yang katanya cuma teman, bahkan dengan begitu erat sekali? Sekala memang tidak pernah pandai berbohong sejak dulu.


Sementara itu, Kinara sama sekali tidak terganggu ketika Sekala menyebutnya sebagai teman. Karena mau dianggap sebagai apapun oleh Sekala, itu tidak akan menyurutkan niatnya untuk tetap mendampingi lelaki itu.


"Pintar kamu cari teman," kata Seruni, memberikan nada yang berbeda ketika menyebut kata teman.


"Ibu sakit apa?" Sekala berusaha memutus pembahasan soal teman sampai di sana. "Pasti gara-gara nggak nurut sama kata Dokter Anne, kan?"


Diomeli begitu, Seruni malah terkekeh. "Gara-gara nggak ada kamu yang marah-marah, Dik. Mas-mu ini lemah banget kalau sama Ibu, nggak berani marah-marah kayak kamu, makanya Ibu jadi lebih sering bandel." Adunya, sembari melirik ke arah Sagara yang malah melengos.


"Ibu nggak boleh gitu," Sekala berucap pelan. "Yang ada di rumah sekarang kan cuma Mas Saga, jadi Ibu harus dengerin apa kata Mas Saga, jangan bandel."


"Nah, itu dia, Dik," Seruni melirik Saga sebentar, kemudian kembali menatap Sekala lekat-lekat. "Pulang, yuk, biar ada yang marah-marah lagi sama Ibu?" pintanya.


Samar-samar terdengar suara Sagara berdecak. Namun, baik Sekala maupun Seruni sama-sama tidak mencoba untuk melabuhkan perhatian mereka kepada Sagara karena tahu lelaki itu tidak akan suka. Berbeda halnya dengan Kinara yang tidak paham situasinya, dan malah menatap Sagara cukup lama.


"Mau, ya, pulang ke rumah?" Seruni memelas.


Namun, Sekala dengan keras kepalanya tetap menggeleng. "Sekala kan udah punya rumah sendiri, sayang kalau nggak ditempati. Lagian, jauh kalau harus mondar-mandir ke Orion dari rumah Ibu."


Percayalah, itu hanya alasan. Karena baik Seruni maupun Sagara jelas tahu bahwa bukan itu yang mendasari keengganan Sekala kembali ke rumah.


Seruni murung, membuat Sagara yang melihatnya kembali merasa kesal. Kadang, dia merasa kalau ibunya itu jauh lebih menyayangi Sekala yang bahkan tidak lahir dari rahimnya.


"Nggak usah dipaksa kalau emang nggak mau." Sela Sagara. "Lagian, dia udah gede, biarin dia pilih jalan hidupnya sendiri."


Seruni menatap anak pertamanya itu, kemudian menghela napas pelan. "Kamu galak, Mas, makanya Adik nggak mau pulang."


"Saga banget nih, yang salah?" Sagara sambil menunjuk dirinya sendiri. Sialnya, Seruni mengangguk.


"Jangan galak-galak makanya, Mas, biar Adik nggak takut."


Sagara menatap sinis ke arah Sekala, lalu kembali membuang muka. Dari dulu, Ibu memang begini. Selalu mengatakan kepadanya untuk tidak jahat pada Sekala. Katanya, kasihan, anak itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi.


Apalagi setelah Ayah meninggal beberapa tahun kemudian setelah hari pertama Sekala dibawa ke rumah, Ibu semakin gencar mewanti-wanti dirinya untuk menyayangi Sekala seperti saudara kandungnya sendiri.


"Saga mau keluar sebentar, mau ngerokok." Pamit Sagara kemudian. Dia tidak menunggu sampai Ibu mengiyakan, dan langsung menerobos keluar dari ruang rawat inap.


Dalam hitungan detik saja, sosok Sagara sudah menghilang dari hadapan semua orang.


Dari mereka bertiga, Kinara jadi satu-satunya yang menatap kepergian Sagara untuk waktu yang cukup lama. Sampai kemudian, dia menatap Sekala sebentar sebelum berkata, "Saya juga boleh keluar sebentar?" sebab dia pikir, Sekala butuh waktu untuk bicara hanya berdua saja dengan sang ibu.


Mulanya, Sekala tampak keberatan, tetapi setelah mereka saling pandang selama beberapa saat, lelaki itu akhirnya menganggukkan kepala setelah mengembuskan napas pelan.


Genggaman tangan yang sedari tadi tidak lepas, perlahan-lahan dilonggarkan sampai akhirnya dua tangan berbeda ukuran itu sepenuhnya berpisah.


"Saya pamit keluar sebentar, ya, Bu." Pamit Kinara kepada Seruni, dan wanita itu mengiyakan dengan anggukan kepala.


"Nanti saya balik lagi kalau Mas Kala udah selesai," bisiknya kepada Sekala.


"Iya," Sekala menjawab pelan. Meksipun sebenarnya, dia sama sekali tidak rela kalau Kinara ikutan pergi dari hadapannya.


Kemudian Kinara berbalik, mulai mengayunkan langkah menuju pintu keluar, sembari menyiapkan diri kalau-kalau di luar nanti dia akan berhadapan dengan Sagara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2