After The Rain

After The Rain
Best Wishes For You


__ADS_3

Sampai di taman depan, Kinara memilih posisi duduk berseberangan dengan Atha. Nyeri di hatinya akibat mendengar gunjingan teman-teman Atha tadi masih terasa, tetapi Kinara sebisa mungkin tetap menyunggingkan senyum terbaiknya di hadapan sang kekasih.


"Jadi, kamu mau nunjukin apa?" tanya Atha setelah meletakkan tas punggungnya di kursi sebelah. Dia melipat kedua tangan di atas meja, menatap Kinara antusias.


Senyum Kinara terbit lebih lebar. Di dalam kepala, kembali terbayang gambaran penampakan cafe yang sudah dia idam-idamkan sejak tadi pagi.


Maka, dengan hati yang bergemuruh hebat karena terlalu bersemangat, Kinara mengulurkan ponselnya ke arah Atha.


"Sore nanti aku mau coba tanya lowongan pekerjaan ke situ." Jelas Kinara selagi menunggu Atha selesai menilik gambar di ponselnya.


"Ini sih cafe tempat Gerald biasa manggung tiap Sabtu sore." Atha mengangkat pandangan. Menatap Kinara yang senyumnya kian lama kian cerah. "Tapi... jangan di sini, deh. Cari tempat lain aja."


Mendengar itu, senyum Kinara seketika luntur, tergantikan dengan kerutan di dahinya yang terlihat begitu kentara.


"Kenapa?" tanyanya.


"Anak-anak bilang owner cafe itu masih muda, ganteng juga. Banyak mahasiswi yang nongkrong di sana cuma buat ngeliat si owner." Raut wajah Atha sepenuhnya berubah saat mengatakan itu, membuat Kinara merasa tergelitik dan terpancing untuk menggodanya lebih jauh.


"Terus?" pancing Kinara.


Bagai ikan yang dengan polosnya menggigit umpan, Atha berkata. "Ya aku nggak mau kamu genit ke dia!" dengan suara yang menggebu-gebu.


"Kayak dia bakal mau aja sama aku." Ucap Kinara dengan santainya.


"Oh, jadi kalau dia mau sama kamu, kamu bakal maju, gitu?!" Atha melotot, mencondongkan tubuh ke arah Kinara dengan raut wajah cemberut yang tampak lucu.


Melihat tingkah Atha yang demikian membuat Kinara tergelak. Sungguh, tidak ada yang lebih lucu di dunia ini selain melihat seorang Atharya Danapati yang sedang cemburu.


"Kenapa ketawa?!"


"Kamu lucu kalau lagi cemburu." Kata Kinara tanpa berusaha menyembunyikan apa pun.


"Aku serius, Raaaa..." rengek Atha persis anak bayi yang minta dibuatkan susu. Raut cemberutnya hilang, tergantikan dengan raut memelas sebagai senjata utama agar Kinara mau mendengarkan kata-katanya. "Cari cafe yang lain aja, ya?" sambungnya sembari menggenggam erat tangan Kinara sedangkan matanya mulai tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Tetapi Kinara justru menggelengkan kepala. "Aku udah jatuh cinta sama cafe ini, Atha." Jelas Kinara. Dia bukan tipikal yang mudah tertarik pada sesuatu. Jadi sejak cafe itu menjadi satu-satunya yang berhasil membangunkan satu sisi di dalam dirinya yang cukup lama tertidur, Kinara tidak mau melirik yang lain lagi.


"Biarin aku coba dulu satu kali, kalau ternyata memang nggak berjodoh, baru aku cari yang lain." Ucap Kinara mantap. Setidaknya, dia harus mencoba menggunakan kesempatan yang dia miliki. Jika ternyata cafe itu memang bukan jodohnya, Kinara tidak akan bersedih karena setidaknya dia sudah pernah mencoba.


Atha mengembuskan napas kasar setelah selesai mendengarkan ucapan Kinara. Seperti yang telah dia ketahui, meruntuhkan keteguhan hati dan kekeras kepalaan Kinara terhadap sesuatu bukanlah hal yang mudah. Prosentase keberhasilannya membujuk Kinara untuk mundur dari hal-hal yang disukai selalu tidak lebih dari angka 0,001.


Jadi, tidak ada yang bisa Atha lakukan selain melepaskan genggamannya di tangan Kinara dan menganggukkan kepala dengan susah payah.


"Ya udah, tapi janji kamu nggak akan genit ke owner di sana, oke?"


