After The Rain

After The Rain
Kamu Punya Ilmu Apa?


__ADS_3

Tepat tengah malam, Sekala mengantarkan Kinara pulang setelah cukup lama menimbang apakah dia harus membangunkan gadis itu atau tidak. Pasalnya, Kinara terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya, sehingga dia sedikit tidak tega untuk membangunkan gadis itu pada awalnya.


Sebelumnya, dia telah menelepon ayah Kinara untuk memberitahukan bahwa Kinara tertidur selagi menunggu Jeremy dan Dimas pulang berbelanja. Awalnya dia sudah merasa was-was, takut ayah Kinara akan mencak-mencak dan menyusul Kinara ke Orion. Tapi ternyata, ayah Kinara sama sekali tidak marah. Lelaki itu hanya mengucapkan kalimat yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Yaitu, "Saya titip Kinara, ya." Yang kemudian membuatnya merasa diberi kepercayaan dan tanggung jawab yang besar untuk menjaga gadis ini.


Ada dua tipe manusia di dunia ini ketika diberi kepercayaan. Yang pertama, akan merasa tinggi dan tanpa sadar lalai akan kepercayaan yang sudah diberikan lalu berakhir mengkhianati kepercayaan itu, kemudian membuat semuanya hancur. Yang ke-dua, akan merasa memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga mendorongnya untuk bertindak lebih hati-hati agar kepercayaan yang serupa benda pecah belah itu tidak akan hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang tidak akan bisa disatukan kembali.


Dan Sekala adalah tipe orang yang ke-dua.


"Jujur sama saya,"


Sekala menoleh saat Kinara, yang tadi cuma diam di sepanjang perjalanan tiba-tiba buka suara ketika mereka sudah hampir sampai di rumah gadis itu.


"Soal apa?"


"Mas Kala punya ilmu apa?"


Ditodong pertanyaan yang ambigu, plus tatapan menyelidik seperti itu membuat konsentrasi Sekala menyetir seketika buyar. Dia menepi, kemudian menghentikan laju mobil hanya untuk beradu tatap dengan Kinara selama hampir tiga puluh detik.


"Maksudnya gimana?" tanyanya kemudian, sebab selama tiga puluh detik ia selami manik Kinara, tak sedikit pun dia berhasil mencerna maksud dari perkataan gadis itu.


Bukan jawaban yang Sekala dapatkan setelahnya, melainkan hela napas pelan yang kemudian diikuti kalimat, "Nggak, lupain aja." Lalu Kinara menarik pandangan dan pura-pura sibuk menatap ke depan.


"Ngomong, Kin." Sekala makin intens menatap Kinara. Dia sudah memutuskan tidak akan melanjutkan sisa perjalanan mereka kalau Kinara tidak mau bicara. Biarlah mereka duduk di sini sampai pagi menjelang, daripada harus dihantui rasa penasaran.


"Nggak jadi, Mas Kala. Ayo kita pulang," Kinara masih mencoba sabar. Mempertahankan untuk tidak menoleh ke arah Sekala meskipun sebenarnya ia sudah gemas sekali pada lelaki itu karena tidak kunjung melajukan kembali mobilnya.


Sebab Sekala bukan seseorang yang suka membawa masalah dari luar ke dalam rumah, ia pun berdecak lalu berkata, "Kita nggak akan pulang sebelum kamu ngomong." Selesai kalimat itu, kunci mobil dia letakkan di atas dashboard lalu ia hempaskan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


"Mas ...."


"Ngomong, atau kita di sini sampai pagi." Tegasnya, meksipun tetap dikatakan dengan suara pelan. Ia menatap Kinara cukup lama, sampai kemudian gadis itu kembali menghela napas.


"Nanti Papa marah, Mas."


"Tanggung jawab saya." Potong Sekala. "Sekarang, kamu ngomong. Ada apa?"


"Mas-"


"Kin," suara Sekala kian terdengar tegas, meskipun lelaki itu tetap mempertahankan tatapan lembutnya seperti biasa.


Kalau sudah begitu, Kinara tidak akan bisa lagi mengelak. Jadi, dia memenuhi rongga dadanya dengan oksigen sebagai persiapan untuk bicara.


"Saya cuma penasaran, kenapa Mas Kala bisa sedekat itu sama Papa saya." Kinara berkata sejujurnya. Akhirnya, setelah ditimbun cukup lama di dalam kepala, pertanyaan itu dia putuskan untuk ditanyakan kepada Sekala, alih-alih Papa.


"Tapi?" tagih Sekala kemudian, ketika hening sudah semakin jemawa menunjukkan kehadirannya.


"Tapi sama Mas Kala, Papa saya bahkan nggak keberatan untuk membiarkan saya melanggar jam malam beberapa kali. Papa nggak pernah seperti itu, Mas. Jadi saya heran, saya pikir-"


"Kamu pikir saya punya ilmu hitam? Semacam pelet atau apalah itu yang orang-orang sering bilang?" Kinara biasanya tidak suka ketika ucapannya dipotong, tetapi kali ini, dia berterima kasih karena Sekala mau melakukannya. Jadi dia tidak perlu bingung merangkai kata untuk menjelaskan lebih banyak.


Kinara mengangguk, "Who knows?" ucapnya. "Rajin sholat kan nggak menjamin kita benar-benar jauh dari hal-hal semacam itu." Imbuhnya.


Bohong kalau Kinara tidak gugup saat mengatakan itu. Ia juga khawatir kalau perkataannya hanya akan berujung membuat hubungannya dengan Sekala memburuk. Karena kalau Sekala bukan orang yang semacam itu, lelaki itu pasti akan tersinggung. Dan, jika Sekala memang bergelung dengan hal-hal magis yang tadi dia sebutkan, apa yang lelaki itu bisa lakukan sudah pasti jauh lebih buruk.


Kinara memperhatikan ekspresi Sekala baik-baik, berusaha mencerna setiap perubahan yang ada meskipun itu cuma sekadar kedipan mata ataupun posisi sudut bibir yang berubah. Ia ingin tahu, ingin berusaha menebak apa yang kini Sekala rasakan setelah ia mengungkapkan isi kepalanya.

__ADS_1


Namun, alih-alih mendapati lelaki itu tampak tersinggung, Kinara malah disuguhi sebuah senyum tipis setelah hela napas pelan mengudara.


"Saya nggak punya nyali yang cukup besar untuk belajar hal-hal semacam itu," ucap Sekala. Lelaki itu menarik pandangan, melabuhkannya jauh ke jalanan di depan mereka yang sepi dan lengang.


"Kalau nyali saya sebesar itu, saya mungkin nggak akan ketemu kamu di jembatan penyeberangan malam itu." Karena saya pasti belajar hal-hal itu dengan sungguh-sungguh untuk membuat keadaan saya lebih baik, sehingga saya nggak perlu punya niat untuk bunuh diri.


"Kalau soal Bapak, saya sendiri juga nggak tahu kenapa beliau bisa percaya sama saya. Mungkin karena saya kelihatan kayak anak baik-baik?" Sekala terkekeh, lalu kembali menatap Kinara. Namun, gadis itu tidak bereaksi apa-apa. Ekspresi wajahnya juga terlalu sulit untuk dibaca.


"Jadi intinya, Mas Kala nggak punya ilmu yang aneh-aneh, kan?"


"Nggak ada, Kin."


"Oke,"


Sekala menaikkan sebelah alisnya atas respons singkat Kinara. "Udah, gitu aja?"


Kinara mengangguk. "Ayo, kita pulang. Saya mau tanya langsung ke Papa saya soal yang tadi."


Gadis itu kemudian membenarkan posisi duduknya, kembali menatap ke depan sambil menyusun rencana untuk mengajak Papa bicara soal ini.


Sekala terdiam sebentar, lalu kembali menyalakan mesin. Sebelum dia menginjak pedal gas, dia berkata, "Nanti kasih tahu saya ya, apa jawaban Bapak."


"Sip." Kinara mengangguk setuju.


Kemudian, pedal gas diinjak dan mobil kembali melaju pelan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2