"Iyaaaaa, Atha." Kinara mendaratkan sebuah tepukan gemas di kepala Atha. Kemudian tangannya bergerak membelai surai lelaki itu dengan sayang. Sedari dulu, sosok Atha tidak pernah berubah di mata Kinara. Masih seperti bayi besar yang merindukan kasih sayang dari ibunya. Dan Kinara tidak pernah keberatan untuk memberikan itu.


"Doain semoga aku berjodoh sama cafe itu, ya." Kata Kinara lagi setelah menarik tangannya dari kepala Atha.


"You know, right. I always wish you all the best."


Ketulusan dari kalimat yang Atha ucapkan sampai ke hati Kinara, hingga membuat hatinya yang semula lebam-lebam perlahan terasa membaik. Kinara tersenyum hangat, sekali lagi bersyukur karena memiliki Atha di dalam hidupnya.


"Si bawel ngapain sih, ganggu aja." Gerutu Atha begitu matanya menangkap nama Dahayu tertera di layar ponsel milik kekasihnya.


Kinara terkekeh saat mendengar Atha memanggil Dahayu dengan sebutan Si Bawel. Bukan hal yang aneh sebenarnya, karena sebelum ini, Atha bahkan pernah menjuluki Dahayu dengan sebutan nenek lampir.


Sudah pernah Kinara bilang kan, kalau Atha dan Dahayu itu tidak pernah akur. Kalau diibaratkan mereka lebih terlihat seperti Tom and Jerry versi manusia dan di dunia nyata. Ada saja tingkah mereka yang berhasil mengundang gelak tawa bagi Kinara.


Sembari meredakan kekehannya, Kinara meraih ponsel, menggeser log hijau dan langsung menempelkan benda itu ke telinga.


"Halo, Ay?" sapanya dengan suara super ramah.


Lain halnya dengan Dahayu yang justru berteriak bagai orang kesetanan di seberang telepon hingga Kinara harus menjauhkan ponsel dari telinga.


"Raaaa! Tolongin gue!"


"Dih, kenapa sih teriak-teriak? Nggak jelas banget nih si bawel." Gerutu Atha lagi. Mungkin saking kencangnya Dahayu berteriak, lelaki itu bisa mendengar teriakannya walau Kinara tidak sedang mengaktifkan mode loud speaker.

__ADS_1


Kinara melirik Atha sebentar. Kemudian sembari mendekatkan kembali ponsel ke telinga, Kinara memberi kode kepada Atha untuk diam sebentar agar dia bisa berbicara lagi dengan Dahayu.


Atha menurut saja. Seperti kata Dahayu dan teman-temannya yang lain, Atha itu bucin Kinara. Jadi, apa pun yang Kinara katakan pasti akan langsung Atha turuti. Walau pun di banyak kesempatan Atha selalu terlihat lebih dominan kalau soal menuntut kabar dan perihal kecemburuan, tapi sebenarnya dia lah yang paling sering merelakan banyak hal agar hubungannya dengan Kinara tetap berjalan.


"Kamu kenapa, Ay? Butuh bantuan apa?" Kinara dengan kesabarannya yang tak terkira.


"Ban mobil gue meledak, tolong jemput gue."


"Kamu di mana sekarang?"


"Di pertigaan dekat mi ayam yang biasa kita jajan. Di sini sepi, gue takut."


"Ya udah, kamu tunggu di situ. Aku samperin kamu sekarang."


"Cepetan, ya!"


"Iya, Ayuuu..." sahut Kinara gemas.


Setelah itu, telepon ditutup. Kinara kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas. Kemudian Kinara bangkit dari duduknya. Membiarkan Atha melarikan pandangan kepadanya untuk memindai setiap pergerakan yang dia lakukan.


"Aku jemput Ayu dulu, ya." Pamit Kinara.


"Mau aku antar sampai ke parkiran, nggak?" tawar Atha yang baru saja ikut bangkit dari duduknya. Tas punggung sudah kembali disampirkan di bahu kirinya.


Kinara menggeleng kecil. "Nggak usah, aku sendiri aja."


"Ya udah, hati-hati."


"Iya. See you around, Atha!" seru Kinara sembari berjalan menjauh dan melambaikan tangan kepada Atha.


Atha membalas lambaian tangan itu. Memandangi punggung sempit Kinara sampai gadis itu benar-benar menghilang dari jarak pandang dan barulah dia berjalan kembali menuju ruang kelas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2